Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 3



Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan dirimu dan cintamu. Tapi, jangan sekalipun anggap ini sebuah obsesi semata.


***


Lina berjalan lesu menuju kamarnya. Hari ini merupakan hari yang cukup panjang dan juga sangat melelahkan. Lelah? Ya, jiwa maupun raga Lina sangat lelah. Apalagi, jika ia harus mengingat kejadian di sekolah tadi, saat Shabil tengah memberikan perhatian penuh pada Inani.


"Argh ... Inani, your make me crazy." Lina sangat frustasi dengan keadaan ini. Mengapa sangat mudah untuk mencintai seseorang, jika kenyataannya sangat sulit untuk memiliki?


Lina membuka buku diary-nya, lalu ia mengambil sebuah foto yang terselip di tengah diary itu. Foto seseorang yang selalu membuat dirinya bahagia dan sedih secara bersamaan. Bahagia, karena dia telah mengajarkan Lina akan pentingnya sebuah cinta. Namun, sedih ketika harus menerima kenyataan bahwa dia sangatlah sulit tuk di raih.


Air mata Lina menetes deras tanpa bisa terbendung. Sakit rasanya mencintai dia, perih rasanya, jika harus melupakan dia. Lina takkan mampu itu.


 


Lina Diary.


Kapan aku bisa melupakan dirimu? Jika kau saja takkan bisa menjadi milikku. Sungguh, sulit rasanya diri ini. Namun, jika aku tak pernah bisa melupakan dirimu. Apakah kau bisa menjadi milikku? Ya, aku akan selalu berharap. Aku juga akan terus berjuang.


 


Lina menyimpan kembali foto Inani dalam buku diary-nya. Saat ia ingin pergi ke kamar mandi, tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


 


Tok ... tok ... tok ...


 


Lina menarik napas, lalu membuangnya secara kasar. Ia berjalan dengan malas menuju pintu. Setelah pintu terbuka, pandangan pertama yang dilihat Lina yaitu Raka, sang kakak yang tengah memicingkan mata ke arahnya.


"Kamu habis nangis ya?"


"Hah? ng—nggak ih," jawab Lina terbata sembari menundukkan kepalanya.


"Terus, kenapa mata kamu bengkak?"


"Tadi kelilipan. Eh, ngapain Abang ke kamar adek?" tanya Lina mengalihkan perhatian Raka.


"Buatin minuman dong, buat anak-anak GB." Raka memelas pada Lina, agar Lina mau membantunya. Lina tampak berpikir keras, jika anak-anak GB ada di rumahnya, berarti ada Inani juga dong?


"Oke. Abang tunggu di bawah yaa! Bye." Raka berlalu meninggalkan Lina yang hanya diam seribu bahasa.


 


***


 


Raka bergabung dengan anak\-anak *GB* lainnya yang sedari tadi tengah berada di ruang tamu rumahnya.


"Mana minumannya?" tanya Nando.


"Camilannya?" sambung Inani.


"Pikiranmu cuma makanan aja ," cibir Bob yang sedari tadi fokus dengan smartphone-nya Itu.


 


"Emang situ nggak mau? yaudah si Jawas nggak usah dikasih, cukup si duo tampan ini aja," ujar Nando sembari merangkul pundak Inani yang ada di sampingnya.


"Aku juga mau." Bob menatap Raka dengan memelas.


Raka hanya bisa melongo, mendengar penuturan ketiga sahabatnya itu. *Giliran makanan aja si tiga Curut ini kayak gitu*, Raka membatin seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Sabar dulu, masih di buatin Lina tuh!"


Raka baru saja akan mendaratkan bokongnya di sofa. Tapi, ia keburu mendengar suara bel rumah yang tengah berbunyi nyaring.


Ting ... tong ... ting ... tong ...


"Sopo?" ("siapa?") tanya Bob pada Raka yang baru saja akan membuka pintu.


"Jarwo," teriak Raka sembari menjulurkan lidahnya ke arah Bob.


"Eh, Alex. Mari masuk." Raka mempersilahkan Alex masuk ke dalam rumahnya.


"Iya Bang. Eh, Assalamu'alaikum. Sorry, jadi lupa salam," ucap Alex dengan sopan.


"Waalaikumsalam. Ngomong\-ngomong nggak usah panggil abang. Kita sama\-sama kelas dua belas juga," sergah Raka.


"Ya nggak papa sih, kan aku temannya Lina. Lebih muda setahun juga akunya."


"Terserah deh, kuy masuk."


 


Raka sekali lagi mengajak Alex masuk dan dibalas angukan oleh Alex.


 "Wah, kembaranku datang," teriak Nando yang membuat lainnya spontan menutup telinga masing-masing.


Mereka semua berkumpul di rumahnya Raka, karena akan membahas tentang agenda penambahan panglima GB yang sebelumnya juga sudah mengadakan rapat dadakan di sekolah tadi. Bedanya dengan sekarang, mereka tengah sepakat bahwa Alex akan menjadi anggota ke lima GB.


 


Sementara dari tadi, Alex terus saja memfokuskan pandangan ke arah Inani. Saat memandang Inani, ada rasa benci yang amat mendalam. Karena apa? Karena Inani lah yang selalu membuat Lina sakit hati. Alex tahu semua tentang Lina yang tengah menyukai Inani. Bahkan, Alex juga pernah melihat Lina menangis gara-gara tahu bahwa Inani tengah memiliki kekasih, yaitu Shabil.


