![Dear Inani [You Are The Reason]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/dear-inani--you-are-the-reason-.webp)
Dikala hati ini lara, selalu saja ada yang membuat perasaan ini semakin kacau. Dikala bahagia, adakah yang mau mempertahankannya? Sungguh, tidak akan pernah ada.
~Lina~
_____________
Lina memasuki ruang kelas dengan perasaan gusar. Tiba-tiba saja pandangannya tertuju ke arah Shabil berada. Shabil duduk bersebelahan dengan Inani. Entah mengapa Inani mengikuti Shabil sampai ke kelasnya, padahal sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai. Ah, Lina lupa, bukankah itu yang di namakan kesetiaan atau pengorbanan seorang kekasih? Entahlah, Lina hanya bisa tersenyum kecut saja.
Merasa ada yang memperhatikan, Shabil menengok ke arah Lina berada. Tatapan keduanya pun bertemu. Shabil menatap tajam sembari menahan emosinya yang ingin meledak. Sementar Lina, ia hanya menatap datar pada Shabil.
"Ngapain natap-natap? iri ya? Makanya buruan cari pacar biar nggak selamanya jadi jones. Satu lagi, kalo cari pacar itu yang masih sendiri ya. Jangan gebet cowoknya orang, bisa-bisa kamu di cap pelakor." Shabil berucap dengan lantang. Ia sengaja menyindir Lina seperti itu, agar Lina merasa malu pada teman satu kelasnya.
Mendengar ucapan Shabil, seketika membuat hati Lina nyeri. Air mata pun tak dapat terbendung lagi, "Tahan Lina, jangan menangis." Lina membatin. Sungguh, perkataan Shabil sangat menusuk dan semakin membuat perasaan Lina hancur.
"Shabil!" panggil Inani merasa geram dengan ucapan Shabil pada Lina. Entah mengapa Inani tak suka, jika Shabil berkata seperti itu pada Lina.
"Apa?" tanya Shabil dengan suara melembut, sampai-sampai membuat Inani semakin jengah saja.
Brak
Suara gebrakan meja, sungguh mengagetkan seisi kelas. Terutama Shabil dan Inani. Karena memang Dea, sang pelaku dengan sadisnya menggebrak meja yang di tempati Shabil dan Inani saat ini. Matanya melotot tajam menatap nyalang ke arah Shabil. Sungguh menyeramkan bak malaikat kematian, definisi dari Shabil dengan bergidik ngeri.
"Woi, mak lampir. Bisa, nggak tuh mulut di jaga? Atau mau di jahit, hah?" Sungut Dea yang sudah meluapkan emosinya.
"Nggak usah ikut campur. Sewot amat sih jadi orang." Shabil ya tetap Shabil, yang tak mau di kalahkan, apalagi soal adu mulut seperti ini.
Sedangkan Inani, ia hanya mampu mengacak rambutnya frustasi.
"Ya jelas aku ikut campur. Kamu ngatain sahabat ku, bodoh," Dea maju selangkah, ketika Shabil berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu ngatain aku bodih? dasar 'kadal buntung' nggak tau diri," cerca Shabil dan langsung saja menyerang Dea.
Suasana semakin memanas saja, dan kelas semakin riuh karena banyaknya para siswa-siswi yang menjadi penonton. Lumayan kan pagi buta seperti ini refreshing terlebih dahulu dengan nonton drama gratis, sebelum memulai pelajaran Matematika yang sungguh memusingkan.
"Semangat!"
"Wih, seru banget nih. Ternyata gini ya kalau cewek berantem!"
"Kamu dukung siapa? Shabil atau Dea? Kalau aku golput aja deh. Wkwkwk."
"Tarik yang kenceng rambutnya, Bil. Doaku menyertaimu."
"Eh, hp mana hp? Buat koleksi di chanel youtube bakalan seru nih. Guys, entar jangan lupa like and subscribe ya."
Kira-kira seperti itu antusias para siwa-siswi penonton adegan itu.
Dea dan Shabil semakin membabi buta, mencakar, menjambak, pokoknya semuanya komplit.
Sungguh, Inani sangat kesulitan dalam melerai Perang Dunia ke tiga yang di ciptakan oleh Dea dan Shabil. Lina yang semula hanya diam mematung di tempat, kini dirinya berlari ke arah keributan itu, membantu Inani dalam memisahkan keduanya.
Saat berusaha melerai keduanya, Lina justru terdorong dan dengan sigap, Inani menangkap tubuh Lina yang akan terhuyung jatuh ke lantai. Pandangan keduanya pun bertemu, jarak mereka berdua pun sangatlah dekat. Sampai-sampai Lina dapat merasakan hembusan nafas Inani.
"Gila! kamu jadi cewek kegatelan banget ya."
Shabil menarik kasar tangan Lina, agar menjauhi Inani dan ...
Plak
Shabil menampar Lina dengan kerasnya.
