Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 33



"Situ nggak sakit, kan?" tanya Nando sembari duduk di hadapan Inani.


Inani hanya memutar bola mata malas. Ia terlanjur kesal dengan Nando yang seenak jidad bersama dengan Lina. Hanya Inani yang boleh berdekatan dengan Lina. Anggap saja Inani egois, biarkanlah. Inani hanya ingin memiliki apa yang seharusnya ia miliki. Em, seperti kembali mengambil hati Lina, mungkin?


di sisi lain, Lina sesekali melihat ke arah Inani dan Nando berada. Ia masih bingung dengan perlakuan Inani yang tiba - tiba saja berubah drastis. Biasanya saja romantis, tapi sekarang? Lihatlah bahkan bukan hanya dengan Lina saja Inani bersikap seperti itu. Nando pula kena imbasnya.


"Lina ...!" panggil Inani dengan dinginnya.


Lina pun terlonjak kaget dan langsung memegangi dadanya. Ia langsung berdiri dan menatap penuh tanya ke arah Inani.


"Sa ... saya?"


Bahkan pertanyaan yang keluar dari mulut Lina terkesan bodoh saja. Entah mengapa Lina jadi gugup?


Sementara Inani hanya mengaggukkan kepala dan memberi isyarat agar Lina mendekat. Lina yang notabenya bawahan, mau tak mau harus mengikuti instruksi Inani.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Lina dengan formal.


Inani berdecak. Entah mengapa ia tak suka bila Lina berbicara formal kepadanya.


"Aku bukan bapakmu, Lina!" sergah Inani yang langsung membual Lina dan Nando melongo keheranan.


"Eh, yang bilang situ bapaknya Lina siapa, bro? Heran deh!" Nando menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu. Ia pun menoleh ke arah Lina, dan spontan, Lina mengedikkan bahu.


"Iya, Pak. Nggak ada yang bilang Bapak itu bapak saya."


Nando terbahak kala melihat wajah polos Lina ketika menjawab Inani. Inani makin tak suka dengan suasana ini. Ia benci melihat Nando yang perhatian dengan Lina. Lina hanya miliknya seorang. Tidak bisa diganggu gugat.


"Buatin kopi tanpa gula," ucap Inani dengan datar sembari melonggarkan ikat dasinya.


"Hidupmu aja udah suram. Eh, mau minum kopi tanpa gula. Yakin?" ejek Nando.


Hawa semakin panas, daripada kena dampak kemarahan Inani lagi, lebih baik Lina langsung pergi membuatkan pesanan Inani.


Sementara Inani yang melihat kepergian Lina, hanya mampu mendengus. Terlebih, ia sangat muak melihat muka Nando yang senyum - senyum nggak jelas.


•••


Lina menatap Langit sore yang tengah ditutupi oleh awan tebal. Ia mendesah ringan kala rintikan air hujan mulai turun membasahi bumi. Ia berjalan lesu menuju halte yang berada tak jauh dari kantor ia bekerja.


"Hujan, kenapa kamu turun? Aku selalu teringat masa lalu, bila kau hadir," monolog Lina sembari terus berjalan.


Tin tin


Lina kaget bukan main kala mendengar klakson mobil di sampingnya. mobil itu berhenti, dan muncullah sosok yang sangat menyebalkan bagi Lina. Siapa lagi kalau bukan Inani?


"Pak, jangan ngagetin saya! Saya masih muda, kasian kalau tiba - tiba saja divonis serangan jantung," dumel Lina yang sontak membuat Inani gemas.


"Naik!"


Itu perintah apa ajakan? Entahlah, sepertinya perintah.


"Maaf, Pak. Sebentar lagi bus lewat." Tolak Lina dengan halus.


"Mau masuk sendiri apa saya gendong?" tanya Inani dengan tajam.


"Eh, bapak kok maksa sih?"


Lina masih saja bersikeras menolak ajakan Inani. Lina yakin, bila bersama Inani, pasti ada hawa tak mengenakkan.


