Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 25



Lina dengan terpaksa memasuki apartemennya, menyusul Inani yang sudah seperti tuan rumah saja.


Inani meletakkan belanjaan Lina di dapur, setelah itu dia langsung duduk di sofa bersebrangan dengan posisi Lina duduk. Lina menatap acuh ke arah Inani. Namun, nyatanya cinta yang ia miliki terhadap Inani masih betah bersemayam di ulu hati. Semua itu hanya membuat suasana hati menjadi gusar saja.


"Lina," panggil Inani dengan lembutnya.


Lina pun hanya diam, karena lidahnya seakan kelu untuk menjawab panggilan Inani. Seakan rasanya ego mengikat rohani untuk memberontak jasmani. Diam termenung dan hanya bisa menatap wajah tampan itu dalam kebisuan. Beginikah rasanya terpikat oleh cinta? Cinta yang selalu saja ia harap, walaupun sudah terkikis berkali - kali. Namun, pancaran semboyan 'tak pernah berpaling' seakan menyusun kembali bagian yang telah terkikis itu.


"Lin, aku ingin kamu menjadi milikku." Inani perlahan - lahan mendekati Lina yang masih saja diam seribu bahasa.


Inani bersimpuh di hadapan Lina. Menggenggam erat jemari lentik itu. Matanya menerawang jauh ke dalam manik mata Lina. Seketika Lina terpaku dan terkunci oleh tatapan itu. Inilah saat - saat yang dinanti oleh Lina, mengharap dibutuhkan oleh orang yang kita sayangi. Namun, hati Lina pula berdenyut nyeri, ketika mencerna setiap kata yang terlontar dari bibir Inani.


Inani tak mengatakan cinta, tapi ia menginginkan Lina menjadi miliknya. Nyatanya pilu di masa lalu kalah telak dengan kenyataan saat ini. Kenyataan, bahwa dimata Lina, Inani sudah seenaknya ingin mengklaim dirinya. Lina bukan barang! Inani harus tahu itu!


"Lepas!" sentak Lina dengan kerasnya. Genggaman itu terputus dalam sepihak.


Lina menatap benci pada Inani, walaupun nyatanya dalam hati masih menyimpan berjuta rasa untuk Inani. Kamu egois dan mengapa aku tak pernah bisa menghapus bayanganmu dari hidupku? teriak batin Lina bergejolak.


"Jangan seperti ini! Kau membuatku lara," ucap Inani dengan tatapan sendu.


Nyatanya, sendu itu akan hadir kala rindu terobati. Namun, rindu akan pilu, jika kehadirannya menjadi tabu. Tabu dan melambung tinggi, ditolak mentah - mentah oleh titik acuan. Inani ingin merengkuh tubuh mungil itu, tapi ego seakan menciut kala melihat tatapan penuh kebencian dari sorot mata sayu Lina.


"Kau lara, tapi aku semakin pilu. Tidak cukupkah engkau singgah di masa lalu saja? Tolong, jangan torehkan lagi duri di masa ini!" ucap Lina yang mulai terisak.


Inani mendekat lagi dan mencoba mengusap air mata Lina. Namun, tangan Inani ditepis oleh Lina.


"Jangan sentuh!" sergah Lina dengan tatapan tajam.


"Kenapa? Aku tahu kau masih menyimpan rasa itu terhadapku." Inani tersenyum getir kala menyadari kepercayaan dirinya itu.


"Tidak! Rasa itu sudah hilang," sergah Lina.


"Kamu bohong, Lina!" sangkal Inani, kemudian langsung pergi meninggalkan Lina begitu saja.


Lina merasa kehilangan, kala Inani pergi. Ah, benar apa kata Inani, Lina sudah membohongi perasaannya sendiri. Rumit sekali bukan? Dulu saja Lina yang sangat berharap pada Inani, tapi sepertinya sekaran berkebalikan. Lina bukannya tak ingin mendekat dan berharap lagi, tapi rasa sakit itu masih saja menjadi tameng, pembatas ruang lingkup.


Dear April


Aku merasa dibutukan oleh cinta pertama.


Tapi, aku pula tak bisa menghancurkan pembatas ini.


Rasa sakit seakan candu menemani diri ini.


Ingin membuka pintu hati untuk dia, yang bahkan


masih menyimpan indah ukiran namanya.


