Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 10



Cinta butuh perjuangan. Terlebih, cinta juga butuh kepastian.


~Lina~


_____________


Perlahan-lahan, hujan pun mulai reda, hanya menyisakan rintikan kecil saja. Kini, Lina dan Inani tengah berada dalam sebuah Mini Resto yang bersebelahan dengan sebuah Butik. Sehingga, sebelum menuju Mini Resto tersebut, Lina dan Inani terlebih dahulu mampir ke Butik itu untuk membeli pakaian dan sekaligus menggantinya. Deras air hujan tadi, ternyata masih memberikan efek yang sangat besar bagi tubuh rapuh Lina. Buktinya, saat ini Lina masih saja menggigil kedinginan.


Tak lama kemudian, pelayan pun datang dengan membawa nampan yang berisi dua gelas coklat panas, sesuai dengan pesanan dari keduanya.


Inani mengambil salah satu dari kedua gelas cokelat panas itu. Perlahan-lahan, ia meniup pelan cokelat itu. Lina hanya memperhatikan gerak-gerik Inani dalam diam. Lina sungguh terpesona dengan wajah tampan Inani yang menurutnya tergolong babby face. terlebih, rambut yang basah akibat kehujanan tadi, menambah nilai plus ketampanan yang hakiki.


Wush ...


Lina merasakan angin segar tengah menerpa wajahnya. Lina seakan kesulitan untuk bernapas, ketika menyadari bahwa Inani lah yang meniup wajahnya.


"Bernapas Lina," ujar Inani yang sekali lagi meniup wajah Lina.


Wajah Lina merona, ketika Inani menatapnya dengan intens. "Eh, i ... iya." Lidah Lina seakan kelu untuk mengeluarkan sepatah dua patah kata.


"Kamu manis, kalau lagi salah tingkah." Inani menggoda Lina lagi. Sementara yang di goda, wajahnya semakin merona saja bak kepiting rebus.


Dag ...


Dig ...


Dug ...


Melihat Lina yang salah tingkah, tiba-tiba saja membuat jantung Inani berpacu dua kali lebih cepat, "Jantung oh jantung, kamu nggak jantungan, kan?" batin Inani dan merasa bodoh saja dengan ucapan batinnya.


Tiba-tiba saja hawa di antara keduanya menjadi canggung. Inani yang masih merutuki kebodohan atas ucapan batinnya, sedangkan Lina yang masih merasa malu, karena ulah Inani.


Inani menatap Lina yang kebetulan Lina juga menatap Inani. Mereka pun saling beradu tatap. Sesaat kemudian, Lina menundukkan pandangannya dan Inani tersenyum simpul sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ini!" Inani menyodorkan segelas cokelat panas yang usai di tiupnya tadi.


"Apa?" tanya Lina polos, entah itu kelewatan polos atau emang Lina itu polos.


"Planet Mars," jawab Inani yang jengah  dengan pertanyaan konyol Lina.


"Kok--"


"Planet Mars? Ya kali planet Mars, Lin. Ini tuh cokelat. Masak kamu nggak tahu, sih?" Dumel Inani yang kelewatan gemas dengan tingkah Lina.


"Ya maaf," jawab Lina sembari menunduk lagi, merasa sangat bodoh.


"Nih, khusus buat kamu!" seru Inani yang otomatis membuat hati Lina berbunga.


"Mau aku minumin, ya?"


"Eh, aku bisa minum sendiri kok." Lina buru-buru mengambil segelas cokelat panas itu. Sementara Inani, tengah menahan tawanya. Sungguh, bagi Inani, Lina adalah gadis yang unik dan em 'polos' tentunya.


Inani Diary.


Aku ingin waktu berhenti berputar, untuk saat ini saja. Biarkanlah aku menikmati kebersamaan ini dengan Lina. Lina si gadis unik nan lugu yang mampu membuat perasaan ini damai seketika. Entah apa namanya semua ini, aku pun tak tahu. Ohh, apakah ini cinta? Ohh ayolah, bahkan aku sudah memiliki kekasih. Entahlah! yang jelas, cinta itu butuh kepastian.


