Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 32



Pagi yang cerah. Sinar mentari dengan malu-malu menerangi semesta. Mata cantik Lina perlahan - lahan terbuka. Mengerjab beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk dalam retina. Sungguh, Lina merasa sangat bugar di pagi ini. Setelah semalaman suntuk menangis. Ya, menangis untuk Inani. Menangis untuk perasaan yang masih saja setia menyelimuti hati Lina. Perlahan Lina bangkit dan langsung menucir rambutnya asal, lalu memasuki kamar mandi untuk memulai ritual mandinya.


Lima belas menit, waktu yang sangat singkat untuk seorang Lina melakukan ritual mandi pagi. Bukan karena apa, tetapi ia tak mau terlambat pergi bekerja dengan alasan terlalu lama berkutat di kamar mandi. Sungguh, konyol sekali bila itu semua terjadi. Lina menatap pantulan diri di dalam cermin. Inilah kebiasaan yang selalu Lina lakukan, menatap lama pantulan dirinya sembari tersenyum kecil akan hasil merias diri.


Lina perlahan pergi meninggalkan apartemen. Sesampainya di luar, Lina bertemu Nando yang juga baru saja keluar dari apartemen.


"Selamat pagi, Lina." Nando mendekat pada Lina sembari tersenyum manis.


Lina pun ikut tersenyum manis, "Pagi juga, Nando." Sungguh, tatapan Nando mampu membuat hati Lina gusar.


Entah apa yang terjadi? Hatinya seakan berontak dan berdemo ria kala melihat tatapan itu. Tatapan yang seolah mampu memikat hati rapuh Lina. Ada apa ini? tanya batin Lina. Di lain sisi, ingin sekali Lina memberi ruang untuk Nando di dalam hatinya. Namun, di sisi berbeda pula hatinya merasa tak terima dan terus saja mengikat satu nama, yaitu Inani Adiwijaya.


"Hey, mikirin apaan?" tanya Nando kala menyadari sedari tadi Lina hanya melamun.


"Eh, nggak papa, kok." Lina langsung tersadar sembari tersenyum canggung.


Tanpa berlama - lama di depan pintu apartemen, Nando pun langsung mengajak Lina berangkat. Nando mengajak Lina berangkat bersama menuju Adiwijaya Group, yang memang Nando sendiri hari ini tengah ada jadwal meeting bersama Inani. Lina pun mengiyakan saja ajakan Nando. Anggap saja rezeki di pagi hari, karena Lina tak mengeluarkan ongkos. Toh juga rezeki tak boleh ditolak.


Lina dan Nando tengah berada di dalam mobil sport yang tentunya milik Nando. Tidak ada yang mau memulai pembicaraan, mereka hanya diam tanpa bersuara sedikit pun. Nando melirik Lina sekilas dan ia tahu bahwa saat ini Lina tengah beradu sesuatu dalam pikirannya. Nando pun merasa jengah dengan kebisuan yang tercipta. Ia menyalakan musik untuk menghilangkan rasa canggung itu. Lagu yang terputar ialah You are the reason. Lagu yang dipopulerkan oleh Callum Scot yang sontak membuat Lina menghadap pada Nando.


Air mata Lina keluar begitu saja tanpa permisi. Entah mengapa hati Lina terasa ngilu kala mendengar setiap bait dari lirik lagu itu? Sakit, sunguh sakit rasanya ketika harus mengenang kembali cerita usang di masa lalu. Lina langsung menekan tombol off dan suara Callum Scot tergantikan oleh isak tangis dari bibir Lina.


Nando kaget dan baru menyadari jika Lina tengah menangis. Ia langsung saja menepikan mobilnya di pinggir dan menghentikannya begitu saja. Ia memegang erat tangan Lina seolah mampu meresap semua kesedihan Lina. Lina pun memandang Nando dalam tangisan pilunya. Nando tersenyum getir dan langsung mendekap Lina dalam pelukan hangat.


"Jangan menangis! Aku nggak sanggup lihat air mata ini," ucap Nando sembari menyisir rambut indah Lina yang tergerai dengan cantiknya.


