![Dear Inani [You Are The Reason]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/dear-inani--you-are-the-reason-.webp)
Kau membuatku bahagia. Harapanku hanya satu, jangan jadikan semua ini sebagai kebahagiaan sesaat saja.
~Lina~
Setelah Inani dan Alex kembali berkumpul dengan para anggota GB. Tak lama kemudian, Lina datang menghampiri mereka dengan membawa nampan berisi beberapa gelas jus jeruk dan makanan ringan.
"Wah. Ini yang ditunggu-tunggu dari tadi!" seru Bob yang kegirangan dan langsung saja mencemot segelas jus jeruk.
"Benar Was, dari tadi aku nungguin saat-saat seperti ini. Mari serbu ...!" teriak Nando dengan mengeluarkan suara versi toa andalannya.
Raka hanya bisa melongo saja melihat si duo Curut tengah menyerang cemilan itu dengan lahapnya. Astaga, kayak nggak makan setahun aja, batin Raka keheranan.
Sementara Alex, Inani dan juga Lina, nasibnya sama persis dengan Raka, 'Hanya bisa melongo saja.'
"Kuy, makan!" seru Nando sembari terus melahap pie apel.
"Aku udah kenyang lihat cara makan kalian," ucap Inani sembari menyesap jus jeruk.
"Betul tuh. Kalian berdua itu kayak nggak makan setahun aja," cibir Raka.
Sementara Bob dan Nando, mereka hanya bisa nyengir kuda sembari menghentikan acara makan itu.
"Ya udah, Lina ke kamar dulu ya," ujar Lina yang sedari tadi hanya menjadi penonton saja.
"Em ... Lin udah mendingan lukanya?"
Deg.
Lina menatap Inani sekilas sembari tersenyum simpul. Hatinya sungguh tersentuh, ketika mendengar perkataan Inani yang menurut Lina itu adalah sebuah perhatian yang di tunjukkan Inani kepadanya. Pertanyaan sederhana, namun bisa membuat hati ini berbunga, batin Lina.
"Emang Lina kenapa?" Alex berlagak sok polos, seakan-akan ia tak tahu kejadian di dapur tadi.
"Iya nih. Kamu kenapa Lin?" giliran Raka yang bertanya sembari menatap khawatir ke arah Lina.
"Tadi jari Lina tergores pecahan gelas, Bang. Nggak parah kok. Ya udah, Lina ke atas dulu ya." Lina buru-buru meninggalkan ruangan itu, karena ia tidak mau terkena ocehan Raka yang super protektif kepadanya. Selain itu, Lina juga tak kuasa melihat sang pujaan hati secara terus-menerus. Bisa gila nanti dirinya.
Malam harinya, Lina dan juga Raka tengah melepas penat di balkon kamar Lina sembari menikmati pemandangan langit yang tengah dihiasi ribuan bintang. Sungguh indah ciptaan-Mu Ya Rabb.
Menurut Lina, saat-saat seperti ini merupakan momen yang sangat mengharukan. Bagaimana tidak? ketika melihat pemandangan indah nan cantik ciptaan Sang Kuasa, di tengah malam yang sunyi seperti ini. Lina selalu teringat dengan kedua orang tuanya yang sudah tenang di alam Surga.
"Sayangku, kok nangis sih?" tanya Raka, ketika melihat air mata Lina yang tiba-tiba saja turun.
"Lina rindu dengan ayah dan bunda," ucap Lina sembari terisak.
Raka langsung memeluk adiknya itu. Raka tahu betul perasaan Lina dan saat ini ia juga tengah merasakan apa yang di rasakan oleh adik semata wayangnya itu.
Raka Diary.
Aku juga merasakan apa yang kau rasakan, adikku. Hidup tanpa didampingi orang tua, ketika di usia kita yang masih belia. Memang sulit, tapi inilah takdir kehidupan kita. Biarkanlah ayah dan bunda tersenyum di alam Surga.
Tangisan Raka pun pecah, ketika melihat adiknya yang tegah terisak pilu dalam pelukannya. Seketika kesunyian malam itu telah tergantikan dengan isakan tangis kedua saudara itu. Mereka tengah memendam rindu yang amat mendalam pada kedua orang tuanya yang tengah tidur dengan tenang di Surga-Nya.
Pagi ini Lina sengaja mempoleskan make up sedikit tebal, karena mata Lina sedikit membengkak akibat menangis semalaman. Setelah dirasa cukup, sekali lagi Lina menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Tidak buruk dan perfect, batin Lina puas dengan karyanya.
Masalah penampilan selesai, kini Lina mengambil tasnya dan turun ke bawah untuk bersiap berangkat ke sekolah bersama abangnya, Raka
"Hay, manis!" sapa Raka, ketika melihat Lina yang tengah menuruni tangga.
"Juga, tampan!" balas Lina dengan cerianya.
"Ceria amat? Padahal tadi malam mewek," goda Raka menjahili Lina.
"Situ juga ikutan mewek, " semprot Lina tak mau kalah.
