Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 11



Hilang? Sungguh, itu sangat berharga bagiku.


~Lina~


_______________


Sejak kejadian siang tadi, membuat Lina tak henti-hentinya mengembangkan senyuman. Wajahnya sungguh berseri bak bunga yang baru saja bermekaran. Sungguh, Lina tak pernah merasa sebahagia ini. Inani, ya Inani yang telah membuatnya seperti ini.


Bagi Lina, Inani adalah alasan terbesar. Alasan untuk tetap mempertahankan perasaannya. Lina percaya, luka itu akan terobati seiring berjalannya waktu.


Sungguh, momen itu masih saja terbayang di benaknya. Momen, ketika hujan telah berhasil mengobati kagundahan dalam hatinya selama ini, "Terimakasih Sang Pencipta, karena telah menghadirkan hujan dan juga dia, orang yang ku cintai." Mulai hari ini, Lina akan terus menunggu alam menumpahkan tangisannya lewat hujan tentunya. Hujan yang akan membawa ia bernostalgia dengan momen indah itu.


Lina Diary.


Hujan tak selamanya membuat diri ini lara. Hujan juga dapat menciptakan momen indah. Sungguh, hujan itu menenangkan dan menyenangkan.


~Lina~


______________


"Apa?" tanya gadis itu pada Raka, ketika tiba-tiba saja Raka menyodorkan selembar kertas yang tertulis dengan tinta biru.


"Buat kamu, kata-kata receh yang nggak seindah kata-kata Dilan buat Milea." Raka menjelaskan dengan lembutnya pada gadis yang selama ini tengah mencuri hatinya.


"Buat aku?" ujar gadis itu, lebih tepatnya sih pertanyaan.


"Iya, buat kamu. Anggap saja aku lagi nembak kamu," tutur Raka seperti gurauan belaka. Tapi, raut wajahnya menunjukkan, bahwa ia serius.


Gadis itu sungguh kaget dengan apa yang ia dengar. Penuturan Raka barusan sungguh membuatnya syober (syok berat). Apakah dia bermimpi? Atau sedang berhalu ria? Entah, yang jelas ia sangat bahagia. Tapi tunggu, Raka bilang hanya, "Anggap saja," berarti nggak serius dong? Tapi, raut wajah Raka sangatlah serius, tidak ada kebohongan. Entahlah, gadis itu juga merasa takut. Takut, jika ini adalah sebuah prank.


"Se ... serius, nggak? Atau kamu cuma ngeprank?" tanya gadis itu berusaha mencari kepastian.


"Astaga, emang mimik wajah ku kelihatan ya kalau aku itu lagi ngeprank, bohongin kamu gitu? Ini serius ****." Raka tak habis pikir dengan gadis yang ada di depannya ini. Bisa-bisanya Raka, dirimu jatuh cinta sama gadis seperti ini.


"Aish,  masa habis di tembak, sekarang di umpatin sih," cibir gadis itu sembari memanyunkan bibir.


"Ya maaf. Habis kamu nggak percaya sih, kalau aku lagi nembak kamu." Raka menyesal telah mengumpat. Emang dasar tuh mulut perlu di Ruqiyah.


"Hehe. Terus gimana?"


"Terus apa? Ya ... kamu tinggal bilang mau apa kagak. Susah amat elah." Raka semakin geram saja.


"Em ... aku bingung," jawab gadis itu dengan tertunduk lesu.


"Kasih aku waktu buat mikir," lanjutnya lagi.


"Sejam? Dua jam? Tig--"


"Sampai besok," ucap gadis itu memotong perkataan Raka.


_____________


Kejadian tadi, sungguh membuat Raka frustasi. Ia bergerak gelisah dalam tidurnya. Tidur, bahkan dirinya masih tergaja, hanya saja mata yang terpejam. Raka sangat resah dan gelisah. Resah, karena tengah memikirkan jawaban apa yang besok ia terima dari sang pujaan hati. Gelisah, ketika dirinya harus menunggu hari esok. Sungguh, bagi Raka, waktu seakan berjalan dengan lambat. Entah bagaimana nasibnya besok. Apakah cintanya di terima, atau justru akan bertepuk sebelah tangan? Hanya waktu yang dapat menjawab.


