Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 17



Part ini spesial Lina POV


Cahaya mentari pagi menyeruak masuk melalui celah jendela kamarku, sehingga mau tidak mau mata ini terbuka dengan malasnya.


Mengantuk, ya itulah yang masih diri ini rasakan. Tapi, mau bagaimana lagi?


Malam yang menenangkan telah tergantikan dengan pagi yang indah. Jadi, bagi siapapun itu tak akan menyia-nyiakan hari yang berharga ini. Terlebih diriku, yang harus pergi menuntut ilmu untuk bekal menuju masa depan yang sukses.


Perlahan-lahan aku mulai mengumpulkan sisa-sisa kesadaranku yang masih tertinggal di alam mimpi.


Bicara soal mimpi, entah mengapa tadi malam rasanya mimpi itu sungguh menyakitkan. Aku bermimpi, jika harus pergi selamanya dari kehidupan Inani.


Inani ....


Nama itu masih saja tersimpan dalam memory ini. Kapan aku bisa menerima kenyataan, jika ia takkan pernah bisa digapai?


Sadar ....


Aku sudah sadar dari semua mimpi yang selama ini mempermainkan perasaanku sendiri. Mimpi yang diri ini ciptakan dengan sendirinya, tanpa sadar aku terjebah di dalamnya. Sungguh, mimpi itu sangat menyakitkan. Mimpi untuk bisa mendapatkan cinta Inani.


Seharusnya aku sadar dari dulu, seharusnya aku tahu diri, nggak mungkin seorang Inani Adiwijaya menjadi milik Alina Putri. Tapi, bukankan tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini? Sudahlah, mungkin emang saatnya aku melupakan dia dalam hidupku, toh dia juga nggak pernah peduli dengan perasaan ini.


Tapi, jujur saja ini sangat sulit bagiku.


Sulit, namun hanya ini pilihan terbaik untuk diri ini dan dirinya. Semoga ia tetap bahagia dengan pilihannya. Dan, semoga aku bisa ikhlas dengan keadaan ini.


Aku tersenyum kecut, ketika arah pandangku tertuju pada diary yang selalu menjadi tempat untuk mencurahkan segala keluh kesal, suka duka dan perjuangan mendapatkan cinta dari seorang Inani Adijaya. Ku ambil diary yang bermotif bunga sakura itu, lalu ku buka lembaran demi lembaran dan terhenti, ketika sampai pada bagian tengah diary itu aku mengambil sebuah foto yang menampilkan wajah rupawan Inani. Tak terasa air mata ini sudah menetes tanpa diminta. Air mata ini pun jatuh membasahi wajah Inani dalam foto itu.


Tekadku sudah bulat, bahwa aku akan melupakan dia sebisa mungkin.


Tanganku terulur mengambil sebuah pena bertinta biru dari atas nakas. Perlahan tangan ini menuntun pena itu untuk menuliskan beberapa rangkai kata di lembaran diary itu.


Bandung, 19 Januari 2020.


Dear Inani.


Kenyataan itu selalu pahit. Namun, sebisa mungkin aku akan menerimanya.


Cinta memang tak pernah bisa dipaksakan, namun rasa terkadang datang begitu saja tanpa diminta.


Mungkin kau benar, bahwa mencintai dirimu adalah sebuah kesalahan besar. Untuk itu bantu aku melupakan bayangan dirimu dalam benakku.


Ku harap, jarak juga bisa membantu diri ini. Jarak itu menyakitkan, namun semakin kita saling menjaga jarak, perlahan-lahan bayanganmu semakin memudar. Ku harap, waktu pula dapat membantu diri ini,  membantu menghilangkan semua bayanganmu dari hidup ini tanpa ada sisa yang tertinggal.


Semoga kau bahagia dan semoga aku juga bahagia dengan keputusan ini. Keputusan yang kuharap dapan membuang semua luka ini bersama segala kenangan yang pernah ku lalui bersamamu. Kau bahagia, aku pun bahagia. Selamat tinggal, Nani ku. Cukup sampai disini kisah Dear Inani.


