![Dear Inani [You Are The Reason]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/dear-inani--you-are-the-reason-.webp)
"SHABIL...."
Shabil kaget, ketika mendengar teriakan Inani. Inani pun langsung menghampiri Shabil dan menyeretnya keluar. Lina yang memandang kejadian itu hanya bisa diam tak bergeming. Syukurlah, Inani cepat datang. Jika tidak, mungkin pipi mulus Lina akan terkena sasaran empuk oleh Shabil.
Inani mendorong pelan tubuh Shabil dan menatap tajam. Inani muak dengan sikap tak bermoral yang dimiliki oleh Shabil. Ingin sekali ia menyingkirkan wanita satu itu dari kantornya, tapi hati nuraninya masih terbuka. Entah bagaimana jika sekali lagi ia melihat kelakuan Shabil yang tak mengenakkan pada Lina? Mungkin ia tak segan - segan menendang Shabil dari kantor itu.
"Inani sakit tau," rengek Shabil yang langsung membuat Inani bergidik ngeri dengan suara manja itu.
Tanpa membalas kata - kata Shabil, Inani langsung saja menutup keras pintu ruangannya. Inani melangkah cepat menuju meja kerja Lina. Lina yang melihat itu sedikit waspada, karena akhir - akhir ini sikap Inani sedikit agresif terhadap Lina. Lina takut akan hal itu. Walaupun di sisi lain ia merasa bahagia kala cintanya sedang mendekat padanya dan mudah tuk digapai kembali, tapi rasa takut pasti selalu ada.
"Lina!" panggil Inani dan spontan memeluk erat tubuh Lina yang masih membeku di tempat.
Lina Diary.
Pelukan hangat
Pelukan yang selalu ku rindukan
Pelukan yang sangat nyaman
Bisakah waktu berhenti walaupun sekejap saja?
Aku ingin tetap berada dalam pelukan ini
Pelukan dari cinta pertama
Tanpa sadar Lina juga membalas pelukan itu. Seketika membuat Inani tersenyum bahagia. Ia sangat yakin, jika Lina masih mencintainya. Inani maupun Lina dapat mendengar detak jantung masing - masing yang memiliki ritme begitu hebat sehingga dapat mereka rasakan dalam pelukan itu.
"Eh, astaga. Maaf mengganggu," ujar Bob tiba - tiba yang sontak membuat pelukan itu terlepas.
Lina sangat malu dengan Bob, ia yakin pasti wajahnya sudah seperti jiplakan kepiting rebus. Sementara Inani, ia memandang geram pada Bob, karena merasa sangat terganggu. Bob pun hanya tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pandangan Inani kini tepat pada manik mata Lina. Lina pun memandang sebal pada Inani. Dalam hati ia merutuki Inani yang sangat ceroboh tidak mengunci pintunya.
"Eh, aku pergi aja deh," ucap Bob lagi dan berniat melangkah keluar.
"Enak sekali mau pergi gitu aja setelah ngerusak suasana romantis." Inani langsung menghampiri Bob dan mengajaknya duduk di tempat kebesarannya dan menghiraukan Lina begitu saja.
Lina langsung geleng - geleng kepala dan melanjutkan pekerjaannya tadi. Baru saja ingin berkutat dengan keyboard tiba - tiba saja ponselnya berbunyi tanda ada notif masuk. Lina pun melihat notif itu yang membulatkan mata tak percaya. Pesan singkat dari Inani yang bertuliskan 'Nanti makan siang bersama❤'
Sungguh, seketika Lina merasa dalam perutnya banyak kupu - kupu yang berterbangan. Lina langsung menatap ke arah Inani. Inani pun juga menatap Lina dengan senyum devil-nya itu. Bob yang melihat mereka berdua hanya geleng - geleng kepala. Kudu sabar, batin Bob.
Lina tak membalas pesan itu dan langsung saja menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Sejam, dua jam berlalu dan tibalah waktu istirahat tiba. Lina langsung bergegas menemui atasannya itu untuk memberitahu bahwah pukul dua nanti Inani ada rapat bersama clien dari Jepang. Inani pun tersenyum lebar kala di hampiri oleh Lina. Ia mengira Lina akan mendahului ajakan untuk makan siang tadi. Namun, Inani mendengus kesal ketika mengetahui tujuan utama Lina menghampirinya.
