Dream Is An Alternate Universe

Dream Is An Alternate Universe
The Descendants: Chapter III - The Placement



Commander! Semua leader SM dari TVXQ sampai WayV


Colonel! BoA, Eric Shinhwa


Resistance trainee! Renjun NCT Dream dan pembaca


Technican! Ningning aespa, Changmin TVXQ


Resistance pilot! Leader grup SM, BoA, Lay EXO


Father! Heechul Super Junior


Renjun father! Hangeng


(Poe Dameron merupakan tokoh asli di Star Wars)


⚠️ Penyebutan fobia, tidak semua yang ada di sini sesuai dengan canon maupun legend Star Wars


Sebuah (trilogi) semesta alternatif dimulai sekarang!



🎶


Only that can heal the pain


From the bruises of the world


If only we take care of each other


(Yoo Youngjin/SMTown - Dear My Family)


🎶


A long time ago, in a galaxy far, far away ....


Malam sebelum tes sebenarnya, kamu meminta bantuan lagi pada para komandan untuk meyakinkan diri, apakah kamu akan tahan dengan suara X-Wing jika berada di dalamnya.


"Beruntung ini belum jam tidur. Kamu memintanya di saat yang tepat, ikutlah denganku," Komandan Yunho mengajakmu dan Renjun ke hangar untuk mencoba apakah kamu benar sudah tahan dengan suara starfighter tersebut. Di tempat itulah berbagai bentuk pesawat luar angkasa milik Resistance tersimpan, Renjun tampak kagum karena hangarnya jelas lebih besar dari yang ada di kota kalian.


"Oh, Cassie! Kau menikmati menjaga tempat ini?" astromech droid bercat merah milik Komandan Yunho bergerak ke arah pria itu dan mengeluarkan suara beep. Kamu mengetahui dari nadanya, senang.


"Apakah kami juga akan memiliki droid seperti itu ketika lulus dari masa trainee?" tanya Renjun tampak senang juga dengan kehadiran benda yang berbadan seperti bola itu.


"Tentu, mereka akan membantu kalian dalam penerbangan. Terutama X-Wing," jawab Yunho sambil berjongkok dan mengusap droidnya layaknya peliharaan, "Kerja bagus. Sekarang aku hanya perlu Teknisi Changmin. Panggil dia, kau yang tahu tempatnya berada."


"Komandan juga punya teknisi pribadi?" tanya Renjun lagi.


"Lebih semacam sabahat teknisi. Kalian juga akan menemukannya. Oh, Changmin!" seorang pria lain masuk ke hangar bersama droid Yunho. Komandan Red Squadron itu menyambut kedatangan kawannya dengan semangat.


"Hai, Bro. Ada apa kemari bersama dua trainee ini. Mereka dihukum membersihkan seluruh hangar?" tanya Changmin sambil memberikan kalian tatapan penasaran.


"Tidak, tidak. Aku ingin membantu anak ini. X-Wing-ku dalam keadaan baik 'kan?" Yunho membalasnya dengan pertanyaan.


"Ya, semuanya baik. Kamu mau menerbangkannya?"


"Tidak, nyalakan saja. Biarkan anak itu duduk di dalamnya. Dia harus membiasakan diri."


"Eiii, apa kau sedang memilih calon komandan baru, huh?" Changmin memicingkan matanya.


"Belum. Dia hanya butuh bantuan dengan ... apa aku boleh bilang?" Komandan Yunho meminta izin padamu terlebih dahulu.


"Tentu saja, boleh, Komandan," kamu mengizinkan dengan senang hati. Selagi itu akan membantumu, mengapa harus merasa berat? Lagi pula fobiamu sudah jadi rahasia umum di base.


"Baiklah, dia anak yang punya fobia terhadap suara X-Wing dan ... kau tahu apa? Dia anak Mayor Heechul," Yunho meneruskan informasi yang ia ketahui tentangmu pada Changmin.


