Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 8



Terlalu sakit, tapi masih terus tersakiti.


~Lina~


_______________


Raka memasuki ruang kelasnya. Ia melihat sudah ada Bob dan Nando yang sedang sibuk mengerjakan PR.


PR? ya kali ada PR yang di kerjakan di sekolah, yang ada mah ganti nama jadi PS.


"Serius amat?" tanya Raka sembari mendaratkan bokongnya di kursi.


"Terpaksa ini. Kalo bukan tugas dari Singa Betina mana mau aku pagi-pagi kayak gini olahraga jari," dumel Nando yang masih terus saja mencatat. Paling tepat sih copas punya teman sekelasnya.


"Hooh!" sambung Bob, singkat, padat dan jelas.


Sementara Raka, hanya bersikap cuek, acuh dan bodoh amat. Ia malas, jika harus mengerjakan PR di sekolah. Biasanya saja dia menyuruh teman sekelasnya untuk mengerjakan tugas, yang penting ada uang, semuanya it's okay. Sedangkan saat ini, ia tak membawa satu pun alat tulis. Nggak takut di hukum ya? takut sih takut. Tapi, bagi Raka masalah hukuman di pikirkan nanti saja, karena hari ini Raka nggak ada mood untuk mengikuti pembelajaran.


"Bro. Bolos yuk!" seru Raka santai, saking santainya kedua temannya terlonjak kaget.


"What? I no salah dengar?" teriak Nando dengan bahasa campuran yang super duper bobrok.


"Opo iki nyata? Atau habis obatmu Rak?" tanya Bob sembari memasang wajak tak percaya.


Otak Raka serasa ingin meledak saja, mendengar penuturan Bob dan Nando. Penuturan Nando yang menurutnya sungguh merusak tata bahasa. Bagaimana tidak, jika bahasa Inggris dan Indonesia di campur, kemudian di aduk, jadinya campur aduk kayak Bubur Manado.


Sementara Bob, entah apa yang di pikirkan si jawas satu itu. Hanya membuat kepala Raka cenat cenut, berasa teringat mantan, padahal nggak punya mantan.


"Udah deh, kalo kalian nggak mau ikut bolos, ya udah gwenchana," ujar Raka santai  sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Opo? Gwenchana? nggak tau, aku orang Indonesia, suku Jawa dan cinta bahasa lokal," tutur Bob sok dramatis.


"Aku juga nggak ngerti, nggak paham, karena aku orang Indonesia yang lahir di Belanda, kecil di Swiss, agak besar di Paris, lima bulan di Turki dan sekarang menetap di bumi Indonesia." Nando berbicara panjang lebar. Tapi, parahnya hanya omkos (omong kosong), no realy, just hoax dan masih banyak no and just yang lainnya.


Raka sangat kesal dengan penuturan keduanya yang menurutnya alay bin kamvret, lebay bin gila. Ah, sudahlah nggak akan selesai, jika berdebat dengan duo kamvret itu. Lebih baik ia cepat-cepat keluar dari kelas, sebelum bu Linda, si Singa Betina masuk.


"Terserah kalian mau ikut, mau enggak. S2L," ucap Raka sinis sembari berjalan keluar dari kelas itu.


"S2L apaan?" tanya Nando penasaran. Nando teriak? teriak nggak teriak sama aja elah, dia kan si toa GB yang suaranya ngalahin toa Masjid.


"SUKA-SUKA LO," teriak Raka dari luar kelas.


Sementara keduanya, langsung berkemas dan akhirnya mengikuti ketua GB itu, BOLOS.


______________


"Lin ....," panggil Alex pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Lina.


"Iya. Kenapa, Lex?" Lina menatap ke arah Alex yang duduk di sebelah Inani. Otomatis pandangan Lina juga mengarah pada Inani. Sementara inani, masih sibuk bicara dengan Shabil.


"Aku haus, nih. Boleh minta minum?" ucap Alex sembari mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah ala orang kepanasan.


"Oke. Aku ambilin du--"


"Aku bisa ngambil sendiri kok. Kamu duduk aja, kasian kakinya," ujar Alex memotong perkataan Lina. Sementara Lina hanya tersenyum simpul, mengiyakan perkataan Alex.


Setelah Alex pergi ke dapur, kini di ruang tamu tinggal mereka bertiga, Inani, Lina dan Shabil. Lina hanya diam saja, menyaksikan pemandangan yang seketika membuat nyeri di hati. Sungguh sakit sekali, jika kalian berada di posisi Lina. Bagaimana tidak, jika Lina hanya di jadikan obat nyamuk, atau bahkan pajangan dinding saja oleh Inani dan Shabil yang sedari tadi asik bercengkrama tanpa menoleh ke arah Lina. Jangankan menoleh, sadar Lina ada di situ juga mungkin nggak.


"Sabar Lina. Mungkin ini ujian dari Allah, supaya Lina kuat menjalani ini semua. Belum tentu orang lain kuat berada di posisi Lina. Makanya Allah memberi ujian ini untuk Lina," Ucap Lina membatin, menyemangati dirinya sendiri.


