![Dear Inani [You Are The Reason]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/dear-inani--you-are-the-reason-.webp)
Rasa itu masih sama seperti dahulu kala. Tak pernah sedikitpun memudar.
~Lina~
_______________________
Lina seakan kembali memutar memory kalbu lama. Rasa cinta yang seharusnya ia lupakan, perlahan menyapa kembali. Rasa itu tak pernah berpaling, walaupun sebesar apapun mencoba tuh menghilangkan. Cinta yang pernah goyah ditelan pahitnya kehidupan, nyatanya kembali membuncah, memenuhi ruang lingkup yang ada di hati.
Lina rindu sosok Inani, tapi Inani jauh lebih rindu akan sosok Lina. Nyatanya, kepergian Lina mampu mengobrak-abrik kehidupannya. Inani jadi tahu akan penyesalan yang selalu datang di akhir. Namun, seakan takdir indah menyapa, Lina datang kembali dalam kehidupan ini. Jarak yang jahat, perlahan menjelma bak malaikat, sekarang jarak tak membentangi.
"Li ... Lina," ucap Inani pelan sembari melangkah maju, mendekati Lina.
"Nani," jawab Lina dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Inani langsung menarik Lina dalam pelukan. Sekian lama ia menanti akan sosok cantik ini, dan sekarang penantian itu telah berakhir. Takkan pernah Inani melepaskan Lina. Biarkan sekarang dia egois. Asalkan ia selalu ada di samping Lina.
"Pergi kemana saja? kenapa lama? rindu ini sangatlah besar akan sosokmu," ucap Inani sembari mengelus lembut rambut Lina.
Nyaman, itulah penjabaran yang Lina rasakan saat ini. Ini semua berasa mimpi, namun ini bukanlah ekspestasi melainkan realita yang ada. Bahagia, tentu saja. Namun, disisi lain Lina merasa akan trauma dengan perjuangan dan pengorbanan cinta yang dulu. Luka serasa masih membekas di ulu hati. Membuat suasana hati kian keruh dan nyeri secara bersamaan.
"Ma ... maaf, saya harus bekerja." Lina melepas pelukan itu dan langsung bergerak mundur.
Inani dengan sigap menarik tangan Lina. Alhasil, Lina langsung terpental, membentur dada bidang Inani. Lina berontak, namun tenaga kalah jauh. Inani menatap Lina dengan tajam. Ia tak suka, jika Lina bersikap acuh terhadapnya. Semua itu hanya membuat Inani makin bersalah saja akan bayangan sifat buruk di masa lalu.
"Lina, You're mine! jangan pernah menjauh lagi!" seru Inani yang sontak membuat Lina sedih.
Kecewa, itulah yang tengah Lina rasakan. Dulu saja, Inani menolak Lina mentah-mentah. Dan sekarang, Inani seenaknya mengklaim Lina sebagai miliknya. Lina memang masih menyimpan rasa terhadap Inani, namun ia seakan pilu kala Inani dengan mudah mengklaim dirinya. Lina bukan barang! Lina tak suka akan hal itu.
"Lepas!" sentak Lina keras.
Inani seakan menulikan pendengaran, dan langsung saja ia mencium bibir Lina. Lina menegang dan airmata perlahan bercucuran. Sakit rasanya jiwa maupun raga Lina. Lina tak terima akan hal ini, ia langsung mendorong kencang dada Inani.
Plak
Tangan kanan Lina mendarat mulus di pipi Inani. Lina murka, ia menatap marah pada Inani. Sedangkan Inani, ia menatap sendu pada Lina. Ia seakan tak percaya Lina menampar dirinya.
"Lin--"
"stop!" sergah Lina memotong perkataan Inani.
"Lina, aku sangat merindukanmu," ucap Inani dengan berderai airmata.
"Kenapa bisa rindu?" tanya Lina sembari mengalihkan tatapan. Tak kuasa, jika terus menatap Inani.
"Apa?" Inani balik bertanya. Terlihat sangat konyol, bukan?
