![Dear Inani [You Are The Reason]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/dear-inani--you-are-the-reason-.webp)
Menerima kenyataan itu sungguh pahit sekali rasanya. Seketika membuat diri ini goyah untuk mempertahankan rasa ini.
~Lina~
_____________
Lina membaringkan tubuhnya di ranjang UKS. Sebenarnya, ia sudah tak apa dengan kondisi fisik. Namun, lain halnya dengan kondisi batin yang semakin drop saja. Sehingga, Raka menyarankan agar Lina masih stay di UKS.
Raka dan Alex dengan setia menemani Lina. Raka tak tahu persis semua kejadiannya seperti apa. Tapi, melihat Lina yang seperti itu, seketika membuat hati kecilnya meringis, sedih dengan apa yang terjadi pada adik kecilnya.
"Bang, Lina haus." Lina menatap Raka dengan memelas. Raka pun tersenyum kecil sembari mengambilkan air untuk Lina.
"Ini air--"
Prang ...
Suara itu terdengar nyaring kala Inani yang tiba-tiba saja datang dengan menangkis air yang akan Raka berikan pada Lina. Raka pun kaget bukan main, terlebih Lina. Alex juga bernasib sama, ia kaget sekaligus geram dengan tingkah Inani.
"Maksud kamu apa, Nan?" tanya Raka yang tak terima dengan sikap Inani itu
"Aku mau ngomong sama Lina!" ucap Inani dengan dingin. Tatapan itu sungguh membuat hati Lina semakin sakit, sakit dan sakit.
"Kamu kenapa, sih? Kalau mau ngomong sama Lina ya tinggal ngomong aja, nggak usah kayak gini juga. Aku kecewa sama kamu, Nani." Raka mendorong bahu Inani sedikit kasar, agar menjauh dari hadapan Lina.
"AKU LEBIH KECEWA SAMA ADEK KAMU, MBIN. AKU KECEWA SAMA LINA YANG UDAH HANCURIN HUBUNGAN KU SAMA SHABIL," teriak Inani dengan emosi yang semakin memuncak.
"Kok, kamu nyalahin Lina?" tanya Raka sembari menarik kerah baju Inani.
"Lina suka sama aku," ucap Inani datar dan langsung membuat tubuh Lina menegang.
"Apa?" Raka seakan tak percaya dengan penuturan Inani yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
Cairan bening perlahan-lahan membasahi wajah pucat Lina. Lina tak kuasa menahan semua kesedihan ini, ketika Inani tahu kebenaran yang selama ini tertutup rapat. "Salahkah, jika aku punya rasa ini? Sebegitu bencinya kamu terhadap ku, Nani? Benci dengan kebenaran ini. Kebenaran, jika aku sangat mencintai mu. Apa cintaku begitu hina di matamu?" Lina hanya diam membisu mendengarkan segala tudingan yang terlontar dari mulut Inani.
"Lina jelasin sama abang!" Raka menatap Lina dengan dalam. Entah, pikiran Raka langsung saja tak karuan, ketika mendengar penuturan Inani.
"Bang, udah! Kasian Lina," ucap Alex yang sedari tadi diam di tempat. Alex memegang lengan Raka untuk menenangkannya.
"Nggak bisa gitu, Lex! Aku pe--"
"Bang, Lina itu masih drop, jadi Raka mohon, Abang ngertiin ucapan Alex." Alex tetap kekeh pada pendiriannya, yaitu meminta Raka untuk tidak mendesak Lina.
"KAMU DIAM! AKU MAU NGOMONG SAMA ADEK AKU. KAMU NGGAK USAH IKUT CA--"
Prang ....
Lina dengan sengaja menjatuhkan nampan yang berisi bubur yang terletak di nakas UKS itu.
Lina tak tahan dengan situasi seperti ini. Situasi yang selalu saja mencengkam.
"OKE, LINA JUJUR. LINA SUKA SAMA INANI, LINA SUKA NANI DARI AWAL LINA LIHAT NANI. SALAHKAH, JIKA LINA CINTA SAMA NANI? SALAHKAH PERASAAN LINA INI? IYA, SALAH?" Lina akhirnya mengungkapkan perasaannya. Ia menangis sejadi-jadinya. Tangisan pilu yang tak pernah dihiraukan oleh orang yang dicintai, Inani.
Jika boleh, sekali saja Lina ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang dirimu cintai pula. Namun, harapan tinggal harapan semata. Harapan yang takkan pernah terwujud, harapan yang sangat mustahil.
