![Dear Inani [You Are The Reason]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/dear-inani--you-are-the-reason-.webp)
Masih ada rasa di atas ribuan luka. Masih ada cinta dikala merasa tersakiti.
~Lina~
____________
"Inani ....," teriak seseorang dari arah pintu luar kelas.
Seisi kelas pun sontak menghentikan aktivitas masing-masing dan arah pandang mereka tertuju pada satu titik acuan, yaitu Inani.
Merasa diperhatikan, Inani pun mendesah frustasi dikala suara yang sangat familiar itu mengusik indra pendengaran para manusia yang ada di dalam kelas itu. Siapa lagi kalau bukan Shabil pelakunya, entah mengapa Inani sangat jengah dengan tingkah mantan kekasihnya itu. Walaupun begitu, Inani tetap menyayangi gadis yang pernah memiliki hatinya itu. Sungguh, rasa itu belum sepenuhnya hilang.
"Samperin saja!" seru Nando memberi intruksi pada sahabatnya itu.
"Iya, benar tuh." Bob pula menyetujui usul dari Nando.
Inani mengangguk paham, lalu dengan secepat kilat ia menghampiri Shabil.
Shabil menyunggingkan senyuman sembari menatap sendu pada Inani. Sedangkan Inani, ia justru memberi reaksi yang berkebalikan. Tatapan Inani sungguh datar, dingin dan tanpa ekspresi. Walaupun begitu, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Inani ingin memeluk gadis yang saat ini tengah berdiri di depannya ini.
"Ngapain?" tanya Inani to the point.
"Sayang ak--"
"Jangan panggil sayang! Kamu lupa, kita itu udah selesai?" ucap Inani masih dengan ekspresi datarnya.
Seketika, raut wajah Shabil berubah drastis. Amarah semakin menguasai diri Shabil, ketika Inani dengan seenak jidat mengatakan bahwa hubungannya telah berakhir. Tidak! Shabil tidak akan pernah rela, jika jalinan kasih indah dengan Inani berakhir begitu saja.
Terlebih, hubungan itu berakhir gara-gara Lina. Shabil akan mempunyai seribu cara untuk menyingkirkan Lina dari Jangkauan Inani.
"Tega ya kamu. Cara berpikir kamu itu gimana sih, Nan?" tanya Shabil dengan tampang yang dramatis, terlebih disertai dengan butiran bening yang menghiasi wajah cantiknya.
"Seharusnya aku yang nanya kayak gitu sama kamu ....," Inani benar-benar merasa bimbang dengan suara hatinya. Disisi lain, ia tak rela jika melihat Shabil menangis karena ulahnya. Namu, ia juga sangat kecewa dengan tingkah Shabil.
"INI SEMUA ITU SALAH LINA. KAMU MUTUSIN AKU DEMI BELAIN CEWEK SIALAN ITU. BA--"
Plak ...
Shabil sungguh tak menyangka, Inani menampar dirinya. Rasa benci yang amat mendalam pun semakin mengeraskan hati Shabil. Shabil sangat membenci Lina!
"Kamu nggak seharusnya gituin Lina!" sergah Inani dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Lina itu mau ngerebut kamu dari aku. Apa aku harus diam aja, gitu?" tanya Shabil dengan raut wajah kecewa.
"Omong kosong. Lina nggak pernah ada niat buat ngerebut aku dari kamu,"
"TERUS APA INI?" tanya Shabil sembari menyodorkan sebuah buku diary berwarna dongker dengan motif bunga sakura yang bertulis dengan tinta biru, "My diary,"
Inani sungguh tak mengerti dengan perkataan Shabil.
"Apa ini?" tanya Inani, ketika buku itu sudah berpindah di tangannya.
"Buka dan baca. Semoga kamu nggak menyesal udah mutusin aku." Shabil pun pergi meninggalkan Inani yang masih diam mematung sembari menatap penuh tanya pada buku yang tengah ada di genggamannya.
Inani masuk dengan membawa buku yang entah apa isinya itu. Ia kembali bergabung dengan Nando dan juga Bob.
Si Bob, memandang Inani dengar raut wajah penuh tanda tanya, sementara itu Nando merasa sangat kaget melihat buku diary Lina ada pada Inani.
Mereka bertiga masih saja diam membisu dan tenggelam pada pemikirannya masing-masing. Perlahan-lahan Inani membuka dan membaca lembaran demi lembaran buku itu.
Dear Inani.
Degg ...
Jantung Inani berdetak dua kali lipat lebih cepat, ketika membaca dua kata di atas tersebut.
Glek ...
Dengan susah payah Inani menelan salivanya, ketika mulai membaca isi demi isi curahan hati Lina yang semuanya tertuju dan mengarah pada dirinya.
