![Dear Inani [You Are The Reason]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/dear-inani--you-are-the-reason-.webp)
Haruskah aku membagi keluh kesalku pada orang lain?
~Lina~
______________
Lina berjalan lesu menuju parkiran. Pandangannya mengedar ke penjuru tempat itu, mencari keberadaan seseorang. Siapa lagi kalau bukan abangnya, Raka. Tapi, hasilnya nihil. Tidak ada Raka di mana-mana.
Bingung? tentu saja Lina bingung. Apakah Raka sudah pulang duluan? ah, rasanya tidak mungkin. Mana mungkin Raka tega meninggalkan dirinya. Tapi, kalau di lihat-lihat motor Raka memang sudah tidak ada di tempat parkir. Artinya, sosok Raka sudah tidak berada di area sekolah.
"Huft ... macam adik tiri saja kau Lina," dumel Lina.
Terus Lina harus apa? Lina bingung, di lihat juga teman-temannya sudah pada pulang. Yang tersisa hanyalah para human yang tak di kenal oleh Lina. Ingin naik angkot juga tak punya uang. Harus jalan kaki, masa jalan kaki sih? rumah Lina jaraknya lumayan jauh dari sekolah, bisa-bisa sampai rumah Lina jadi teler.
"Berpikir Lina. Ish, kok otak ku jadi buntu gini ya?" oceh Lina sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Otak tak bekerja, tinggal meratapi nasip, dan alhasil Lina terpaksa berjalan kaki menelusuri jalanan yang cukup ramai. Semangat untuk diri sendiri. Tapi panas banget, capek lagi, huaaa bang Raka tega banget ama Lina. Hiks ... hiks ...., tagisan batin Lina.
Lina terus saja melangkahkan kakinya membelah keramaian jalanan siang itu. Tiba-tiba saja, pikirannya berkecamuk melambung tinggi entah kemana alurnya. Intinya, dalam memory-nya hanya tersimpan satu nama, yaitu Inani. Inani? kenapa harus dia yang selalu memenuhi otaknya?. Setiap kali terlintas bayangan itu, hanya membuat Lina sakit hati. Namun, rasa cinta terkadang mengalahkan rasa sakit itu. Lina percaya, jika suatu saat nanti Inani dapat menjadi miliknya. Tapi, ia juga tak yakin, jika kepercayaan diri itu akan membuahkan hasil.
Terlalu larut dalam pikirannya, membuat Lina tidak fokus pada jalanan. Dari arah yang berlawanan, seseorang tengah mengendarai motor dengan kencangnya. Namun, Lina ya tetap Lina yang terlalu asyik bergulat dengan pikirannya. Alhasil ...
"Lina awas," teriak seseorang yang tengah berlari kencang ke arah Lina.
Lina langsung saja menoleh ke arah sumber suara itu. Sedetik kemudian, Lina memfokuskan pandangannya ke depan.
"Kya ....," teriak Lina yang langsung menutup kedua matanya.
Srettt ... brak ...
Tubuh Lina lemas tak berdaya di dalam pelukan Junbas. Ya, Nando lah yang tengah menyelamatkan Lina. Walaupun begitu, mereka berdua mendapatkan luka. Lina di kaki kanannya karena terkena srempet ban motor, sedangkan Nando di bagian tangan karena melindungi tubuh Lina, agar tak mencium aspal.
"Lin, kamu nggak papa?" tanya Nando khawatir, karena sedari tadi Lina hanya diam. Bukannya menjawab, Lina malah menangis dalam diam. Entah kenapa pikirannya kembali berkecamuk.
Kini bukan hanya Inani saja dalam pikirannya, melainkan sosok kedua orang tuanya juga.
FLASHBACK ON.
"Hore sebentar lagi ayah dan bunda pulang," teriak Lina kecil dengan bahagianya.
