Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 30



Semilir angin sejuk menerpa wajah cantik Lina. Lina merentangkan tangan dan menikmati hembusan angin yang beradu dengan deru ombak yang kian menambah kesan bising di alam terbuka. Ya, Lina kini tengah berada di pesisir pantai. Mengisi waktu luang di waktu libur. Lina tak mau hanya untuk berdiam diri saja bila libur seperti ini. Ia ingin melepas penat dan mengosongkan segala memory suntuk dan menyisakan lembaran baru.


"Lina...."


Merasa namanya terpanggil, Lina pun menoleh dan ia terkejut bukan main dengan kehadiran Inani. Ish, Lina sebal, tapi di lain sisi ia sangat senang atas kehadiran cinta pertamanya. Mungkin saja dunia memang sempit, karena pada dasarnya Inani seperti maghnet baginya. Di situ ada Lina, tentu saja Inani akan muncul begitu saja.


"Ini bukan jam kantor, Pak." Lina memejamkan mata sembari menetralkan degup jantungnya yang mulai maraton.


Inani terkekeh dan mendekat pada Lina. Memeluk erat tubuh ramping Lina dengan begitu posesif. Lina terlonjak kaget dan spontan tubuhnya menegang. Ia memegang erat dan meremas tangan Inani yang bertengger manis melingkar di pinggang dan perutnya.


"Biarkan seperti ini dulu," ucap Inani sembari bertopang dagu pada bahu Lina.


Lina hanya diam membisu, lidahnya terlalu kelu untuk menanggapi perkataan Inani. Ia tak berontak dan mulai menikmati suasana syahdu itu. Lina merasa ada cairan yang mengalir deras membasahi bahunya. Inani menangis? Oh, ada apa ini?


"Nani," panggil Lina dan berusaha menoleh sembari melihat wajah Inani.


"Jangan melihatku! Aku malu, Lin." Inani semakin mengeratkan pelukannya.


Lina sesak bukan hanya karena pelukan Inani, melainkan juga karena suasanya yang menurutnya pilu itu. Entah apa yang ada di pikiran Inani? Lina tak akan tau itu.


Lina Diary.


Angin sejuk menyapa dengan syahdu


Deru ombak seakan menambah kesan ramai


Suasana haru bagaikan melodi klasik yang


merobek ulu hati


Menciptakan rasa sakit yang begitu menyayat


Pelukan menghapus jarak, tapi rasanya hati


tetap dibatasi oleh tameng cerita usang masa lalu


Kau menangis entah apa sebabnya?


Aku lara dan itu semua karena kaulah alasannya


You Are The Reason.


Lina mengusap pelan rambut Inani walau nyatanya sedikit kesusahan. Inani menangis dalam diam yang seolah meresapi rasa sakit kala mengingat perlakuannya pada Lina di waktu dulu. Inani ingin memiliki Lina seutuhnya. Ia sangat yakin, gelora cinta yang Lina miliki telah mengikat dan menjeratnya saat ini. Ia sangat - sangat mencintai Lina. Ingin jujur dengan perasaannya, tapi lidah masih sangat kelu.


Aku ingin sekali mengatakan tiga kata ini


'l love you' tapi rasanya aku belum siap. Inani membatin.


"Kau kenapa?" tanya Lina yang masih setia mengusap rambut Inani.


Dengan berat hati, Inani melepas pelukan itu yang nyatanya mampu membuat Lina kehilangan. Lina merasa kecewa, tapi tak apalah. Inani pun memutar tubuh Lina agar menghadap padanya. Mata merah dan sembab tengah Lina teliti dalam diam. Menerawang jauh layaknya mencari sumber informasi yang membuat Nani-nya menangis.


Lina mengusap dengan sayang sisa air mata yang masih mengalir di pipi Inani. Inani pun memegang ke dua tangan Lina.


Kenapa baru sekarang kata itu terlontar? Apa Inani tak pernah tau perasaan Lina? Lina sedari dulu ingin sekali mendengar itu semua, walau nyatanya badai kepiluan yang selalu ia rasa. Lina menunduk, air matanya pun tak mampu lagi ia bendung.