"Nggak usah formal kalau lagi berdua!" seru Inani sembari menatap datar pada Lina.
"Sudah seharusnya saya menjaga sikap pada atasan," jawab Lina yang masih saja formal.
"Mau melawan atasan, hm?" tanya Inani yang langsung membuat Lina menggerutu.
Mau, emang kenapa? Mau pecat? Silahkan. Teriak batin Lina, tapi tak mungkin lidahnya berucap seperti itu. Lina memilih menundukkan kepala saja daripada menjawab pertanyaan Inani. Inani pun langsung bergegas dan menggandeng erat tangan Lina. Lina hanya pasrah saja dan mengikuti langkah lebar Inani.
_______
Nando menatap hamparan pesisir pantai dengan sendu. Ia ingin sekali meluapkan keluh kesal kepada ombak dan semilir angin yang sejuk itu. Perasaannya tetap sama dan tak bisa berubah. Semakin kesini, semakin besar pula rasa cintanya terhadap Lina. Ia sadar diri, jika Lina takkan pernah bisa menerimanya. Sesakit inikah mencintai tanpa dicintai?
"LINA...." teriak keras Nando sembari menjatuhkan diri di pasir putih yang lembut itu.
Nando meneteskan air mata dan menatap nanar lautan biru tanpa batas itu. Ia ingin memiliki, tapi tak pernah bisa menggapai. Inani? Ya, ia selalu ada dalam hati Lina. Tapi, tak pernah sekalipun Nando membenci sahabat karibnya itu. Ia akan berusaha ikhlas walaupun menyakitkan. Merelakan walau nyatanya tak pernah rela. Apa boleh buat? Takdir berkata lain. Nando hanya bisa berharap tanpa ada kepastian.
"Cintaku tulus untukmu, tapi aku sadar cinta tak harus memiliki."
Perlahan Nando bangkit dan mengambil kayu kecil yang ada di sampingnya. Ia mulai menulis ukiran indah di pasir pantai itu.
My Lovely Lina
Nando memandang sendu hasil karyanya. Karya yang tak pernah bisa abadi dan akan terhapuskan kala hujan menyapa dan angin pun seakan ingin menghapus ukiran nama itu. Nando pun tersenyum getir dan mengabadikannya dengan memotret hasil karyanya sebelum ia pergi meninggalkan tempat itu.
_________
Malam pun tiba. Lina hanya berdiam diri dalam apartemennya. Lina berjalan menuju balkon dan menikmati pemandangan malam kota Bogor itu. Ia melihat bintang yang selalu saja berjajar tiga yaitu Mintaka, Alnilam dan Alnitak. Ia sangat kagum dengan ketiga bintang itu yang terlihat berdekatan atara satu dengan yang lain, tapi nyatanya jarak mereka terbentang sangat jauh. Seperti itulah rasa yang Lina jabarkan. Rasa cinta yang terlihat mudah tuk di gapai. Namun, lika - liku selalu membentangi dan memberi jarak yang sulit tuk di sandingkan.
Lina ingin menggapai ketiga bintang itu dan mendekatkan satu sama lain. Sama halnya dengan perasaan yang ia miliki. Ia ingin membuka lagi dan menyatukan lembaran lama dengan lembaran baru dan melilitnya menjadi satu kesatuan yang serasi. Menjalin cinta dengan Inani Adiwijaya tanpa ada penghalang lagi. Namun, rasa psimis selalu menghantui Lina. Ia takut, jika kisah cintanya kembali ternodai seperti dulu. Ia sudah rapuh dan tak mau semakin rapuh lagi.
Cukup sudah ia bersedih, walau nyatanya air mata masih saja setia menghampiri di saat - saat tertentu, tapi tak apalah. Belajar dari Mintaka, Alnilam dan Alnitak yang terlihat serasi dan menyatu walau nyatanya tak seperti itu. Tersenyum untuk memulai lembaran baru, itu lebih baik.
TBC.
Follow my ig
@herlitaamalia30