Alina Putri.


"Lina ..."


Suara bang Raka menggelegar tepat di saat aku menutup diary itu. Aku menatap lekat setiap inci diary itu sebelum meletakkan di nakas.


"Goodbye," ucapku pelan dan langsung berlalu meninggalkan diary yang bermotif bunga sakura itu.


Aku membuka pintu dan langsung saja di hadiahi oleh tatapan tajam bang Raka. Ku lihat penampilan bang Raka sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Sedangkan aku? Masih terbalut dengan piyama tidur motif Doraemon. Aku menyunggingkan senyuman yang memperlihatkan deretan gigiku yang putih. Bang Raka bernapas gusar sembari mengacak rambutnya frustasi.


"LINA INI UDAH SIANG DAN KAMU BELUM MANDI."


Aku meringis ketika bang Raka berkata dengan nada tinggi yang menyiratkan pemuda itu tengah kesal padaku.


"Sepuluh menit! Lina akan siap," ucapku pelan sembari memelas pada bang Raka.


"Lima menit!" sergah bang Raka dengan raut wajah datarnya. Sungguh, saat ini bang Raka sangat kesal padaku.


"Delapan menit," ucapku bernegosiasi berharap bang Raka mau menyetujuinya.


"Hm." 


Bang Raka berdehem mengiyakan penuturanku, lalu melangkahkan kaki menjauh dari kamarku. Aku menutup pintu kamar dan langsung saja bergegas menuju kamar mandi.


Entah bagaimana caranya mandi secepat ini, dan sekarang aku sedang menatap pantulan diriku di kaca. Lumayanlah, cantik dan perfect.


___________


Aku dan bang Raka sudah sampai di sekolah. Aku menunggu bang Raka yang sedang memarkirkan motor ninjanya. Seketika mata ini menangkap sosok yang beberapa hari ini selalu ku hindari. Ia menatapku dalam diam dan seketika membuat diri ini membeku. Waktu pula seakan terhenti mendukung suasana kalut yang tercipta antara diri ini dan dia. Tidak! Aku tidak boleh seperti ini, aku selalu goyah hanya dengan menatap matanya saja. Aku sangat rindu dengan sosok itu. Namun, aku harus sadar, jika rinduku ini hanyalah rindu belaka yang tak pernah bisa diobati oleh sosoknya. Hanya memandang dari kejauhan saja yang dapat ku lakukan.


Entah hanya perasaanku atau apa, Inani seakan berjalan mendekat ke arah diri ini berpijak. Langkah itu semakin mengikis jarak yang ada. Ia berhenti tepat di depanku dan hanya menyisakan jarak dua langkah saja. Aku menatapnya dengan intens. Ada rasa kecewa yang diri ini rasakan, ketika berada di dekatnya. Hati ini pun merasakan sakit yang luar biasa. Mengapa mendekat lagi? Bukankah menjauh yang kau inginkan? Lalu kenapa?


Aku melihatnya tersenyum manis padaku. Namun, pandangan matanya menyiratkan kesenduan. Sungguh, aku tak mengerti dengan maksud Inani.


Inani mencoba meraih kedua tanganku. Tapi, secepat kilat pergerakannya terhenti oleh perkataan bang Mbin.


"Jangan sentuh Lina!"


Bang Raka langsung menggandeng tanganku dan melangkah pergi menjauhi Inani. Aku melihat wajah bang Raka yang tengah menahan amarah. Siratan kebencian terpancar dari matanya. Ku mohon bang, jangan pernah membenci dia! Dia tak pernah salah dengan semua ini. Tolong! Jangan rusak persahabatan kalian hanya gara-gara diriku.


Dalam langkah ini, aku mencoba memandang Inani. Ia juga tengah memandangku dalam jarak yang semakin menjauh.


