Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 9



Mengapa aku selalu berharap padamu? Aku ingin menghapus rasa yang tengah bersemayam di hati ini. Dan, sungguh aku juga kecewa pada orang lain (Alex).


~Lina~


_______________


Lina menatap sendu ke arah langit yang mulai menggelap, akibat gumpalan awan hitam yang siap menumpahkan butiran air hujan. Sementara di sampingnya, Alex tengah menatap intens ke arah Lina. Entah apa yang dipikirkan keduanya, mereka berdua tengah hanyut dalam pemikiran masing-masing.


Sementara Inani dan Shabil, entah kemana perginya mereka berdua. Lina benar-benar tak menyangka akan menghadapi situasi seperti tadi. Sungguh, hatinya sangatlah sakit. Sakit, tanpa bisa terobati oleh siapapun. Bahkan Alex, apalah arti Alex bagi Lina? yang jelas Lina hanya menganggap Alex sebagai teman. Ya, hanya teman tidak lebih dari itu.


Tapi, Lina sadar bahwa keberadaan dan peranan Alex cukup besar. Lina akui, Alex adalah orang yang lumayan dekat dan tau segala isi hatinya terhadap Inani, selain Adel dan Dea. Bahkan, sampai saat ini Lina tak berani menceritakan soal perasaannya pada Raka, abangnya. Lina berharap, kelak Alex akan mendapatkan perempuan yang lebih baik darinya dan tentunya juga memiliki rasa cinta yang sangat besar untuk Alex. Tidak seperti dirinya yang takkan pernah bisa memberikan hati pada Alex.


Sementara Alex, ia menatap sendu ke arah Lina. Alex tahu, jika saat ini pasti Lina tengah memikirkan Inani. Ya Inani, siapa lagi kalau bukan dia yang selalu dan selamanya akan menjadi cinta untuk Lina. Sebenarnya, Alex sangat benci, jika Lina terus-terusan memikirkan Inani. Alex tak mau, jika harus melihat air mata yang selalu saja menghiasi wajah cantik Lina. Tapi, harus bagaimana lagi memberitahu Lina? sudah terlalu sering Alex menasehati Lina dan selalu saja dianggap angin lalu oleh Lina. Sangat rumit bukan?


Alex tersenyum  sembari menyisihkan anak rambut Lina yang tertiup angin kebelakang telinga. Lina tersentak kaget. Sesaat kemudian, ia menoleh ke arah Alex yang berada di samping kanannya. Lina mengembangkan senyuman manis pada Alex, dan Alex pun sangat bahagia, ketika melihat senyuman itu. Baginya, sesuatu yang paling indah di dunia ini yaitu, ketika ia melihat senyuman manis dari Lina.


Alex Diary.


Tetaplah tersenyum seperti itu. Karena, jika aku melihat senyuman itu, maka aku merasa sangat bahagia.


~Alex~


"Lin, lagi mikirin apa?" tanya Alex sembari mengunci tatapan Lina.


"Aku mikirin nasib yang nggak pernah berpihak. Aku mikirin takdir hidup. Aku mikirin dia, dia dan dia." Lina menghembuskan napas dengan kasar berkali-kali dan tentu masih menatap lekat pada Alex.


"Inani? Cih, selalu saja dia! Lin, kamu nggak capek apa nungguin dia cinta sama kamu? Seharusnya kamu sadar Lina, jika Inani selamanya nggak akan bisa jadi milik kamu." Alex menatap tajam Lina.


Entah dengan cara apa lagi menjelaskan semua itu pada Lina. Sementara Lina, ia langsung berdiri sembari berjalan perlahan menjauh dari Alex. Alex pun mengejar Lina, cukup mudah bagi Alex mengejar Lina. Karena, memang Lina agak kesusahan berjalan menggunakan kedua tongkat.


"LEPAS!" teriak Lina, ketika tangannya dicengkal oleh Alex.


"Dengarkan aku, Lin. Aku nggak bermaksud--"


"KAMU NGGAK PUNYA HAK NGOMONG GITU KE AKU. PERGI!" Lina menghempaskan tangannya dengan kasar, sehingga cengkalan tangan Alex terlepas dari tangannya.


"Lin ....,"


"AKU BILANG PERGI. PERGI DARI SINI. PERGI!" teriak Lina dengan suara yang bergetar.


Sementara Alex, hanya pasrah dan akhirnya meninggalkan Lina seorang diri.


