Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 24



"Li ... Lina?"


"Dea."


Lina dan Dea langsung berpelukan dan saling melepas rindu. Ya benar, yang menyapa Lina barusan adalah Dea yang di temani oleh tunangannya, Alex. Alex sangat terkejut, ketika mengetahui itu adalah Lina. Seketika ia merasa sangat resah. Bagaimana tidak? jika saja saat ini kondisi telah berubah. Alex masih mencintai Lina, tapi suatu keharusan telah mengikatnya dengan Dea. Alex takut, jika Lina akan menjauhi dirinya kala mengetahui hubungannya dengan Dea.


Lina dan Dea telah melepaskan pelukan dan seketika fokus Lina menjurus pada sosok Alex. Lina bingung, tentu saja. Setahu dia, Alex dan Dea tak begitu dekat. Jangankan dekat, saat masih menduduki bangku sekolah mereka berdua bahkan tak pernah bertegur sapa.


"Alex, ngapain kamu di sini?" tanya Lina penasaran.


Sebenarnya Lina masih sangat kesal dengan Alex, karena telah mengambil first kiss - nya waktu itu. Namun, rasa kekesalan itu terselubungi oleh rasa pemasaran.


"Aku?" pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Alex.


Dea menatap sinis pada tunangannya itu. Dea tahu, jika Alex mencintai Lina. Namun, Dea beranggapan semua itu hanyalah masa lalu belaka. Dea beranggapan, jika Alex telah mengubur dalam - dalam rasa yang tak pernah terbalaskan itu.


"Dia menemani aku," jawab Dea dengan senyum yang mengembang.


"Menemani? Kalian pacaran?" tanya Lina yang masih tak mengerti.


Alex bernapas gusar dan berkali - kali mendesah. Inilah akhir dari kisah cintanya pada Lina. Alex belum siap akan hal itu, tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada yang bisa menolong suara hatinya.


"Ti--"


"Bukan sekedar pacaran, Lin. Kita lebih dari itu. Kita sudah bertunangan." Dea memotong cepat perkataan Alex.


"Apa?"


Lina sangat syok kala mendengar penuturan Dea. Apakah ia salah dengar? Atau ini hanyalah mimpi saja? Sungguh, Lina sangat geram terhadap Alex. Alex yang sudah kurang ajar dan semena - mena padanya. Lina geram bukan berati tak suka mendengar kabar pertunangan itu, justru ia sangat suka. Namun, ada rasa sedihnya kala menerima kenyataan, jika ciuman pertama Lina harus direnggut oleh calon orang lain. Lina ingin memaki Alex dan menuntut Alex, agar bisa memutar waktu. Memang terlihat konyol, tapi Lina terlanjur kesal.


"Iya, sebentar lagi kita menikah," ucap Dea sembari merangkul lengan Alex. Sedangkan Lina hanya tersenyum canggung.


Akhirnya mereka bertiga makan dalam satu meja. Dea dan Lina berbincang panjang lebar mengenai pengalaman Lina saat tinggal di Kanada. Tak lupa pula topik tentang hubungan Dea dan Alex yang nyatanya di dasari oleh sebuah perjodohan. Sementara Alex hanya diam dan menjawab singkat kala Dea dengan semangat mengajaknya ngobrol.


___________


Inani dan Nando meninggalkan gedung kantor. Rencananya mereka akan pulang ke apartemen Nando, karena Inani sangat suntuk pulang ke rumah. Ia ingin menenangkan diri dan untungnya dengan senang hati Nando menawarinya untuk menginap di apartemen. Sedangkan Bob, ia sudah pulang duluan atas usul Nando.


"Bro, kamu yang bawa mobil ya," ucap Inani yang langsung di angguki oleh Nando.


