Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 1



 Cinta bisa datang kapan saja. Namun, terkadang cinta itu tidak harus saling memiliki. Tertarik, hingga jatuh cinta pada pandangan pertama, hal itulah yang di rasakan oleh siswi cantik yang bernama Alina Putri Atherino atau biasa dipanggil Lina.


Namun, siapa sangka, jika seseorang yang tengah ia cintai telah memiliki seorang kekasih. Berharap? hanya itu yang bisa dilakukan oleh Lina. Berjuang? jika berjuang untuk mendapatkan cintanya itu mudah, maka akan dilakukan oleh Lina.


Bandung, 13 Oktober 2019


Dear Inani


Mencintai dirimu bukanlah hal yang mudah untukku. Karena, mencintaimu bukan berarti dicintai olehmu. Melihat dirimu bahagia disana, akupun juga merasa bahagia. Tapi, jika engkau bahagia dengan kekasihmu, lalu apa yang kurasakan? Sakit. Sungguh sakit rasanya hati ini. Apakah aku harus menyerah untuk mendapatkanmu? Atau justru aku harus berjuang untukmu? Entahlah. Mungkin, aku akan mencoba merelakan dirimu bersamanya, jika itu yang menbuatmu bahagia. Karena, kusadar bahwa cinta tidak harus memiliki.


Alina Putri.


 Sebutir air mata lolos membasahi pipi Lina. Lina menarik napas dalam-dalam, lalu membuang secara perlahan. Ia tersenyum kecut, ketika melihat diary-nya itu. Diary yang selalu ia tulis untuk mencurahkan semua perasaan pada Inani, kakak kelasnya yang juga merupakan sahabat baik dari sang kakak, Raka.


 Lina merasakan tangan seseorang tengah memegang pundaknya. Kemudian, ia berbalik dan menatap Adel yang tengah tersenyum lembut dan teduh pada dirinya.


 


"Ish, jangan nangis dong sayang!"


Adel mengusap air mata Lina. Kemudian, ia memeluk tubuh Lina dengan erat. Adel tahu betul apa yang tengah dirasakan oleh Lina. Mencintai seseorang, namun sulit untuk memiliki.


"Eh ... eh ... kalian pada ngapain ini? Kok pake acara pelukan segala? Emang udah perpisahan, ya? Perasaan belum deh," ucap Dea yang baru saja tiba di kelas.


Adel melepaskan pelukan itu. Lalu ia menatap malas ke arah Dea yang tengah berdiri di hadapannya dan juga Lina sembari menaik turunkan kedua alisnya. Kudu sabar batin Adel, ketika harus menerima kenyataan, jika ia memiliki sahabat sebego Dea. Sementara Lina, ia hanya tersenyum simpul.


"Kalian sehat, nggak sih? Ada yang nanya bukannya dijawab, eh yang satu malah cemberut, satunya lagi senyum malkuc (malu-malu kucing). Haduh, entah apa yang merasuki kalian?"


"Sehat lahir batin. Yang nggak sehat itu kamu." Adel berkata dengan sinisnya.


"Lah, kok aku sih? dasar ogeb!"


"Astaga, ogeb teriak ogeb," ucap Adel sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Hah, gimana-gimana?" tanya Dea yang selalu saja nggak konek dengan arah pembicaraan. Ya, itulah Dea, si cewek bodoh versi kelas XII Kimia 4.


 


"Tuh kan bodoh sih!" dengus Adel.


"Eh, sembarangan kamu ya, Del!" sungut Dea tak terima dirinya disindir bodoh oleh Adel.


"Udah nggak usah debat mulu, mending catat nih tugas keburu bu Linda datang." Lina menyodorkan buku catatan pada Adel yang pastinya dengan senang hati diterima oleh Adel.


"Huaaa ... aku juga mau. Sini Del duduk samping aku Aduh harus maraton nih, aku nggak mau dihukum lagi sama Singa Betina," ucap Dea yang paniknya tujuh keliling. Sementara Adel, hanya memutar bola mata, jengah.


