![Dear Inani [You Are The Reason]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/dear-inani--you-are-the-reason-.webp)
Happy reading .....
Inani mencari keberadaan Shabil, ia ingin meminta maaf. Tapi, entah di mana Shabil berada saat ini, hampir di semua penjuru sekolah telah Inani telusuri, namun hasilnya pun nihil.
Tiba-tiba pikiran Inani berkecamuk, hati Inani pun juga merasa sangat gelisah. Seketika bayangan wajah sedih Lina terlintas begitu saja dalam benaknya.
Inani merasa sangat bersalah saja, dengan apa yang telah ia perbuat pada Lina. Ia menyakiti hati Lina, sungguh Inani dihantui oleh rasa bersalah. Tak seharusnya ia memperlakukan Lina seburuk itu. Terlebih, jika mengingat isi dari surat itu, sungguh siapapun yang membacanya akan merasa sakit hati.
Inani kembali berjalan, kini tujuannya hanya ada dua; mencari Shabil dan meminta maaf pada gadis itu.
Apakah dirinya akan mengajak Shabil untuk memulai semuanya dari awal? Atau justru sebaliknya, membiarkan hubungan itu selesai begitu saja. Entahlah, Inani merasa bingung dan sangat diambang kebimbangan.
Inani masih sangat mencintai Shabil. Namun, disisi lain ia juga merasa aneh dengan perasaannya. Sangat mencintai, tapi berasa kosong rasa itu. Apa sejujurnya ia sudah tak mencintai Shabil? Atau hanya suara hati saja. Lalu mana yang harus ia pilih? Membangun atau membiarkan?
Lagi-lagi Inani hanya bisa mendesah frustasi. Langkah kakinya tak sadar kini telah berpijak pada bangunan tua yang ada di samping sekolah.
Jhahahahhaa
Inani mendengar suara gelak tawa beberapa orang dari arah dalam bangunan tua itu. "Suara perempuan," ujar Inani dan semakin mendekat pada sumber suara.
Dekat ...
Dekat ...
Dan semakin dekat.
Aroma bir pun menyeruak di indra penciuman Inani saat dirinya sudah sampai di depan pintu bangunan itu.
Inani bimbang, ia ingin membuka namun disisi lain tujuannya bukan ini, melainkan mencari Shabil.
Akhirnya ia urungkan niatan untuk membuka pintu itu dan memilih untuk menjauh. Tapi, beberapa langkah kemudian, Inani mendengar suara gadis yang sedari tadi ia cari.
"Dengan cara apapun, aku pasti dapetin Inani lagi. Hahahaha Lina itu bagi aku cuma serangga kecil yang nggak ada apa apanya. Emang sih, Lina itu nggak pernah ikut campur soal asmara aku sama Inani, tapi ya gitu aku nggak mau jika suatu saat nanti Inan berpaling dari aku. So, skenari yang hebat kan?"
Brak
Inani mendobrak pintu tua itu. Dan betapa terkejutnya ia, ketika melihat Shabil dan teman-temannya berpesta bir dengan puntung rokok di masing-masing tangan mereka.
Shabil pun sangat terkejut dengan kedatangan Inani yang diluar dugaan akal sehatnya. Shabil membuang puntung rokok itu dengan segera, ia mendekati Inani dengan raut wajah takut.
Sungguh, Inani tak habis pikir dengan gadis semacam Shabil. Gadis yang selalu ia pikirkan, gadis yang selalu ia utamakan, bahkan gara-gara siasat sialan Shabil, ia sudah membuat hati gadis lain terluka. Kini, mata hati Inani benar benar sudah terbuka dan tahu akan kebusukan Shabil selama ini. Melihat kondisi Shabil yang sudah terkontaminasi oleh pergaulan yang cukup dikatakan bebas, seketika rasa cinta telah terganti dengan rasa benci.
"In ... Inani, aku bisa jelasin semuanya," ucap Shabil sembari menggenggam tangan Inani.
Inani pun menyentak dengan kasar tangan Shabil, "Jangan sentuh tangan ku, dasar gadis rendahan." Inani langsung meninggalkan tempat terkutuk itu. Tapi, dengan gesit Shabil berlari dan langsung memeluk Inani dari belakang.
Tubuh Inani menegang. Ia mencoba melepaskan tangan Shabil yang melingkari pinggangnya.
"LEPAS!" sentak Inani dengan keras. Tapi, Shabil justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Nggak! Aku nggak akan ngelepasin kamu. Aku masih cinta sama kamu, Inani. Plis, jangan tinggalin aku!"
Dengan terpaksa Inani menggunakan cara kasar. Ia melepas tangan Shabil lalu menyentakkan tubuh Shabil dengan sangat kasar. Tujuannya yaitu, agar ia bisa secepatnya keluar dari tempat terkutuk itu.
"Kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi, camkan itu!" Inani meninggalkan Shabil yang tengah menangis histeris.
Beberapa menit kemudian, Shabil menghapus air matanya, ia menyeringai bak iblis. "Aku akan nyingkirin Lina," ucapnya.
Sungguh, Shabil telah terobsesi pada Inani. Ia akan menghalalkan segala cara demi mendapatkan Inani kembali.
_____________
Malam harinya, Lina tengah menikmati pemandangan malam kota Bandung dari balkon kamarnya. Ribuan bintang tertata indah di langit. Sementara gemerlap lampu tengah menghiasi suasana indah kota Bandung. Sungguh, dengan suasana seperti ini, Lina mendapatkan kenyamana dan pengalihan dari suasana hati yang masih saja lara.
Samar-samar Lina mendengar suara motor yang tengah berhenti di depan rumahnya. Ia melihat Nando tengah melambaikan tangan. Lina pun membalas lambaian itu sembari tersenyum manis pada Nando.