"Orang itu! Dia pilot yang menyenangkan. Ah, pasti karena kecelakaan itu. Baiklah, lakukan penyembuhan fobiamu. Itu akan menghambatmu menjadi pilot hebat kalau dibiarkan," Teknisi Changmin membuka kaca X-Wing dan mengambil tangga untuk menaiki starfighter bercorak merah itu.


"Cobalah, nyalakan saja mesinnya. Tidak perlu gerakkan ke mana-mana. Kau sudah belajar soal itu, pengetahuan dasar,” Yunho mempersilakanmu menaiki dan menyalakan mesin X-Wing-nya.


"Sebuah kehormatan," kamu memberi hormat pada Komandan Yunho dan memanjat tangga itu.


Beep! Beep!


Droid milik Komandan Yunho menggelinding sambil membawa helm berwarna dasar hitam dan corak merah pada tuannya sambil membunyikan beep ceria.


"Tunggu, Cassie meminjamkanmu helmku. Ini mungkin akan sedikit meredam," pria itu mengulurkan helm padamu.


"Terima kasih lagi," kamu menyambut uluran dan mengenakan helm itu. Selanjutnya kamu masuk ke kokpitnya dan menyalakan mesin sambil menutup kaca yang tadinya terbuka. Kamu mencoba mengalihkan pikiran dengan melihat sekitar hangar, memikirkan angkasa luas, masa damai kalian, kebaikan para Komandan, juga ... sahabatmu Renjun.


"Aku sangat siap untuk ini!"


Keesokan paginya kalian sudah berbaris di lapangan dengan seragam lengkap. Tidak hanya para komandan yang ada di situ, ada Kolonel Eric dan BoA, serta Jenderal Poe Dameron.


"Ini hari besar. Apakah kalian sungguh sudah siap?" tanya Komandan Suho berusaha membakar rasa semangat para trainee.


"Siap, komandan!" jawab kalian dengan tegas dan semangat.


"Bagus. Selama menjadi trainee kalian kami nilai dari segala aspek kelayakan. Tidak hanya soal otot,begitu juga otak dan sikap. Sayangnya beberapa dari kalian memiliki sikap yang kurang, potensi kalian padahal bagus. Untuk menghargai trainee-trainee terbaik, mereka berhak mengikuti ujian terlebih dahulu sementara yang lain menunggu di sini, berdiri," tegas Komandan Suho yang sukses membuat beberapa trainee membulatkan mata.


"Baiklah, kami akan mengumumkan 5 trainee teratas," Komandan Lina, yang baru saja kembali dari patroli jauh bersama squadron-nya, tidak memberikan jeda reaksi apa pun untuk para trainee. Sekarang kamu berharap-harap cemas. Tentu saja semuanya ingin jadi trainee terbaik, begitu juga dirimu. Satu persatu nama disebutkan oleh Komandan Victoria. Nama keempat adalah sahabatmu sendiri, Renjun. Sampai saat ini, namamu belum disebutkan.


"Dan yang kelima ...," sesaat Komandan Lina melemparkan pandang padamu dan menyebutkan namamu. Tak kamu sangka, ternyata dirimu masih termasuk yang terbaik di samping semua kekurangan itu.


"Untuk lima terbaik pertama, bisa segera menuju simulator bersama kami," sambung Komandan Yunho. Kamu, Renjun, serta tiga trainee terbaik lainnya memberi hormat dan keluar dari barisan. Lagi-lagi kamu mendapat pandangan iri, tetapi kamu tetap tenang. Malah menikmatinya. Sepertinya jiwa kebal gunjingan Heechul mulai meresap sedikit-sedikit padamu.


Selain 5 murid terbaik, ada juga 3 komandan serta 2 kolonel yang akan menguji kalian. Karena sistemnya acak, maka secara tidak sengaja kamu diuji oleh Kolonel Eric.


Wah, tidak main-main, pasti akan menjadi sengit. Begitu pikirmu.


"Nak, aku tidak akan mengalah darimu. Bertahanlah sebisa mungkin," pesan Kolonel Eric.


"Siap, Kolonel. Saya akan bertahan dan menyerang dengan baik," kamu membalasnya dengan penuh percaya diri.


