![Dear Inani [You Are The Reason]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/dear-inani--you-are-the-reason-.webp)
Lina bergegas membuka pintu. Betapa kagetnya ia saat melihat makhluk tampan tengan tersenyum devil ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Inani. Lina langsung ingin menutup pintu, tapi dengan gesit Inani menahannya.
"Ada apa? Aku sedang tak menerima tamu," ucap Lina pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Inani.
"Aku ingin ke apartemennya Nando," jawab Inani dengan tersenyum penuh arti.
Lina mendengus kesal dan tak habis pikir, jika ia memiliki atasan seperti Inani. Tapi tunggu, Bukankah Lina juga akan pergi ke apartemen Nando? Lina memicingkan mata tanda curiga dengan gerak - gerik Inani.
"Ini bukan apartemen Nando!" semprot Lina dan langsung di balas kekehan pelan oleh Inani.
Tanpa menjawab perkataan Lina, Inani langsung saja menarik tangan Lina dan membawanya keluar apartemen. Huft, kebiasaan Inani keluar lagi. Menarik tangan Lina seenak jidat tanpa memikirkan sang empu.
Inani membawa Lina ke apartemen Nando. Nando pun kaget dengan kedatangan mereka berdua. Dalam hati, Nando menggerutu pelan saat melihat tampang tak berdosa milik Inani. Inani pun tahu, jika Nando tak suka dengan kehadirannya, tapi bodo amat.
"Ngapain kamu kemari?" tanya Nando sewot yang pastinya menjurus pada Inani.
Inani tak berniat menanggapi pertanyaan Nando. Ia lebih memilih duduk di sofa. Sementara Lina hanya berdiam diri dan tak berkutip sedikit pun. Ia merasa canggung dan bingung harus berbuat apa. Nando yang menyadari itu langsung menyapa hangat Lina.
"Lin, kemari deh bantu aku!" seru Nando yang langsung dibalas anggukan oleh Lina.
Nando mengajak Lina ke dapur. Sementara Inani mendengus kesal kala merasa diacuhkan oleh dua insan itu. Inani pun membuntuti mereka berdua. Ada rasa sesak di dada, kala melihat senyuman hangat Lina yang ditunjukkan pada Nando. Sementara dengan dia saja Lina ketus dan sepertinya tak nyaman. Apa ini yang pernah Lina rasakan di waktu dulu?
"Lin, hobi nyamil ya?" tanya Nando sembari mengambil aneka makanan ringan di kulkas.
"Iya, hobi banget. Kalau kamu juga hobi nyamil?" tanya balik Lina seraya tersenyum manis.
Nando pun langsung menutup kulkas itu dan tatapannya mengarah pada wajah cantik Lina. Lina hanya diam saja dan terlalu bingung dengan jalan pikir Nando yang tiba - tiba saja seperti itu.
"Aku lebih hobi mikirin kamu. Lebih suka lihat wajah manis nan cantik ini. Tapi sayangnya, aku tak bisa memiliki hati orang yang selalu menganggapku sebangai kakaknya." Nando langsung memeluk erat tubuh Lina.
Nando menangis dan Lina merasakan pundaknya basah oleh air mata Nando. Rasa cinta Nando begitu dalam terhadap Lina, tapi apa boleh buat. Lina selalu menganggap Nando sebagai kakak saja, tidak lebih dari itu. Sakit memang menjadi Nando, tapi lebih sulit menjadi Lina. Mencintai seseorang yang tengah mengisi hatinya di masa lalu tanpa tahu apakah orang tersebut juga mencintai dirinya? Lina pilu dan sekuat mungkin mencoba untuk tegar.
Banyak hal yang sudah terjadi setelah kepulangannya dari Kanada. Ia kira dapat membuka lembaran baru di kota Bogor ini dan mengubur lama kenangan pahit di kota Bandung. Namun, hasilnya nihil. Orang di masa lalu kini kembali hadir secara perlahan. Walau situasi dan kondisinya berbeda, tapi tetap saja seakan kenangan lama terbuka kembali.
