Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 31



Lina kembali ke apartemen dengan berderai air mata. Terlalu sakit mencintai Inani. Terlalu rapuh, karena masih saja setia berharap. Apa yang tersisa saat ini? Tidak ada, hanya ada sakit ... sakit dan sakit.


Mengukir kisah nyatanya tak seindah anganan. Mencoba kuat, tapi tetap saja terlihat rapuh dan menyedihkan.


Sesampainya di apartemen, Lina langsung merebahkan diri di ranjang. Matanya menelusuri langit - langit kamar. Namun, pikiran telah menerawang tinggi menuju imajinasi semata. Merangkai kisah dengan sejuta pengandaian. Seandainya kisah rumit ini tak pernah terjadi. Seandainya dirinya tak pernah mengenal cinta Inani. Seandainya takdir tak menjeratnya seperti itu. Seandainya pengandaian itu nyata. Sayang sekali, realita tak semanis ekspestasi.


Perlahan mata sembab itu tertutup dengan sendirinya, karena rasa kantuk tengah menghampiri Lina. Rasa lelah membuatnya beristirahat sejenak memasuki alam mimpi. Huft, jika mimpi itu datang dengan indah, Lina tak ingin bangun dan ingin selalu menikmati indahnya dunia mimpi. Melupakan sejenak masalah pelik yang terjadi.


_________


Inani menatap gusar pantulan dirinya di cermin. Hidupnya memang masih tertata rapi. Namun, tidak dengan hati. Hatinya sudah berantakan akibat ulah pemilik buku diary bermotif bunga sakura itu. Ia terlanjur jatuh hati dengan Lina. Ingin sekali ia memiliki, tapi susahnya bukan main. Mengingat perlakuan dirinya dulu yang keterlaluan terhadap Lina seketika membuat Inani tersenyum miris.


Ia bodoh, karena dengan lancangnya pernah mengatakan pada Lina untuk menjuhinya. Sekarang apa? Lihatlah, ternyata karma memang benar ada. Inani tersenyum seolah mengejek diri sendiri. Betapa rapuhnya dirinya saat ini.


"Aku hanya ingin dirimu, Lina." Inani tersungkur di lantai dan menjambak rambutnya dengan frustasi.


Kenangan indah di mana saat ia menghampiri Lina yang mengaduh kesakitan di dapur, saat tangan Lina terkena goresan gelas. Kenangan di mana saat ia memeluk tubuh mungil Lina di tengah derasnya air hujan. Dan, kenangan saat ia mendengan alunan syahdu nyanyian yang tengah Lina dendangkan dengan judul You Are The Reason. Nyanyian yang saat ini ia sadari, bahwa secara tidak langsung Lina mengungkapkan perasaan kepada dirinya. Sungguh, semua memori itu berputar bagaikan lakon drama di serial tv.


"Kenangan itu mungkin sebagai tamparan untuk hati ini," monolog Inani lagi.


Inani bangkit dan menuju nakas untuk mengambil sesuatu. Diary bermotif bunga sakura tengah ia raih dan ia peluk dengan eratnya. Butiran air mata kembali membasahi wajah tampan itu. Mengingat betapa berharganya buku kecil itu. Di dalamnya terukir indah perasaan seorang gadis yang ditulis dengan tinta biru. Buku yang selalu membuatnya dihantui oleh rasa bersalah yang amat mendalam. Buku yang bahkan memberi memori yang sungguh menyayat hati, sebagai luka perpisahan lama yang masih setia ia jaga sampai saat ini.


Dear Kenangan


Waktu menyisakan pilu


Senandung rindu yang kini bisa terobati


Namun, cerita dulu berbanding terbalik dengan cerita


saat ini


Menyisakan luka yang amat mendalam


Luka yang diri ini torehkan dengan sendirinya


Lihatlah! betapa bodohnya aku


Membuang pergi cinta tanpa berpikir


Dan sekarang, mengemis cinta yang telah aku buang


Kenangan bersamamu amatlah manis


Namun, bisakah masa depan ini lebih indah dari itu?


Manis, tapi membuatmu pilu


Aku dan kamu nyatanya belum sempurna menjadi


kita


Inani Adiwijaya.