Lina mencintainya. Sungguh, hati Inani sangat teriris ketika membaca curahan hati Lina. "Kamu cinta sama aku, Lin? Sesusah itukah perjuangan cinta kamu untuk diri ini? Kenapa, Lin? Kenapa kamu cinta sama aku, disaat aku sudah punya Shabil? Ternyata selama ini Shabil benar, kamu yang salah Lin. Salah, karena kamu jatuh cinta padaku." Inani menangis dalam diam.
Nando dan Bob pun kaget, ketika melihar cairan bening itu membasahi wajah Inani, "Apa sekarang kamu sudah sadar, kalau Lina cinta mati sama kamu?" Nando membatin seraya memandang lesu pada Inani.
Argh ...
"Kamu kenapa? Kalau ada apa-apa bisa cerita sama kita, nggak kayak gini juga. Kamu seenaknya banting buku orang sembarangan." Nando berkata dengan sinis sembari memungut diary itu.
Inani tak menjawab pertanyaan Nando, ia lebih memilih keluar dari kelas.
"Kenapa, Nan?" tanya Bob yang juga penasaran.
Nando memandang Bob sebentar, lalu beralih pada buku diary yang sedang dipegangnya. Diary milik seseorang yang sudah berani masuk dalam hatinya. Sulit untuk mengeluarkan Lina dalam hati, namun lebih sulit memiliki orang yang takkan pernah bisa membuka pintu hati untuk orang lain, seperti Lina. Nando bisa apa? Hanya ikhlas, pilihan terakhir dan terbaik untuk perasaan ini.
_____________
"Dea ....," panggil Adel berkali-kali, namun Dea seakan menulikan indra pendengarannya. Dea tetap acuh sembari terus berjalan menelusuri lorong sekolah menuju UKS.
"Dea. Kamu berhenti atau aku akan pindah sekolah!" Adel berucap dengan tajam dan berhasil menghentikan langkah kaki Dea.
"Kok kamu ngomong gitu sih, Del?" tanya Dea tak percaya dengan penuturan sahabatnya itu.
"Buat apa aku masih sekolah disini, kalau aja sahabat aku nggak mau ngomong sama aku? Percuma De," ucap Adel dengan lesu.
"Dicueki sahabat itu nggak enak. Dan aku nggak tahan dengan situasi ini," lanjut Adel dengan menatap Dea dengan sendu. Sungguh, Adel tak mampu jika Dea mendiaminya.
"Hua ... aku sayang sama kamu, Del. Aku juga nggak betah diemin kamu terus." Dea menghambur kepelukan Adel. Dea tak bermaksud mendiami Adel, tapi rasa kesal masih bersarang pada diri Dea.
"Janji, nggak boleh pindah sekolah!" seru Dea sembari mengangkat jari kelingkingnya di udara.
"Janji," balas Adel dengan menautkan jari kelingkingnya pada jari Dea.
"Best friend forever!"
"Forever!"
"Kamu nggak mau tau ada hot news, hm?" tanya Adel dan langsung saja membuat jiwa kepo seorang Dea keluar.
"Apa? Ayo apa?" tanya Dea yang terlanjur penasaran.
"Aku ....,"
Adel sengaja menjeda perkataannya, agar Dea semakin penasaran saja.
"Iya, aku. Eh, maksudnya kamu, bodoh!" gerutu Dea merasa bodoh dengan dirinya sendiri.
"Aku ....,"
"Astaga, Del. Buruan!" sentak Dea yang kelewatan kesal dengan Adel.
"Aku jadian sama Raka," ucap Adel kegirangangan. Sementara Dea, ia hanya melongo tak percaya dengan penuturannya Adel.
"Se ... serius?" tanya Dea dengan tergagap.
"Dua rius, elah!"
"Hua ... selamat zeyenk,"
_____________
Inani duduk di salah satu kursi taman belakang sekolah. Pikirannya sangat kacau, bubar dan berantakan. Sungguh, masa putih abu-abu yang sangat sulit. Sulit menjalani masa remaja dengan kisah cinta yang berbelit.
Jika boleh memilih, Inani akan lebih menyukai masa kanak-kanak dari pada masa sekarang ini, masa menuju dewasa.
Ia mendongakkan kepala dengan menatap kosong langit biru itu. Fokus Inani ada dua, yaitu Lina dan Shabil.
Lina yang tengah membuatnya terluka, namun secara bersamaan membuat dirinya salut dan terharu dengan perjuangan Lina mencintai dirinya. Sedangkan Shabil, gadis yang sangat ia cintai, namun kini bukan miliknya lagi.
Argh ...
Inani berteriak, setelah itu ia mengambil secarik kertas dari dalam tasnya.
"Ini untuk kamu, semoga kamu ngertiin perasaan ini."
Perlahan-lahan, Inani meninggalkan tempat itu dengan membawa selembar surat untuk Lina.
Dear Inani
You are the reason