Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 23



Lina merebahkan diri di ranjang. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi Lina. Dan, saat ini ia ingin merehatkan jiwa maupun raga. Setelah bersama Nando tadi ia langsung pulang ke apartemen dan tidak kembali di kantor. Masa bodoh, jika nantinya ia dipecat. Justru hal itu yang Lina inginkan. Bukannya tak suka bersama pujaan hatinya, tapi rasa sakit itu masih membekas di ulu hati. Terlebih, ia sangat enggan berurusan dengan wanita picik nan sombong itu. Siapa lagi kalau bukan Shabil.


Kenapa rasanya takdir telah membuat skenario yang berbelit? Bandung sudah Lina hindari, tapi tetap saja masalalu seakan berkumpul. Mengajak reuni dan bernostalgia akan kejadian yang sudah berlalu. Lina sangat gusar, bagaimana bisa semua terjadi begitu saja? seakan telah tersusun rapi dan tinggal berkecimpung di dalamnya. Lina lelah dan perlahan - lahan alam mimpi menyapa.


__________________


Inani bernapas gusar dan hanya mondar - mandir di depan meja kebesarannya. Bob yang melihat semua itu, menjadi pusing sendiri. Bob berniat menegur sahabat sekaligus atasannya itu, tapi ia urungkan setelah tiba - tiba Shabil memasuki ruangan itu tanpa permisi. Shabil langsung bergelanyut manja di lengan Inani. Inani sangat kaget dengan kehadiran Shabil. Terlebih dengan sifatnya yang selama ini tak pernah seperti itu.


"Shabil!" geram Inani dengan menyentakkan tangan Shabil dengan kerasnya.


Shabil tak mau diam dan terus berusaha mendekati Inani. Shabil terlihat sangat berbeda dari biasanya, ia terkesan lebih agresif. Mana sifat manis dan sopannya? Sudah hilang? Atau memang ini wajah iblis yang selama ini bersemayam dalam diri Shabi? Inani semakin geram saja dan tak menyangka akan kebodohannya yang dengan mudah tertipu lagi oleh akan bulus Shabil.


"Shabil, hentikan atau saya pecat!" Inani berkata penuh dengan emosi dan menatap tajam pada Shabil.


Shabil pun langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap sendu pada Inani. Cih, penuh drama, batin Inani. Inani ingin melangkahkan kakinya, meninggalkan ruangan dengan hawa memukkan itu. Namun, langkahnya terhenti kala mendengar perkataan Shabil.


"Bukannya kau masih mencintaiku? Aku tahu dari sorot matamu." Shabil mengatakan itu sembari tersenyum miring.


Deg ...


Inani membisu sembari mencerna perkataan Shabil. Inani akui, jika ia sangat mencintai dan menyayangi Shabil, tapi itu dulu. Sekarang, ia masih dilema akan suasana hatinya. Ia begitu menginginkan Lina, tapi ia pun belum tahu persis perasaannya terhadap Lina. Rasa cinta ataukah rasa bersalah?


"Kenapa diam? Apakah benar yang aku katakan?" Shabil mendekat dan langsung berdiri di hadapan Inani. Tanpa sadar, Shabil pun mendekatkan bibirnya pada Inani, mencium dengan perlahan hingga menyadarkan Inani dari lamunan.


Bob yang masih dalam ruangan itu hanya mampu membuang wajah ke sembarang arah. Ini tidak benar! dan Bob tahu itu, tapi ia harus apa? Ya, mungkin diam adalah cara yang terbaik. Inani diam dan sangat syok dengan apa yang Shabil lakukan. Ciuman itu semakin menuntut dan Inani tak membalas dan masih setia dengan kebisuan.


Brak ...


"Sialan!"


Bught ...


Dengan amarah yang memuncak, Nando datang dihadapan Inani dan langsung meninju rahang Inani. Inani tersungkur dan Shabil pula sedikit terhuyung. Mereka sangat kaget dengan kedatangan Nando dengan tiba - tiba. Bob yang melihat itu langsung bergegas melerai kedua sahabatnya. Nando ingin memukul lagi Inani, tapi Bob menahannya.


"Hey tenanglah! Ada apa denganmu?" tanya Bob yang masih menahan tubuh Nando.


