Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 13



Air mata ini selalu menemani.


~Lina


______________


Alex membawa Lina dan Dea ke UKS.


Sedari tadi Lina hanya diam seribu bahasa. Sungguh, Alex sangat terpukul melihat keadaan Lina seperti itu.


Alex merasa sangat bodoh saja, ketika Lina dalam keterpurukan, ia justru tak berada di samping Lina. Terlambat, ia datang saat kondisi Lina sudah dalam keterpurukan.


Menyesal ...


Sungguh, Alex sangat menyesal. Seharusnya Lina berada dalam pelukannya dan ia dapat menyeka setiap butiran air mata Lina yang jatuh menghiasi wajah cantik Lina.


Alex memandang Lina dalam diam, seketika ia teringat wajah Shabil yang berpapasan dengannya tadi. Sungguh, tiba-tiba saja amarah Alex seketika sulit untuk di kontrol. Ia ingin menghajar habis-habisan perempuan picik itu, siapa lagi kalau bukan Shabil.


Argh ....


Alex berteriak frustasi, yang sontak menarik perhatian seisi UKS itu. Begitu pula dengan Lina dan Dea yang saling tatap-menatap seolah ingin melontarkan pertanyaan.


Lina menatap sebentar ke arah Alex, kemudian tatapannya kembali pada Dea dengan raut wajah kebingungan. Sedangkan Dea, ia hanya mengedikkan bahu, tanda ia tak tahu apa yang terjadi dengan Alex.


"Lex, kamu kenapa?" tanya Dea dengan pelan, tetapi masih bisa di dengar oleh Alex.


"Aku?"


Bodoh ...


Alex merasa bodoh, ketika menyadari apa yang tengah ia lakukan tadi.


"Iya. Ngapain kamu teriak kayak gitu? dasar aneh," cibir Dea sembari memutar bola matanya jengah.


Alex menghiraukan pertanyaan Dea, ia lebih mementingkan Lina.


Ia menuju ke arah Lina berada, kemudian duduk di sebelah kanan Lina.


Dea mendengus sebal ketika di acuhkan oleh Alex Tapi, ia juga sangat memaklumi sifat Alex itu yang lebih mementingkan sahabat karibnya, Lina. "Semoga Lina bisa membuka hatinya untuk kamu, Lex." Dea berdoa dalam hati.


Di sisi yang bersebrangan dari tempat Dea berada, Alex tersenyum manis pada Lina seraya mengelus lembut rambut panjang Lina yang tergerai cantik di mata Alex.


Lina pun memandang Alex dengan sendu. Melihat Lina yang memandangnya seperti itu, seketika hati Alex terasa nyeri yang amat mendalam. Air mata pun jatuh begitu saja membasahi wajah tampan itu.


Alex menangis sembari menyisihkan anak rambut yang tengah menutupi sebagian dari wajah cantik Lina.


"Kenapa menangis?" pertanyaan itu terlontar dari bibir Lina. Lina tak enak hati, jika Alex menangis karenanya. Biarkan saja Lina seorang diri yang menangguh kepedihan ini, jangan orang lain, itu akan lebih menyakiti batinnya.


"Air mata ini pertanda, jika aku sangat mencintai seseorang yang ada di samping ini. Tapi sayang, orang itu sudah mencintai yang lain. Terus aku bisa apa, Lin?" Alex mengeluarkan segala isi hatinya. Masa bodoh, jika seisi UKS terkejut dengan penuturannya.


Lina hanya bisa diam dan menunduk, ketika mendengan ucapan Alex.


Sementara di luar, seseorang menatap keduanya (Lina dan Alex) sembari tersenyum miris. Sungguh, ia tak menduga jika Alex juga tengah menyukai Lina. Bahkan, Alex lebih gentle di bandingkan dengan dirinya, "Kenapa rasa ini datang nggak dari dulu? kenapa baru sekarang? sekarang, saat dia sangat mustahil untuk ku dapat," batin Nando sembari menatap sebungkus cokelat yang awalnya ingin ia serahkan pada Lina. Setelah mendapat kabar tentang Lina, Nando tadi langsung saja membelikan cokelat untuk Lina. Sebab, menurutnya dengan memakan cokelat pada saat sedih, dapat menenangkan hati kita yang lara.