"Iya dek. Eh, coba tebak mereka bawa oleh-oleh apa?" tanya Raka kecil pada sang adik.
Lina kecil tampak berpikir keras dan ketika menemukan jawabannya, Lina kecil tersenyum gembira, "Pasti Lina di belikan boneka Tedy Bear kesukaan Lina." Lina kecil sangat antusias mengucapkan hal itu.
"Kalau abang pasti di belikan buku dongeng yang banyak banget," balas Raka kecil berseri.
Ocehan keduanya pun berhenti ketika mendengar bunyi telfon rumah yang menggelegar di ruangan itu.
Tululut ... tululut ...
(Anggap aja suara telepon rumah)
Raka kecil berlari menuju tempat telepon itu, Lina kecil pun membuntuti abangnya.
"Halo," ucap Raka kecil menerima panggilan yang entah itu dari siapa. Sementara Lina kecil, hanya bisa mendengar abangnya bicara.
".........."
"Nggak ... nggak mungkin. Kamu pasti bohong. Hiks ... hiks ..."
"........."
Raka kecil langsung menutup telepon itu. Ia menangis pilu. Sementara Lina kecil, hanya menatap Raka kecil dengan bingungnya.
"Bang kenapa? kok Abang nangis?" tanya Lina kecil dengan polosnya. Sementara Raka kecil, ia langsung sadar, bahwa adiknya sedang bersamanya. "Ayah bunda," ucap Raka kecil yang langsung memeluk Lina kecil dengan eratnya.
"Kenapa Bang? mereka nggak jadi pulang?" tanya Lina kecil lagi sembari melepaskan pelukan Raka kecil.
"Me ... hiks ... mereka pulang hiks ... tapi gak pulang ke hiks ... kerumah hiks ... mereka pulang ke atas."
Raka kecil menjatuhkan tubuhnya ke lantai, sembari menenggelamkan kepalanya di kedua lutut. Raka kecil bingung harus menjelaskan seperti apa pada adiknya. Raka kecil sangat terpukul dan tidak percaya, bahwa kedua orang tuanya sudah tiada, akibat kecelakaan yang terjadi, ketika kedua orang tuanya dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Bang. ke atas mana? Bicara yang jelas," tutur Lina kecil.
Raka mengangkat kepala menghadap Lina kecil yang masih setia berdiri menanti jawaban. "Ayah bunda kecelakaan dek. Me ... mereka meninggal. Hiks ... hiks ..." Lina kecil langsung ambruk mendengar penuturan Raka kecil. Mereka berdua memang anak kecil dengan usia sebelas dan dua belas tahun. Tapi, mereka sudah mengerti akan hal itu.
FLASHBACK OFF.
"Lin. Oh, Lina." Nando menggoyang pelan tubuh Lina. Sesaat kemudian, Lina sadar dalam alam nyata.
"Eh. Kita di mana?" tanya Lina bingung, karena seingatnya terakhir kali mereka berada di jalanan.
"Kita di Klinik. Kamu sih dari tadi kayak mayat hidup. Sadar, tapi jiwanya entah ke mana," tutur Nando yang tidak percaya dengan sikap aneh Lina.
"Oh!"
"Cuma oh? Astaga ini bocah!" dengus Nando.
"Ya, terus harus ngomong apa?" tanya Lina dengan polosnya.
"Lin. Kamu itu sebenarnya kenapa sih? Aku dari tadi bingung lihat kamu diam, tapi air mata kamu keluar terus," tanya Nando dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan Lina.
"Em. Aku tadi shock dan tiba-tiba saja pikiran ku teringat tentang kejadian enam tahun lalu, waktu ayah sama bunda kecelakaan. Aku takut, nasib ku kayak mereka. Aku takut ninggalin bang Raka seorang diri. Makasih ya Nan, kamu udah nyelamatin aku. Kalau kamu nggak ada mungkin aku udah--"
"Hust. Jangan di terusin. Makin ngelantur deh," sergah Nando memotong perkataan Lina. Lina hanya tersenyum simpul sembari menyeka air mata.
