
“Maaf, sekali lagi maaf. Naskah drama Anda tidak sesuai dengan pangsa pasar stasiun televisi kami. Mungkin Anda bisa memasukkannya ke yang lain,” senyum ramah itu sangat dipaksakan. Aku tahu karena ini bukan kali pertamaku. Di dalam hatinya, dia sedang menghujat diriku dan karyaku. Seperti staf-staf yang ada di kantor stasiun TV BCTV kemarin. Dengan mudahnya mereka menghina hasil kerja kerasku, tanpa tahu apa yang harus aku lalui untuk menyelesaikan ini. Ia juga memintaku untuk mencoba ke stasiun TV lain! Oh, aku rasa itu sudah semuanya yang ada di negara ini. Semua yang membuka kesempatan untuk memasukkan naskah drama, tentunya. Namun, aku bukanlah siapa-siapa yang boleh marah pada keadaan.
Maka yang kulalukan hanya tersenyum kembali dan mengucapkan, “Terima kasih atas kesempatannya, Pak.” Setelah itu aku menarik naskahku dari atas meja dan membalikkan badan untuk keluar dari ruangan. Satu helaan napas lepas dari mulutku begitu kaki berada di bagian luar pintu kaca. Penolakan ini merupakan bukti bahwa aku mungkin benar-benar tidak punya bakat, seperti kata orang-orang di masa kecilku.
“Uh, apa yang kamu pikirkan? Semangatlah, masih ada satu kesempatanmu untuk jadi penulis sesungguhnya,” aku menyemangati diri yang sudah lelah. Dengan langkah terseret, aku menuju elevator untuk keluar dari gedung ini. Kutekan tombol yang menempel pada dinding untuk menandakan bahwa aku menunggunya di lantai ke 9 ini. Sementara menanti pintu terbuka, aku melihat pantulan diriku di benda metal itu. Aku tidaklah menarik, apa lagi cantik, terlebih dengan kantong mata yang masih terlihat jelas meski sudah berusaha menutupinya dengan bedak.
Tring!
Pintu metal itu terbuka dan dengan segera aku melangkahkan kaki untuk masuk. Setelah itu aku memilih lantai 1 di tombol yang ada di sisi pintu sebelum itu tertutup secara otomatis. Di dalam sini hanya ada diriku seorang, bersama 4 sisi bayanganku yang terpantul jelas.
Hey, Mamacita naega a-ya-ya-ya-ya~
Tiba-tiba ponselku berdering. Setelah melihat nama kontaknya yang tertera jelas, dari penerbit buku, aku segera mengangkatnya dengan harap ada kabar baik.
“Halo ....”
“Oh, halo, selamat siang, dengan Saudari Rumi?” tanya suara seorang perempuan di ujung sambungan.
“Iya, benar,” jawabku berusaha kembali menjadi semangat dan ceria.
”Jadi begini, penerbit kami sudah menerima naskah novel Saudari yang berjudul ‘Elevator Menuju Neraka’. Kami juga sudah membaca sinopsisnya dengan saksama,” suara itu lalu terjeda. Kesempatanku untuk berdoa, semoga selanjutnya kabar baik, ya, Tuhan. “Kami memutuskan ... belum dapat menerbitkan buku Anda.”
Bruk!
Aku terduduk di atas dinginnya lantai elevator. Apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuaku, khusunya ibuku, setelah aku yakin mengambil jalan ini, namun tidak menghasilkan apa pun?
“Ah ... baiklah ... terima kasih atas kabarnya,” balasku dengan lunglai. Sudah bertahun-tahun aku mencoba dua langkah yang cukup besar, menulis novel dan naskah drama, bukannya cerpen di koran. Tetapi, ini penolakan yang ke sekian kalinya. Ah, aku tidak sanggup menyebutkan jumlah pastinya. Itu akan membuatku terlihat seperti pecundang tulen. Kini aku bahkan tidak bisa melihat pantulan diriku yang menyedihkan di dinding elevator. Aku memang orang yang tidak berguna!
Bzzz! Bip!
Lampu yang ada di dalam elevator berkedip liar tanpa dinyana. Tidak hanya itu, suara derakan juga ikut menambah ketegangan. Dengan perlahan aku mencoba menekan pintu buka elevator. Sayangnya tidak ada respons apa pun, begitu juga tombol lantai.
Bruk! Bruk!
“Tolong! Siapa saja!” teriakku sambil mencoba menggedor pintu. “Tolong! Keluarkan aku! Apa ada yang mendengar?”
Krak! Srat!