~Inani~


______________


"Kamu jahat, Lex." Shabil berkata dengan sinisnya. Sementara Alex, ia sama sekali tak menggubris perkataan Shabil yang sedari tadi mengatainya jahat, egois dan blablabla.


"Kamu itu denger nggak sih omongan aku?" tanya Shabil geram dengan tingkah Alex yang sedari tadi mengacuhkannya.


"Bawel!" sinis Alex semakin jengah saja dengan Shabil. Shabil melotot tak percaya dengan jawaban Alex yang singkat, padat, jelas, di tambah lagi yang menusuk di hati. Ouh, sungguh miris dirimu Shabil.


"Kamvret kamu," ucap Shabil yang berhasil membuat Alex menatapnya.


"Apa kamu bilang? kamvret? dasar mulut mak Lampir. Bisa diam, nggak sih?" sungut Alex yang suaranya naik beberapa oktaf.


"Kamu gila apa emang gila, sih? Kamu bilang aku harus diam, sementara cowok aku berduaan sama cewek lain. Tau nggak kamu perasaan aku?"


"Nggak," jawab Alex kelewatan jujur. Alhasil, hanya membuat Shabil semakin geram saja.


Shabil pun pergi meninggalkan Halte itu, tempat sedari tadi ia berdebat dengan Alex. Sementara Alex, ia menatap punggung Shabil dengan perasaan gusar. Mau tak mau, Alex menyusul langkah Shabil yang semakin menjauhi Halte itu.


Setelah langkahnya mendekati Shabil, Alex pun langsung menggandeng tangan kiri Shabil. Shabil kaget bukan main dan langsung saja ia beringsut ingin melepaskan tangannya dari genggaman tangan Alex. Namun, sia-sia saja, karena bagaimana pun juga kekuatan Shabil tidak ada apa-apanya dengan kekuatan seorang laki-laki.


"DIAM!" bentak Alex yang langsung membuat nyali seorang Shabil ciut. Alhasil, mereka berdua berjalan membelah kesepian jalan itu dengan saling bergandeng tangan.


_______________


"Lin, kamu sebenarnya kenapa, sih? Aku nggak tega lihat kamu kayak gini." Inani berseru di tengah derasnya guyuran air hujan. Lina hanya menggeleng pelan sembari terus terisak dalam tangisannya.


"Jujur sama aku, Lin. Plis ... jujur! aku nggak sanggup lihat kamu kayak gini, hati ku sakit, Lin." Inani menangkup wajah teduh Lina, ia menatap sendu mata Lina.


"Tapi nyatanya, aku nggak percaya sama omongan kamu. Kamu bohong, Lin." Inani kini tengah menyatukan kedua dahi mereka, mengikis jarak di antara ke duanya.


"Plis, jujur sama aku, Lin," ucap Inani


"Aku sayang sama lo, Lin."


***


"Lin ..." lamunan Lina seketika buyar, saat Inani memanggil namanya. Lamunan yang tertuju pada kejadian tadi, ketika mereka berdua masih di guyur derasnya air hujan. Lamunan yang juga menjurus pada ucapan Inani yang mengatakan bahwa Inani sayang padanya. Entah itu Inani tak sengaja mengucapkannya, atau Inani memang salah mengucapkan kalimat. Entahlah, Lina pun bingung.


"Iya Bang," jawab Lina singkat sembari terus menyeruput cokelat itu.


"Nggak usah panggil aku, Bang! Serasa kayak abang tukang Becak," dumel Inani yang terlihat sedang merajuk.


"Terus, panggil apa dong? Inani? Inan? Nani? Ani, eh Ani kayak perempuan ya. Hehe," ucap Lina sembari terpingkal, merasa konyol dengan perkataannya sendiri.


"Nani, panggil saja Nani." Inani berucap dengan mantapnya.


"Nani?"


"Iya, Nani. Anggap saja itu panggilan spesial buat aku." Inani berkata sembari sesekali tersenyum lembut ke arah Lina.


Lina Diary.