"Jaga diri baik-baik," ujar Alex sebelum berlalu.


Lina pun menangis pilu, ia tak bermaksud mengusir Alex. Tapi, ia juga terlalu kesal dengan Alex yang seenak jidat mengatur dirinya. Lina tak suka seperti itu.


Lina Diary.


Nggak ada yang boleh mengaturku seperti itu. Diriku sangat benci, jika terlalu diatur. Jangan penah mengaturku, karena hidupku sudah ribet. Cukup saksikan saja jalan cerita hidup ini.


~Lina~


______________


Adel dan Dea kini tengah berada di UKS, mereka berdua tengah melihat keadaan si trio GB; Raka, Bob dan Nando yang tengah berbaring di ranjang UKS. Keadaan Bob dan Raka lumayan memprihatinkan, karena badannya masih terasa sangat nyeri, akibat menopang tubuh Nando tadi. Sementara Nando, kini tengah asik bermain game online di hp-nya. Emang Nando nggak sakit? ya elah, sakitnya cuma sebentar waktu kepalanya terkena bola. Setelah itu, ia fine-fine saja. Ya iyalah baik-baik saja, kalau jatuhnya disambut oleh dua kasur alami, yaitu Bob dan Raka.


"Udah mau masuk nih. De, ke kelas yuk!" ajak Adel.


Mendengar perkataan Adel, Raka langsung mencekal tangan Adel. Adel pun langsung menatap bingung ke arah Raka. Satu lagi, kini Adel dapat merasakan detak jantungnya berpacu dua kali lipat tak karuan. Dag dig dug. Oh Ya Rabb. Apa yang terjadi dengan Adel?


Ehem ... ahem ... uhum ...


Dea berdehem tak jelas, yang penting deheman itu untuk si Adel dan Raka.


"Eh, sorry." Raka langsung melepaskan tangan Adel.


"Cie ... cie ... cie ... swit ... swit ....," sorak Dea kegirangan.


"Acie asoy," sambung Nando yang langsung mematikan hp-nya. Kemudia, ia langsung merangkul pundak Dea.


"Apa salah dan dosaku sayang?" Eh, si Jawas malah nyanyi.


"Kok kamu malah nyanyi, sih?" tanya Nando heran, seheran-herannya.


"Lah, gimana nggak nyanyi coba? kalian berdua ada pasangan, lah aku? Sebatang kara," ucap Bob yang langsung di hadiahi teriakan alay dari Dea.


"Akh. Aku ternodai! Eh,  kamu ya nggak usah rangkul-rangkul aku. Aku itu masih polos, baru punya KTP."


Semua yang ada di ruang UKS menatap heran ke arah Dea.


"Siapa yang nodai kamu?" tanya Nando mendelik ke arah Dea.


"Ya kamu pegang-pegang aku. Najis tau," ujar Dea sembari memukuli tubuh Nando.


"Eh, aku nggak napsu ya sama tubuh krempeng kamu," ujar Nando menghindari pukulan Dea.


"Eh, berisik!"


"Biarin!" teriak Dea.


"Berdiam!" sambung Bob.


"Plis deh, bisa diam, nggak sih? Ini tuh UKS bukan tempat konser," tutur Adel menengahi perseteruan yang ada.


"Iya betul," jawab Raka sembari tersenyum ke arah Adel.


_______________


Lina berjalan dengan tertatih. Rintik-rintik air hujan perlahan turun membasahi bumi tempat Lina berpijar saat ini. Cuaca pun seolah menggambarkan perasaan Lina yang sedang lara. Rintikkan itu perlahan semakin deras, membasahi tubuh Lina. Lina menangis dalam hujan sembari menikmati tiap tetes air hujan yang mengguyur tubuhnya. Lina menutup matanya, merasakan betapa derasnya air mata sekaligus air hujan.


"Hujan seakan mendukung perasaan ini."


"Perasaan yang lara, selalu saja bersemayam di hati ini."


"Andai dia tahu, jika diri ini sangan mencintainya."


"Diri ini yang selalu sabar menerima ribuan luka olehnya, yang bahkan belum bisa di miliki."


"Sungguh, sakit rasanya. Tapi, sebisa mungkin akan terus bertahan. Bertahan hingga mendapatkan cinta darinya."


"Hujan ... menemani diri ini. Menemani saat-saat hati ini mulai goyah. Tapi, hujan seakan memberi kedamaian dalam diri ini."