Nando memberi isyarat pada Lina, agar Lina turun ke bawah. Lina dengan senang hati mengikuti kemauan Nando. Tak butuh waktu lama, Lina sudah sampai dihadapan Nando. Nando pun tersenyum kecil melihat tingkah Lina yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Ngapain senyum-senyum gitu?" tanya Lina keheranan pada manusia satu itu.
"Ya udah. Eh, mau cari abang Raka ya?" tanya Lina lagi sembari menatap intens pada Nando. Nando menggeleng pelan.
"Lalu?" tanya Lina lagi.
"Aku mau balikin ini."
Nando menyodorkan sebuah buku diary milik Lina. Lina pun melongo, tak percaya bisa melihat buku yang selama ini ia cari. Lina langsung mengambil buku diary itu dan menatap mata Nando dengan intens.
"Ini--"
"Punya kamu yang hilang, udah aku balikin. Eits, jangan nuduh dulu ya! Aku itu ngambil buku itu dari Inani yang dengan seenak jidat buang buku inj." Ada sedikit rasa kesal, ketika mengingat kelakuan Inani tadi.
Lina pun menarik napas dengan gusar. Pikirannya kembali berkecamuk, memikirkan kejadian di UKS tadi. Kini, Lina sudah tak memiliki sepeser harapan lagi. Ia bertekat, mulai detik ini ia akan berusaha menyingkirkan Inani dari benak dan hatinya. Sulit memang, tapi apa salahnya mencoba? Mencoba menerima kenyataan pahit.
"Hey!"
Nando menarik hidung Lina untuk menyadarkan Lina dari lamunan. Seketika Lina tersadar dan menatap linglung pada Nando.
"Jangan ngelamun!" seru Nando dengan menampikkan senyuman manis.
Perlahan-lahan, Nando menggenggam kedua tangan Lina. Lina hanya diam seribu bahasa menatap Nando dengan tatapan penuh tanya. Nando pun menatap lekat mata Lina dengan tatapan sendu. Inilah saatnya bagi Nando untuk mengungkapkan semua isi hatinya pada gadis di depannya tersebut. Gadis yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikiran. Setiap detik, menit, jam hingga hari berlalu Lina selalu terlintas dalam benaknya. Walaupun Nando sadar, cintanya tak mungkin dapat terbalaskan, tapi setidaknya Lina mengetahui isi hatinya.
Nando menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, cukup grogi memang, karena ini kali pertama ia akan mengungkapkan isi hati pada seorang gadis, terlebih itu Lina yang notabenya adik Raka.
"Lin, aku mau jujur sama kamu soal perasaan ku."
Raka menatap setiap inci wajah cantik Lina.
"A ... aku suka sama kamu," ucap Nando sedikit grogi, namun sukses mengatakan isi hatinya. Ia menunduk sebentar, lalu menatap Lina kembali.
Sementara Lina, ia menganga tak percaya dengan penuturan Nando. Apa yang harus dijawab oleh Lina? Sedangkan pada dasarnya, ia sama sekali tak memiliki rasa terhadap Nando. Ia justru menganggap Nando sebagai kakak kedua setelah abangnya, Raka. Lina menatap lekat mata Nando, sungguh Lina melihat kesungguhan dan ketulusan yang terpancar dari mata itu. Lina tak enak hati, tapi mau bagaimana lagi? Bukankah perasaan itu tak boleh dipaksakan? Sama seperti dirinya yang selalu mencintai Inani, namun ia juga tidak bisa memaksa Inani untuk membalas perasaannya.
"Maaf. Nan, Ak--"
"Iya, aku tahu kok, Lin. Kamu nggak punya rasa sama aku, kan? Aku bisa nerima kok, udah ngungkapin perasaan ke kamu aja udah bikin bahagia. Makasih udah singgah di hati ya Lin," ucap sendu Nando yang seketika membuat Lina meringis ngilu, ia tahu betul perasaan Nando saat ini. Karena, ia juga tengah merasakan hal itu. Sakit memang, tapi apa boleh buat?
"Makasih Nan, udah ngertiin aku. Maaf, selama ini aku udah nganggap kamu sebagai abang sendiri." Lina menyeka air mata yang tiba-tiba saja mengalir di wajah Nando.
"Abang kedua, hm?" goda Nando mengalihkan kesedihan di hati.
Lina tersenyum, sungguh manis di mata Nando.
"Lin!"
"Iya."
"Plis ijinin aku, mungkin ini pertama dan terakhir!"
Lina bingung dengan apa yang diucapkan Nando. Sesaat kemudian, wajah Nando mendekat dan sontak saja Lina memejamkan mata.
Nando mencium kening Lina cukup lama. Semilir angin malam semakin mendukung suasana yang sungguh indah itu.
Dari kejauhan, Inani tengah menyaksikan semuanya. Seketika membuat hati Inani nyeri. Tapi, kenapa? Apa ia juga tengah menaruh hati pada gadis yang sudah ia lukai perasaannya? Entahlah, Inani tak membenarkan, namun juga tak menyalahkan isi hatinya. Inani menatap lesu setangkai mawar merah yang rencananya ia berikan pada Lina.
"Bunga yang malang. Belum sempat aku kasih ke Lina, tapi harus aku buang duluan." Inani menjatuhkan mawar itu. Ia merasa ada yang hilang dalam hatinya.
"Secepat itu kamu lupain Nani mu ini?" Inani bermonolog sendiri sembari menatap ke arah Lina dan Nando.
"Mungkin memang kita nggak jodoh."
Inani melangkahkan kakinya, menjauh dari pekarangan rumah Lina. Berjalan lesu diiringi dengan senyuman getir yang menghiasi wajah tampannya.
Dear Inani
You are the reason