Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 19



Cerita fajar mendahului senja. Percayalah terlambat datang, namun senja tetap indah. Indah tak harus datang di awal.


~Lina~


______________


Inani bernapas gusar, saat ini ia tengah berada di ruang pribadi bersama dengan Shabil. Shabil sibuk berkutat dengan tumpukan dokumen, sementara Inani hanya melamun saja. Inani masih memikirkan perkataan sang ayah. Bagaimana bisa ayahnya seenak jidad menyuruh dirinya mengganti sekertaris?


Inani menatap sekilas wajah lelah Shabil, wajah yang empat tahun lalu membuat ia lara di hari ini. Shabil memang pernah menjadi kekasih sekaligus pernah menjadi yang utama di dalam hati. Tapi, semua itu dulu, beda halnya dengan sekarang. Perasaan itu sudah hilang saat ia mengetahui kehidupan bebas Shabil. Namun, ia masih memiliki belas kasihan kepada Shabil. Shabil yang terkenal glamour, nyatanya ia hidup dalam kesengsaraan. Sengsara, karena ia merupakan anak broken home yang tak mendapat kasih sayang sekaligus didikan dari orang tua lengkap.


Shabil menatap Inani, dalam hati ia berdoa, semoga Inani menoleh lagi pada pesonanya. Shabil ya tetap Shabil yang tak mau berhenti dengan apa yang ia incar. Shabil mampu memerankan lakon apik tanpa melesetkan kedok. Inani mungkin sudah terjebak dalam permainan licik itu.


"Shabil, saya mau bicara sama kamu," ucap Inani setelah menghembuskan napas berat.


"Iya, Pak. Silahkan." Shabil menjawab dengan sopan.


"Nggak usah formal kalau cuma berdua!" sergah Inani merasa tak suka saja, ketika Shabil berbicara formal.


"Ini jam kantor, Pak. Sudah sewajarnya saya bersikap," jawab Shabil.


Inani bingung harus memulai dari mana? Ingin to the point, tapi takut menyinggung perasaan Shabil. Namun, amanat sang ayah harus ia utamakan. Perlahan tapi pasti, ia dengan berat hati mengatakan pada Shabil.


"Shabil, dengan berat hati, saya harus nurunin jabatan kamu," ucap Inani dan langsung dihadiahi tatapan tak percaya oleh Shabil.


Shabil tak terima akan hal itu. "Kenapa, Pak? Apa kinerja saya selama ini tidak memuaskan Bapak?" tanya Shabil bertubi-tubi.


Dengan perasaan kalut, Inani menjelaskan semua pada Shabil, bahwa ini adalah amanat dari sang ayah. Dalam hati, Shabil menggerutu tak suka. Rasanya Shabil ingin melenyapkan tua bangka Herwin. Tapi, bukan saatnya memperlihatkan sosok iblis, biarkan sosok malaikat dahulu yang menjelma.


Terpaksa, Shabil mengiyakan penuturan Inani. Ia berjanji, akan membuat hidup sekertaris baru dirundung keresahan. Berani maju, terima resiko. Dengan diam, ia meninggalkan Inani begitu saja.


_____________


KANADA.


"Hallo sweetheart," sapa Raka pada adiknya.


Lina hanya tersenyum simpul sembari menikmati Senja di sore hari. Senja itu indah, walaupun datangnya di akhir. Akhir juga tak apa, daripada awalan yang menyakitkan. Senja memberi kesan damai. Padahal, bulan ini adalah puncak dimana musim dingin menyapa di negara Kanada. Senja yang tak sebinar di daerah Khatulistiwa, namun masih menambah kesah hangat nan tentram dalam rohani maupun jasmani.


"Lagi mikirin apa? Serius amat," ucap Raka lagi sembari memeluk erat sang adik.


Lina menikmati setiap pelukan Raka. Rasanya sungguh nyaman, tak ingin Lina lepas. Raka membelai surai hitam milik Lina. Lina pun memejamkan mata. Moment seperti ini memang sering Lina lalui bersama kekasih hidupnya, Raka sang kakak. Bukan kekasih dalam hal cinta, namun kekasih dalam artian kasih sayang.


"Lina ingin menikmati ribuan senja bersama Abang." Ucap Lina sendu.