"Kedamaian yang pernah sirna oleh luka yang selalu menancap di hati."


Tubuh Lina bergetar, seiring terisaknya dirinya dalam tangisan. Tangisan yang bahkan tak bisa orang lain lihat, karena tercampur oleh air hujan. Biarkan hujan mengguyurnya, walaupun nanti akan menyisakan sakit pada tubuh rapuhnya. Tapi, setidaknya dapat mengurangi luka yang bersemayam di hati dan membuatnya lebih tenang, damai dan sedikit mengobati kagundahan hatinya.


Lina merasakan hujan tak lagi mengenai tubuhnya, tapi Lina masih mendengar bunyi hujan yang masih saja berlangsung. Perlahan-lahan Lina membuka matanya. Pandangan yang pertama ia lihat adalah Inani. Inani? Benarkah itu Inani? Apakah ini mimpi? Mimpi dalam hujan. Ah, yang benar saja? Lina tak percaya. Tapi, sungguh Inani memang berada di depannya.


Lina ingin sekali memeluk tubuh itu dan menumpahkan segala tangisannya yang ingin keluar untuk kesekian kalinya.


Perlahan-lahan Inani menarik tubuh Lina ke dalam dekapannya. Lina membelalakkan matanya tak percaya. Sungguh ini nyata? Oh, yang benar saja. Lina menjatuhkan kedua tongkatnya dan membalas pelukan Inani. Tubuh Lina kembali bergetar, ia menangis pilu dalam pelukan Inani. Inilah momen yang selalu di nanti oleh Lina, bisa merasakan hangatnya pelukan Inani. Walaupun saat ini, bukan kehangatan yang di dapat melainkan dingin, akibat air hujan.


"Lina, are you okay?" tanya Inani sembari mengelus punggung Lina untuk menenangkannya. Inani tahu, jika saat ini Lina tengah menangis. Lina tak menjawab pertanyaan Inani.


"Pliss Lin, jangan nangis. Aku nggak bisa lihat kamu kayak gini." Entah apa yang di pikirkan Inani. Yang jelas hatinya sangat nyeri, ketika melihat Lina seperti itu. Inani seakan ingin menghapus luka yang tengah menyelimuti hidup Lina. Tapi, ia pun tak tahu luka apa yang tengah di pikul oleh Lina.


"Andai kamu tahu, apa yang aku rasakan."


"Andai kamu tahu, kalau aku sangat mencintaimu."


"Andai kamu selalu ada di samping hati ini."


"Andai aku bisa memiliki kamu."


"Andai kita menjadi sepasang kekasih."


"Andai semua pengandaian ini nyata."


"Tapi sayang, itu cuma seandainya."


Payung yang melindungi tubuh mereka berdua pun jatuh begitu saja. Inani sengaja menjatuhkannya, karena ingin memeluk Lina lebih erat, menenangkannya. Waktu seolah berhenti, mengulur lebih lama momen menikmati guyuran hujan pada tubuh mereka berduan.


Bagaimana dengan Shabil? Bagaimana dengan Alex?


Mereka berdua ternyata tengah menyaksikan momen itu. Moment yang membuat Shabil tersulut emosi, serta rasa kecewa yang sangat mendalam pada Inani, kekasihnya. Shabil ingin menghampiri mereka berdua, tapi Alex menghentikan langkahnya. Alex pun memeluk tubuh Shabil yang sedari tadi memberontak ingin merusak momen yang tercipta antara Inani dan Lina.


"Aku mohon kali ini saja jangan ganggu mereka," ucap Alex lembut.


"Tap--"


"Plis! turuti perkataan ku," ujar Alex memotong perkataan Shabil. Shabil pun hanya bisa pasrah dan akhirnya ia pun menangis, karena sakit hati, ketika melihat kekasihnya memeluk orang lain. Shabil sangat ingin berontak dalam pelukan Alex, tapi pelukan itu juga sangat nyaman.


_____________


Alex Diary.


Kau tau Lina? Aku melakukan semua ini hanya untuk melihatmu bahagia. Walaupun hati ini sangatlah sakit. Tapi, takkan ku biarkan Inani merebutmu dariku. Sungguh, biarkan saat ini kau nyaman dengannya, tapi suatu saat nanti akan ku buat kau nyaman disisiku.


~Alex~


Nyaman, tenang dan damai rasanya pelukan ini.


~Linani(Lina&Inani)~


Dear Inani


You are the reason


Bersambung..........