"CUKUP SHABIL, CUKUP! KAMU UDAH KETERLALUAN." Inani berteriak pada Shabil. Shabil pun tak menyangka, jika Inani akan berkata seperti itu. Terlebih, Inani tak menggunakan kata aku kamu justru yang ia dengar tadi kata lo. Sungguh, Shabil sangat geram saja dan ia kembali menampar Lina.
Plak
"Dasar gila. ****** kayak kamu itu pantesnya ada di Club malam, nggak di--"
"SHABIL, AKU BILANG DIAM YA DIAM!" bentak Inani lagi. Sementara Lina, ia hanya mampu terisak dalam dekapan Dea. Jiwa dan raganya sungguh sakit, harga dirinya pun sudah jatuh dipermalukan oleh Shabil. Sungguh, Lina tak menyangka dengan prilaku Shabil.
"Kalau aku nggak mau diam, kenapa?" tantang Shabil pada kekasihnya itu.
"Kita putus!" ucap Inani datar. Inani sungguh muak dan tak habis pikir, bahwa sikap Shabil sangatlah buruk. Pintar sekali Shabil menyembunyikan sifat itu. Sungguh, demi apapun Inani sangat muak dan jengah.
"Nggak, aku nggak mau putus sama kamu," ujar Shabil tak percaya dengan ucapan Inani yang mengajaknya putus.
"Terserah!" Inani pun pergi meninggalkan kelas itu. Shabil menatap nanar punggung kekasihnya itu. Ralat, entah kekasih atau sudah menjadi mantan kekasih.
Pandangan Shabil pun kembali mengarah pada Lina.
"Kamu udah berani main-main sama ular Cobra. Lihat saja nanti." Shabil berucap dengan dingin dan dengan nada mengancam.
Setelah itu, Shabil pergi meninggalkan kelas itu. Tapi sebelumnya, ia tak sengaja menyenggol lengan Alex yang akan memasuki kelas itu. Ia melihat sekilas pada Alex, lalu kembali melangkah pergi.
Alex pun dibuat bingung dengan tingkah Shabil dan akhirnya, ia hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Lina, kamu kenapa?" tanya Alex yang langsung khawatir melihat keadaan Lina yang tengah di dekap oleh Dea. Sedangkan Dea, keadaannya lebih parah dan mengenaskan dengan rambut acak-acakan dan baju yang sangat berantakan.
Hiks ... hiks ...
Hanya suara tangisan yang terdengar dari mulut Lina. Dea pun juga sama, ia menangis sesenggukan melihat keadaan temannya yang seperti itu. Dea tak memusingkan dirinya sendiri, ia lebih prihatin pada Lina. Sungguh, Dea mengumpat dalam hati, ketika menyadari, bahwa sedari tadi Adel tidak menampakkan batang hidungnya.
"Argh, kalian semua punya mulut, nggak sih? tolong ceritain semuanya, bagaimana pun juga aku itu ketua kelas di sini." Alex sangat frustasi sembari menatap tajam teman-teman sekelasnya.
"Kamu dari mana sih, Lex?" tanya Julian, teman akrab Alex.
"Aku tadi di panggil sama pak Asep, beliau tidak bisa hadir karena ada urusan mendadak, Jul." jelas Alex cepat.
"Terus, Lina kenapa, Jul?"
"Nih, kamu lihat aja!" ucap Julian menyodorkan hp salah satu teman kelasnya. Di layar hp itu pun sudah terputar kejadian tadi. Alex menggertakkan giginya, menahan amarahnya, "Brengsek! kalian berdua sangat brengsek," batin Alex penuh dengan emosi.
Lina Diary.
Sakitnya sungguh luar biasa. Perasaan hancur, harga diri jatuh. Apalagi yang tersisa? Sungguh, semuanya telah hancur dan hanya membuat diri ini semakin down saja.
~Lina~
______________
Di taman sekolah, Raka masih setia menunggu sang pujaan hati. Sedari tadi ia sungguh merasa gusar. Dari kejauhan, ia melihat paras ayu pujaan hatinya. Senyuman Raka pun mengembang di kala cewek itu semakin mendekat.
"Halo!" sapa si cewek tersebut dengan senyum ceria, "Syukur, senyumannya nggak mendung. Kemungkinan besar di terima," sorak Raka dalam hati.
"Iya. Gi ... gimana?" tanya Raka sedikir gugup.
"Aku mau," ucap cewek itu dengan mantap.
Mendengar jawaban sang pujaan hati, membuat Mbin bersorak ria dalam hati. Sungguh, hari ini merupakan hari yang sangat bersejarah bagi Raka, ingat tanggalnya, 03 Januari 2020.
"Mau apa?" tanya Raka menggoda pujaan hatinya.
"Mau kamu," ucap cewek itu dengan malu-malu.
"Eh, maksudnya mau jadi pacar kamu." Adel berkata dengan manisnya.
