![Dear Inani [You Are The Reason]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/dear-inani--you-are-the-reason-.webp)
Waktu terus berjalan, cinta terus bersemi, dan sakit hati terus berlanjut.
~Lina~
______________
Bandung, 30 Oktober 2019
Dear Inani
Aku lelah menunggumu, tapi mengapa aku tak bisa berhenti tuk selalu mengharapkanmu? Aneh bukan? Itulah diriku. Diriku yang selalu setia menunggu cintamu. Cinta dari seseorang yang membuatku tahu makna dari 'cinta pertama.' Cinta pertama yang bahkan belum bisa ku miliki. Aku memang belum bisa memilikimu. Namun, bisa memandangmu saja itu sudah membuatku bahagia. Aku tahu, kalau aku adalah perempuan paling bodoh di antara semua perempuan yang ada. Bodoh, karena terlalu mengharapkanmu. Bodoh, karena selalu menangisimu. Bodoh, karena tidak bisa menerima kenyataan, jika dirimu telah menjadi milik orang lain. Bodoh, bodoh, bodoh dan bodoh. Ya, itulah diriku yang sangat ingin memiliki cinta pertama, yaitu dirimu Inani Adiwijaya.
Alina Putri.
Lina memejamkan mata sembari menutup buku diary miliknya itu. Kepalanya terasa pening, ketika ia mengingat kebersamaan Inani dan Shabil. Dadanya pun terasa sangat sesak, sedangkan mata Lina pula mulai berkaca-kaca siap menumpahkan butiran bening.
"Kenapa selalu seperti ini? kenapa selalu sakit, jika terus mengingat kamu bersama dengannya? kenapa?" Lina menumpahkan segala keresahan dalam hati, lewat isakan tangis yang menggema di kamar itu.
"Kamu nggak pernah tau penderitaan ku selama ini? Aku menderita Inani. Menderita gara-gara mencintai kamu. Tapi, apa yang aku dapat? sakit hati, selalu saja seperti itu." Lina memeluk erat buku diary itu dan semakin terisak pilu.
"Aku memang bodoh. Bodoh, karena tetap bertahan di posisi ini. Tapi, tapi aku juga nggak bisa nyerah begitu saja. Aku udah melangkah sejauh ini, setidaknya kamu harus sadar, kalau aku cinta banget sama kamu." Lina sangat terpukul dengan keadaan yang tengah menjeratnya selama ini. Keadaan yang sangat sulit tuk di jalani, namun ia akan tetap melangkah maju menjalani semua ini.
Perasaan Lina terhadap Inani memang tak pernah salah. Hanya saja, banyak yang menganggap Lina tak pernah maju dan hanya diam di tempat. Mungkin, jika orang lain sudah pasti menyerah dengan keadaan ini. Menyerah dan berfikir, bahwa cinta di dunia ini sangatlah banyak dan dengan orang yang berbeda-beda pula, bukan hanya menetap pada satu orang. Yaa, Lina memang membenarkan semua itu. Tapi, Lina sangat benci, ketika dirinya di anggap diam di tempat, tak pernah melangkah. Bagi Lina, usahanya selama ini tidak bisa di katakan diam di tempat. Baginya, mengejar cinta pertama adalah sesuatu hal yang sangat berarti dalam hidupnya. Sangat berarti, jika di banding dengan kata menyerah sebelum mendapatkan. Sama saja mati sebelum bertempur.
"Susah, lelah, tapi aku masih pengen berjuang. Berjuang buat kamu." Air mata Lina seakan enggan untuk berhenti menetes. Biarkanlah dirinya menangis seperti itu, karena bagi Lina menangis adalah solusi terbaik untuk menenangkan hati yang lara.
Ceklek
"Lin, kenapa?" tanya Raka kaget, ketika melihat Lina menangis pilu seperti itu. Lina cukup kaget dengan kedatangan Raka yang tiba-tiba.
Buru-buru Lina menyembunyikan buku diary-nya di bawah bantal. Bukannya menghentikan tangisan itu, Lina malah semakin terisak sembari memegangi kakinya yang di perban.
"Astaga Lina. Masih terasa sakitnya. Maafin Abang ya Lin, Abang nggak becus jagain kamu." Raka tak kuasa menahan air mata, ketika ia melihat adiknya menangis kesakitan seperti itu.
"Maafin Lina, bang. Lina udah bohong sama abang. Bukan kaki Lina yang sakit, tapi hati Lina yang sakit," batin Lina merasa bersalah, karena sudah membohongi abangnya, Raka.
"Kita ke rumah sakit," ucap Raka yang tengah bersiap menggendong tubuh Lina. Tapi, secepat mungkin Lina menghentikan aksi Raka.
