Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 22



Setelah kejadian pelik tadi, akhirnya Inani, Shabil dan Lina kini tengah berada dalam satu ruangan. Inani bernapas gusar kala menyadari kebodohannya yang masih saja tertipu otak bulus dari seorang Shabil. Disisi lain, Inani pula merasakan kebinaran yang amat mendalam. Lina, itulah alasan kebinaran seorang Inani Adiwijaya.


Empat tahun telah berlalu. Tahun demi tahun Inani gunakan untuk menanti. Dan kini, rasanya penantian itu sirna, terkikis oleh dentuman waktu yang berpihak.


Dear Inani yang terlukis pada diary yang bermotifkan bunga sakura adalah bukti alasan Inani membuka segala penantian. Sudah dapat, Lina telah kembali dan Inani berjanji takkan melepas Lina.


Seketika hawa yang begitu mencengkam menghampiri ke tiga manusia itu yang kini telah larut dalam khayalan masing-masing. Inani yang setia menatap sendu pada Lina. Sedangkan Lina, ia hanya menatap kosong layaknya menerawang masa depan. Sementara Shabil, menatap benci pada Lina.


"Lina, kamu bohong kan?" tanya Shabil tiba-tiba.


Spontan, Inani dan Lina menjuruskan tatapan pada sosok Shabil. "Maksudnya?" tanya Inani dan Lina bebarengan yang entah kebetulan atau apa? Seketika, arah pandang keduanya bertemu. Inani menatap intens pancaran mata teduh milik Lina. Sementara Lina, ia menatap Inani dengan datar.


"Kamu nggak mungkin gantiin posisi aku, kamu pasti bohong. Otak kamu itu nggak secerdas otakku, camkan itu!" sarkas Shabil yang langsung dihadiahi tanparan keras dari Inani.


Plak


Inani tersulut emosi dengan kata-kata pedas yang keluar dari mulut Shabil. Shabil tak percaya dengan apa yang dilakukan Inani terhadap dirinya. Sungguh Shabil sangat murka. Terlebih, tatapan menusuk kian ia berikan pada Lina. Lina yang melihat semua kejadian itu seketika syok. Tak ingin menambah masalah lagi, akhirnya Lina memutuskan untuk bangkit dan pergi dari hadapan Inani dan Shabil.


"Saya tidak ingin menambah masalah kalian. permisi," ucap Lina dengan sopan.


"Enak saja kamu pergi setelah menciptakan masalah. Pengecut, hm?" sarkas Shabil dengan dinginnya.


"Shabil, jangan memulai!" peringat Inani.


"Ke--"


"Permisi." Lina tak ingin terjebak dalam lingkar masalah seperti empat tahun yang lalu.


"Lina." Inani ingin mengejar langkah lina. Namun, Shabil dengan gesitnya mencengkal tangan Inani.


Lina pergi dengan berderai air mata. Bayangan masa lalu kian bermunculan seakan meminta sang empu untuk bernostalgia. Memory yang ingin dihapus nyatanya kembali menyeruak begitu saja. Jika tahu seperti ini, mungkin Lina akan mendengarkan perkataan Raka untuk tetap tinggal di Kanada.


Lina meninggalkan gedung itu dan berharap Inani mengejar dirinya. Sayang, itu semua hanya keinginan semu. Terlebih, kini dirinya menganggap sangat bodoh akan harapan itu. Berharap layaknya diwaktu dahulu yang nyatanya hanyalah harapan semu. Semu dan perlahan menghancurkan batin. Menggoreskan luka yang masih membekas di hari ini.


Air mata masih setia menemani hati yang lara. Kini, Lina berjalan menelurusi lalu lalang lautan manusia di jalanan. Sungguh, suasana bising seketika menambah nilai kegundahan hati. Dari arah yang berlawanan, terlihat seseorang tengah berjalan dengan tergesa-gesa. Hingga akhirnya, tak sengaja kedua tubuh itu bertubrukan.


Bruk


"Maaf aku tak sengaja," ucap orang itu yang sontak membuat tubuh Lina menegang.


Perlahan tapi pasti, Lina dengan hati-hati mengangkat kepala, melihat ke arah orang itu. Pandangan mereka pun bertemu. Ribuan kerinduan seolah datang lagi dan lagi. Lina sangat rindu akan sosok itu. Sosok yang telah menjadi kakak kedua selain Raka, abangnya. Seketika, Lina menghambur dalam pelukan Nando dan menumpahkan segala tangisan yang tersisa.