___________


Bang Raka melepas genggaman tangannya, ketika melihat Adel dari kejauhan. Aku pun sudah mengetahui hubungan yang terjalin antara Adel dan bang Raka. Sungguh, diri ini sangat bahagia, ketika melihat bang Raka bahagia dengan pelihan hatinya, Adel. Terlebih Adel adalah sahabat karibku. Biasanya rasa iri muncul begitu saja, ketika melihat kebersamaan dan keharmonisan yang terjalin antara bang Raka dan juga Adel. Ah, lucu bukan? Aku iri dengan abangku sendiri.


Aku melihat bang Raka yang tengah berjalan menghampiri Adel. Andai aku juga bisa merasakan hal itu dengan orang yang ku cintai. Tapi sayang, itu cuma seandainya.


Mencoba tegar dalam menghadapi kenyataan. Itulah yang harus ku lakukan. Langkah demi langkah untuk membelah keramaian yang diciptakan siswa siswi pagi ini dengan tujuan utamaku, yaitu menuju kelas.


Langkah ini terhenti, ketika mendengar suara yang sangat familiar di indra pendengaranku.


"Maksud Kamu apa ngambil buku diary itu dari aku?"


"Aku ngambil diary itu supaya Inani benci sama Lina."


Jantungku berpacu dua kali lebih cepat. Suara Alex dan Shabil. Apa maksud dari semuanya? Aku semakin menajamkan pendengaranku dan mengintip ke arah mereka berdua.


"Kamu sudah bikin Lina sakit hati, Shabil" teriak Raka dengan tatapan murka.


"Kamu sendiri gimana, hm? Kamu sudah mencuri diary itu dari rumah Lina. Gimana kalau Lina tahu kebusukan mu? Mungkin dia akan menjauh dari kamu sama kayak dia ngejauhin Inani."


"Lina nggak akan pernah tau!" ucap Alex dengan yakin.


Kecewa ...


Satu kata itu yang saat ini tengah memenuhi otakku. Sungguh, aku tak menyangka Alex seperti itu. Di mana Alex yang ku kenal itu? Alex yang selalu ada menemani diri ini saat dalam keterpurukan. Orang yang aku percaya, nyatanya menusukku dari belakang. Aku menangis pilu, kenapa semua ini terjadi dalam hidup ini? Baru saja aku mencoba untuk pulih dalam keterpurukan dan sekarang aku menerima kenyataan pahit lagi.


"Dasar penghianat," ucapku sarkas sembari mengusap air mataku dengan kasar.


Alex dan Shabil sama-sama terkejut dengan kehadiran diri ini. Aku melihat Alex yang ingin melontarkan perkataan, namun aku buru-buru melangkahkan kaki menjauh dari mereka.


Lina ...


Berkali-kali Alexmeneriaki diriku. Namun, tetap saja aku tak akan berhenti.


Ku urungkan niat untuk memasuki kelas dan berpindah tujuan pergi ke taman belakang sekolah.


Aku mendudukkan tubuhku di kursi panjang yang ada di taman itu sembari menangis sejadi-jadinya. Semua keluh kesalku telah tumpah bersamaan dengan derasnya air mata ini.


Aku melihat ada seseorang yang tengah menyodorkan sekotak tisu padaku.


"Kalau nangis itu bawa tisu," ucap Nando sembari duduk disamping ku.


Nando mengusap air mata ini dalam diam. Aku terharu dengan apa yang Nando lakukan. Sedalam itukah rasa cintanya terhadapku? Entahlah yang jelas diri ini takkan pernah bisa membalasnya.


"Makasih, Nan." Aku menatap sayu pada Nando. Nando pun tersenyum simpul sembari mengacak gemas rambutku.


"Aku akan selalu ada disamping mu. Aku kan abang ke dua kamu yang harus jagain kamu juga kan selain Raka?," ucap Raka yang sukses membuatku salut dengan sosok itu. Sosok yang sebagian besar orang menganggapnya bodoh, kini menjelma bak malaikat di hadapan seorang perempuan.


