
Semuanya sudah diprogram untuk seragam seperti ini. Teratur, tanpa cela, tanpa keributan, betapa damainya. Setiap pagi bangun di jam yang sama, berjalan di jalan yang sama, dan bekerja di tempat yang sama. Tetapi membosankan, aku sangat bosan. Entah ke berapa kalinya dalam hidupku aku merasakan sesuatu yang ada di luar sistem perasaan, bosan. Seharusnya humanoid seperti kami tidak bisa bosan.
“Hei, MX-05, kau tidak boleh melamun. Itu dilarang,” humanoid lain memperingatkanku. Ah, ya, bahkan aku melamun. Robot seharusnya tidak bisa melamun.
“Terima kasih, FN-12,” sahutku getir. Tetapi mungkinkah kalau kami memang manusia penuh? Tetapi, manusia penuh macam apa yang bergerak seperti robot? Makhluk itu, manusia sesungguhnya, hanyalah pencipta kami di awal peradaban. Aish! Berhenti melamun, diriku! Aku harus bekerja terus! Hanya itu yang bisa kulakukan untuk bertahan hidup. Tangan-tanganku kembali bergerak, mengatur mesin-mesin membuat perabotan rumah. Aku sudah melakukan ini selama bertahun-tahun, tetapi mengapa rasanya masih berat?
“Saatnya istirahat! Saatnya istirahat!” Suara itu bergema memenuhi gedung pabrik dan saat itu juga para humanoid serentak berbalik dan berjalan ke kantin dengan langkah seragam, termasuk diriku.
Tak! Tak! Tak!
Kini giliran langkah itu yang bergema memenuhi kantin pabrik. Semuanya berbaris dan dengan tertib mengambil bagiannya. Makanan yang sama dan hambar, sangat hambar. Setelah mendapat bagiannya mereka duduk dan makan. Tidak ada perbincangan antar pekerja. Tidak ada candaan. Semuanya tanpa warna. Padahal aku ingin berbagi juga. Maka hari ini aku memutuskan untuk memulai percakapan dengan humanoid di depanku, HN-40.
“Hei, HN-“
“MX-05, dilarang berbicara saat makan,” ia menatapku tajam. Sial!
“Oh, baiklah,” aku menunduk dan kembali menatap makanan hijau itu dengan tidak berselera. Berbeda dengan humanoid lainnya yang makan tanpa merasa. Oh, aku mulai membencinya. Tunggu, benci? Itu adalah perasaan yang dilarang dalam sistem. Begitu juga beberapa perasaan negatif seperti jijik pada makanan ini. Apa yang salah padaku? Mengapa aku baru merasa berbeda akhir-akhir ini? Apakah mungkin aku sebenarnya bukan bagian dari mereka? Bagaimana kalau sebenarnya mereka semua bukanlah humanoid? Saat itu juga aku merasakan ada semangat yang memercik di dalam hatiku. Semangat yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
“Istirahat selesai! Istirahat selesai!” Suara bergema lagi di gedung, aku bahkan tidak menyentuh makanan menjijikan itu sama sekali. Namun, aku merasa sangat bertenaga untuk kabur dari rutinitasnya. Maka, begitu alat makan itu sudah terletak ditempatnya, aku langsung berlari sekuat tenaga. Belum pernah aku merasakan terpaan angin begitu kencang di wajahku. Juga, jujur saja, ini pertama kalinya aku berlari. Planet ini melarang kegiatan yang menimbulkan keributan, termasuk berlari dan betapa beruntungnya aku, gedung ini percaya setiap pekerjanya akan teratur, jadi tidak ada penjaga.
Drap! Drap! Drap!
Aku menengok kebelakang setelah mendengar suara agak ribut itu. Itu ternyata sekumpulan pekerja lain yang berlari kecil untuk mengejarku.
“Sialan? Mereka bisa lari?” aku kini memaki, benar-benar sudah menabrak program sistem yang ada.
“Itu MX-05! Tangkap!” posisi kami sangat dekat. Sebelum mengejek mereka, sepertinya aku juga harus sadar diri, kecepatanku tidak jauh dari mereka. Pekerja-pekerja muda mulai mengulurkan tangan untuk menahanku. Tetapi, aku tetap berlari sampai luar gerbang pabrik yang sedang terbuka. Satu tangan pekerja itu, aku cukup yakin itu FN-12, menahanku.
