![Dear Inani [You Are The Reason]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/dear-inani--you-are-the-reason-.webp)
Lina menatap nyalang gedung pencakar langit itu. Ya! saat ini ia sudah sampai di gedung Adiwijaya Group. Mau tak mau Lina harus tetap bekerja sebagai sekertaris Inani, karena ia sudah terikat dengan kontrak. Huft, jika boleh memilih, Lina ingin memutar waktu dan menolak pekerjaan ini. Mungkin jika begitu, ia masih tetap berada di samping Raka dan menemani abangnya itu di negeri orang, Kanada.
Sudahlah, apa boleh buat? Mungkin inilah jalan cerita kehidupan yang harus di lalui oleh Lina. Perlahan tapi pasti, Lina melangkah dengan anggun menerobos lalu lalang para karyawan yang sudah mulai memenuhi gedung itu. Para karyawan pria menatap Lina tanpa berkedip, mereka tengah terpesona dengan wajah cantik bak bidadari itu. Sedangkan karyawan wanita kebanyakan menatap sinis ke arah Lina, mereka seakan iri dengan ciptaan Tuhan yang hampir sempurna itu.
Lina selalu menampikkan senyuman menawan. Bukan karena menjaga image, tapi Lina memang suka tersenyum ketimbang terlalu larut dengan kesedihan seperti dahulu.
"Wah, ternyata wanita yang sudah merebut jabatanku sudah datang," ucap Shabil dengan mengeraskan suaranya.
Lina kaget dengan perkataan Shabil yang sangat tiba - tiba. Rupanya perang dunia akan terus berlanjut selama masih ada iblis satu itu. Para karyawan pula sontak menatap Shabil dan Lina secara bergantian.
"Maksudnya gimana, Bil?" tanya Sisil, teman dekat Shabil.
Shabil pun menatap sinis pada Lina dan tersenyum remeh. Lina tentu saja tahu arti senyuman itu. Ya! mungkin badai akan menyapa lagi. Sebenarnya Lina lelah, bila harus menghadapi Shabil yang memiliki sifat buruk itu. Namun, Lina sudah bertekad untuk berubah menjadi wanita kuat dalam menghadapi persaingan hidup ini.
"Kamu nggak tahu? Dia itu sudah merebut jabatan aku dengan cara kotor." Shabil kembali mengkoar.
"Masa sih? Padahal tampangnya baik loh, cantik pula," ucap Dani bagian staf marketing.
Lina ingin melanjutkan perjalanannya, karena buang - buang waktu saja meladeni omong kosong Shabil. Namun, ketika ingin melangkah, Shabil mencekal pergelangan tangan Lina dan berkata.
"Kalian jangan sampai tertipu dengan tampang sok cantik ini. Buktinya saja bos kita sudah masuk dalam perangkap wanita ini."
Sabar. Hanya itu yang harus Lina junjung tinggi. Sebenarnya ia tak terima dengan perkataan Shabil, tapi ia mencoba tetap diam saja dan melihat sejauh mana permainan Shabil.
"Emang dia ngapain bos, Bil?" tanya seorang wanita dengan dandanan yang sedikit menyimpang dari aturan kantor ini. Mungkin seperti wanita penghibur.
"Dia ngerayu bos kita. Mungkin sudah tidur bareng." Shabil berkata dengan santainya.
Sudah habis kesabaran Lina, bila menyangkut soal kehormatan dan harga diri. Lina menyentak kasar tangan Shabil dan menatapnya dengan tajam.
"Wah, slow baby. Apa iya tampang cantik dan rapi ini ternyata wanita murahan?" tanya wanita tadi dengan tertawa remeh pada Lina. Shabil pun bersorak dalam hati, karena Katty satu - satunya wanita bar - bar yang lolos bekerja di kantor ini karena kecerdasan otaknya tengah berpihak pada dirinya.
"Aku bukan wanita seperti itu." Lina langsung melangkah pergi. Tapi sayang, lagi - lagi langkahnya terhenti, karena ada karyawan pria yang iseng menumpahkan kopi hangat pada kemeja Lina. Lina kaget dan sedikit syok dengan kejadian itu. Para karyawan langsung menertawakan dirinya.
"Ups, sorry. Sengaja," ucap pria itu sembari melenggang pergi begitu saja.
Benar saja, badai telah datang. Lina ingin teriak sekencang - kencangnya dan meluapkan semua emosi yang terpendam. Lihatlah, begitu hebat sandiwara Shabil. Lina salut akan hal itu. Jika ada produser yang membutuhakan pemeran apik, Lina dengan senang hati akan mengajukan nama Shabil.
Lina menatap nanar pada kemeja putihnya yang kini sudah ternodai oleh kopi. Ia menatap sekeliling dan mendapati para karyawan mentertawakan dirinya. Sungguh, air mata Lina ingin keluar untuk saat ini. Ingin menjadi tangguh, tapi ini terlalu menyakitkan.