"Lina nggak mau ke rumah sakit. Kaki Lina udah nggak sakit," sergah Lina sembari menggeleng-gelengkan kepala.
"Tapi Lin--"
"Lina cuma pengen Abang di samping Lina, jagain Lina!" potong Lina dengan memelas ke arah Raka.
"Yakin, nggak sakit lagi? Abang cemas Lina. Abang takut terjadi apa-apa dengan Lina." Raka masih saja mengkhawatirkan adik semata wayangnya itu. Sementara yang di khawatirkan, semakin merasa bersalah saja, karena sudah keterlaluan membohongi sang kakak.
"Bang, Lina pengen duduk di balkon," ucap Lina sembari menyeka air mata Raka yang sedang duduk di sampingnya.
"Tapi, kakinya kan masih sakit," jawab Raka lembut seraya mengusap pelan rambut Lina.
"Abang gendong Lina dong. Bawa Lina ke balkon." Lina memasang wajah secemberut mungkin, agar Raka menuruti keinginannya.
Raka menatap Lina tajam yang langsung membuat nyali Lina ciut. Tapi, beberapa detik kemudian senyuman kecil terbit di bibir Raka dan langsung saja ia mengangkat tubuh Lina, membawanya ke balkon kamar Lina.
_______________
"Bang!" panggil Alex menepuk pundak Raka.
"Eh, Alex. Ada apa?" tanya Raka sembari melepas helm yang di kenakan dan langsung menaruhnya di kaca spion motornya.
"Gimana keadaannya Lina? Sorry kemarin nggak sempat jenguk soalnya ada bimbel."
"Oh Lina. Udah mendingan kok. Santuy aja, kamu bisa jenguk nanti pulang sekolah," ujar Raka tersenyum simpul pada Alex.
"Bang!"
"Hm ....,"
"Boleh, nggak aku jenguk Lina sekarang?" tanya Alex yang langsung mendapat tatapan tak percaya dari Raka.
"Terus, sekolah kamu gimana?"
"Gampang, aku bisa ijin kok. Boleh ya, Bang?" mohon Alex.
"Emm gima--"
"Woi ... Raka," teriak Inani dari kejauhan, tengah berlari ke arah mereka berdua.
Sementara Alex, ia memandang Inani dengan malasnya. "Ngapain sih si Inani? Ganggu aja," batin Alex tak suka.
"Hy mas bro. Eh ... Rak, aku ke rumah kamu, ya? Aku mau ngambil jam tangan yang ketinggalan kemarin malam," ucap Inani.
Alex tak suka, jika harus bersama dengan Inani untuk ke rumah Lina. Tujuan utamanya bisa-bisa galtot (gagal total) untuk berduaan bersama Lina, jika Inani ikut dengannya.
"Eh ... aku nggak bisa bareng kamu, Lex. Soalnya Shabil juga ikut," ujar Inani yang semakin membuat Alex jengah.
"Siapa juga yang mau barengan sama kamu? nggak ada kali," batin Alex dengan menatap sinis ke arah Inani.
"Aku juga bawa motor sendiri, kok. Ya udah Alex berangkat dulu ya, bang," ucap Alex sembari memberi tos pada Raka ala anak muda zaman now. Sementara dengan Inani, Canu hanya tersenyum kecil, dan langsung meninggalkan tempat parkir.
______________
"Assalamualaikum ..." Alex mengucap salam berkali-kali sembari mengetuk pintu rumah Lina. Tak lama kemudian, Inani bersama dengan Shabil pun sampai dan langsung berdiri di belakang Alex.
"Assalamualaikum ....," ucap Inani dan Shabil bebarengan.
"Waalailumsalam," jawab Alex sembari terus mengetuk pintu.
"Kok kamu yang jawab sih?" sergah Shabil sedikit ketus, sedangkan Alex langsung menatap datar ke arah Shabil, "Cewek nggak bener nih! Masa jawab salam nggak boleh. Calon penghuni neraka ini. Jawab salam hukumnya wajib, dasar cewek sialan," gerutu Alex dalam hati, tangannya pun ingin berontak meremas mulut pedas Shabil.
"Emang ada aturannya ya kalo aku nggak boleh jawab salam kalian? DPR buat undang-undang lagi tentang ini? kapan ya? kok aku nggak tau?" cibir Alex menyindir Shabil. Sementara yang di sindir, langsung emosi.
"Kok kamu nyolot sih, Al? Ketua kelas macam apa kamu? Cih, nggak guna," ucap Shabil yang tiba-tiba saja suaranya naik beberapa oktaf.
"Innalillahi, dia yang nyolot, kenapa nyalahih aku?" Batin Alex menahan emosi yang siap meledak.