Benar saja, yang aku takutkan terjadi. Elevator itu terjatuh bisa dilihat dari penunjuk lantai yang angkanya berubah dengan cepat. Sekarang aku hanya bisa pasrah dan berpegangan erat pada handle yang tertanam di dinding elevator. Inikah akhir dari diriku, si Penulis Amatir?
Ting!
Pintu elevator terbuka secara otomatis dan menampakkan cahaya putih. Bukannya tadi elevatornya terjatuh dari lantai 9? Apa aku sedang sekarat? Apa pun itu, aku memilih mengikuti instingku, keluar dari sana segera. Kakiku melangkah ke luar dan pemandangan dihadapanku malah membuatku menyesal. Mengapa aku ada di neraka, atau yang orang normal sebut sebagai sekolah dasar, ini? Segera saja aku memutar haluan untuk kembali ke elevator, namun yang kutemukan hanya pintu kayu berwarna hijau muda. Lebih anehnya lagi, sekarang aku bisa melihat diriku sendiri yang berusia 11 tahun berjalan masuk ke kelas.
Bluk!
Diriku kecil langkahnya terjegal oleh salah seorang murid iseng.
“Rumi, kalau jalan matanya dipake, dong!” bentak salah satu teman sekelasku dahulu. Teman? Oh, teman macam apa yang memberikan luka pada temannya? Saat itu, aku hanya menunduk dan meminta maaf pelan. Selanjutnya, aku duduk di kursi belakang, dekat jendela. Tasku ada di sini, seperti kebiasaanku saat kecil. Aku mengikuti diriku yang masih kecil tanpa menjadi objek perhatian mereka, uh, sebenarnya apa yang terjadi denganku sampai mengalami hal aneh ini?
“Rumi, Rumi, bisakah kamu bantuin aku buat jawab soal matematika ini?” Yena berdiri di depanku dan menyodorkan buku matematika di hadapanku, yang kecil tentunya. Ah, aku ingat benar hari ini! Kalau ini mimpi, tolong bangunkan aku sebelum semuanya bertambah makin buruk dan menyakiti kepalaku dengan semua kenangan itu.
“Oh? Tidak bisa, ya? Maaf, aku yang salah, kamu ‘kan matematikanya selalu di bawah tujuh. Kalau kata Bu Guru, kamu itu kebanyakan ngayal makannya bodoh! Bener gak temen-temen?” kata-kata Yena disahut oleh tertawa oleh seluruh kelas. Kejadian itu memang sudah sangat lama, akan tetapi rasa sakit hatinya masih ada sampai saat ini. Elevator sialan! Mengapa aku harus di bawa ke hari ini?
“Rumi, Rumi, kalau sudah besar mau jadi apa kamu?” Yena mengejek lagi.
Aku kecil membalas dengan mantap, “Penulis! Aku mau jadi penulis terkenal!”
“Hahaha, kalau ceritamu seperti yang ada di majalah dinding itu, lebih baik kamu ga jadi apa-apa, Rum! Siapa yang mau baca begituan? Apa? Kisah persahabatan anak bodoh? Menggelikan,” satu kelas tertawa, seakan mengamini kata-kata itu dan mengutuk masa depanku. Aku yang melihat itu hanya bisa menghela napas karena memang, di masa depan aku belum jadi apa-apa, persis seperti kata Yena.
Kring! Kring!
Bel masuk berbunyi. Ah, ini waktunya matematika, ilmu yang tidak menyenangkan bagiku, terlebih aku memang buruk dalam pelajaran itu. Tidak seperti bahasa Indonesia yang jauh lebih baik. Tetapi siapa yang peduli? Selama nilai matematikaku masih jelek maka aku adalah orang yang bodoh, begitu kata semua orang di sekitar. Bahkan kata-kata itu masih mengitariku ketika dewasa. Guru matematikaku saat itu, Bu Sylvie masuk. Tetapi, pintu di belakang yang terbuka dan menampakkan cahaya putih terang. Baru saja aku menengok ke sana, aku tersedot ke arah cahaya itu berada tanpa dapat dilawan.
Brak!
Aku membuka mataku begitu suara kencang itu memasuki telingaku. Refleks kutolehkan kepalaku ke sumber suara itu yang rupanya adalah diriku kecil. Ia memukul papan majalah dinding yang banyak bertempelkan kertas-kertas.