"Lin. Aku mau ngomong serius sama kamu."
"Apa?" tanya Lina penasaran.
"Kamu tadi mikirin apasih? sampai-sampai kamu nggak fokus liatin jalanan."
"Eh, nggak kok. Aku cuma mikirin tugas," dusta Lina.
"Kenapa kamu nggak jujur aja sih Lin? Aku udah tahu kok apa yang selama ini kamu pikirin. Lewat buku diary itu, aku sudah menemukan jawabannya," batin Nando.
Nando sudah tahu semuanya. Tahu, jika Lina tengah menyukai sahabatnya, yaitu Inani. Ia tahu Lewat buku diary milik Lina yang tak sengaja dibuka olehnya tadi, ketika Lina masih sibuk ditangani oleh para perawat tadi.
"Maksudnya?"
"Kamu suka kan sama Inani?" tanya Nando.
"Apa? Gk mung--"
"Lina. Aku udah tahu semuanya. Jadi, jujur aja sih Lin," ujar Nando memotong ucapan Lina.
Sementara Lina, ia sangat bingung harus berkata apa lagi. Kini, di kepalanya mulai bermunculan banyak pertannyaan. Bagaimana bisa Nando tahu semua itu? kenapa bisa hal ini terjadi? dan masih banyak lagi teka-teki yang entah sembunyi dimana jawabannya.
Lina Diary.
Apakah aku harus berkata jujur? tak jujur juga akan percuma, jika dia sudah tahu tentang hal ini. Lalu, bisakah aku menceritakan keluh kesalku pada orang lain? keluh kesal yang selama ini aku rasakan, ketika aku mencintai dirimu, Inani. Lelah, jika harus memendam semua ini. Namun, apakah pantas aku menceritakan semua ini? jujur saja, ini sungguh pilihan yang sulit.
~Lina~
"Sebenarnya aku me--"
"Astaga Lina. Kamu kenapa, Dek? Maafin abang yang nggak bisa jagain Lina. Maafin abang yang udah ninggalin Lina. Maaf," ucap Raka yang baru saja datang dan langsung memeluk Lina. Raka menangis terisak, ia sangat takut, jika Lina pergi meninggalkannya. Cukup! cukup sekali saja ia kehilangan orang yang sangat ia sayangi.
"Abang bodoh, Lin. Abang ceroboh. Aku memang abang terbodoh yang ada di dunia ini. Maafin abang, Lin." Raka sangat menyesal. Kenapa dia bisa seceroboh ini? Raka merasa tak berguna menjadi seorang kakak. Kakak yang tak mampu menjaga adik kecilnya.
"Bang. Udah dong, nggak usah nangis. Lina nggak papa kok." Lina berusaha meyakinkan Raka, bahwa dia baik-baik saja.
"Astaga, jadi nyamuk aku. Tega ya kalian berdua!" cibir Nando sok dramatis.
"Nan ....,"
"Iya. Kenapa?" tanya Nando heran dengan tatapan Raka. Tatapan yang sulit di artikan.
"Nan ....,"
"Apaan sih, Rak?"
"Nan ....,"
"Iya!"
"Nan ....,"
"Raka!"
"Hua ... makasih, Nan. Makasih, thanks, gomawo, arigato. Kamu udah nyelamatin adek aku. Aku hutang budi sama kamu, toa GB," ucap Raka yang tiba-tiba memeluk Nando dengan eratnya.
"Lepasin Rak! Aku bisa mati kalo kayak gini terus-terusan." Raka langsung saja melepaskan pelukannya pada Junbas.
"Ya maaf, aku terharu sih. Ternyata kamu berguna juga ya. Nggak sia-sia deh aku punya toa kayak kamu. Sekali lagi makasih Nan," ucap Nando yang sekali lagi ingin memeluk sahabatnya itu. Namun, Nando sudah menghindar duluan.