"Aku berharap yang terbaik darimu," Kolonel Eric tersenyum padamu dari mesin seberang. Kamu pun memberi hormat.


Di sisi lain, Renjun sepertinya punya penguji yang sama beratnya denganmu. Ia diuji oleh Kolonel BoA.


"Performamu saat latihan bagus dan aku dengar kau juga setia kawan? Kalian berdua memang pasangan sahabat yang keren," puji Kolonel BoA pada Renjun.


"Terima kasih, Komandan," balas Renjun dengan senyuman.


"Berjuanglah dengan baik bertarunglah denganku secara adil, Renjun."


"Itu pasti, Kolonel."


"Baiklah, semuanya sudah dalam posisi? Ujian akan di mulai dalam tiga, dua ...," Komandan Taeyeon berseru menghitung mundur mesin simulator. Kamu memfokuskan diri pada layar.


"Satu!"


Langkah pertama, menyalakan mesin dan menerbangkannya. Kali ini bukan hanya di dalam planet, tetapi sampai keluar planet. Baiklah, masih aman, kamu bisa melalui ini. Suara X-Wing pun sudah tidak menjadi masalah besar bagimu. Bahkan saat ini, sejujurnya kamu lebih fokus untuk terbang dan mengawasi sekitar.


Wiung!


Dua TIE Fighter langsung melintas di atasmu. Sepertinya Kolonel Eric belum menemukan dirimu, kamu harus menghindar selama belum diserang. Dengan lihai, kamu mengendalikan pesawat simulasi itu dan berusaha berada di belakang dua armada itu. Namun sepertinya pergerakanmu terdeteksi karena sebuah tembakan laser tertuju padamu dari TIE Fighter itu. Kamu menghindar dan cepat-cepat mengunci salah satu pesawat itu untuk menembak.


Dor!


"Bagus," gumammu. TIE Fighter pun bertambah menjadi 3. Kolonel Eric memang tidak main-main dalam membuatmu kesulitan.


Satu melawan empat? Yang benar saja!


Sementara itu Renjun mengeluarkan kemampuan bermanuvernya tanpa ragu untuk menghindari serangan yang diberikan BoA. Para atasan kalian memang seram dalam menguji. Sahabatmu itu malah harus menghadapi 5 lawan sekaligus.


Dor!


Kamu menghancurkan satu lagi TIE Fighter lalu melakukan manuver untuk terbang di atas mereka. Targetmu kali ini tidak kehilangan satu pun dari 3 nyawa yang ada.


Itulah standar masuk Red dan Blue Squadron.


TIE Fighter itu mengincar mesin starfighter-mu dan kamu selalu menghindarinya. Sebagai gantinya, kamu mengunci dan menembak. Namun kali ini lolos. Tersisa 2 kendaraan, jadi Kolonel Eric bisa fokus mengendalikan dari pada 4.


Ternyata yang sedikit lebih berbahaya lagi.


Kamu menenangkan diri dan menganggap ini pertempuran sungguhan. Lawanmu adalah sosok yang benar-benar mengancam, bukannya Kolonel Eric. Saat kamu mau menyerang, salah satu TIE Fighter akan memasuki atmosfer sebuah planet. Sekarang kamu paham, mereka ingin menyerang planet itu.


Maka kamu memfokuskan target pada yang mendekati planet.


Dor! Dor!


Kamu menembak TIE Fighter itu sampai jatuh, tetapi sebagai gantinya sekarang sayap kirimu tertembak.


Saat seperti ini kamu harus segera kembali ke pangkalan.


Sebelum kembali, kamu tidak membuang waktu untuk menembak TIE Fighter yang tersisa, juga akan masuk ke atmosfer suatu planet.


Dor!


Kamu memutar arah, tidak ingin melihat sebuah pesawat  jatuh.


Astaga, kamu memikirkan hal itu!