"Sa ... sakit, Nan. Hatiku sakit. Hiks ...." Tangisan Lina semakin pecah. Nando pun dengan setia menenangkan Lina.


Ia terluka kala melihat air mata Lina. Ia pilu kala melihat betapa menderitanya Lina. Ia sakit kala melihat mata teduh Lina. Ia lara kala menerima kenyataan bahwa hati Lina masih sama seperti dahulu kala. Masih menyimpan satu nama, yaitu Inani. Ingin sekali ia menghapus nama Inani dari hati Lina. Namun, sulitnya tak terkira. Ia hanya mampu menjadi sandaran Lina. Pelipur lara tak apa, asal bisa selalu dekat dengan Lina.


"Lebih sakit mana, Lin? Pelipur lara atau hati yang lara?" tanya Nando yang langsung membuat Lina melepas pelukan itu dengan sepihak.


"Berarti aku juga selalu merasa sakit seperti dirimu sekarang ini, Lin. Jangan menangis lagi, ku mohon!" seru Nando sembari menyodorkan sekotak tissue pada Lina.


Lina pun menerima kotak tissue itu. Sementara Nando, ia mulai menyalakan mobil dan bersiap mengemudi lagi. Tak butuh waktu lama, akhirnya Lina dan Nando sampai juga di kantor. Lina dan Nando keluar secara bersamaan dan memasuki kantor tersebut dengan berjalan beriringan layaknya sepasang kekasih. Shabil pun yang melihat kedatangan Lina bersama Nado tak mau diam begitu saja. Ia kembali mengkoar walau nyatanya tak ada seorang pun yang menanggapi, karena takut oleh ancaman Inani di waktu lalu.


"Lihatlah, setelah Pak Inani. Dia juga mendekati temab atasannya itu. Cih, tidak tahu malu." Shabil berkata dengan lantangnya dan ia pun mulai kesal karena tak ada yang menanggapi.


"Diam kau! Urus saja pekerjaanmu, bodoh." Nando berkata dengan sinisnya sembari melewati Shabil begitu saja.


Sementara Lina, ia hanya tersenyum mengejek pada Shabil. Ia terlalu jengah dengan sikap Shabil selama ini. Lihatlah! betapa murkanya Shabil kala melihat senyuman yang terpatri dari Lina. Shabil meremas kasar tanggannya, ia tak terima dengan semua itu. Awas kau, Lina! Lihatlah sebentar lagi kau hancur, batin Shabil sembari terus menatap tubuh Lina dan Nando yang semakin menjauh.


____________


Nando melihat jam yang bertengger manis di tangan kirinya. Sudah lebih dari dua puluh menit Lina telat, tapi Lina sama sekali belum menampakkan batang hidungnya. Perasaan resah dan gelisah bercampur menjadi satu. Inani takut terjadi sesuatu dengan Lina. Ia bangkit dari kursi kebesarannya berniat ingin pergi menemui Lina. Langkahnya terhenti, kala melihat pintu ruangannya terbuka begitu saja. Muncullah sosok yang ia khawatirkan. Namun, Inani merasa kesal, kala Lina datang bersama Nando.


"Kenapa baru datang, hah?" tanya Inani sedikit ketus yang tentu ia tunjukkan pada Lina. Sebenarnya, ia tak berniat berbicara seperti itu pada Lina, tapi ia keburu kesal melihat pemandangan yang menyesakkan itu.


"A ... aku--"


"Cepat kerjakan pekerjaanmu!" seru Inani memotong perkataan Lina.


Hati Lina tertohok kala mendengar setiap perkataan yang terlontar dari bibir Inani. Ia langsung pergi begitu saja menuju mejanya. Di sisi lain, Nando hanya bisa melongo kala menyadari sikap keras Inani terhadap Lina. Ia ingin menegur Inani, tapi ia tak memiliki hak atas itu.


"Duduk!" bentak Inani yang sontak membuat Nando kaget.


"Apa?" tanya Nando seperti orang bodoh.


TBC