Ehem ehem


Lina berdehem beberapa kali, berharap dua sejoli itu menghentikan aksinya. Aksi yang memuakkan sekaligus membuatnya sakit hati tentunya.


Keduanya pun menoleh ke arah Lina, sementara Lina hanya menyunggingkan senyum, senyum palsu tentunya.


"Eh, sorry ya Lin. Jadi nggak keingat sama tuan rumah. Maklum ya Lin, orang pacaran ya nggak pernah ingat tempat," ucap Shabil sembari memegang lengan Inani yang ada di sampingnya.


"Iya Lin. Em,  aku kesini mau ngambil jam tangan yang ketinggalan tadi malam." Sambung Inani seraya tersenyum.


"Kalian berdua santai aja lagi."


"Kalau jam tangan Bang Inani, kayaknya tadi di simpan di ruang tengah sama bang Raka. Coba cari aja." Lina berkata dengan lembutnya dan sesekali ia tersenyum ke arah Inani dan Shabil.


"Ya udah, aku aja yang ambil." Setelah mengatakan itu, Shabil langsung bergegas menuju ruang tengah yang di katakan Lina tadi.


Kini, Inani dan Lina hanya tinggal berdua saja. Sedangkan, tempat yang tadinya biasa-biasa saja, justru berubah 100% dengan hawa yang begitu canggung di antara keduanya.


Sebenarnya, Lina ingin sekali memulai percakapan, tetapi sedari tadi Inani lebih memfokuskan pandangannya ke sekeliling ruang tamu itu. Lina tersenyum kecut, ketika menyadari perbedaan sikap Inani dari sebelum-sebelumnya. Inani yang terkesan ramah dan perhatian padanya. Namun, kini sikapnya sangatlah berbeda, terkesan cuek, bahkan tak peduli. Apa karena ada Shabil di sini? sepertinya iya, Shabil selalu di utamakan dan selalu menjadi yang pertama bagi Inani. Jika sudah begini, Lina bisa apa?


Menangis? Ah, bukan waktunya untuk menangis.


Pasrah? mungkin iya.


Atau, apakah ia harus menerima kenyataan? kenyataan, jika Inani akan selamanya dan selalu mengutamakan, mencintai dan Menyayangi Shabil seorang.


Lina Diary.


Apa artinya diriku ini? Kau anggap apa diriku ini? Manekin, pajangan, atau hanya angin yang sekedar berlalu di hadapanmu. Entahlah, yang jelas aku kecewa dengan sikapmu itu. Mana sikapmu yang dulu? Sikap yang sangat perhatian, sungguh, aku rindu dengan dirimu yang lalu. Namun, rinduku hanya sekedar rindu belaka yang sama sekali tak pernah kau anggap.


~Lina~


"Eh ... Alex, kamu ngapain dari kamar Lina? bukannya tadi mau ke dapur?" tanya Shabil keheranan, ketika melihat Alex keluar dari kamar Lina.


Sementara Alex, ia kaget bukan main, ketika melihat Shabil memergokinya. Tubuhnya yang semula menegang, kini dia usahakan sebaik mungkin agar tak terlihat gugup di mata Shabil. "Mampus aku. Berpikir Alex, jangan sampai cewek sialan ini tahu yang sebenarnya kamu lakukan," batin Alex, dag dig dug serr.


"Eh ... ini, em ... tadi aku nggak sengaja dengar barang pecah, tapi aku cari di kamar Lina nggak ada." Dusta Alex.


"Cuma oh? It's okay. Dasar si Shaboooolllll ..." batin Alex seraya bernapas lega.


______________


Kini, mereka telah berkumpul seperti semula. Alex pun sangat lega, ketika Shabil tak mengungkit kejadian tadi, saat dirinya tertangkap basah keluar dari kamar Lina.


"Eh, mending kita jalan-jalan deh dari pada bosen kayak gini," usul Shabil kepada yang lainnya.


"Kuy," ujar Alex sembari berdiri menuju ke arah Lina. Lina hanya bingung melihat tingkah Alex yang tiba-tiba mendekat ke arahnya. Beberapa saat kemudian, Lina merasakan tubuhnya melayang di udara. Apa yang terjadi?


"Kyaa ....," teriak Lina sembari melingkarkan tangannya pada leher Alex yang tiba-tiba saja menggendongnya.


Sementara Inani dan Shabil, mereka berdua tertawa keras melihat ekspresi kaget dari Lina.


"Kalian berdua serasi!" seru Inani sembari merangkul pundak Shabil.


Tatapan Lina langsung terfokus pada Inani dan Shabil. Lina kecewa dengan ucapan Inani barusan, tentu sangat kecewa. Bagaimana tidak kecewa, jika kata-kata itu keluar dari mulut orang yang sangat dirimu cintai. Sesaat kemudian, Lina mengalihkan pandangan dan menyembunyikan wajah pada dada bidang Alex. Lina menangis dalam diam, sedangkan Alex bisa merasakan betapa derasnya air mata Lina membasahi seragam sekolahnya.