"Sudahlah," ucap Lina yang langsung berlari pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kenapa masa lalu kembali hadir?" tanya Lina entah pada siapa, mungkin diri sendiri.
"Ini bukan lagi Bandung, melainkan Bogor, kota hujan. " Monolog Lina sembari melihat pantulan diri di cermin toilet.
"Bandung telah lama tak ku singgahi, berharap tak pernah berjumpa lagi dengan orang yang ada di masa lalu. Namun, nyatanya seperti ini."
Perlahan-lahan Lina memutar keran dan langsung membasuh muka. Ingin menghilangkan bayangan pelik itu. Setelah dirasa kondisi hati mulai membaik, kini Lina akan kembali di ruangan Inani. Bagaimana pun juga, Ia disini bekerja. Lina perlahan melangkah keluar dan langsung disuguhi oleh pemandangan wajah kaget dari Shabil.
"Lina?" Shabil seakan tak percaya dengan sosok yang ada di depan mata. Begitu pula dengan Lina yang juga kaget bukan main.
"Shabil," ucap Lina dengan menyembunyikan ekspresi kaget. Lina menampilkan ekspresi setenang mungkin.
"Ngapain kamu ada di sini?" tanya Shabil sewot, sembari memicingkan mata.
"Saya sedang bekerja di sini. Permisi," jawab Lina dengan anggun dan berkharisma sembari langsung melenggang pergi.
Shabil menatap murka pada Lina yang menurutnya sangat sombong. Ia pun langsung mengejar Lina. Shabil menggapai tangan Lina dan menyentak keras tangan itu. Otomatis membuat Lina terhuyung dan merasa sakit di pergelangan tangan.
"Sombong sekali Kamu? cih, mending sekarang juga pergi dari kantor ini!" usir Shabil dengan menatap tajam pada Lina.
Lina balik menatap tajam pada Shabil. Lina yang sekarang, bukanlah Lina yang dulu. Sekarang Lina tak takut lagi melawan orang yang ingin menjatuhkan dirinya. Lina yangsekarang terkesan berani dalam hal apapun, terutama menentang keburukan. Seperti yang tengah dilakukan Shabil terhadap dirinya saat ini.
"Anda siapa, berani mengusir saya? pemilik kantor kah?" semprot Lina yang mampu membuat Shabil bungkam.
Shabil semakin marah saja. Ia berniat menampar Lina, namun tangannya sudah duluan di halau oleh Inani. Inani? mampus, Shabil ketahuan. Inani menatap tak suka pada Shabil.
"Shabil, apa yang kamu lakukan?" sentak Inani sembari melepaskan tangan Shabil dengan kasar.
"Eh, itu si Lina seenak jidat ngatain aku. Dia bilang kinerja aku nggak bagus, jadi aku emosi." Shabil tersenyum miring pada Lina.
Sementara Lina, ia masih aaja menampikkan ekspresi bodo amat sekaligus datar. Drama sekali si Shabil, Lina muak pada sosok perempuan bak jelmaan iblis itu.
"Anda memfitnah saya? seharusnya anda menggunakan otak, jika ingin menjatuhkan saya. Saya saja tak pernah tahu, jika anda bekerja di sini, terlebih dengan posisi anda," ucap Lina dengan tenang, tapi terkesan menusuk.
Shabil bungkam, kalah telak. Sementara Inani tengah menatap kagum akan sosok Lina. Lina yang sangat lihai menutup mulut cerewet Shabil. Inani makin tahu saja, jika Shabil masih saja seperti dulu. Shabil masih menyimpan sifaf buruk. Tak sia-sia Inani menuruti perkataan Herwin, sang ayah.
"Saya itu sekertaris dari Pak Inani," sombong Shabil dengan percaya diri.
"Oh, jadi saya di sini menggantikan posisi anda?" tanya Lina tersenyum miring.
Inani kaget, begitu juga dengan Shabil. Ternyata Lina adalah pengganti Shabil. Inani semakin berbunga dalam hati. Hari-harinya akan terlihat indah dengan pancaran yang dihasilkan oleh Lina.
Bersambung .....
next???