Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 20



Tak ada salahnya melepas kerinduan pada orang yang sama.


~Lina~


__________________


Seminggu kemudian.


Lina menatap pantulan diri di dalam cermin. Penampilan yang terkesan feminim dan anggun. Inilah kali pertama ia merias diri dengan berbagai macam produk kecantikan. Walaupun begitu, masih terkesan natural dan tidak terlalu tebal seperti ondel-ondel berjalan.


Hari ini adalah hari pertama Lina bekerja. Bekerja di perusahaan terkenal yang ada di Indonesia. Memang, tepatnya dua hari yang lalu, ia pulang ke Indonesia seorang diri. Sementara Raka, masih stay di Kanada. Raka sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Lina yang menerima pekerjaan di Indonesia. Namun, Lina seakan keras kepala. Lina ingin mandiri, tentu saja. Tidak mungkin, jika terus-menerus ia bergantung dengan abangnya, Raka. Lina sangat menyayangi Raka, namun ia harus bisa mulai belajar untuk hidup mandiri tanpa Raka.


Bagaimana pun juga, suatu saat nanti mereka berdua pasti akan sibuk dengan kehidupan masing-masing. Terlebih, jika keduanya sudah saling memiliki pasangan hidup. Ia ingat akan cerita senja yang lalu. Senja yang selalu ingin ia nikmati bersama Raka, nyatanya sudah menjadi cerita lalu. Raka dan Lina sudah terpisah oleh bentangan jarak yang luas.


Kerinduan seakan membuncah, padahal hari masih bisa terhitung oleh jari. Lina seorang diri di sini. Ia memilih Indonesia, karena di tempat itulah dia dibesarkan. Dengan demikian, rasa khawatir Raka perlahan-lahan bisa pudar. Walaupun kecemasan kadang menyapa kala memikirkan adik semata wayangnya itu, tapi tak apalah.


"Astaga, Lina terlambat," ucap Lina kala melihat waktu di jam tangannya.


Lina bergegas dengan gesit, tas dan juga heels langsung ia sambar. Entah dipandang bagaimana dengan orang lain? yang jelas Lina tak peduli akan hal itu. Lina keluar dari apartemen dan berlari sekencang mungkin. Jangan lupakan soal heels yang setia di jinjing oleh tangan kirinya. Bukannya lupa, namun Lina sengaja supaya ia bisa leluasa berlari.


"Tunggu!" teriak Lina kala melihat lift perlahan-halan tertutup.


Berhasil ...


Lina telah berhasil menggapai lift yang akan tertutup rapat. Lina langsung masuk sembari menyenderkan diri di dalam lift. Nafas terasa sangat sesak dan ia menutup rapat mata, kala menikmati degupan jantung yang perpacu dua kali lebih tepat. Tanpa Lina sadari, ada seseorang yang tengah memandang Lina dengan tatapan sendu. Rasa rindu akan sosok Lina seakan terbayar setelah empat tahun lamanya.


"Li ... Lina."


Deg


Suara itu, suara yang sangat familiar di telinga Lina. Perlahan Lina membuka mata. Pandangan mata menjurus pada sosok yang berada di depannya itu. Lina menganga tak percaya dan spontan menjatuhkan heels dan tas yang ia bawa. Masa lalu kembali hadir di masa ini. Air mata perlahan turun membasahi wajah cantik Lina.


"Alex?" Lirih Lina yang langsung dihadiahi pelukan erat oleh Alex.


Alex seakan menyalurkan rasa rindu lewat pelukan itu. Pelukan yang sangat erat dan terasa hangat bagi Lina. Lautan kebinaran seakan menerpa dua insan yang tengah melepas rindu. Rindu yang membuat lara seakan sirna ditelan oleh pertemuan manis. Alex melepas pelukan itu dan langsung menangkup wajah cantik nan manis milik Lina.


"l miss you so bad," ucap Alex.


Mata Lina memancarkan keteduhan yang membuat hati Alex bergetar hebat. Rasa cinta Alex terhadap Lina takkan pernah pudar, walaupun terkikis oleh kejamnya waktu. Perlahan tapi pasti, Alex mendekatkan wajah dan megikis jarak antara dirinya dan juga Lina. Ia menempelkan bibirnya pada bibir Lina, mengecap lembut dan penuh kasih sayang. Lina awalnya kaget, namun ia hanya bisa menutup mata.