"Kuy, aku antar ke kelas!" ucap Raka mengulurkan tangannya. Dengan senang hati aku menyambut uluran itu.


Saat di perjalanan menuju kelas, tak sengaja kami berpapasan dengan Inani. Inani memandang kami dengan malas. Pandangan mataku pun bertemu dengan mata tajam Inani. Sebenci itukah Inani pada diri ini?


"Minggir! Kalau pacaran jangan di jalan!" sergah Inani sembari berlalu dari hadapan ku dan juga Nando. Nando mengepalkan tangannya kuat-kuat ingin menyusul langkah Inani, tapi secepat kilat aku menahan lengannya. Aku menggelengkan kepalaku memberi pengertian pada Nando.


Aku tersenyum kecut, ketika mengingat wajah Inani yang menyiratkan kebencian yang amag mendalam pada sosokku.


Dear Januari.


Bulan yang menjadi puncak kesedihan. Bulan yang telah memberi warna abu-abu dalam hati ini. Lara di bulan Januari sungguh menyakitkan, namun juga memberi suatu pelajaran berharga dalam cermin kehidupan. Cinta tak harus memiliki. Sayang tak harus sampai. Rasa tak harus terbalaskan. Dan, dia tak harus menjadi milikku. Entah apa yang akan terjadi nantinya. Namun, aku ingin tetap menyimpan memory indah di bulan Januari. Aku berharap, jika kisah ini nantinya akan berakhir bahagia tanpa adanya luka yang tertinggal.


Alina Putri.


Aku memasuki kelas itu dan mungkin ini terakhir kalinya aku menginjakkan kakiku di kelas ini. Aku memiliki niatan untuk pindah dari sekolah ini. Sekolah yang memiliki banyak kenangan di dalamnya. Mungkin ini jalan terbaik yang dapat diri ini tempuh, untuk melupakan Inani dan kenangannya.


Adel dan Dea langsung menghambur dalam pelukanku. Mereka berdua menangis terisak, mungkin mereka sudah mengetahui perihal kepindahanku.


"Kenapa pindah?" tanya Dea yang masik terisak.


"Iya Lin. Kok kamu tega sih mau ninggalin kita?" Adel pun ikut menimpali.


"Nggak papa. Suatu saat nanti pasti kita akan bertemu lagi," ucapku yang juga ikut menangis. Sungguh, berat rasanya meninggalkan sahabat sebaik mereka berdua.


"Hua, kok sedih ya?" tanya Dea entah pada siapa.


"Lebih sedih aku, bodoh. Aku mau ditinggalin dua orang yang sangat-sangat akucintai, hiks ...!" sambung Adel. Kasihan juga si Adel yang harus rela berjauhan dengan bang Raka. Tapi mau bagaimana lagi, ini juga atas usulan bang Raka.


Alex menuju ke arah kami bertiga. Ia menyiratkan Dea dan Adel untuk pergi meninggalkan kami berdua. Mereka pun menurut saja. Aku menatap malas pada Alex.


"Lin ...."


Aku hanya diam saja, enggan untuk menjawab panggilan Alex.


"Lin, maafin aku!"


"Nggak perlu minta maaf, justru aku yang berterimakasih, karena kamu telah ngecewain aku," jawabku dengan pedasnya. Aku sudah terlanjur sakit hati pada Alex.


"Maaf Lin, sekali lagi aku minta maaf!"


Alex pergi begitu saja. Ada rasa sedih juga, ketika melihat Alex. Apakah aku terlalu berlebihan? Entahlah.


_____________


Semua urusan kepindahanku sudah beres. Tinggal menunggu hari esok aku dan bang Raka akan berangkat menuju Kanada. Kami berdua akan pindah dan melanjutkan pendidikan di Kanada yang kebetulan di negara itu ada sanak saudara yang mau membantu kami.