Adel? benar, Adel yang selama ini telah berhasil mencuri perhatian dan juga cinta dari seorang Raka. Sungguh hebat dirimu, Del. Adel dan Raka pun saling memandang, pandangan penuh cinta tentunya.
Raka meraih kedua tangan Adel sembari menatap lekat wajah Adel.
"Mulai hari ini, tanggal 03 Januari 2020 kita berdua resmi menjadi sepasang kekasih."
"Del, aku sangat bahagia saat ini."
"Aku harap cinta kita ini langgeng sampai pelaminan kelak, bukan hanya menjadi cinta receh atau abal-abal anak SMA saja."
"Aku sangat serius menjalin hubungan denganmu."
"Tetap setia yaa tunggu aku sampai aku sukses, setelah itu aku bakalan datangin calon mertua buat lamar kamu."
"Cuma satu yang aku minta dari hubungan ini, Del. Kejujuran kita berdua, itu saja."
"Berjanjilah padaku, Del. Bahwa, kita saling jujur dan menghargai satu sama lain."
Raka mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Adel. Tak terasa cairan bening membasahi wajah cantik Adel. Adel sangat terharu dengan perkataan sederhana dari Raka, namun baginya sangat romantis. Terlebih, Adel melihat kesungguhan dari mata Raka. Jujur saja baru kali ini ia merasakan jatuh cinta sampai pacaran, secara dari dulu Adel itu jomblo.
"Makasih Raka, aku janji." Adel menautkan jari kelingkingnya, mengikat janji pada kekasihnya, Raka.
"Masak momen kayak gini malah nangis sih?"
"Bodoh. Ini air mata kebahagiaan," sungut Adel dengan memanyunkan bibir.
"Iya iya aku tahu. Jangan cemberut gitu sama calon imam, nggak baik!" seru Raka yang langsung membuat wajah Adel memerah. Raka sangat gemas dengan tingkah lucu nan manis dari kekasihnya itu.
Raka berharap, cintanya akan abadi sampai dunia telah berganti menjadi Surga. Sungguh, Raka sangat mencintai dan menyayangi Adel. Harapannya hanya satu, semoga kelak ia bisa menjadi imam yang baik untuk rumah tangganya kelak. Bissmillah jodoh! Jika jodoh, tidak akan ke mana. Jika bukan jodoh, berdoa saja, supaya kata bukan itu terhapuskan.
______________
Lina Diary.
Sungguh, kapan aku bisa bahagia? Aku lelah menjalani hidup seperti ini. Hidup dalam keresahan. Sakit rasanya mencintainya. Tapi, apakah mustahil rasanya, jika aku dapat bersatu dengannya? Cerita lara, suka-duka yang ku jalani dan semua pengorbanan diri ini untukmu, semuanya telah terangkum dalam buku diary itu, diary yang bertuliskan Dear Inani. Entah dimana keberadaannya sekarang, hilang seperti keberanian di dalam diri ini yang sudah jatuh.
~Lina~
Inani Diary.
Semenjak kejadian itu, membuat hati ini bimbang. Entah apa yang bisa mengobatu kebimbangan ini. Merasa kecewa dengan orang yang pernah singgah di hati ini, sakitnya itu sungguh luar biasa. Namun, lebih sakit, ketika diri ini melihat gadis yang entah kapan aku mengaguminya disakiti oleh orang lain yang notabenya mantan kekasihku.
~Inani~
Shabil Diary.
Sungguh, diri ini sangat membencinya. Benci, karena dia yang menyebabkan aku kehilangan cinta sejatiku. Lihat saja, aku takkan mundur dengan apa yang seharusnya ku perjuangkan.
~Shabil~
Alex Diary.
Aku memang tak sempurna di matanya. Namun, aku selalu mencoba sempurna. Entah itu di pandang atau tidak olehnya. Sungguh, diri ini tak rela, jika dia kembali tersakiti untuk kesekian kalinya.
~Alex~
Raka Diary.
Urusan jodoh, tetap aku serahkan padamu Ya Allah. Tapi, jika boleh memilih, semoga jodoh yang tertulis di langit untukku yaitu dia, Adel. Jadikan diri ini lebih dewasa. Karena bagaimanapun juga, suatu saat nanti diri ini akan menjadi imam dalam rumah tangga kelak. Amin.
~Raka~
Adel Diary.
Janji yang terucap dari bibirmu, semoga saja itu benar adanya dan menjadi sebuah doa yang akan terkabulkan. Demi apapun, aku sangat bahagia, karena telah mengenalmu dan menjadi bagian dari hidupmu.
~Adel~
Nando Diary.
Segesreknya diriku, sebodohnya diriku, senakalnya diriku, sebegonya diriku, bolehkah aku berharap? Berharap mendapatkan hati dari gadis yang entah kapan aku mulai menyukainya, Lina. Sungguh, jika masalah hati aku akan serius dan tak pernah main-main.
~Nando~
Dear Inani
You are the reason
Bersambung.......