"Guys. Pakai mobil Inani aja ya. Kasian Lina kalo pakai motor," ujar Shabil, ketika mereka semua sudah berada di luar.


_______________


Raka, Nando dan Bob tengah mengendap-endap di belakang sekolah. Mereka bertiga niatnya ingin memanjat pagar, apalagi kalo bukan untuk bolos.


Tapi, kesialan tengah berpihak pada mereka. Saat Nando tengah sampai di atas pagar, tiba-tiba saja sebuah bola meluncur entah dari arah mana datangnya. Yang jelas, kini tengah mendarat mulus di kepala Nando. Kepala Nando terasa pening dan banyak ribuan anak lebah sedang berputar-putar di sana. Sesaat kemudian, tubuh Nando tumbang, jatuh mengenai Bob dan Raka yang berada di bawah.


Brukkk ... kretak ...


"Astaga. Tulang aku patah. Aduh berat banget elah, kamu makan apaan sih, Nan?" dumel Raka yang merasakan tulangnya sangat remuk atau bahkan ada yang patah.


"Aku nyerah," ucap Bob singkat.


"Nyerah apa, Was?"


"Aku nggak kuat!"


"Sama aja elah!"


"Aku mau pingsan dulu!"


Ya kali orang pingsan pamitan, dasar si Jawas.


"Karena ini kebersamaan, maka aku juga pingsan," tutur Raka seraya menutup matanya. Banyak drama elah.


Begitulah kebersamaan antara anak-anak GB. Walaupun rada konyol, nggak jelas, tapi itulah mereka selalu menjunjung kebersamaan. Satu bolos, yang lain pasti ikut. Satu pingsan, yang lain pun pingsan. Eh, tunggu! lah, kalau satu mati, emang yang lain mau ikut mati apa? Entahlah. Cukup pahami mereka dan sebut saja mereka aneh bin ajaib.


______________


Lina duduk di kursi taman, melihat kemesraan yang terjalin antara sepasang kekasih. Siapa lagi kalau bukan Inani dan Shabil. Sedangkan Alex, entahlah Lina tidak tahu kemana perginya si Alex.


"Sayang. Sini deh mendekat," panggil Inani menarik tangan Shabil.


"Iya sayang. Takut banget sih jauh-jauh dari aku," jawab Shabil manja seraya merapikan rambut Inani yang berantakan akibat tertiup angin.


"Aku pengen kamu selalu di sampingku. Aku nggak bisa hidup tanpamu, sayang." Inani memeluk Shabil dengan eratnya.


"Sayang! Aku tuh nggak pernah ke mana-mana, aku selalu ada di samping kamu," ucap Shabil sembari melepaskan pelukan Inani, dan langsung menangkup wajah Inani dengan kedua tangannya.


"Janji?"


"Iya. Janji."


Inani tersenyum bahagia, ketika mendengar jawaban dari Shabil. Inani pun mendekatkan wajahnya pada wajah Shabil, mengikis jarak di antara mereka. Dekat, dekat dan semakin dekat.


Lina tak kuasa, jika terus menerus menyaksikan pemandangan yang menyakitkan itu. Apa lagi saat Inani hendak mencium Shabil, mata Lina seakan sulit untuk di pejamkan. Alhasil, apakah Lina melihat adegan itu? jawabannya tidak.


Mengapa tidak? karena, saat adegan itu berlangsung, ada sepasang tangan yang menutupi indra penglihatan Lina. Lina memegang tangan tersebut, lalu menjauhkan dari matanya. Pandangan yang pertama kali di lihat oleh Lina yaitu wajah Alex dari arah samping, tengah menampikkan senyuman yang sungguh menawan. Lina pun tak kuasa menahan air mata. Alex telah menyelamatkan hatinya, namun tetap saja Lina sangat sakit hati, ketika mengingat Inani dan Shabil.


"Don't cry. Kamu nggak pantas lihatin tingkah konyol mereka berdua," tutur Alex menyeka air mata Lina.


_______________


Lina Diary.


Sakitnya begitu luar biasa, hingga aku tak mampu lagi untuk mengibaratkan rasa itu. Rasa sakit ini selalu saja terobati oleh seseorang yang tak pernah ku cintai, Alex. Ya itulah Alex, orang yang selalu menyayangiku, tapi bodohnya aku tak pernah sedikitpun memberi ruang untuknya di dalam hatiku. Hati yang selalu dan selamanya terisi oleh dia, Inani.


~Lina~


Alex Diary.


Kapan kesabaranmu hilang dari dirimu? Kesabaran menunggu cinta darinya, yang bahkan dia sudah bahagia dengan orang lain. Aku sedih, jika melihatmu menangis pilu seperti ini. Kumohon lupakan dia, dan cintai diriku.


~Alex~


Inani Diary.


Hal terindah dalam hidup ini yaitu, ketika kau selalu berada di sampingku, Shabil. Aku sangat mencintaimu dan ingin selalu bahkan selamanya bersamamu, menjadikan cinta kita ini CINTA ABADI.


~Inani~


Dear Inani


You are the reason


Bersambung..........