April yang datang menggantikan tugas Maret


seakan tahu dan berkecimpung dalam lakon


cinta ini.


Lina mengusap air mata dan langsung menenangkan pikiran yang tengah berkecamuk hebat. Mungkin dengan memasak dapat menyisihkan sebagian pikirab pelik itu.


Pagi ini Bob bergesa membangunkan Inani yang masih saja tertidur pulas. Bob mengecutkan bibir kala mengingat kejadian semalam. Inani menggedor keras pintu rumahnya untuk menginap.


"Kenapa berisik sekali? Pintu rumah aku bisa - bisa rusak," ucap Bob dengan menahan amarah.


Inani tanpa rasa dosa langsung saja nyelonong masuk ke dalam rumah Bob. Inilah kebiasaan buruk


atasan sekaligus sahabatnya itu yang selalu seenak


jidat dalam bertingkah.


"Aku nginap disini," ucap Inani yang langsung menuju


kamar tamu.


"Bukannya tadi mau nginap di apartemennya Nando?" tanya Bob yang spontan membuat Inani


berdecak sebal.


"*Nggak jadi, seketika mood-ku hancur." Inani langsung menutup pintu ka*mar sebelum Bob


ingin protes.


Tak ada cara lain lagi, Bob langsung menggedor keras pintu kamar tamu itu. Persetan jika pintu itu rusak, ia akan meminta rugi pada bosnya itu. Inani berdecak kesal kala tidurnya terusik dengan suara gedoran pintu. Dengan kesadaran yang belum terkumpul, perlahan Inani duduk dan langsung menyandarkan tubuh di kepala ranjang.


"Nan, bangun! Wes pagi," teriak Bob dan langsung membuat Inani bangkin dan membuka pintu.


Inani melotot tajam pada Bob, "Berisik tau!" sergah Inani yang langsung menutup pintu lagi. Hm, sepertinya Bob harus bersabar kala kejadian ini terulang. Tapi, bagaimana bisa sabar, jika tuan rumah terkalahkan oleh tamu. Huft, menyebalkan bukan?


____________


Lina berjalan dengan anggun menuju lift. Tiba - tiba ia merasa ada tangan orang lain menggandeng dirinya. Ia kaget bukan main kala melihat wajah manis Nando yang sangat sumringah. Nando? bagaimana bisa Nando bersama Lina. Fiks, pagi - pagi Lina sudah sarapan bingung.


"Tutup mulut, Lin! Ntar kemasukan lalat," ucap Nando kala menyadari keterkejutan Lina yang imutnya sungguh membuat Nando gemas.


Lina langsung menutup rapat - rapat mulutnya. Nando tahu, jika Lina bingung terhadap kehadirannya yang tiba - tiba. Sebenarnya, sedari tadi Nando menunggu Lina keluar apartemen dan setelah Lina leluar, Nando langsung berlari membuntutinya. Jika kalian pada bertanya, kenapa bisa Nando tahu soal Lina? Jawabannya adalah Inani. Inani yang semalam menelfon Nando ketika sudah sampai di rumah Bob dan mengatakan, jika Lina adalah tetangga baru Nando. Spontan saja hal itu membuat Nando berbinar. Nando langsung memasang alarm tepat pukul lima pagi. Sebab, ia ingin memantau Lina di pagi hari.


"Jangan heran! Inani tadi malam cerita kalau kamu adalah tetanggaku," ucap Nando santai yang masih setia menggandeng tangan Lina.


"Tetangga?" tanya Lina sembari memicingkan mata.


Nando menatap aneh pada Lina, karena tatapan Lina lebih mirip dengan seorang hakim yang mengintrogasi tersangkan.


"Iya tetangga depan rumah. Eh, maksudnya apartemen." Nando tersenyum lembut dan langsung menekan lift dengan angka menuju lantai dasar. Entah sejak kapan mereka berdua sudah memasuki lift?


Lina hanya mengguk pelan dan ber 'oh' ria saja.


Sesampainya di dasar, Nando langsung melepas genggaman itu, sebab ia risih dengan tatapan setiap orang yang melintas. Nando merasa kehilangan, tapi ia pula tak memaksa dan tahu akan kondisi sekitar.


Tanpa Nando sadari, Lina sudah berlalu menaiki gojek yang sudah ia pesan. Nando berdecak sebal dan langsung berjalan tanpa arah.


TBC.