Astaga, Lina bingung dan sedikit cemas melihat tampang Inani yang sangar. Mau lari juga nggak lucu dengan situasi. Takutnya ada yang lihat, terus Lina viral dengan topik berita, Bawahan lari terbirit - birit ketika atasannya menawari ia pulang bersama. Jangan! jangan sampai!


"Eh, ngapain?" tanya Lina gugup kala Inani mendekat dan semakin dekat.


"Makan kamu."


Inani langsung saja Merengkuh tubuh mungil Lina. Tapi, parahnya lagi, bukan untuk memeluk, justru bibir Inani yang bekerja. Meraup bibir cherry milik Lina. Lina hanya bisa melotot dan berusaha mencerna apa yang terjadi. Argh ... seketika otak Lina tak bisa berpikir jernih.


Inani ******* bibir Lina dengan sayang. Seolah menyalurkan rasa cinta yang kian besar. Dengan tangan yang bergantian, Inani melepas jas mahalnya dan langsung melindungi kepalanya dan Lina agar tak basah oleh guyuran air hujan yang semakin deras. Lina hanya mampu menutup mata dan meresapi semuanya. Ciuman Inani sangat memabukkan, hingga Lina pun ikut terbuai.


Tin Tin Tin


Mereka berdua terlonjak kaget, kala dengan isengnya Nando membunyikan klakson mobil Inani. Sialan, Inani lupa bila di dalam mobilnya masih ada makhluk terkutuk itu.


"Bangkee. Kalau pacaran lihat tempat dong. Kasian juga yang jomblo." Cibir Nando memasang tampang jutek. Jujur, hati Nando teriris ketika menyaksikan kegiatan Inani dan Lina.


Dalam hati, Lina sedari tadi mengumpati Inani. Ia sangat malu kali ini. Harga diri jatuh. Lina ingin sekali menabok Inani. Di manakah Lina harus menyimpan muka yang pindah haluan bak kepiting rebus ini dari Nando?


"Udah, jomblo diem!" ucap Inani enteng sembari menarik Lina dan sedetik kemudian mendorong Lina agar masuk dalam mobil.


"Nggak nyadar ya? Perasaan situ juga jomblo," cibir Nando ketika Inani sudah memasuki mobil.


"Udah diem. Berisik aja dari tadi."


Suasana mobil seketika hening. Nando sedari tadi memperhatikan Lina yang duduk di bangku depan sebelah kemudi. Sementara Inani melihat gerak - gerik nando melalui kaca mobil.


"Ck, mata dikondisikan!" sindir Inani yang dibalas cengiran oleh Nando.


"Emang matanya kenapa dan mata siapa?" tanya Lina dengan polosnya.


Inani mendengus kesal. Sementara Nando tersenyum geli mendengar pertanyaan polos Lina. Sungguh, dengan melihat Lina saja, rasa cinta yang Nando miliki semakin besar. Namun, ia sadar, ia harus mengalah demi sahabatnya, Inani.


"Ish, kacang!" dengus Lina ketika tak ada yang menjawab pertanyaan darinya.


"Udah diem, aku sayang kamu."


Fiks, muka Lina kembali memerah ketika mendengar ucapan Inani. Lina pun mengalihkan pandangan keluar jendela mobil hanya sekedar untuk menutupi wajah merah padam bak kepiting rebus itu.


Tak lama kemudian, mereka sampai di halaman apartemen. Lina langsung membuka pintu. Namun, ketika ingin keluar, justru tangan Lina ditarik oleh Inani. Inani dengan gesit langsung mencium pipi kiri Lina. Gila, Inani gercep.


Lina langsung melepaskan diri dan berlari menjauhi mobil Inani dengan perasaan kesal, malu, semua bercampur aduk. Padahal, Lina bisa saja menolak, bahkan menampar Inani yang kurang aja itu, tapi entah mengapa Lina tak bisa melakukan hal itu?


•••


Lina menikmati indahnya malam dengan ditemani oleh secangkir kopi. Saat ini ia berada di balkon kamarnya. Pandangannya menerawang jauh ke atas langit yang malam ini ribuan bintang tengah bertaburan di angkasa.


"Aku kenapa ya? kok dari tadi aku deg - deg 'an?


.


.


.


.


TBC