Lembar demi lembar telah Inani buka. Ia sama sekali tak pernah bosan untuk membaca rangkaian kata yang terukir indah di dalam sana. Membaca yang kadang membuatnya tersenyum. Namun, jika mengingat kenyataan, seketika membuat ia menangis.


Masih menikmati suasana syahdu, tiba - tiba saja bunyi ponsel membuyarkan segala lamunan Inani. Inani langsung menyambar ponsel yang berada di atas nakas dan menggeser dengan pelan icon berwarna hijau itu. Itu adalah telepon dari Nando.


"Halo ...." ucap Inani mengawali.


"Kamu apain Lina, hm?" tanya Nandi di sebrang sana dengan nada ketus.


Inani mengerutkan dahi. Ada apa dengan Nando? Kenapa tiba - tiba ia bertanya tentang Lina? Huft, ingin sekali ia menekan icon merah untuk mengakhiri panggilan. Namun, ia sadar saat ini Nando sedang marah besar terhadapnya. Maka dari itu, ia urungkan niat untuk mengakhiri panggilan.


"Maksudnya apa, Nan?" tanya Inani tak kalah ketus.


"Aku lihat Lina nangis pas mau masuk apartemen, pasti ini ulah kamu," ucap Nando dengan sarkasnya.


Inani menghembuskan napas kasar. Jangan kau lupakan Inani, bahwa saat ini Lina sudah resmi menjadi tetangga baru Nando. Perlahan tapi pasti, Inani menceritakan semuanya pada Nando. Nando terlihat sangat geram kala mendengar cerita dari Inani.


"Dasar Ba*****. Kamu itu ngerti nggak sih kalau Lina masih sayang banget sama kamu?" tanya Nando tersulut emosi kala sudah mendengar penjelasan panjang lebar yang sudah Inani lontarkan.


"Ia aku ngerti kok," jawab Inani dengan lemahnya. Jika sudah begini, maka Inani akan diam. Nando adalah sahabat yang akan memberi seribu saran dan sejuta dukungan bila sudah serius seperti ini.


"Kenapa nggak di kejar tadi?" tanya Nando dengan ngegas. Biarlah, sekali - kali Inani harus dikerasi seperti ini, supaya otaknya sebagai seorang pria bisa berjalan dengan baik kala menghadapi situasi pelik dengan seorang gadis.


"Emang harus dikejar, Nan?" tanya balik Inani yang sontak membuat Nando di sebrang sana memaki, menyebutkan satu - satu nama hewan di kebun binatang.


"Bodoh, ya iyalah. Satu lagi, kenapa nggak terus terang aja sih bilang l love you, hah?" teriak Nando yang suaranya melebihi toa Masjid.


Inani meringis ngilu dan spontan menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Grogi, Nan."


Demi langit dan bumi, kini Nando sudah naik pitam dan mengeluarkan jurus andalannya. Jurus yang nantinya dapat merusak kaca jendela. Inani harus mendapatkan semprotan jurus itu, karena sudah berani membuat Nando marah dengan beribu emosi.


"MAKAN TUH GROGI. MAKAN PULA TUH GENGSI. LIHAT AJA, DALAM WAKTU DEKAT INI KALAU KAMU NGGAK BISA MILIKIN LINA. MAKA, MAAF! AKU NGGAK SEGAN - SEGAN NIKUNG."


Setelah itu Nando langsung mematikan panggilan. Ia terlalu jengah dengan sikap sialan yang Inani miliki. Berbagai umpatan tengah menggema di dalam kamar apartemen Nando. Sedangkan di kamar Inani, beribu doa tengah ia haturkan pada Sang Pencipta. Asa benarnya semua perkataan Nando tadi. Mungkin ia terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaannya. Seketika ia sadar, bahwa gengsi tak membuat kenyang. Justru dengan gengsi akan membuat dirinya kehilangan semuanya. Dan, jangan lupakan perkataan Nando yang terakhir kalinya. Ia akan menikung Lina? Wah, yang benar saja. Ia takkan memberi sepeser pun celah untuk Nando merebut Lina darinya.


Lina adalah hidupku


Lina adalah napasku


Lina adalah alasan bahwa aku bisa merasakan


ketar ketir pahitnya sebuah pengorbanan rasa cinta.


TBC