"Tidak, tidak. Aku sudah menang. Mari kembali dan tidak akan terjadi ... jatuh," kamu menenangkan diri yang mulai terganggu. Tiada waktu untuk kesalahan di depan kolonel, beliau juga tidak akan memaklumi kalau itu fobia sekali pun. Kamu menahan diri dan mengembalikan pesawat ke tempat berangkatnya. Pendaratan yang mulus sampai kamu mematikan mesin.


Simulasi telah selesai


Tulisan yang muncul di layar dan berwarna merah membuatmu dapat menghela napas.


"Kolonel juga hebat. Saya masih harus belajar banyak dari orang seperti Anda," kamu tersenyum.


"Hormat."


"Hormat!" kamu memberi hormat pada pria itu dan menurunkan tangan ketika ia beranjak dari hadapannya.


"Bagi kalian yang sudah selesai ujian, dipersilakan untuk istirahat dahulu," Komandan Lina mengumumkan.


"Terima kasih, Komandan!" kalian semua berterima kasih dan memberi hormat sebelum pergi.


"Bagaimana ujianmu? Lancar 'kan?" Renjun langsung merangkulmu dengan ceria.


"Bisa dibilang begitu. Intinya aku bersyukur ada peningkatan di kemampuan dan fobiaku sepertinya sudah lebih banyak memudar," kamu membalasnya dengan ceria pula, "bagaimana denganmu?"


"Aku punya role model baru setelah ayahku, ayahmu, dan kakakku. Kolonel BoA benar-benar keren. Namun aku bisa mempertahankan semua nyawaku," Renjun tampak bahagia dan puas dengan hasil ujiannya.


"Sepertinya kita sama baiknya. Ah, pengumumannya dipikir besok pagi. Sekarang mari makan!" sahutmu yang diiringi tawa pria tersebut.


Hari esok datang dengan cepat. Kali ini bukan hanya para komandan, kolonel, dan Jenderal Poe yang ada di lapangan bersama kalian. Ada juga para pilot dari semua squadron yang ada di base ini. Selain itu, para trainee teknisi berbaris di sisi kiri kalian. Mereka juga dinyatakan lulus dan menerima gelar hari ini juga.


"Perhatian para calon pilot dan calon teknisi. Masing-masing dari kalian sudah memegang sebuah kertas. Itu adalah nama orang yang harus kalian cari. Teknisi mencari pilot dan sebaliknya. Para teknisi nanti akan mengantarkan kalian pada droid dan starfighter milik kalian yang juga akan menunjukkan di squadron mana kalian akan berada. Kalian boleh bergerak hanya ketika salah satu dari kami memberi aba-aba, paham?" Komandan Victoria menjelaskan teknis pengumuman mereka yang sedikit unik itu.


"Paham, komandan!" jawab para trainee serentak dan tegas.


"Ambil alih komando. Posisi siap!" seru Komandan Taeyong dan kalian langsung mengubah posisi menjadi siap dari istirahat.


"Kalian boleh buka kertas sekarang," tambah Komandan Lina.


Kamu segera membuka kertas yang sedaritadi digenggam. Di sana tertulis nama Ning-Ning.


"Ah, dia ...," dia bukanlah orang yang asing bagimu. Ning-Ning dan kamu berasal dari kota yang sama. Tentu saja kau masih ingat wajahnya.


"Sekarang, cari orang itu!" Komandan Taeyong mengaba-aba kalian untuk bergerak. Kamu berlari menuju barisan untuk menemukan Ning-Ning. Satu persatu wajah para teknisi kamu amati sampai ....


"Hei, kau. Pilot terbaik di planet kita," seorang wanita menepuk pundakmu, kau tahu dari suaranya. Kamu langsung berbalik dan benar saja! Itu dia Ning-Ning.


"Ning-Ning! Wah, kita bertemu lagi," sambutmu dengan senang.


"Ayo segera ke hangar. Aku punya kejutan buat kamu," Ning-Ning merangkulmu dan kalian bersama-sama masuk ke hangar.


"PT-4, kemarilah!" perempuan itu memanggil sebuah droid berbadan bola dan berkepala separuh bola berwarna biru-ungu.


"Uwah, itu lucu. Kamu membuatnya?" tanyamu mengamati droid itu.