Tapi, mau bagaimana lagi? jika sudah seperti ini, dengan berat hati Nando mengurungkan niatnya untuk memberikan cokelat itu pada Lina.


Nandomelihat dua cewek, adik kelasnya. Ia tersenyum kecut dan langsung saja menyodorkan cokelat itu ke salah satu dari keduanya. Spontan, mereka kaget dan langsung menghentikan langkahnya.


"Bu ... buat saya, Kak?" tanya adik kelas itu yang sungguh tak percaya.


"Iya buat kamu, makan aja nggak bikin gendut kok," ucap Nando dan langsung meninggalkan keduanya.


Dengan langkah yang pelan, samar-samar Nando mendengar penuturan keduanya yang masih tak percaya bisa mendapat sebatang cokelat dari Nando. Nando hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


_______________


"Raka ....," teriak Inani, ketika ia melihat Raka yang berada di taman bersama dengan Adel. Raka dan Adel pun menoleh pada Inani yang tengah berjalan ke arah mereka.


"Kenapa muka kamu masam kayak gitu?" tanya Raka keheranan, pasalnya saja si Inani jarang bahkan tak pernah menampikkan wajah seperti itu.


"Aku ... aku minta maaf sama kamu," ucap Inani dengan menatap manik mata Raka.


Raka dan Adel sungguh bingung dengan ucapan Inani yang tiba-tiba saja meminta maaf seperti itu.


"Ngapain minta maaf? sama aku?" tanya Raka seraya menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk.


Inani menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan perlahan.


"Lina ....,"


"Lina kenapa?" tanya Raka dengan raut wajah yang berubah serius.


"Lina dilabrak sama Shabil," ucap Inani pada akhirnya.


Bugh ...


Raka memukul rahang Inani dengan kerasnya. Ia tak tahu pasti penyebab Shabil melabrak Lina. Tapi, mendengar adik kecilnya di perlakukan semena-mena oleh orang lain, terlebih Shabil yang notabenya pacar Inani, membuat Raka tak bisa mengontrol emosi.


"Raka, sabar! jangan pakai emosi," tutur Adel mencengkal lengan Raka.


"Maaf, aku kelepasan." Raka menyesal dengan perbuatannya.


"Nggak papa, Rak. Sekali lagi aku minta maaf atas nama Shabil,"


"Emang kenapa Shabil ngelabrak Lina?" tanya Adel dengan raut wajah sedih.


"Shabil ngira kalau Lina mau ngerebut aku darinya," ucap Inani lemah.


Adel pun berlari meninggalkan Raka dan Inani. Sungguh, dirinya tak tahu jika Lina tengah menghadapi masalah.


Padahal baru saja ia merasa behagia, karena telah resmi berpacaran dengan Raka. Tapi sekarang, lihatlah ia seperti sahabat yang tak berguna. Bahagia, ketika sahabatnya bersedih. Adel hanya bisa merutuki kebodohan itu.


Adel berlari sekuat tenaga membelah keramaian di atara siswa siswi yang berlalu lalang. Biarkan saja, jika dirinya dianggap gila atau nggak jelas. Yang terpenting ia bisa secepatnya merengkuh tubuh rapuh sahabatnya, Lina.


"LINA ....," teriak Adel, ketika sudah sampai di kelas.


"MANA LINA?" keringat dingin membasahi setiap jengkal tubuh Adel, tak terasa pula air mata menetes begitu saja.


"Lina di UKS, Del." Julian menyahuti pertanyaan Adel dengan ramahnya.


Tanpa berkata lagi, Adel langsung berlari lagi menuju UKS.


Adel langsung saja menerobos masuk ke dalam.


"Lin ....," panggil Adel dengan lirihnya. Lina, Alex dan juga Dea menoleh pada Adel. Adel berjalan pelan ke arah Lina berada. Dea pun menghalangi langkah Adel sembari menatapnya dengan tajam.


"Mau apa kamu?" tanya Dea acuh sembari mendorong tubuh Adel sedikit keras.


Adel pun terhuyung ke belakang dan untung saja Raka dengan sigap menangkap Adel.