Lina pun sebenarnya enggan memiliki rasa itu. Rasa yang selalu menyakitkan. Tapi mengapa rasa itu tak pernah bisa hilang? Justru, rasa itu akan semakin bertambah hanya dengan melihat Inani saja.
Lina bingung dan bimbang. Jika boleh memilih, Lina ingin membuang semua rasa yang selalu menjadi beban dan selalu mengganjal di dalam hatinya.
"Lin, aku minta kamu jauhi aku. Buang perasaan kamu terhadap diri ini!" Inani berkata dengan tajam sembari memberi secarik kertas pada Lina. Setelah itu, Inani pergi tanpa pamit, meninggalkan ruang UKS itu dengan kebisuan.
Raka sedari tadi bungkam, setelah mendengar penuturan Lina yang seketika membuatnya shock.
Sementara Alex, ia buru-buru menghampiri Lina dan menenangkan gadis itu, membawanya kedalam dekapan yang hangat.
"Lina!" panggil Raka lirih.
"Bang Raka." Lina berpindah haluan dan langsung menghambur dalam pelukan Raka.
"Ma ... maafin Lina hiks ..." tubuh Lina bergetar hebat dalam pelukan Raka. Raka pun tak kuasa menahan air mata, sungguh ia tak bisa jika melihat adik semata wayangnya menderita.
"Kamu nggak salah, Lin. Tapi, ini juga nggak benar!" Raka mengelus rambut Lina dengan sayang. Jika saja dari awal Lina jujur pada dirinya, mungkin Raka bisa membantu Lina keluar dari situasi pelik seperti ini. Raka akan dengan telaten memberi pengertian pada adik kecilnya itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur, takkan pernah bisa kembali pada wujud semula.
Lina mendongakkan kepalanya, melihat wajah lembab Raka yang juga dihiasi oleh cairan bening itu.
"Bang Raka marah sama Lina?" tanya Lina dengan takutnya.
"Omong kosong apa ini? Abang nggak pernah marah sama Lina. Punya perasaan terhadap lawan jenis itu wajar kok, Lin. Cuma mungkin cara Lina itu sedikit salah," ucap Raka dengan lembut, memberi nasehat kecil untuk Lina.
Tak sengaja pandangan Raka mengarah pada secarik kertas yang digenggam oleh Lina. Kertas pemberian Inani tadi. Lina tahu betul dengan arah pikir Raka yang sedang memandang kertas itu. Perlahan-lahan, Lina membuka kertas itu. Kertas yang bertuliskan dengan tinta biru, sungguh cocok dengan warna favorit Lina. Lina tersenyum kecut ketika membaca isi surat itu.
Dear Lina.
Terimakasih, atas semua perasaan yang tengah dirimu pendam selama ini. Perasaan cinta yang dirimu tujukan padaku. Namun, aku berharap kelak dirimu akan membuang rasa yang tak seharuanya kau miliki terhadapku. Biarkan aku tenang dengan pilihanku sendiri. Biarkan aku tenang tanpa ada rasa bersalahku pada dirimu. Karena, aku takkan bisa membalas rasa itu. Mungkin alam menganggap rasa yang kau miliki itu wajar. Namun, berbeda dengan diriku ini yang menganggap rasamu terhadapku itu suatu kesalahan besar. Oleh karena itu, aku mohon buang jauh-jauh semua tentangku dari memorymu. Ku harap kau bisa mengerti aku. Ku harap pula kau takkan pernah sakit hati dengan sikapku. Karena, aku tak pernah memintamu untuk mencintaiku.
Nani.
Lina menangis lagi untuk kesekian kalinya. Hancur sudah semuanya. Sia-sia sudah pengorbanannya selama ini. Pengorbanan mencintai seorang Inani Adijaya. Raka memeluk adiknya lagi sembari menarik tangan Alex yang sedari tadi hanya diam disisi kiri Lina, untuk mendekat. Lewat tatapan mata, dapat disimpulkan oleh Alex, bahwa Raka memintanya untuk senantiasa berada di samping Lina. Raka mengangguk paham dan ia berjanji dalam hati, bahwa ia akan selalu ada untuk Lina.
_____________
Lina Diary.
Sakitku adalah bukti dari perasaan ini. Air mataku adalah simbol dari perjuangan ini. Cintaku adalah suatu kesalahan jika dari sudut pandangmu. Namu cintaku adalah suatu rasa yang suci jika dari sudut pandangku.
~Lina~
Dear Inani
You are the reason