![Dear Inani [You Are The Reason]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/dear-inani--you-are-the-reason-.webp)
Melihatmu cukup mudah. Namun, menggapaimu sangatlah sulit.
~Lina~
Perlahan-lahan, kedua sudut bibir Lina terangkat membentuk sebuah senyuman manis. Tapi sangat di sayangkan, senyuman itu tak bertahan lama. Ketika inani menempelkan secarik kertas di kaca jendela kelas itu yang bertuliskan;
I Love you Shabil
Lina menatap kecewa tulisan itu, lalu Lina menengok ke arah Shabil yang tengah tersenyum bahagia sembari menatap penuh cinta pada Inani.
Lina berusaha sekuat mungkin, agar air mata itu tidak jatuh. Ia menundukkan kepala untuk mengalihkan pandangan dari Inani. Sesakit inikah mencintai seseorang yang bahkan tak pernah ingin melirikmu? Lina ingin membuang jauh-jauh perasaan itu, perasaan cinta pada Inani. Tapi, mau bagaimana lagi, jika sudah terlajur sayang? Sangatlah sulit untuk dilupakan.
"Buset ... gebetan kamu berani amat, Lin? Nggak malu apa kalau dilihatin anak-anak?" ucap Dea berbisik pada Lina.
"Diam ogeb!" Adel memberi isyarat pada Dea, agar dapat menjaga perkataannya itu. Sungguh, Dea itu menyebalkan.
"Udah Lin, nggak usah dipikirin. Mending kamu lihat deh si Alex yang dari tadi lirikin kamu terus." Adel menoel pipi Lina sembari mengarahkan jari telunjuknya ke tempat Alex, si ketua kelas tampan.
"Apaan sih, Del?" Lina menecutkan bibir, lalu perlahan-lahan ia melirik ke arah Alex yang kebetulan juga sedang menatapnya. Alex buru-buru membuang pandangan ke sembarang arah. Aduh, Maluku di Ambon, Alex membatin.
"Cie ... cie ... cie ... aye ... aye ... drakor dadakan," teriak Dea tanpa sadar yang lansung mendapat tatapan tajam dari bu Linda, si Singa Betina.
Sementara teman-teman sekelasnya, hanya menatap heran ke arah Dea. Dasar!
"Dea jangan berisik!" seru Bu Linda dengan tegasnya.
"Iya Bu." Dea berkata lirih sembari menundukkan kepala, melafalkan berbagai doa, agar tidak terkena hukuman.
"Kali ini kamu selamat dari hukuman, karena saya sedang tidak mood untuk menghukum kamu." Bu Linda berkata dengan santai sembari membenarkan letak kacamatanya.
Akhirnya, Dea dapat bernapas dengan lega. Selamat dari Singa Betina, batin Dea sembari menatap kedua sahabatnya yang duduk di depannya itu. Adel dan Lina hanya tersenyum kecil.
Pandangan Lina kembali terfokus ke arah kaca jendela dan Inani masih saja setia melihat ke arah Shabil, tapi untungnya Lina tidak mendapati kertas yang tadi ditempel oleh Inani.
Lina Diary.
Kau sangat sulit tuk digapai. Tapi, mengapa aku tak bisa menghapus rasa yang tengah bersemayam dihati ini? Aku ingin kau pergi dari pikiranku. Tapi, setiap kali aku memandangmu, cintaku padamu semakin bertambah besar saja.
"Oke, cukup sekian materi kali ini. Kalian boleh istirahat," ucap Bu Linda sembari membereskan buku.
"Tapi Bu, masih ada waktu lima belas menit lagi," sergah Alex yang langsung mendapat tatapan horor dari teman-teman sekelas. Sementara Alex, ia hanya tersenyum kikuk menanggapi tatapan itu.
"Hari ini jadwal saya padat, biasalah orang penting." Bu Linda berkata dengan angkuhnya.
"Baiklah, sampai bertemu di jadwal berikutnya." Bu Linda meninggalkan ruang kelas itu. Sesampainya diluar kelas, bu Linda melihat Inani yang masih saja setia mengintip ke arah Shabil berada.
Ehem ... ehem ...
Bu Linda berdehem cukup keras, agar Inani dapat mendengarnya. Spontan Inani langsung menoleh ke arah Bu Linda.
"Astagfirullah penampakan!"
Inani kaget bukan main, sampai-sampai ia terjungkal dalam tong sampah yang ada di sampingnya.
"Mana penampakan?" tanya Bu Linda yang kebingungan.
"Bu. Tolong saya, bantu saya keluar dari tong ini bu." Inani memelas, karena sedari tadi ia kesulitan menarik pantatnya keluar dari tong sampah itu.
"Tadi kamu bilang ada penampakan, mana?" elak Bu Linda yang masih saja sibuk menanyakan penampakan. Padahal dia sendiri penampakannya.
"Udah Bu, lupakan penampakan yang terpenting keselamatan anak tampan ini. Ayo bu tarik saya!"
"Saya tarik kamu? oh, tidak bisa! Saya nggak mau ya tangan saya terkontaminasi oleh kuman dan bakteri." Bu Linda berkata dengan jijik sembari menbayangkan betapa kotornya tong sampah itu. Oh no!