"Lepaskan saja, Bob!" Inani memberi perintah pada Bob yang langsung dilakukan oleh Bob.


"Kenapa denganmu, Nan?" Inani bertanya dengan herannya sembari memegang rahangnya yang terasa sangat nyeri.


Bukannya menjawab, Nando menatap tajam ke arah Shabil berdiri. Shabil pun bergidik melihat tatapan Nando. Wanita sialan, batin Nando. Inani menepuk pelan pundak Nando, ia tahu saat ini Nando tengah marah besar walaupun nyatanya ia belum tahu pasti sebab kemarahan Nando.


"Keluar!" sentak Nando yang masih menatap tajam Shabil. Shabil pun kaget dan langsung meninggalkan ruangan itu.


"Bodoh!" sinis Nando, ketika tatapannya mengarah pada Inani.


Ini kenapa sih? Apa yang terjadi dengan mereka?


Bahkan, mereka tak menganggapku ada di ruangan


ini, batin Bob keheranan dengan situasi pelik ini.


"Kamu yang bodoh! Bisa - bisanya melakukan hal menjijikkan dengan ular kobra sialan itu. Apa sudah hilang bayangan Lina di kepalamu?" cerca Nando sembari melangkahkan kaki menuju sofa.


Inani mendelik tak suka dengan pertanyaan Nando. Lina tetap prioritasnya saat ini. Dan Shabil, anggaplah dia hanya seekor hama pengganggu. Inani masih dalam kondisi uring - uringan kala Lina tak kembali lagi setelah kejadian tadi. Kini, ia jadi sasaran interview oleh Nando. Sungguh, kepala Inani serasa ingin meledak.


"Aku tak pernah melakukan itu dengan Shabil." Bela Inani pada diri sendiri.


"Terus tadi namanya apa, bodoh?" Nando menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum sinis.


"Aku tak sadar dengan hal itu," ucap Inani yang masih saja menyangkal.


"Be--"


"Sudah - sudah! yang dikatakan Inani itu ada benarnya, Nan. Inani kelihatan syok banget saat Shabil melakukan hal itu. Aku lihat semuanya." Bob menengahi perdebatan itu.


"Ouh, jadi maksudmu Inani syok layaknya akan diperkosa oleh ular kobra itu? Dan kamu jadi manekin atau nyamuk yaa? hahaha...." tawa Nando pecah sembari membayangkan wajah Inani yang akan diserang oleh Shabil.


___________________


Lina bangun dari tidurnya kala matahari telah condong ke barat. Ia mengucek mata sebentar dan mengumpulkan tenaga yang belum sepenuhnya sadar. Ia menguap berkali - kali dan mengambil hp di atas nakas. Ia melihat waktu yang ternyata sudah menunjukkan pukul lima sore. Astaga, ternyata ia sudah tidur selama itu. Perutnya pun sudah mulai keroncongan.


"Aduh lapar sekali," gerutu Lina sembari menuju kamar mandi. Ia ingin mandi terlebih dahulu sebelum keluar dari apartemen mencari makanan.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Lina telah siap dengan penampilan sederhana yaitu celana jeans berwarna dongker dan Baju kaos lengan panjang berwarna putih. Lina langsung menyambar tas selempangnya dan keluar dari apartemen. Lina memasuki lift bersama dengan tiga orang, satu pria dan dua wanita. Lina menepi di ujung lift sembari memainkan hp dan bersikap acuh dengan apa yang tiga orang itu lakukan.


Ting


Lift terbuka dan Lina langsung keluar. Ia menuju mini resto yang letaknya tak jauh dari apartemen. Pengunjungnya pun lumayan ramai, karena sebentar lagi memasuki jam makan malam. Lina mencari kursi kosong dan ia menemukan tepat di ujung. Tak mau berlama - lama, Lina langsung bergegas menuju tempat itu. Saat Lina akan duduk, ia dikejutkan dengan suara perempuan.


"Permisi, boleh kami bergabung?" tanya seorang wanita yang seketika membuat Lina mendongak.


Deg


Lina kaget bukan main dengan sosok di depannya. Wanita itupun tak kalah kagetnya dari Lina.


TBC.