Itulan sifat asli Shabil yang sesungguhnya. Cewek yang gampang tersinggung, pemarah dan maunya menang sendiri. Sungguh di sayangkan bukan? jika Inani mendapatkan Shabil. Cewek angkuh dan juga sombong, tapi dengan pintarnya ia menyembunyikan sifat buruknya dengan bertingkah sok baik, sok lembut dan masih banyak lagi.
"Yang nyolot itu kamu, bukan aku. Dengar ya, nggak ada larangan untuk siapapun, dan dari siapapun untuk menjawab salam dari orang. Kamu Muslim kan? Seharuanya kamu tahu, peraturan dan kewajiban semua orang, jika mendengar ucapan salam, maka hukumnya wajib bagi kita untuk menjawab salam itu. Ngerti, nggak kamu? Atau masih nggak paham?" tutur Alex yang terlanjur kesal dengan Sikap Shabil.
"Bisa, nggak sih. Kalau bicara dengan cewek tuh nggak usah bentak-bentak?" sergah Inani yang tak terima Alex berbicara dengan nada tinggi pada Shabil.
"Bodoh!" umpat Canu dalam hati.
"Kenapa bang? nggak suka dengan cara bicaraku? Dengar ya bang! Selama ini aku mencoba untuk menghargai Abang. Seharusnya Abang ngerti dong, mana yang salah dan mana yang benar. Bukan karena Shabil pacarnya Abang, Abang seenaknya belain dia. Padahal abang pasti tahu kan siapa yang salah? siapa yang benar?"
Alex berkata dengan dinginnya. Selama ini dia diam dengan tingkah Inani dan Shabil. Tapi, untuk saat ini tidak. Kesabarannya sudah habis. Sementara Inani dan Shabil, mereka berdua sama-sama bungkam, setelah mendengar penuturan Alex.
Ceklek
Pintu rumah itupun terbuka, memperlihatkan paras ayu seorang gadis dengan membawa tongkat di sisi kanan dan kiri tangannya, untuk menopang tubuhnya. Gadis itu menatap bingung ke arah mereka bertiga.
"Lina!" panggil Alex pelan, seakan memecah keheningan di antara mereka berempat.
"Iya, kenapa?" tanya Lina yang masih bingung akan hal ini.
Lina memfokuskan pandangannya ke arah Inani, kebetulan juga Inani tengah menatapnya. Tapi, Inani langsung membuang muka ke arah lain dengan muka yang di pasang secuek dan sedatar mungkin. Inani tak bermaksud begitu pada Lina, tapi saat ini dirinya terlanjur kesal dengan Alex. Sehingga, membuat Inani tak ada mood hanya sekedar memandang Lina. Melihat sikap Inani, seketika membuat Lina down. Tanpa terasa, sebutir air mata Lina jatuh begitu saja. Buru-buru Lina mengusap air matanya. Dan ia mencoba menampilkan senyuman yang terkesan di paksakan.
"Lin, aku mau jengu--"
"Mari masuk!" seru Lina memotong perkataan Alex sembari membalikkan tubuh dan langung melangkah masuk dengan tertatih mengimbangi tongkatnya.
Shabil langsung mengikuti langkah Lina memasuki rumah itu. Sementara Alex, menatap sendu punggung Lina. Ia tahu, bahwa saat ini hati Lina pasti sangat terluka akan sikap Inani tadi. Akhirnya, Alex pun mengikuti langkah Shabil dan Lina. Sedangkan Inani, ia tengah menyesal akan sikapnya tadi. Ia merasa bersalah, karena telah menjadikan Lina sebagai pelampiasan akan kekesalannya.
______________
Lina Diary.
Mudah sekali kau membuat hati ini terluka. Apa salahku? Apa dosaku? Sungguh, sikapmu tadi sangat menusuk hati ini. Hati yang sudah rapuh, namun dengan seenaknya kau melukis lagi luka baru untuk hati ini. Sungguh, kau menyakitiku lagi.
~Lina~
Alex Diary.
Menangis lagi? Berapa lagi air mata yang akan kau keluarkan? Air mata untuk seorang ********, seperti dia. Sadarlah Lina, sadar. Orang berengsek seperti dia, tak pantas untuk kau tangisi, apalagi kau cintai.
~Alex~
Inani Diary.
Kenapa aku merasa bersalah padamu? Apa sikapku tadi sangat keterlaluan? Sungguh. Aku menyesal akan sikapku tadi. Maaf, jika itu membuatmu sakit hati. Aku tak bermaksud melukai perasaanmu. I'm sorry.
~Inani~
Dear Inani
You are the reason
Bersambung...............