“Lepaskan saja!” bentakku beriringan dengan sentakan tangan yang aku lakukan. Belum juga lepas, tanganku yang lain juga sudah ditahan. Aku tidak mau berakhir di penjara secara sia-sia. Maka aku mengerahkan semua kekuatan yang aku punya dan menyentak dua android itu. Kilatan cahaya keluar dari kedua telapak tanganku dan mereka semua tersungkur begitu saja. Semua ini aneh, tetapi selagi masih ada waktu untuk kabur, aku tidak bisa menyia-nyiakannya. Sekarang tujuanku hanya satu, menjauh dari pusat kota.
“Dua kunci artinya dua orang. Masa aku harus kembali ke kota dan mencari pemberontak lain? Tidak mungkin,” gumamku pelan sambil merebahkan diri di lantai keras kotak itu dan menerawang jauh tentang rencanaku yang begitu mendadak, tanpa pemikiran. Tetapi, memang kapan aku menggunakan otakku? Semuanya sudah diatur sebegitu rupa, benar-benar bisa dijalankan tanpa pemikiran. Sinar bulan memasuki tempat berlindungku melalui lubang-lubang kecilnya.
“Indahnya,” aku tersenyum dan mengarahkan tangan ke garis cahaya itu. Garis cahaya itu menyatu ditanganku.
“Ah, iya, ledakan cahaya tadi,” aku melanjutkan monolog. Ingatanku kembali ke kejadian kejar-kejaran tadi, cahaya macam apa itu? Mengapa itu bisa keluar dari tanganku?
“Tentu jelas aku bukan humanoid. Aku berbeda, tetapi apa ...,” kini aku menyandarkan badan ke pinggir kotak, “dengan semua teknologi yang mereka punya, cepat atau lambat aku bisa terdeteksi di sini. Besok harus bergerak, persetan dengan peraturan dua orang, itu dongeng. Aku akan mencari dua kunci itu sendiri menggunakan ingatanku.” Maka begitu langit makin gelap, aku memutuskan untuk pergi ke alam mimpi. Ya, juga, humanoid tidak seharusnya bermimpi. Mereka robot separuh manusia, tetapi diriku bermimpi akhir-akhir ini. Mimpi itu terasa seperti jembatan dalam tidur.
Api! Aku bisa melihat itu dengan jelas setiap malam. Api yang keluar dari tangan. Hanya saja aku tidak pernah melihat siapa pemilik tangan itu. Apakah itu masa laluku? Atau seseorang diluar sana terhubung dengan diriku?
🎵 Yeaaaah! Haaaa!🎵
Dan teriakan itu, lebih tepatnya nyanyian, menuntunku terbang makin dalam menuju asalnya dan saat itu juga aku melihat sebuah kompas dan susunan mesin kecil, seperti yang ada di dalam jam. Tidak sampai satu detik, semuanya terbakar dalam api. Api yang dikendalikan seorang android. Bukan, seorang sepertiku, non-humanoid.
“Api!"
Duk!
“Aish, sialan,” aku mengusap kepala begitu sadar sudah terbentur atap kubus itu. Lagu di mimpi itu terngiang lagi. Sebuah teriakan bernada di tengah api yang selalu keluar di mimpiku tiap malam. Kalau aku harus mencari orang itu, memang harus mulai dari mana?
“Jangan mencari sesuatu yang tak pasti. Mulai saja dari kunci gerbang,” aku kembali bermonolog.
“Sekarang aku harus mengingat bagaimana cara menemukan kunci itu. Apa aku harus melakukan sesuatu?” kembali terdiam sambil menggali ingatan aku menatap kosong. Satu persatu isi tentang lembaran buku itu melayang di otakku. Tentang gerbang yang tersembunyi, tentang pencipta, dan tentang kunci itu. Sekarang aku mengingat sesuatu tentang cara mendapatkan kunci itu dan ke mana aku harus pergi. Percikkan semangat kembali ke dalam hatiku dan menuntunku untuk memulai menemukan apa sebenarnya diriku ini. Apakah aku adalah manusia sepenuhnya? Atau justru lebih dari manusia biasa?
“Jika aku bisa mendapatkan dua kunci itu maka aku bisa tahu.”