Mereka berdua pun memasuki mobil Inani dan langsung tancap gas menuju apartemen Nando. Tak butuh lama, akhirnya mereka sampai. Inani dan Nando berjalan beriringan, banyak para wanita berlalu lalang dan menatap dua pangeran itu dengan berbinar. Ada yang berteriak histeris, ada pula yang terang - terangan berusaha menggoda. Nando dan Inani cuek akan hal itu dan terus melangkah dan memasuki lift. Apartemen Nando berada di lantai 11 sehingga dengan cepat Nando menekan angka itu.


Ting


Pintu lift terbuka dan mereka berdua langsung keluar dan berjalan menuju apartemen Nando yang sudah terpampang jelas pintunya.


"Nan, ini apartemen depan masih kosong?" tanya Inani sembari menunjuk Apartemen yang berhadapan dengan milik Nando.


"Katanya sudah ada pemiliknya, tapi aku belum tahu siapa. Aku baru pulang kemari setelah sebulan di kurung di rumah sama bokap," jelas Nando sembari membuka pintu apartemennya.


"Inan."


"Hmm."


"Aku tadi bertemu Lina dan kita jalan bersama."


Deg


Inani langsung bangkit dari posisi nyaman itu dan langsung berjalan mendekat pada Nando yang masih berbaring. Inani naik ke atas ranjang dan langsung menggeret tangan Nando agar ikut duduk. Nando menurut saja dan menatap sebal pada Inani.


"Kamu sudah tahu, jika Lina sudah kembali?" tanya Nando santai.


"Udah," jawab Inani terlihat murung.


Nando pun menatap aneh pada sahabatnya itu. Selalu saja seperti ini, jika membahas soal Lina. Tapi, Nando bingung dengan reaksi Inani ketika mendengar kabar itu.


"Terus, kenapa murung?" tanya Nando dengan penasaran.


Akhirnya Inani menceritakan semua kejadian yang sudah terjadi tadi pada saat di kantor. Nando pun syok kala mendengar penjelasan Inani itu. Sungguh, sahabatnya ini bisa di buat uring - uringan oleh Lina. Nando tahu betul, rasa yang ada di diri Inani bukanlah sekedar rasa bersalah, tapi rasa cinta juga turut andil menguasai diri Inani. Inani memang belum yakin akan hal itu dan biarkan saja waktu yang menjawab.


________________


Lina kembali ke apartemen setelah jam delapan malam. Sehabis mengisi perut di mini resto tadi, ia mampir ke swalayan untuk berbelanja bahan makanan. Lina meneteng dua kantong plastik besar yang isinya sudah full untuk stok makanan. Sesampainya di depan pintu apartemen, ia menurunkan bahan belanjaan itu, karena kesusahan membuka pintu.


"Kenapa susah sekali?" gerutu Lina sembari memasukkan kunci apartemen.


Tepat pada saat Lina tengah berkutan dengan pintu, Inani keluar dari apartemen Nando dan melihat sosok wanita yang tak lain adalah Lina. Inani tak tahu, jika itu Lina dan ia berinisiatif membantu Lina. Inani perlahan - lahan mendekat dan langsung memegang pundak Lina dari arah belakang.


"Nona, biar saya bantu."


Lina kaget bukan main dan langsung menghadap ke arah sumber suara itu. Seketika pandangan mereka bertemu. Rasa kaget dan tak percaya beradu menjadi satu.


"Kamu tinggal di sini?" tanya Inani dengan senyum penuh arti.


Lina hanya menganggukkan kepala, karena ia masih kaget.


"Pantas saja tak bisa, karena kuncinya terbalik," tutur Inani meraih kunci itu dan langsung membukanya.


Lina hanya diam saja, sedangkan Inani bersiap memasuki apartemen itu dan membawa bahan belanjaan Lina. Inani sangat bersyukur, karena ternyata tetangga baru Nando adalah Lina. Rencananya ia keluar tadi ingin membeli makan, tapi ia melihat wanita yang sedang kesulitan dan ternyata itu Lina.


"Kamu nggak mau masuk?" tanya Inani dan seketika membuat Lina kesal bukan main. Tuan rumah siapa


sih? gerutu Lina dalam hati sembari menghentakkan kali.


TBC.