Aku bergegas menuju kantin untuk menyusul Adel dan Dea. Suasana kantin cukup riuh, olokan demi olokan terdengar. Aku dibuat penasaran dengan apa yang telah terjadi.


Dasar cewek munafik. Sok polos.


Ngaca dong! kelakuan kamu itu udah bikin malu seangkatan.


Sialan. Bisa-bisanya kita punya teman kayak dia. Ih, jijik aku.


Ini cewek punya otak nggak sih? Jangan-jangan otaknya kosong lagi.


Sadar woi sadar, nggak mau ya dengan kelakuan mu itu?


Macam gila saja. Jijik deh.


Kamu perempuan atau apasih? Bisa-bisanya pergaulan mu itu bebas banget? Minum bir, ngerokok. Jangan-jangan kamu juga udah pernah tidur sama cowok ya?


Sungguh, Seorang Shabil dipermalukan. Entah apa yang telah terjadi, yang jelas aku merasa sangat iba pada keadaan Shabil yang hanya bisa tertunduk lesu di lantai kantin itu. Penampilannya pun sangat memprihatinkan dengan beberapa tumpahan makanan di bajunya. Aku mendekati Shabil dan berdiri tepat dihadapannya. Semua orang hanya diam menyaksikan tingkahku. Ku ulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan. Perlahan dia menerima uluran itu dan tanpa disangka-sangka dia mendorong tubuhku dengan kuatnya, aku tak mampu menopang berat badan dan langsung saja terhuyung jatuh ke lantai. Tak sampai di situ. Shabil dengan gesit langsung mencekik leherku, dan membuat aku kesulitan untuk bernapas.


"Aku mau kamu mati! Gara-gara kamu, semuanya hancur!" ucap Shabil sarkatis. Aku hanya bisa meneteskan air mata, sungguh sakitnya sangat luar biasa.


Seisi kantin pun kembali riuh. Sebagian besar siswa siswi membantu diriku agar terlepas dari Shabil.


"SHABIL ...!"


suara yang sangat familiar mengantar diri ini dalam kegelapan.


____________


Author POV.


"Nan!" panggil Nando menghampiri Inani.


"Kenapa, Nan?" tanya Inani penasaran.


"Makasih udah nyelamatin Lina," jawab Nando yang seketika membuat Inani tersenyum getir. Entah mengapa, jika menyinggung soal Lina, dirinya merasakan bimbang.


"Sama-sama." Inani langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Nando.


"Inan, tunggu!"


"Apalagi Nan? Aku mau balik!" ujar Inani dengan malasnya. Sungguh, kehadiran Nando membuat hatinya semakin gusar. Apalagi ia mengingat, jika Nando memiliki hubungan lebih dengan Lina. Padahal sebenarnya Inani salah kaprah mengenai hal itu.


"Besok Lina dan Raka berangkat, kamu mau ikut kita nganterin Lina dan Raka ke bandara?" tanya Nando dan langsung di jawab gelengan pelan oleh Inani.


"Nggak, aku sibuk."


"Kamu jangan keras kepala, Nani! Turuti apa kata hati kamu, bukan ego. Aku harap besok kamu ke bandara, jangan sampai menyesal di kemudian hari. Ingat itu!"


Nando memegang pundak Inani sekilas, memberi pengertian pada sahabatnya itu, agar tak menyesal di kemudian hari. Inani tau betul maksud ucapan Nando. Apa iya dia harus datang? Apa benar, dia telah mencintai Lina? Jika semua benar, lantas apa yang harus ia lakukan? Lina akan pergi jauh darinya. Tapi, bukannya Lina dan Nando tengah menjalin kasih. Argh, Inani sangat frustasi.


____________


Hari ini adalah hari keberangkatan Lina dan Raka menuju Negeri Pecahan Es, Kanada.


Lina sangat terharu, ketika melihat sahabatnya berkumpul mengantar keberangkatannya menuju bandara.