Kalau dipikir-pikir, Raka sungguh nggak romantis sama sekali. Masak nembak gebetan kayak gitu, sih? Apalagi kena umpat lagi, uh gadis yang malang. Ah, sudahlah. Yang penting ia sudah berusaha dan berani, itu sudah cukup Gentle, bukan?


_____________


Sebelum tidur, terlebih dahulu Lina menyiapkan perlengkapan sekolah. Jadi, mulai besok ia akan kembali bersekolah. Bagaimana dengan kakinya? Tenang, kaki Lina sudah lumayan membaik dan ia juga sudah tidak perlu menggunakan bantuan tongkat lagi.


Perlengkapan sekolah sudah beres, kini waktunya tidur. Tapi tunggu, Lina ingin  melakukan rutinitasnya terlebih dahulu. Perlahan Lina menuju meja belajar. Namun, sesuatu yang ia butuhkan entah di mana keberadaannya. Lina bingung bukan main, ia mengobrak-abrik meja belajar itu, serta rak buku. Tapi, hasilnya nihil. Kemudian, ia menuju ke arah ranjang, dan langsung saja ia menyibakkan sprei, hasilnya pun sama saja.


"Kenapa nggak ada? hiks ..." air mata Lina pun jatuh. Ia sangat frustasi, karena tidak bisa menemukan benda itu.


Lina Diary.


Apakah hilang? Mana mungkin bisa hilang? Bagaimana ini? Kenapa begini? Sungguh, benda itu sangat berharga bagiku. Apakah dia yang menyembunyikannya?


~Lina~


Kelelahan menangis, akhirnya Lina tidur juga. Sungguh malang nasibmu, Lina. Bagaimana tidak? sedangkan beberapa jam yang lalu ia merasa sangat bahagia. Dan kini, menangis lagi. Dunia memang kejam, namun perasaan jauh lebih kejam.


_____________


Area sekolah masih sepi saja, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 06:45 AM.


Lina berjalan pelan menuju ruang kelas XII Ekonomi 2. Sesampainya di kelas itu, Lina langsung saja menghampiri seseorang yang sedang asik bermain smartphone-nya.


"Balikin diary ku," ucap Lina dengan menarik kerah seragam Nando.


Sementara Nando, ia menatap bingung ke arah Lina.


"Apasih, Lin? nggak jelas," sergah Nando sembari memegang pergelangan tangan Lina.


"Nggak usah pura-pura nggak tau deh, Nan. AKU MINTA BALIKIN DIARY AKU," teriak Lina yang semakin emosi.


"AKU EMANG NGGAK TAHU. KAMU ITU KENAPA SIH LIN? KENAPA NUDUH AKU? KENAPA?" sergah Nando balik meneriaki Lina. Perlahan-lahan, Lina melepaskan tarikannya. Tubuhnya ambruk tepat di hadapan Nando.


"Kalo bukan kamu, siapa lagi Nan? hiks ... hiks ..." ucap Lina lemah.


"Cuma kamu yang tau tentang buku diary itu, hiks ... sedangkan Adel dan Dea aja nggak tau." Lina sungguh bingung. Jika bukan Nando yang mengambilnya, lalu siapa?


"Aku memang nggak tau Lin. Percaya sama aku," ucap Nando sembari membantu Lina berdiri.


"Bukan karena cuma aku yang tau tentang diary itu, kamu seenaknya nuduh aku. kamu nggak bisa gitu, Lin." Nando merasa sangat terpukul, ketika dengan seenaknya Lina menuduh dirinya.


Nando sangat kecewa terhadap Lina. Orang yang entah kapan ia sukai, kini tengah menuduh dirinya. Nando menyukai Lina? Sejak kapan? Entahlah, Nando pun bingung dengan perasaan ini. Perasaan yang tiba-tiba muncul, saat dirinya membaca  diary Lina di kala itu.


"Sorry, Nan. Aku sudah seenaknya nuduh kamu. Karena aku bingung, dan cuma kamu yang tahu tentang buku diary itu. Buku itu sangat berharga buat aku." Lina menatap lesu ke arah Nando.


Plak


"Aw ... sakit, Lin." Nando mengelus lengan kanannya yang jadi korban kejengkelan Lina.


"Bukan masalah itu, bodoh. Tapi isinya." Lina menatap tajam ke arah Nando. Sementara yang di tatap, hanya nyengir kuda.