"Ke ... kenapa baru sekarang kata itu aku dengar?" tanya Lina yang entah pada diri sendiri atau Inani.


Inani tersenyum miris. Ia rasa dirinya patut di sebut pendosa. Bodoh memang, jika mengingat cerita lalu. Cerita putih abu - abu yang menjadi kelabu dalam kisah anak remaja. Menjalin cinta dengan iblis seperti Shabil dan menyia - nyiakan gadis lugu bak jelmaan bidadari Surga.


"Maaf, aku terlambat menyadari," ucap Inani sembari mengecup pelan dahi Lina.


Entah apa yang membuat Lina tiba - tiba mendorong tubuh Inani menjauh? Rasanya ada banyak batasan yang memisahkan hati mereka. Sakit hati, ya Lina mungkin masih menyimpan dua kata itu.


"Kau terlambat menyadari semua ini. Namun, aku pula sudah sadar bahwa kau terlalu sulit untukku raih." Lina mundur dan menciptakan jarak semakin lebar di antara keduanya.


"Lina...."


"Jangan mendekat!"


Inani tak pernah bisa untuk menjauh. Bahkan ia belum bisa mendekat pada hati Lina yang sudah rapuh itu. Raga memang selalu bisa Inani jangkau, tapi tidak dengan hati. Ingin menghapus kisah usang itu, tapi terlalu banyak memory sedih yang sudah melekat permanen dalam jiwa masing - masing.


"Lina, aku ingin kau di sisiku," ucap Inani dengan wajah teduh.


"Apa kamu Lupa, Nani? Bukannya dulu kau yang memintaku untuk menjauhimu? Kenapa kamu terlalu egois?"


Lina langsung berlari meninggalkan Inani yang hanya bisa berteriak memanggil namanya. Lina semakin kecewa kala tau bahwa Inani sama sekali tak berniat mengejarnya. Terlalu sakit bukan?


__________


Alex kini tengah berada di kedai kopi bersama Julian, sahabat lamanya. Ia meminta pada Julian untuk menemani weekend yang memang saja ia rencanakan jauh - jauh hari. Untung saja si Dea tidak menempel padanya terus. Alex ingin bicara empat mata dengan Julian seorang tanpa ada pengganggu makhluk seperi Dea.


Dua cangkir kopi telah terhidang manis di meja mereka. Rasanya Kafein mampu merenggangkan pikiran dan mengalihkan sebentar saja pikirannya yang berkecamuk, menjurus pada Dea.


"Tumben amat, Lex?" gurau Julian.


Alek pun menatap Julian lalu berkata. "Jul, aku ingin mengejar kembali cintaku!" titah Alex yang sontak membuat Julian mengaga tak percaya.


"Maksudnya Lina?" tanya Julian hati - hati.


Alex tersenyum kikuk yang sontak saja langsung mendapat jitakan dari Julian. Julian tak habis pikir dengan sahabatnya satu itu. Mau dia kemanain tuh Dea? Julian geleng - geleng kepala kala mengingat dulunya Alex sangat menyukai Alina Putri. Sekarang juga rasa itu masih sama, tak kurang sama sekali, malah semakin besar saja.


"Sakit, ****!" celutuk Alex yang kesalnya bukan main.


Julian tersenyum sinis. "Biar ingatan kamu kembali. Kamu itu sudah ada Dea yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupmu,"


Alex terdiam. Ia merenung kala memikirkan statusnya saat ini. Menjadi tunangan orang lain dan sebentar lagi akan menjadi seorang suami. Ck, suami? Bagaimana bisa? Cinta Alex hanya untuk Lina seorang. Entah apa yang membuat dirinya begitu tertarik pada Lina hingga saat ini?


"Aku tak mencintainya," ucap Alex melemah.


"Setidaknya belajar dulu mencintai. Karena, cinta itu datang tanpa permisi," cekutuk Julian berusaha menasehati temannya itu.


Alex tersenyum miris sembari menatap langit - langit kedai itu. Entah sampai kapan takdir mempermainkan?


TBC.