"Maaf, Nan. Maaf kalau aku sangat egois," ucap Lina dengan lembut sembari mengelus pelan punggung Nando.
Di sisi lain, tapi tempat yang sama. Inani tengah memegang erat dadanya yang semakin sesak. Inani tak bisa melihat Lina dan Nando seperti itu. Apakah Inani memang sudah mencintai Lina? Jika iya, bolehkah Inani serakah dan mengambil hati Lina yang sudah rapuh olehnya? Ya, Inani tak bisa menyangkal lagi perasaannya terhadap Lina. Cepat atau lambat, suka atau tak suka, Lina harus menjadi miliknya. Biarkan dia egois dan membuka lagi lembaran kusam kisah Dear Inani. Ia ingin melukis lembaran baru bersama penulis diary yang bermotif bunga sakura itu.
Tak ingin berlama - lama melihat kebersamaan Lina dan Nando, Inani langsung meninggalkan dapur dan memilih duduk berdiam diri di balkon apartemen Nando. Mungkin itu lebih baik, memandang ribuan bintang dan satu bulan yang bersinar indah di malam ini adalah penenang diri yang mujarap.
"Maaf ya Lin, bajumu jadi basah." Nando melepas pelukan itu dan menatap sayu pada Lina.
"Nggak papa," jawab Lina sembari mengambil cemilan dan membawanya keluar dapur. Sementara Nando yang membawa beberapa kaleng minuman soda yang tidak memabukkan tentunya.
Nando dan Lina menuju balkon yang sudah terisi oleh Inani. Inani tersenyum ke arah mereka berdua. Senyuman yang menurut Nando aneh dan mencurigakan. Sementara Lina, ia tak menggubris senyuman itu. Entah mengapa jika bersama Inani sikap Lina menjadi dingin? Padahal rasa cinta itu masih ada dan semakin besar saja. Entahlah.
Mereka bertiga berbincang dan tanpa terasa hari makin larut. Lina pamit undur diri, karena besok ia harus bekerja. Nando dan Inani pun memakluminya, bagaimana pun juga Lina harus istirahat dengan baik dan tak baik bagi gadis untuk bergadang. Lina lansung pulang dan setelah sampai, ia langsung membersihkan diri seperti gosok gigi dan mencuci muka. Setelah itu, ia menuju ranjang dan langsung tidur, karena ia pula sangat mengantuk.
Dear Inani
Entah mengapa aku ingin sekali memberi pelajaran
berharga padamu. pelajaran yang akan selalu kau
ingat kelak. Sikap acuh dan cuek seolah menjadi
tameng kuat dalam pelajaran ini. Aku sakit hati di waktu dulu, tentu saja. *Saat ini aku hanya ingin men*jaga jarak darimu melalui perubahan sikapku
ini. Tapi percayalah, kau tetap menjadi prioritas penunggu hati ini.
_____________
Lina sudah sampai di kantor dan langsung memasuki ruangan CEO yang memang ruangan dia ada di dalam. Tapi, ia kaget bukan main kala melihat Shabil tengah duduk manis di kursi kebesaran Inani. Ia berusaha bersikap acuh dan bodo amat dengan keberadaan Shabil.
"Halo pengganggu," saba Shabil yang terdengar sinis.
Lina pun tetap melangkah dan tak menghiraukan ular kobra itu. Shabil tersenyum sinis dan langsung melontarkan kata - kata yang memuakkan.
"Wah, ternyata kamu senang ya mendapat jabatan bekasku." Shabil menghampiri Lina dan langsung mencengkram erat pergelangan tangan Lina.
"Kenapa? Anda perlu bantuan sekertaris CEO?" tanya Lina yang langsung membuat Shabil geram.
"Dasar sombong sekali kamu," ucap Shabil tersulut emosi.
Dalam hati, Lina bersorak senang. Ia selalu bisa membuat seorang Shabil Tersulut emosi. Entah memang watak dan sifat Shabil yang gampang emosi? Atau memang Shabil selalu iri dengan Lina? Entahlah. Shabil mengangkat tangannya dan berniat menampar Lina.
"SHABIL...."
TBC.