"Lina? Sungguh, ini dirimu?" Nando masih tak percaya akan sosok yang berada dalam pelukannya itu.


"Nan, aku rindu." cicit Lina pelan yang masih didengar oleh Nando.


Aku lebih merindukanmu, batin Nando. Nando kian membalas pelukan Lina tak kalah erat. Biarkan keramaian ini menjadi saksi bisu pertemuan sendu ini. Nando seakan menemukan hati yang hilang setelah sekian lama.


"Kenapa baru kembali, hm?" tanya Nando.


Lina pun mendongak dan melepas pelukan itu. "Aku bekerja disini. Jika tidak, mana mungkin aku kembali." Lina menatap Nando sembari mengusap Air mata.


"Siapkan semua yang saya minta," ucap Alex pada seseorang di sebrang sana.


Setelah itu, ia mematikan sambungan telepon dan menatap nanar perempuan di depannya. Alex bernapas gusar dan mengacak rambut tanda ia sedang frustasi. Bagaimana bisa ia terjebak dalam permasalahan pelik seperti ini? Sedangkan, ia baru saja bertemu dengan belahan jiwa, Lina.


Lina, mengingat nama itu seketika mampu mengobati suasana kalut di hati Alex. Meskipun begitu, ia masih saja kesal akan perempuan di depannya itu. Perempuan pilihan orang tuanya sebagai pendamping hidup. Tidak! Alex tidak suka dengan perempuan itu.


"Alex kenapa diam saja?" tanya perempuan itu yang seketika membuat Alex memutar bola mata jengah.


"Berisik!" sergah Alex yang langsung menjatuhkan tubuh di sofa. Alex memijit pelan pelipisnya.


"Huft, selalu saja seperti itu," dengusnya.


"Dea, plis! jangan bicara lagi, aku pusing." Alex memohon pada Dea.


Ya, Dea adalah tunangan Alex. Masih ingat Dea? Dea sahabat dari Lina dan juga Adel. Kini, notabenya sebagai tunangan Alex sejak Bulan Januari lalu. Dea girang akan hal itu, tentu saja. Sosok Alex yang begitu berkharisma mampu memikat hati para wanita. Sungguh, Dea sangat beruntung memiliki Alex.


____________


"Kenapa berhenti?" tanya Lina, ketika Nando menghentikan langkahnya.


"Beli ice cream dulu!" seru Nando sembari menunjuk kedai ice cream yang ada di sebrang.


"Kamu suka ice cream?" tanya Lina dengan tampang polos.


Nando pun tersenyum gemas, tapi ia tetap menggukkan kepala tanda ia mengiyakan pertanyaan Lina. Nando sungguh ingin mencubit pipi Lina. Seketika, kehadiran Lina mampu membuat mentari syahdu terbit di hati Nando. Walaupun pada kentataannya Lina hanya menganggap dirinya sebagai seorang kakak, bukan seorang pria. Biarkan takdir bermain rumit, asal Lina selalu dekat dengannya.


Lina dan Nando sudah berada di kedai itu. Tak butuh waktu lama, kini di tangan keduanya sudah tersaji ice cream. Lina dengan girang mencicipi dan meninggalkan noda di sudut bibirnya. Nando pun membersihkan sudut bibir Lina dengan ibu jari. Lina tersenyum, Nando pula ikut tersenyum. Seketika mereka berdua menjadi pusat perhatian.


"Wah, lagi bulan madu yaa Mbak, Mas?" tanya seorang ibu dengan menggandeng seorang balita.


"Maksudnya?" tanya Lina tak paham. Nando pun hanya tersenyum pada ibu itu, layaknya mengiyakan lontaran itu.


"Semoga lenggeng terus ya," Ibu itu langsung berlalu dengan kikikan geli.


"Amin," ucap Nando mengamini.


"Amin, Lina" ucap Nando lagi sembari menyenggol lengan Lina.


Beberapa detik kemudian, Lina telah menangkap maksud dari ibu tadi. "Ish, Nando nyebelin!" Lina mencubit keras pinggang Nando.


"Sakit." Nando meringis mengangkat tangan kiri, menunjukkan jari dua, tanda dirinya minta maaf.


Lina Diary.


Dirundung kesedihan pasti ada sedikit kebahagiaan. Sederhana, tapi mampu membuat suasana hati kian mencair.


~Lina~


TBC.