Adel, Dea, Bob, Nando dan juga Alex pun ikut hadir. Mereka semua tengah dilanda kesedihan, terutama Lina yang harus meninggalkan sahabatnya itu. Keinginannya pun takkan pernah terwujud, mengharap kedatangan Inani di sini. Ia melihat ke segala arah. Namun nyatanya, sosok yang dicari-cari memang takkan pernah datang. Lina tersenyum kecut, ketika Rakamengelus rambutnya dengan sayang.


Pengumuman keberangkatan terdengar nyaring di indra pendengaran mereka. Lina dan juga Raka berpelukan pada sahabat-sahabatnya itu.


Adel menghambur ke pelukan Lina sembari terisak.


"Aku sayang sama kamu. Jangan pernah lupain aku!" ucap Adel dan langsung di hadiahi senyuman getir oleh Lina.


Kini, giliran Dea yang maju memeluk erat sahabat karibnya itu.


"Kamu jahat Lin! Akusedih banget nih. Awas aja, kalo kamu lupa sama aku!" Dea berucap dengan nada mengancam. Sementara Lina, ia hanya bisa tersenyum getir.


Lina juga memeluk Nando cukup lama.


"Jaga diri baik-baik! Don't forget me!" Nando berbisik pelan dan semakin mengeratkan pelukannya. Pelukan pertama dan terakhir. Lina pun mengangguk pelan dalam dekapan Nando.


Setelah berpelukan pada Nando, Lina memeluk Bob.


"Jangan lupain si Jawas ini yaa!" ucap Bob mengelus rambut Lina dengan sayangnya.


Terakhir, Lina berdiri di hadapan Alex.  Lina langsung memeluk erat Alex. Alex pun membalas pelukan itu.


"Makasih untuk waktunya selama ini. Makasih karena telah mencintai diri ini. Makasih untuk semuanya, Lex." ucap Lina menangis pilu.


Sesekali Alex mencium pucuk kepala Lina dengan sayangnya.


"Aku yang makasih. Karena kamu udah mau singgah di dalam hati ini. Jaga kesehatan yaa! Jangan lupa kabari aku setiap saat! Love you full, Alina."


Lina melepaskan pelukan Alex. Berakhir sudah semuanya. Lina dan Raka berjalan menjauhi rombongan itu dengan meninggalkan secarik kenangan. Semua menangis pilu melihat kepergian Lina dan Raka.


Lina menghentikan langkahnya, dan langsung membuat Raka bingung. Lina  berbalik melihat para sahabatnya dan ia berlari ke arah mereka. Mereka semua bingung, ketika melihat Lina.


Dengan napas yang tersengal, Lina berdiri di antara Nando dan Alex. Lina menyodorkan diary motif bunga sakura  miliknya itu pada Nando dan Juga Alex.


"Aku titip diary ini pada kalian berdua. Tolong! Kasih diary  ini untuk Inani sebagai kenangan terakhir dari aku." Nando pun menerima diary itu sembari mengangguk pelan.


"Makasih, aku pergi ya!" Lina kembali berjalan menjauhi sahabat-sahabatnya.


Akhirnya, pesawat yang membawa Lina dan Raka menuju Negara Kanada sudah lepas landas. Di saat itu pula Inani datang dengan berlari kencang menuju rombongan sahabatnya yang tengah menyaksikan pesawat itu terbang di udara.


"LINA!" teriak Inani sembari menjatuhkan diri ketika melihat pesawat itu telah jauh dari arah pandang mata Inani.


Terlambat sudah  Inani menyadari perasaannya selama ini. Perasaan cinta yang amat mendalam untuk Lina. Inani hanya bisa menangis pilu, dan hanya penyesalan yang tersisa. Dan, sebuah buku diary telah Nando sodorkan pada Inani. Inani menerima buku itu dan memeluknya dengan erat.


Hanya penyesalan yang ku dapat.


Hanya kebodohan yang di sayangkan.


Hanya kenanganmu yang bisa menemani.


Hanya diary ini yang tersisa.


~Inani


Dear Inani


You are the reason