"Plis deh, jangan peluk lagi, Rak. Kamu itu bukan tipe aku. Satu lagi, soal hutang budi yang kamu bilang barusan, bisa di lunasi dengan uang kok. Tenang aja aku nggak pernah mempersulit."
Nando seakan tak percaya dengan penuturan Nando yang sangat konyol dan perhitungan sekali. "Nasib-nasib punya teman **** sekaligus perhitungan. Dasar si toa, inginku mengunyahmu," batin Mbin menahan kekesalan.
"Lina mau pulang!" seru Lina yang langsung ditatap oleh Raka dan Nando. Raka menganguk setuju, sedangkan Nando menatap lekat pada Lina seolah dapat dibaca oleh Lina maksud tatapan itu 'jujur saja Lina, persoalan tadi' sementara Lina, langsung menundukkan kepala.
______________
"Lina! ya ampun sayang," teriak Adel dan Dea bebarengan dan langsung saja menjatuhkan tubuhnya di ranjang milik Lina.
"Kamu nggak papa, kan?"
"Pasti sakit banget ya, Lin?"
Adel dan Dea memeluk Lina dengan eratnya. Mereka berdua sangat khawatir, ketika mendapatkan kabar tadi siang, bahwa Lina mengalami kecelakaan.
"Sakit sih sakit, tapi nggak terlalu sih, cuman masih belum boleh banyak gerak!" tutur Lina dengan lembutnya.
"Terus, orang yang nabrak kamu gimana?" tanya Adel penasaran.
"Katanya bang Raka, orang itu lagi mabuk. Bang Raka udah ketemu kok sama orang itu di kantor polisi," jawab Lina seadanya.
"Ya udahlah semoga orang itu dapat balasan yang setimpal, biar nggak seenaknya lagi kayak gitu," tutur Dea yang langsung mendapat tatapan tak percaya dari Adel dan Lina. Ya jelaslah mereka berdua tak percaya dengan ucapan Dea yang sangat bijak sekaligus langka itu.
Tok ... tok ... tok ...
"Lin. Ada Shabil tuh mau jenguk kamu. Em, Dea sama Adel bantuin abang di dapur ya? nyiapin minuman untuk anak anak GB," ucap Raka yang hanya terlihat kepalanya saja di balik pintu kamar Lina.
"Siap bos!" kompak Adel dan Dea yang langsung meninggalkan kamar Lina.
Setelah keduanya pergi, Shabil, Inani dan juga Raka memasuki kamar Lina.
Sementara Lina, hanya menatap kikuk ke arah mereka bertiga.
"Hay Lina, apa kabar? udah mendingan?" tanya Shabil dengan ramahnya.
"Udah tau kek gitu, masih di tanya apa kabar. Dasar cewek bodoh," batin Nando yang tak suka dengan ucapan Shabil.
"Udah mendingan kok," jawab Lina dengan kikuk.
"Lain kali hati-hati jangan ngelamun di jalan," ucap Inani menceramahi Lina.
"Lina mikirin kamu kali. Dasar Inani gila," batin Nando lagi.
"Iya. Makasih ya, kalian udah mau jengukin aku," jawab Lina dengan memfokuskan tatapannya pada Inani. Inani yang terus saja menggenggam jemari Shabil, membuat hati Lina sakit.
Lina Diary.
Kapan aku bisa merasakan genggaman itu? bagaimana rasanya genggaman itu? Pasti sangat hangat bukan? sungguh, kehadiranmu selalu membuat hati ini sakit. Namun, aku juga bahagia. Entah bagaimana kelanjutannya kelak? Akupun tak tahu, yang saat ini ku tahu hanyalah rasa cintaku padamu dan rasa sakit hati ini olehmu juga.
~Linani~
Dear Inani
You are the reason
Bersambung.........