Inani jengah mendengar ocehan Bu Linda. Untung saja di luar masih sepi, karena memang waktu istirahat belum tiba. Kalau ramaikan bisa bahaya 'jatuh deh harga diri Inani.'
"Bu, panggilin anggota GB dong. Tuh mereka," ucap Inani sembari menunjuk ke arah anggota GB yang sedang berjalan ke arah kantin.
Sementara dari kejauhan, Nando telah melihat ke arah Inani dan juga Bu Linda. Ia bersiap untuk memberi kode pada teman-temannya.
"Guys. Putar haluan." Nando memberi kode pada teman-temannya.
"Iya, kenapa sih?" Raka pun ikut bertanya.
"Ada singa betina. Aku nggak mau di mangsa olehnya. Aku belum siap, karena aku belum suksek, belum nikah. Eh ... jangankan nikah, pacaran aja nggak pernah." Nando berucap dengan dramatis. Sedangkan Bob dan Raka, mereka hanya melongo saja mendengar ocehan Nando yang super lebay.
"Dasar edan!" (Dasar gila!) cibir Bob.
"Edan? Crazy? Edan or crazy lm not dua-duanya." (Tak terdeteksi)
"Udah Nan, kalo nggak bisa bahasa Inggris, nggak usah dipaksain. Bikin malu aja," ejek Raka pada toa GB itu.
"GB, KEMARI KALIAN!" teriak bu Linda dari kejauhan dengan suara yang cempreng dan melengking.
"Astaga. Suara kamu kalah, Nan."
"Udah... udah ... ayo ke sana!" Bob menarik tangan Nando dan Raka. Nando yang bersikukuh ingin kabur, sedangkan Raka hanya pasrah saja mengikuti langkah si Jawas.
Sementara di dalam kelas Kimia 4, Lina and the geng baru saja menyelesaikan tugas mapel selanjutnya.
"Istirahat kuy!" ajak Dea pada Adel dan Lina.
"Kuy!" jawab Adel dan Lina secara bebarengan.
Sesampainya di luar, mereka bertiga kaget bukan main. Ketika melihat para panglima GB tengah berkumpul di depan kelas itu. Tak lupa juga bu Linda masih berada di sana.
"Bang, ada apasih?" tanya Lina pada Raka, Raka pun menoleh ke arah Lina.
"Oh, ini Inani bikin masalah. Dia yang bikin masalah, eh kita juga yang kena," ucap Raka sembari melirik Inani. Sementara yang di lirik, hanya tersenyum tanpa dosa. Pandangan Lina mengarah pada Inani yang juga tengah memandang ke arahnya dan juga sang kakak.
Lina Diary.
Hanya demi dia, dirimu rela terkena masalah seperti ini? beruntung sekali dia yang kini tengah memilikimu. Apakah bisa aku seberuntung dia? Jika bisa, kapan waktu itu tiba? entahlah, aku hanya bisa menunggu dan menunggu.
Lina tersenyum simpul pada Inani, Inani pun membalas senyuman itu. Tak lama kemudian, Shabil mendatangi Inani dan langsung saja ia memegang tangan Inani.
"Are you okay?" tanya Shabil dengan cemasnya.
"l'm ok wirohajima," jawab Nando menyanyikan lirik lagu boyband iKON.
"Bukan kamu yang di tanya!" seru Dea yang sedari tadi menjadi penonton.
"Sudah-sudah, kalian ini bikin saya pusing saja. Inani ingat hukuman yang saya kasih tadi. Bye," ucap Bu Linda, lalu pergi begitu saja.
Inani hanya tersenyum kecut, ketika mengingat hukuman yang diberikan bu Linda yaitu membersihkan wc setiap pagi selama satu minggu.
"Abang tukang wc mari-mari sana bersihin wc." Nando mengejek Inani dengan bernyanyi menirukan lagu abang tukang bakso.
"Udah sayang. Entar Shabil bantu, nggak usah cemberut." Shabil tersenyum lembut pada Inani, sementara Inani juga ikut tersenyum sembari mengacak gemas rambut Shabil.
"Asik," teriak Nando.
"Ahay," teriak Bob.
"Astaga," teriak Mbin.
"A mulu deh," ucap Dea.
"Ish, kok gerah ya? Padahal cuaca lagi mendung? Ayo girls ke kantin aja." Adel mencibir keras mengejek Shabil dan Inani. Kemudian, Adel menarik Dea dan juga Lina, Lina yang sedari tadi murung gara-gara kedatangan Shabil.
Lina Diary.
Cinta itu sungguh menyakitkan. Namun, aku ingin tetap bertahan, walau nantinya akan banyak luka yang ku dapat. Karena, aku yakin suatu saat nanti cinta yang ku kejar akan datang juga padaku.
Alex Diary.
Bisakah sedetik saja kau mencintaiku? Buat apa kau mengharapkan cinta darinya yang takkan pernah ada untukmu? Lihatlah aku di sini yang selalu ada bersamamu di saat suka maupun duka.
Dear Inani
You are the reason
TBC