"Dea, kamu apa-apaan sih?" sentak Raka dengan dinginnya.


"KAMU ITU SAHABAT MACAM APASIH, DEL? KAMU TAHU, NGGAK KALAU TADI LINA DI PERMALUKAN SAMA SHABIL? KAMU KEMANA, DI SAAT KITA BUTUH KAMU, HAH?" pertanyaan bertubi-tubi Dea lontarkan pada Adel. Dea sungguh kecewa dengan sikap Adel yang seperti itu. Kemana perginya Adel yang selalu ada buatnya dan juga Lina?


Adel memang tak pernah seperti itu. Tapi, sekali ia begitu, sungguh langsung membuat Dea kecewa yang amat mendalam.


"Dea, nggak boleh ngomong gitu sama Adel!" sergah Lina sembari memegang tangan Adel.


"Maaf," ucap Adel sembari menunduk lesu.


"Kamu nggak salah, Del." Lina berkata dengan lembutnya.


Adel pun memeluk Lina dengan erat. Tangan Lina pun juga menarik Dea, dan mau tak mau Dea pun bergabung dalam pelukan itu. Sungguh, jika boleh jujur, Dea masih sangat kesal dengan Adel.


_____________


Inani bergabung dengan Junbas dan Bob yang sedari tadi berbaring di pojok belakang kelas XII Ekonomi 2.


"Kamu putus sama Shabil?" tanya Nando menatap Inani dengan lekat.


"What? kok aku ketinggalan berita?" tanya Bob yang langsung heboh. Nando mendelik ke arah Bob. Sedangkan Bob, ia balik mendelik pada Nando.


"Aku colok mata kamu baru tahu rasa!"


"Emang rasanya kayak apa, Nan?" tanya Bob yang langsung membuat Nandi mengacak rambutnya frustasi. "Kalau nih bocah kue bronis, pasti udah aku habisin." Nando membatin.


"Plis deh. Jangan bikin aku tambah pusing!" seru Inani sembari merebahkan tubuhnya di lantai. Menutup mata dan merenungi semua yang terjadi hari ini. Jujur saja, Inani masih memiliki rasa dengan mantan pacarnya, Shabil. Tapi, ia sudah kecewa berat dengan sikap buruk Shabil terhadap Lina.


"Nani, kalo pusing minum aja Bodrex, aku bawa tiga tuh di tas," ujar Bob yang semakin membuat kepala Inani serasa ingin meledak saja.


Nando pun begitu, ia sangat ingin menelan Bob hidup-hidup. "Aku juga nyadar, kalo aku juga ****. Tapi, ini si Jawas begonya melebihin diriku, hadeh dasar bocah tengil," batin Nando mencibir Bob.


"Terus gimana, Nani? Lo beneran putus sama Shabil?" tanya Nando sekali lagi.


"Iya aku putus," jawab Inani lemas.


"Syukurlah ....,"


"Apaan? Senang banget temannya putus? Aku lagi sedih," tutur Inani frustasi.


"Ya aku tahu kamu lagi sedih, tapi aku juga bahagia sih. Karena, gue punya satu teman lagi yang jomblo." Nando meledek Inani. Tapi sejujurnya, ada rasa sedih, ketika mendengar bahwa Inani putus dengan Shabil. Lina pasti akan semakin dekat saja dengan Inani.


"INANI ....," teriak seseorang dari arah pintu kelas.


____________


Author Diary.


Masalah begitu banyak menghampiri masa putih abu-abu. Kisah cinta yang begitu sederhana, namun cukup rumit tuk di jalani. Belajar berpikir dewasa, itu kunci agar masalah dapat terselesaikan. Terkadang, kita lupa dengan tujuan utama menempuh putih abu-abu dan lebih mengutamakan kisah asmara yang entah itu akan menjadi cerita cinta monyet anak remaja, atau bahkan awal dari kisah cinta yang abadi. Dear Inani adalah bukti dari kisah cinta yang tulus dan entah itu akan abadi atau hanya akan menjadi kisah cinta masa lalu saja di masa yang akan mendatang.


~Lijin~


Dear Inani


You are the reason