 


***


Sementara di belahan bumi yang sama, namun tempat yang berbeda, tepatnya di kelas XII Ekonomi 2 yang kebetulan sedang free. Para Panglima GoodBoy yang terdiri dari 4Sekawan; Raka, sang ketua GB. Inani, panutan GB. Nando, si toa GB yang suaranya melebihi toa Masjid. Bob, si jawas versi GB. Mereka tengah mengadakan rapat dadakan dalam agenda mencari panglima tambahan GB.


 


"Aku cabut gigi mu baru tahu rasa," ucap Nando yang sedari tadi greget dengan tingkah Bob yang terus saja memainkan gigi kelincinya itu.


"Hah? What kowe ngomong?" (Hah? kamu bilang apa?) tanya Bob dengan gaya bahasa yang super duper bobrok.


Semua yang ada di situ menatap gemas pada Bob yang menggunakan bahasa campuran. Ingin sekali mereka mengarungi Bob, setelah itu, membuangnya ke laut.


"Nggak. Angin lewat," elak Nando akhirnya. Dia lelah, jika harus berdebat dengan si jawas satu itu, nggak akan ada habisnya.


"Krik ... krik ... krik ... krik ....," Inani berseru, menirukan suara jangkrik.


Semua pun terdiam. Mereka bingung dengan suasana ini. Sungguh, entah apa yang akan mereka lakukan.


"Di mohon, para panglima GB harap tenang," ucap Raka menengahi. Sontak, mereka semua memandang ke arah Raka.


"Jadi, intinya GB akan menambah panglima baru. Oke, sekian rapat kali ini." Raka mengetuk spidol pada meja sebanyak tiga kali yang menandakan rapat kali ini berakhir.


"Udah rapatnya? Aku cabut dulu," ucap Inani sembari meninggalkan temannya itu tanpa rasa dosa. Sedangkan yang lain, hanya bisa melongo. Parahnya lagi, air liur Nando sampai menetes.


"Eh buset, panutan GB kayak gitu? Ya Allah, Raka nelangsa." Raka menatap sendu kepergian inani ala-ala Drakor (Drama Korea).


"Sing sabar, bocah cilik ya kayak begitu sifatnya," (Yang sabar, anak kecil ya kayak begitu sifatnya,) ucap si Jawas yang akhirnya disusul dengan elak tawa Raka dan Nando.


***


Inani tersenyum lebar, ketika langkah kakinya sudah mendekati kelas sang pujaan hati. Sesampainya di kelas XII Kimia 4 yang ternyata masih belajar, sehingga Inani hanya bisa melihat Shabil dari jendela. Kebetulan pula, Shabil juga tengah menatap ke arah Inani berada. Inani tersenyum lebar.


Pada saat yang bersamaan pula, Lina menatap Inani yang tengah tersenyum lebar.


 


Melihat senyuman itu, tiba-tiba saja jantung Lina berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. This is love?. Senyuman itu bagaikan maghnet yang menarik dalam hati Lina. Semua hal yang berbaur tentang Inani, pasti Lina suka. Padahal, semua itu bukanlah untuk Lina, melainkan Shabil, pacar Inani. Namun, entah mengapa, Lina tak pernah berhenti berharap untuk selalu mendapatkan hati Inani. Ia telag jatuh cinta pada pandangan pertama.


Lina diary.


Bahagia caraku itu cukup mudah. Ketika aku melihat senyuman itu, aku sudah merasa sangat bahagia. Jantungku pun ikut merasakannya. Ohh inikah yang dinamakan cinta? Cinta hanya untukmu seorang, Dear Inani.


Inani Diary.


Melihat wajahmu, hatiku merasa damai. Kau memberi warna indah dalam hidup ini. Setiap hari aku akan selalu mencintaimu, menyayangimu, bahkan aku rela memujamu selama aku masih bisa bernapas. Love you Shabil.


Author Diary.


Kehidupan bisa saja berubah. Demikian juga dengan cinta. Kadang seorang yang saat ini masih bersama kita, dia hanya akan menjadi cerita masa lalu saja. Sedangkan, mereka yang setia menunggu kita, bisa jadi itu orang yang akan menemani kita di masa depan


TBC