"Wah, ada pertunjukan apa ini?" tanya Inani dengan tiba - tiba yang sontak membuat semua orang diam tak bergeming. Nada bicaranya pun terkesan dingin.
Inani perlahan berjalan mendekat pada Lina. Inani juga melepas jasnya dan langsung menutupi tubuh Lina agar kemeja yang kotor itu tertutupi. Inani menatap tajam pada Shabil dan juga pera karyawan lainnya.
"Jika kejadian seperti ini terulang kembali, siapkan surat pengunduran diri kalian," ucap Inani dan langsung menuntun Lina ke ruangannya. Semua karyawan langsung berwajah pucat terutama pria tadi yang menumpahkan kopi di kemeja Lina.
"Dan Kamu. Saya tunggu surat pengunduran dirimu sampai nanti siang," lanjut Inani dengan menatap sekilas wajah pucat si pria itu.
_______________
Alex menatap malas pada Dea yang terus saja merengek. Sungguh, belum saja menjadi istri, tapi tingkahnya sudah memuakkan. Seperti saat ini, Dea meminta dirinya untuk menemui Lina. Alasannya ingin mengajak Lina reuni bersama, tapi Alex menolak mentah - mentah usulan Dea. Dan, seperti inilah akhirnya.
"Aku sibuk, De. Kau pergi saja sendiri," ucap sarkas Alex yang masih saja setia dengan berkas - berkas yang masih menumpuk di meja kebesarannya.
"Ah, kamu mah gitu. Aku merajuk nih," ucap Dea yang dibuat - buat.
Merajuk saja, aku juga tak peduli. Batin Alex yang tak menanggapi ocehan Dea lagi.
Tiba - tiba ponsel Alex berdering dan langsung saja ia menatap layar benda pipih itu. Nama Inani terpampang jelas. Inani? Tumben sekali Inani menelfon Alex?. Tanpa ba bi bu lagi, Alex langsung menggeser gambar hijau itu.
"Halo." Alex menyapa Inani dengan ramah.
"Lex, bisa kita makan siang bersama nanti?" tanya Inani di sebrang sana.
"Jangan banyak tanya! nanti kita bertemu di restoran A di kawasan B," ucap Inani yang langsung membuat Alex mendengus kesal. Belum juga kekesalannya hilang gara - gara Dea dan sekarang di tambah Inani.
"Ba--"
"Jangan lupa ajak juga tunangan manjamu itu," lanjut Inani memotong perkataan Alex dan langsung memutuskan dalam sepihak.
Alex menatap tajam layar ponselnya itu. Ingin sekali ia membanting benda pipih itu, tapi sayang sekali baru kemarin ia membeli ponsel itu. Alhasil, ia hanya bisa bernapas gusar dan langsung mengacak rambutnya frustasi. Alex menoleh pada Dea yang ternyata sudah terlelap di sofa. Alex menggeleng pelan, padahan ini masih jam delapan pagi, dan sekarang wanita cerewet itu sudah terlelap. Alex yakin, jika Dea tadi malam menonton drakor kesukaannya itu, At Eighteen.
______________
Lina mengusap pelan air mata yang berhasil lolos membasahi pipinya. Lina saat ini tengah berada di ruangan sekertaris yang berhadapan langsung dengan ruangan Inani. Ruangan mereka hanya di batasi oleh dinding kaca yang transparan, sehingga Inani dengan mudah memandang wajah cantik Lina.
Lina tak memperdulikan tatapan Inani yang sedari tadi fokus memandangnya. Lina hanya fokus pada layar komputer dan berkas yang menumpuk di mejanya. Baru sehari bekerja, tenaganya sudah terkuras banyak. Apalagi dengan perang dunia tadi dan sekarang kerjaannya langsung menumpuk, mengatur ulang jadwal meeting, pertemuan, bahkan jadwal makan siang sang CEO pun ia juga yang mengurus.
Sehari dapat menampung seribu peristiwa
Hati yang mulai membaik, kian lara kembali
Hidup yang tentram, kini terusik badai lagi
Sampai kapan badai menyapa?
__________________
TBC.
Halo readers setiaku🥰 Dear Inani hadir kembali nih. Jangan lupa ikuti terus kisahnya.
Ada yang mau tahu Cast para tokohnya? yang mau acungkan jempol dong. Atau bisa request visual pilihan kalian, boleh aja kok, asal follow akun ig author dan DM saja yaa👇
@herlitaamalia30
Dengan format👇
nama lengkap:
akun mt:
visual tokoh yang meliputi:
*Lina:?
*Inani:?
*Nando:?
*Raka:?
*Alex:?
*Shabil:?
*Dhea:?
*Adel?
(janlup DM di ig yaa)
author tunggu yaa. See u🥰🥰