Pikir Lina hanya menjurus pada first kiss yang telah diambil oleh Alex. Lina memukul pelan dada Alex kala ia kehabisan pasokan udara. Alex yang tahu akan hal itu, perlahan melepas pelukan itu dan menyatukan kening mereka.


"Maaf, Lin. Maaf aku telah lancang," ucap Alex sembari mengusap pelan bibir Lina yang terlihat membengkak.


Bunyi lift mengagetkan Alex dan Lina. Lina mendorong pelan tubuh Canu, agar menjauh. seakan merasa de javu kala melihat jam tangan, Lina langsung bergegas pergi meninggalkan Alex tanpa sepatah dua patah. Alex ingin mengejar Lina, namun karena ada kepentingan, ia urungkan.


________________


Wijaya Group


Lina telah sampai di kantor. Hal pertama yang ia lihat adalah tulisan besar yang bertengger manis pada gedung bangunan itu. Perlahan langkah kakinya membawa masuk ke dalam gedung yang menjulang tinggi itu. Ia menuju ke tempat resepsionis dan bertanya akan keberadaan ruangannya kelak.


"Permisi, Mbak." Lina berucap dengan sopannya.


"Iya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita dengan make up yang super duper tebal.


"Nama saya Alina sekertaris baru disini. Bisakah Anda menunjukkan dimana ruangan saya?" tanya Lina lagi.


Wanita itu melihat penampilan Lina dari atas sampai kebawah. perfect, pikirnya. Ia tersenyum manis pada Lina.


"Oh, mari saya antar." Wanita itu mempersilahkan Lina untuk mengikuti langkah kakinya.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di depan pintu ruang yang bertuliskan CEO. Lina bingung, mengapa dirinya dibawa kemari? seharusnya ia dibawa di ruang sekertaris, apakah ruangannya menyatu dengan sang CEO? entahlah Lina bingung.


"Silahkan masuk Nona, Anda sudah ditunggu." Instrupsi wanita itu yang nametag-nya tertera tulisan Audy.


"Terimakasih," jawab Lina sembari tersenyum. Wanita itu mengangguk pelan sebelum berlalu dari hadapan Lina.


Setelah kepergian wanita itu, tiba-tiba saja Lina dirundung kegelisahan. Kenapa ini? apakah ini yang dinamakan gugup? kalau iya, Lina harus berusaha mengatasi hal ini. Ia tak mau kegugupan ini merusak image di depan bosnya nanti. Sebelum mengetuk pintu, berkali-kali Lina mengontrol napas.


Tok tok tok


Lina mengetuk pintu itu, tetapi tak ada balasan. Ia coba lagi, namun hasilnya tetap sama. Dengan terpaksa, ia langsung membuka pintu itu dengan hati-hati. Lina masuk ke dalam dengan perasaan was-was. Lina ternganga kala melihat desain dalam ruangan itu. Desain yang sangat indah dan modern dengan sisi kanan ruangan yang temboknya terbuat dari kaca. Sehingga, dengan tinggi ruangan ini yang memang berada di lantai 15, menyajikan langsung pemandangan kota ini.


Tanpa sadar, Lina berjalan menuju kaca tersebut. Ia memegang kaca itu dan menikmati keindahan kota. Takjub, salut, semua tercampur menjadi satu. Terlebih nuansa ruangan itu yang di dominasi oleh warna coklat menambah kesan indah. Rasanya ia enggan hanya sekedar menoleh dari pemandangan itu, namun seketika suara deheman seseorang mengharuskan ia berpaling.


Ehem


Lina menegang, ia takut terkena marah, karena telah ceroboh memasuki ruangan itu. Perlahan Lina membalikkan tubuh menghadap ke sumbet suara itu. Pandangan Lina bertemu dengan tatapan kaget orang itu. beberapa detik keheningan terjadi diantara keduanya. Lidah mereka seakan kelu. Sungguh banyak hal yang terjadi di hari ini. Melodi rindu kian bergembira kala target datang menghampiri.


Bersambung .....


Next???