 


Alex sangat menyukai Lina, tapi sayangnya ia tak pernah berani mengungkapkan perasaannya ini. Bagi Alex, jika ingin mengungkapkan perasaannya pada Lina, maka ia harus bisa terlebih dahulu mendapatkan hati Lina. Oleh karena itu, Alex menerima tawaran Raka untuk bergabung di GB, agar ia bisa mendekati Lina dan juga Raka sebagai perantaranya.


"Guys, aku ke toilet dulu ya." Inani berpamitan dengan anggota GB lainnya dan langsung saja ia berjalan menuju toilet yang letaknya dekat dengan dapur. Inani dan anak-anak lainnya memang sudah hafal betul dengan ruangan-ruangan yang ada di rumah Raka, karena mereka semua sering berkunjung ke rumah Raka.


 


Prang ...


 


Langkah Inani terhenti, ketika ia mendengar suara pecahan benda dari arah dapur.


"Aduh, sakit!"


Inani mempercepat langkah menuju dapur, ketika ia mendengar suara seseorang yang tengah mengaduh kesakitan. Sesampainya di dapur, Inani langsung berlari ke arah Lina yang tengah duduk di depan pecahan gelas yang ada di lantai dapur itu.


Shh ...


Lina mendesis berkali\-kali menahan perih luka yang ada di jari telunjuknya akibat tergores pecahan gelas itu.


"Kemarikan!"


Lina kaget bukan main dengan kedatangan Inani yang langsung memegang tangannya. Kemudian, Inani menghisab jari Lina yang penuh dengan darah. Lina hanya diam saja mendapatkan perlakuan seperti itu dari Inani. *This is dream*?, batin Lina yang seakan sulit tuk mempercayai semuanya.


Lina memandang sendu ke arah Inani yang masih setia menghisab luka di jarinya dan sesekali meniup pelan luka itu.


 


Lina Diary.


Apakah ini nyata? atau aku hanya bermimpi saja? tidak. Aku tidak sedang bermimpi, ini sungguh nyata. Perhatianmu itu membuatku jatuh jauh kedalam pesonamu. Keputusanku memanglah benar dan tidak pernah sia-sia. Keputusan untuk selalu berusaha mendapatkan cintamu. Biarkanlah aku egois, egois karena selalu ingin mendapatkanmu. Aku sangat mencintaimu.


 


Tanpa terasa air mata Lina jatuh membasahi pipinya. Lina sangat terharu dan tidak akan pernah menyangka, jika ia bisa sedekat ini dengan orang yang sangat ia cintai.


"Sesakit itukah?" tanya Inani, ketika melihat air mata Lina. *Iya, sungguh sakit rasanya hati ini, ketika dirimu bersama dengan Shabil*, batin Lina.


"Don't cry! kamu jelek kalau nangis." Inani tersenyum manis, lalu ia mengusap air mata Lina dengan jari-jarinya.


 


Lina Diary.


Stop Inani. Aku memang bahagia saat ini. Tapi, aku juga merasa takut. Takut, jika ini hanya kebahagiaan sesaat yang takkan pernah bisa kau berikan untukku dilain waktu. Apa artinya kepedulianmu ini? sebatas kasihan saja? apa kau tidak pernah bisa mencintaiku? ku mohon belajarlah mencintaiku, walaupun hanya sedetik saja.


~Lina~


Inani Diary.


Jika di lihat dari dekat, kau sangatlah manis. Parasmu, tingkahmu, semua terlihat menggemaskan. Sesakit itukah luka kecil yang ada di jarimu? Hingga kau menangis seperti ini. Aku berharap, semoga tidak akan ada seorangpun yang menyakiti dirimu maupun perasaanmu? Karena orang sepertimu lebih cantik jika tersenyum. Don't cry!


~Inani~


  "Masih sakit?" tanya Inani yang langsung di balas gelengan oleh Lina. Inani tersenyum tipis sembari berdiri. Tak lupa pula inani mengulurkan tangannya ke arah Lina untuk membantu Lina berdiri. Dengan malu-malu, Lina menerima uluran tangan itu.


"Aku ke toilet dulu ya," ucap Inani tersenyum simpul, lalu melangkahkan kakinya menjauh dari Lina.


"Terima kasih," ucap Lina sedikit berteriak, agar Inani dapat mendengarnya. Sementara itu, Inani hanya berhenti sekilas sembari mengangkat jari jempolnya ke atas, lalu ia melanjutkan langkah meninggalkan dapur itu.


Tanpa mereka sadari, ternyata Alex sedari tadi tengah menyaksikan semua itu. Ketika Inani akan keluar dari dapur itu, Alex langsung menyenderkan badan pada dinding tepat di samping pintu masuk dapur itu. Untung saja Inani tidak melihat keberadaan Alex, karena arah toilet bertolak belakang dengan tempat Alex saat ini. Alex menatap penuh benci pada Inani yang perlahan\-lahan mulai menjauhi tempat itu.


 


______________


Alex Diary.


Sebahagia itukah engkau Lina? Bahagia mendapat perlakuan dusta dari pecundang yang tak akan pernah bisa mencintaimu. Akan ku buat kau tau arti cinta yang sesungguhnya Lina. Karena, takdirmu bukanlah dengannya, melainkan bersamaku.


~Alex~


________________


Dear Inani


You are the reason


Bersambung.....