"Ya ma--"


"Ka ... kaliang ngapain?" tanya seseorang dari arah pintu kelas. Spontan saja Nando dan Lina menoleh ke arah sumber suara itu.


"Bang Raka ....,"


"Raka ....,"


Seketika Nando dan Lina salah tingkah. Entah alasan apa yang akan mereka berikan, saat nantinya Raka meminta penjelasan.


"Kalian mojok? kapan jadian? Lin, kok nggak pernah cerita sama abang? Kamu juga Nan, kenapa nggak cerita sama aku? Kamu nggak minta restu gitu sama aku? Kok--"


"Bisa nggak sih satu-satu kalo nanya," sergah Nando memotong perkataan Raka, lebih tepatnya sih pertanyaan.


"Iya Bang. Kita bingung mau jawab apa," ucap Lina ikut menimpali, "Kita? Ya ampun mimpi apa aku semalam? Lina bilang kita. Kita, oh belum aja jadian, tapi serasa udah halal. Eh, astaga pikiran ku," batin Nando dengan pemikiran konyol.


"Oke!" seru Raka.


"Apa?"


"Kalian mojok ya?" tanya Raka dengan memicingkan mata.


"Nggak," jawab Nando dan Lina bebarengan.


"Kalian pacaran?"


"Nggak!"


"Bentar lagi!"


"Hah!" Spontan Lina menatap bingung ke arah Nando.


"Yang benar yang mana?" tanya Raka menatap aneh ke duanya.


"Canda elah, serius amat nanggapinnya. Atau emang mau jadi pacar aku?" tanya Nando yang terlihat seperti gurauan belaka, padahal dalam hati Nando, ia serius bukan main. Tapi, mau bagaimana lagi? Nggak mungkin juga ia langsung to the point pada Lina.


"Ih, amit-amit aku punya adek ipar kayak situ," tutur Raka yang seolah-olah merasa enggan, jika Nando kelak menjadi adik iparnya.


"Hati-hati kemakan omongan sendiri," cibir Nando pada Raka.


"Halo guten morgen epribadah. Eh, ketinggalan berita apa aku?"  suara cempreng milik Bob tengah memenuhi ruang kelas itu. Sementara yang lainnya, memandang malas ke arah Bob.


______________


Lina berjalan lesu menuju kelas. Ia pun tidak fokus dengan jalanan, karena pemikirannya tengah melambung tinggi entah kemana.


Bruk


Lina menabrak seseorang, lebih tepatnya dada bidang seorang cowok.


"Eh, maaf!" seru Lina tanpa menoleh ke arah orang yang di tabraknya.


"Lina ....,"


Suara itu sangat familiar di telinga Lina. Inani, bukankah itu suara Inani? perlahan-lahan, Lina mengangkat kepalanya, melihat wajah tampan Inani yang ada di depannya.


Sungguh, dengan melihat wajah Inani, seketika membuat hati Lina menjadi tenang.


"Hey, lagi mikirin apa?" tanya Inani dan seketika membuat Lina terkesiap.


"Eh, sorry!" Lina bingung ingin berucap apa.


"Kok sorry sih?" tanya Inani sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Iya sorry. Aku kan udah nabrak kamu!" Lina mengembangkan senyuman manis yang selalu saja membuat Inani kagum, "sungguh, diri ini selalu merasa kagum dengan ciptaan-Mu ini, Ya Rabb," batin Inani berseri.


"Cieee udah aku, kamu nih," goda Inani yang langsung membuat Lina tertunduk malu.


Perasaan memang nggak pernah pakai lo, gue?


"Ehh, bu--"


"DON'T TOUCH MY BOYFRIEND. MINGGIR," teriak Shabil yang entah dari mana datangnya. Shabil menatap benci ke arah Lina sembari memegang


lengan kanan Inani. Setelah itu, Shabil langsung membawa pergi Inani dari hadapan Lina.


Lina hanya bisa mematung di tempat. Sungguh, air mata sudah berlomba-lomba ingin keluar.


Lina Diary.


Entah harus bahagia atau sedih lagi! Sungguh, mengapa diri ini selalu dilema? Ingin menangis, tapi air mata sudah terlanjur menetes. Ingin tersenyum, buat apa tersenyum? Jika nyatanya sungguh menyakitkan.


~Lina~


Dear Inani


You are the reason


Bersambung........