"Apa kamu tidak mengingatnya?" Ning-Ning bertanya dengan heran. Sementara droid itu bersuara dengan nada sedih.


"Apa itu Petals? Kamu memperbaikinya? Ah, maaf tidak mengenalimu. Dahulu ayahku memang sangat jarang pulang ke rumah jadi ... maaf, Petals," kamu meminta maaf pada droid itu karena tidak mengenalinya.


Beep! Beep!


"Tidak apa, katanya. Ya, aku memperbaikinya. Teknisi Shindong bilang dia tadinya punya ayahmu. Mungkin kamu tidak mendapat yang baru ... tetapi dia sangat ingin menjadi pendampingmu," cerita Ning-Ning.


"Itu tidak masalah, dia terlihat hebat seperti baru. Terima kasih, Ning-Ning," kamu kini berterima kasih pada teknisi muda itu.


"Itu pekerjaanku. Sekarang dia jadi milikmu. Mintalah dia menunjukkan jalan pada starfighter-mu."


"Baiklah, Petals, tunjukkan jalan ke starfighter kita," kamu memerintah droid itu. Petals mulai bergerak dan kalian mengikuti. Badannya berhenti di depan sebuah X-Wing bercat merah dan putih dengan sedikit corak kuning.


"Aku sungguh mendapat X-Wing?" tanyamu lebih kepada diri sendiri.


"Kamu memang pantas mendapatkannya," Ning-Ning tersenyum padamu. Petals juga berbunyi dengan bahagia.


"Perhatian semuanya, kalian sepertinya sudah menemukan starfighter masing-masing. Di 5 orang terdekat di hadapan saya adalah anggota baru di Red Squadron dan 5 orang selanjutnya adalah anggota Blue Squadron. Mereka akan tergabung dalam Black Squadron. Kita akan mulai pelantikannya di sini. Khusus untuk anggota baru Black Squadron, kalian akan dilantik khusus oleh Jenderal Poe Dameron," Kolonel Eric memberi pengumuman pada kalian. Kamu membulatkan mata karena kini dirimu berada persis di samping kiri Kolonel Eric dan di seberangmu,Renjun berdiri bersama seorang teknisi pria dan sebuah droid yang tidak jauh berbeda dari milikmu.


Saat itulah kau menyadari, kalian sudah mencapai mimpi menjadi anggota Red Squadron.


"Pelantikan di mulai. Harap masing-masing calon berdiri dengan tegak," Kolonel BoA memulai dengan mengkondisikan pada calon, "Sepuluh pilot dan teknisi terbaik akan dilantik oleh Jenderal Poe Dameron. Silakan di mulai dari sini." Perempuan itu mengarahkan Jenderal Poe Dameron, yang sekarang memegang kepemimpinan Resistance dan juga terkenal karena perjuangannya bersama kawan-kawannya dalam memerangi First Order.


Ia menyematkan lencana pangkat letnan pada seragammu seraya tersenyum.


"Aku sudah dengar tentang kisahmu. Butuh perjuangan besar hanya untuk masuk ke mari dan perjuangan lebih besar untuk menjadi lulusan terbaik. Aku salut padamu, letnan," Jenderal Poe memberi hormat padamu. Kamu membalas hormatnya dan orang-orang bertepuk tangan.


Setelah seluruh rangkaian acara pelantikan selesai, kakak Renjun, Mayor Lay, mentraktir kalian makanan di luar base.


"Kalian sungguh membuatku bangga. Kedua adikku memang keren," Lay memberikan dua ibu jarinya pada kalian.


Pip! Pip!


"Oh, ya, kejutan lainnya sepertinya sudah datang," pria itu membuka gawainya yang memancarkan hologram kebiruan dari Heechul dan Hangeng secara langsung.


"Ayah!"


"Ayah!"


Kamu dan Renjun langsung menyahut bersamaan.


"Anakku!


"Anakku!"


Heechul dan Hangeng juga melakukan hal yang sama.


"Ah, bagaimana hasil kalian? Eih, kalian tidak mungkin gagal 'kan?" tanya Heechul.