Spesial? Sungguh Inani, dirimu memang sangat spesial di hidup ini. Apakah ini pertanda, jika dirimu perlahan-lahan membuka pintu hati untukku? Sungguh, hari ini aku sangat bahagia. Terimakasih Inani. You are the reason.


~Lina~


"Makasih," ucap Lina tulus.


"For?" tanya Inani dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Everything," jawab Lina seraya tersenyum manis. Sungguh manis. Sampai-sampai Inani tak dapat mengalihkan pandangannya. "Sungguh sempurna ciptaan-Mu Ya Robb. Manis, cantik, lugu nan imut semua tercampur menjadi satu-kesatuan yang sempurna," batin Inani terkagum dengan sosok di depannya, Lina.


"Imbalannya?"


"Apa?" tanya Lina bingung.


"Cukup mudah, simpel dan nggak ribet." Inani berucap dengan santainya.


"Apa, Nani?" tanya Lina sekali lagi dengan memanggil Nani, panggilan spesialnya untuk orang yang spesial juga.


"Kamu nggak boleh nolak kalau aku mau mengantar kamu pulang."


"Emang mau ngantar pulang?" tanya Lina dengan polosnya.


"Mau, nggak ya? Mau aja deh. Kuy!" seru Inani sembari menggandeng tangan Lina,meninggalkan Mini Resto itu, "Goodbye tempat indah, terimakasih karena mau menjadi tempat yang menurut gue romantis," batin Lina sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.


______________


Tanpa bisa di ungkapkan dengan kata-kata, namun cukup mudah untuk di rasa. Itulah makna dari jatuh cinta. Sungguh, jatuh cinta itu menyenangkan, apalagi jika jatuh cinta dengan bidadari sepertimu. Lautan pun akan merasa malu, jika dirimu berada di sampingnya. Karena apa? Karena lautan tak lebih indah dari dirimu. Bulan pun akan enggan bersinar, jika kau bersamaku. Karena apa? Karena sinarmu lebih menerangi hati ini. Bintang pun bersorak gembira menyaksikan bahwa aku tengah jatuh cinta padama. Ohh sungguh, biarkan Tuhan yang akan menjadi saksi cintaku ini. Love you darl.


Raka.


Raka menatap kagum hasil karyanya. Karya lewat kata-kata yang lumayan buat nembak sang gebetan.


"Nggak sia-sia aku belajar ngebucin dari si toa itu. Jhahahahaha." Raka seperti orang gila saja di mata JNando dan juga Bob.


"Waras, nggak sih nih bocah?" tanya Nando pada Bob.


"Aedono. Nggak tahu juga, Nan," ujar Bob yang langsung membuat Nando ngakak.


"Buahahahahaha ... Bob, bahasamu Bob. Aduhh ngakak." Nando tak kuasa menahan tawa. Sungguh, si Jawas satu itu hanya membuat Nando geleng-geleng.


Sementara Raka, menatap aneh ke duanya. Ke dua temannya yang terlalu gesrek. Dan jadinya, dirinya juga ikut-ikutan gesrek. Sudahlah, yang jelas dirinya tengah bahagia. Kerena apa? Jelas karena ia tengah berhasil membuat surat cinta untuk sang pujaan hatinya. Kalian tahu siapa? Jawabannya cukup mudah, hanya terdiri dari tiga huruf, yaitu DIA.


Raka Diary.


Lewat surat ini, ku harap dirimu tahu maksud yang terselubung di dalamnya. Sungguh kata demi kata memang tak seindah dan seromantis kata-kata mutiara cinta Dilan, namun ku harap kau dapat menerimanya. Salam manis dari diriku untuk orang manis sepertimu.


~Raka~


Lina Diary.


Sungguh waktu yang sangat berarti dalam moment yang sangat spesial, begitu pula dengan orang yang sungguh ku cintai. Cinta bukan hanya sekedar perjuangan semata. Tapi, cinta adalah bukti, bukti jika diri ini tengah memendam rasa yang entah itu sadar maupun tak kau sadari. Tapi percayalah, suatu saat nanti, kau akan sadar dengan apa yang hatimu inginkan.


~Lina~


Dear Inani


You are the reason


Bersambung.....