“Ini semua keterlaluan,” dengan marah diriku kecil menyobek kertas yang berisi ejekan itu sambil terus menggerutu, “Aku harus keluar dari neraka ini. Aku harus keluar cepat. Aku harus bisa membungkam mereka setelah itu.” Apa maksudnya semua ini? Mengapa aku harus melihat adegan di neraka ini lagi? Dengan langkah cepat, diriku kecil keluar dari gerbang sekolah dan berjalan kaki menuju rumah. Aku mengikuti langkah kakinya. Setelah aku melewati pintu gerbang sekolah, aku keluar di dalam kamarku. Masih terasa aneh, namun, aku akan mengikuti arus untuk tahu apa maksud elevator itu melemparkanku kemari.
“Rumi!” seorang wanita memanggil namaku dengan nada tinggi, tanpa menoleh pun aku tahu itu ibuku yang sedang marah. Aku kecil membeku di atas kursi meja belajar sementara derap langkah kaki ibu semakin dekat.
“Rumi! Kau ini benar-benar ... siapa yang mengajarkanmu berbohong, huh? Gimana kamu bisa nyembunyiin semua nilai ujian tengah semestermu di bawah tempat tidur. Dipikir ibu tidak tahu apa?” ibu menarik diriku kecil dan hendak melayangkan pukulan memakai sulak. Dengan sigap, tanganku menggenggam sulak itu. Akan tetapi aku lupa, diriku dewasa tidak terlihat di sini. Adegan itu tetap terjadi. Adegan yang tidak hanya menyakiti pantatku, namun juga hati dan jiwaku.
Plak!
“Mau jadi apa kamu besok besar?” wanita yang kupanggil ibu itu terus mengomel sementara diriku kecil hanya terdiam.
“Masih mau jadi penulis? Mau makan apa kamu nanti? Uang juga ga banyak! Belajar yang benar biar bisa kerja yang benar juga!” Air mataku tumpah perlahan, tanpa bisa kucegah. Heran juga bagaimana diriku saat kecil dapat menahannya. Diriku benar-benar sekuat itu.
Plak!
“Aku tidak mau tahu, pokoknya ulangan selanjutnya harus naik!” setelah puas memakiku diriku kecil, ibu keluar.
“Aku harus membuktikan diri ke Ibu,” monolog diriku kecil sambil mengelap air mata yang ada di sudut matanya dengan kasar, “Aku harus bisa berhasil. Aku akan belajar, keluar dari dua neraka ini dan membungkam mereka semua.”
“Wah, aku sangat bersemangat seperti itu dahulu?” gumamku menatap diriku kecil yang malah makin berapi-api untuk berkarya dan belajar setelah dihujat dan dimarahi seharian. Seharusnya seperti itu semangatku saat ini, seperti yang ada di masa lalu, saat aku masih berada di dua neraka itu, teman sekolah dasarku dan keraguan ibuku. Rumi kecil yang tadi asyik menulis beranjak dari kursinya. Karena benar-benar lupa dan penasaran dengan apa yang aku tulis saat itu, kakiku melangkah mendekati meja.
Untuk : Rumi Di Masa Depan
Jangan berhenti sampai sukses dan buktikan kalau mereka semua salah soal dirimu dan cita-citamu! Keluarlah dari neraka ini.
Ah, kamu benar masa kecilku, aku tidak boleh berhenti sebelum sukses dan membuktikan kalau mereka salah.
Kriet ...
Pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar sekali dan menampakkan cahaya putih menyilaukan. Aku pun berjalan ke cahaya tersebut untuk tahu apa yang terjadi selanjutnya dan ...
Bruk!
Aku langsung terjatuh di atas lantai seng, sepertinya tersandung saat berjalan.
“Aw, eh, aku masih hidup?” gumamku setelah mengenali bentuk elevator gedung stasiun televisi yang aku naiki sebelum tertarik ke masa lalu. Sekilas aku melihat sebuah kertas kusut di depanku persis. Tanpa kecurigaan, kuambil kertas itu dan kubaca isinya.
Untuk : Rumi Di Masa Depan
Jangan berhenti sampai sukses dan buktikan kalau mereka semua salah soal dirimu dan cita-citamu! Keluarlah dari neraka ini.
“Oh, bagaimana mungkin. Apa aku barusan menjelajah waktu? Tetapi ....”
Tring!
LED di elevator menunjukkan angka 1, lantai tempat diriku seharusnya turun.
“Astaga, benar-benar aneh,” aku pun berdiri dan membenarkan pakaian serta mengambil ponselku yang juga tergeletak di lantai sebelum pintu elevator terbuka. Aku keluar dari sana dengan semangat yang menyala. Masa kecilku memanglah bagai neraka, namun itu memberikan semangat baru untuk tidak menyerah sebelum bisa memenangkan hati mereka yang meragukan pilihan hidupku.