"Tidak, bahkan lebih baik lagi, Yah, Om!" kamu  berkata dengan bahagia.


"Apa itu, Semestaku?" ayahmu penasaran, begitu juga dengan sahabatnya.


"Kami sama-sama ada di Red Squadron," jawab Renjun dan itu membuat ayahmu yang sedang minum hampir menyemburkan minumannya.


"Sungguh?" tanya Hangeng yang sedang membulatkan mata.


"Kalian berdua? Wah, ini tidak disangka," komentar Heechul yang sudah sukses menelan minumannya.


"Mereka memang sehebat itu. Wah, walaupun bukan aku tetap saja ... benar-benar bangga," Lay menambahi.


"Ayah, ada satu lagi kejutan," kamu mengangkat droid-mu, bukan, droid-mu dan ayahmu sebenarnya.


"Petals? Mereka menemukannya?"


"Dan memperbaikinya. Seorang teknisi perempuan yang kemarin berangkat bersamaku yang membuatnya kembali seperti baru," kamu menjelaskan secara cepat soal Petals.


Droid itu berbunyi senang beberapa kali saat melihat hologram Heechul.


"Yah, Om, dia benar-benar hebat juga. Dalam 2 bulan bisa mengurangi fobianya. Usahanya benar-benar keren," Renjun memujimu.


"Aku tahu dia bisa!" seru ayahmu heboh dan Hangeng tampak bisa menerima kelakuan sahabatnya.


"Ah, aku bisa melakukannya dengan bantuan para komandan dan juga Renjun. Tanpa mereka, mana bisa itu terjadi," jawabmu dengan malu-malu.


"Terima kasih, Renjun. Kamu benar-benar menjaga Semestaku dengan baik," Heechul berterima kasih pada Renjun, "Para Komandan juga orang baik-baik. Sampaikan rasa terima kasihku pada mereka."


"Jadi, kapan kalian bertiga bisa pulang ke planet ini?" tanya Hangeng.


"Hm ... tidak tahu."


"Aku juga tidak."


"Mereka belum memberikan kami libur."


Kalian menjawab bergantian dengan satu inti yang sama. Setelah makan-makan dan hologram call bersama kedua orang tua kalian, kamu dan Renjun memutuskan untuk pergi ke padang rumput dekat base berdua saja.


"Apa kamu masih khawatir dengan masa depan kita?" tanya Renjun.


"Yah, tidak terlalu. Sekarang beberapa jelas dan hal lain masih dalam proses. Kita bisa melindungi galaksi kita langsung jika terjadi sesuatu," jawabmu sambil memainkan daun rumput.


"Kalau aku, sih, masih," jawab sahabatmu.


"Ada apa?" tanyamu yang sudah berhenti dari kegiatan menggulung daun rumput.


"Hubungan kita ... apakah bisa lebih serius dari sekadar sahabat?" tanyanya sambil menatapku.


"Mengapa harus aku? Masih banyak yang lebih baik di luar sana dibandingkan diriku," kamu terheran.


"Memang banyak yang lebih baik, aku mengakui itu. Namun, yang aku kenal dan ketahui dalam juga yang mengetahuiku secara dalam hanya kamu. Itulah alasannya," ia membalas dengan serius, "Aku tidak hanya menyukaimu. Aku mencintaimu."


"Aku juga," jawabmu cepat.


"Apa itu artinya diterima? Hubungan kita naik level?" Renjun malah berkedip bingung.


"Menurutmu? Hahaha, aku sempat khawatir perasaanku hanya akan bertepuk sebelah tangan. Siapa yang tahu? Hei, haruskah kita bilang ini pada kedua orang tua kita dan kakakmu?" kamu tertawa karena reaksinya yang imut sekali.


"Simpan itu untuk kejutan besok."


Kalian menghabiskan hari pertama kalian setelah resmi menjadi anggota Resistance dan pasangan kekasih dengan menikmati suasana tenggelamnya matahari di planet yang menjadi markas kalian.


Author's note:


Apreciation art



SMCU is on fire, y'all!