"Itu pasti, Sayang. Selama napas ini masih menemani, apapun yang Lina inginkan akan abang turuti." Balas Raka semakin mempererat pelukan itu.


Tak ada yang lebih istimewa selain kebahagiaan adik kecilnya. Segores kepedihan, jika berani menyentuh Lina, maka Raka dengan sigap akan menghancurkan asal mula kepedihan itu. Lina bagaikan fajar dan senja bagi Raka. Fajar yang menemani awalan indah di pagi hari dan senja yang menyambutnya, ketika kegelapan malam akan muncul.


"Lina sayang Abang," ucap tulus Lina.


Suhu udara semakin dingin saja dikala kegelapan malam perlahan menyelubungi senja. Musim dingin di Kanada seolah menjadi titik acuan di awal bulan Maret meski pada dasarnya puncak musim dingin di negara itu jatuh pada bulan April. Lina menggigil dalam dekapan Raka. Degan sigap, Raka menuntun Lina untuk memasuki rumah. Rumah yang mereka berdua tinggali adalah rumah pamannya. Paman Raka juga berdarah Indonesia, namun ia membuka cabang bisnis di Kanada, lebih tepatnya bisnis dalam bidang kuliner.


Malam pun tiba, Lina berdiam diri di dalam kamar. Ia masih ingat akan semua kenangan yang pernah ia lalui di Indonesia, lebih tepatnya empat tahun lalu. Setelah kepergiannya menuju negri pecahan es ini, Lina maupun Raka menutup total komunikasi pada sahabat-sahabatnya. Biarkan Lina egois, karena nyatanya tak menepati janji pada semua sahabatnya. Lina ingin melupakan kesedihan di masa lalu. Namun, nyatanya tak membuahkan hasil. Rasa rindu yang amat mendalam biasanya mampir dalam hati Lina. Rindu akan kisah diary itu. Diary yang selalu ia tulis untuk Inani. Inani, masih saja nama itu terngiang jelas di otak Lina.


Setelah empat tahun lamanya, barulah ia berani berselancar, menyapa Nando lewat sosial media. Terlebih, postingan Nando yang membuat kerinduan itu semakin membuncah. Rindu akan Inani, dan Nando seakan menjadi pelipur lara.


Lina perlahan membuka Instagram dan mulai mengetik rangkaian kata indah. Rangkaian yang mungkin akan menjadi kisah usang yang tergores oleh dentuman waktu.


Dear 1 Maret.


Dingin di bulan Maret di negeri pecahan es ini seakan memberi cerita tersendiri.


Cerita rindu akan kenangan indah yang pernah terjadi di daerah Khatulistiwa.


Bumi pertiwi yang sudah lama tak ku jejaki.


Meskipun begitu, takkan pernah terlewat dari memory hidup ini.


Cerita akan cinta monyet yang tak terbalaskan, seakan menjadi kain kusut dalam kehidupan.


Meratapi kebodohan dan ingin memaki ego yang keras kepala ini.


Namun itu semua cerita lalu


Lembaran baru sudah tertata rapi di negara ini.


Maret yang dingin dengan ditemani kisah tabu di waktu dulu.


Nyatanya, diri ini lebih ingin ditemani oleh secangkir kopi pelipur lara.


Good night💕


Alina Putri.


Lina pun langsung mengunggah rangkai kata tersebut. Tak lama kemudian, ada notifikasi masuk dan ternyata itu dari Nando. Lina yang semula dengan posisi rebahan, kini langsung duduk dan terlihat sedikit kebinaran dari pancaran mata itu.


Lina sangat rindu pada semua sahabat yang ada di Indonesia. Terlebih pada Nando, Nando yang sudah ia anggap sebagai kakak ke dua.


Dalam kolom komentar, Nando mengucap kata rindu yang amat mendalam. Lina hampir menangis membaca komentar Nando. Lina tak kuasa, jika seperti ini. Akhirnya, ia langsung mematikan ponsel tanpa mau membalas terlebih dahulu Nando. Lina menangis dalam diam. Rindu yang amat mendalam, niscaya akan terobati secepatnya.


Bersambung ...........


Dear Inani


You are the reason.