"Iya-iya. Ya udah, kuy berangkat keburu telat nih." Raka mengulurkan tangannya pada Lina, sementara Lina dengan senang hati menerima uluran tangan Raka.
Sesampainya di sekolah, seketika hati Lina menjadi mendung. Lina tak kuasa menahan air mata, ketika ia melihat dua sejoli tengah bercanda gurau sembari bergandengan tangan dengan mesranya. Siapa lagi kalau bukan Inani dan Shabil.
Satu ... dua ... tiga ...
Tess ...
Air mata Lina kembali turun, setelah semalaman suntuk ia menangis, dan sekarang menangis lagi. Buru-buru Lina menghapus air matanya, agar Raka tidak melihat semua itu.
"Bang. Lina ke kelas dulu ya," ujar Lina yang langsung pergi sebelum di jawab oleh Raka yang masih sibuk memarkirkan motor ninjanya.
"Astaga. Anak zaman now. Belum di jawab juga udah nyelonong duluan," cibir Raka.
***
"Guys. Kalian udah siap belum tampil?" tanya Adel pada Dea dan Lina yang baru saja memasuki kelas.
"Tampil? Apaan? Lah, apa sih?" tanya Dea yang langsung saja panik bukan main.
"Nyanyi lagu Bahasa Inggris!" seru Adel dengan semangat 45.
"Udah," jawab Lina singkat, padat dan jelas.
"Astaga. Aku belum hafal lagi. ******." Dea berkata dengan lesu. Secara, Dea paling susah yang namanya menghafal. Apalagi ini menghafal lagu Bahasa Inggris. Jangankan menghafal, mendengarkan saja Dea nggak tertarik.
"Eh. Lin, kok mata kamu bengkak? Habis nangis ya?" Adel menatap intens ke arah Lina. Sedangkan yang di tatap, langsung merasa risih dan langsung memilih duduk di kursi.
"Jawab dong, Lin!" kini Dea pun juga ikut mendesak.
"Gurunya datang tuh," jawab Lina enteng. Lina juga bersyukur, karena pak Daniel selaku guru bidang studi Sastra Inggris telah menyelamatkan dirinya dari pertanyaan Adel dan Dea.
Saat-saat yang ditunggu telah tiba, praktik menyanyi lagu Bahasa Inggris. Lagu pertama di bawakan oleh Alex. Alex menyanyikan lagu Westlife yang berjudul My Love.
Suara riuh tepuk tangan tengah menggelegar di dalam ruang kelas itu, setelah Alex mengakhiri lagunya. Dan kini giliran Lina yang akan membawakan lagu kedua.
Lina mengambil gitar dari tangan Alex. Setelah itu, ia mengambil posisi duduk di kursi yang tengah di siapkan di depan kelas.
"You are the reason-Calum Scott," ucap Lina menyebutkan judul lagu yang akan di bawakan olehnya.
Lina mulai memetik gitarnya ...
There goes my heart beating
Jantungku berdetak
Karena kaulah alasannya
I'm losing my sleep
Tidurku tak nyenyak
Please come back now
Kumohon, kembalilah
There goes my mind racing
Pikiranku berpacu
And you are the reason
Dan kaulah alasannya
That l'm still breathing
Aku masih bernafas
I'm hopeless now
Kini aku putus asa
I'd climb every mountain
Kan ku daki semua gunung
And swim every ocean
Dan ku renangi semua laut
Just to be with you
Demi untuk bersamamu
And fix what l've broken
Dan perbaiki yang telah ku lakukan
Oh, cause l need you to see
Oh, karena ku ingin kau tahu
That you are the reason
Bahwa kau alasannya
There goes my hands shaking
Tanganku bergetar
And you are the reason
Kaulah alasannya
My heart keeps bleeding
Hatiku terus terluka
And l need you now
Dan aku membutuhkanmu
If l could turn back the clock
Andai bisa kuputar kembali waktu
I'd make sure the light defeated the dark
Kan kupastikan cahaya kalahkan gelap
I'd spend every hour, of every day
Kan kuhabiskan seluruh waktu, setiap hari
Keeping you sate
Pastikan kau aman
Lina mengakhiri lagunya, ketika ia menoleh ke arah pintu, di sana tengah berdiri dengan sangat gagah keempat anggota GB. Mereka semua bertepuk tangan, mengapresiasi pertunjukan Lina yang luar biasa.
Lina tersenyum pada semua teman sekelasnya. Tak lupa pula ia tersenyum pada keempat anggota GB yang ternyata sedari tadi tengah menikmati pertunjukan Lina. Sekilas, pandangan Lina terfokus pada Inani.
Lina Diary.
Lagu ini kupersembahkan untukmu. Meskipun aku tahu, kau tidak akan pernah tahu semua ini. Kau mendengar lagu yang kubawakan ini, akupun sudah merasa bahagia. Bahagia karena secara tidak langsung, aku bisa mengungkapkan betapa cintanya aku padamu, lewat lagu ini. Karena , datangnya perasaanku ini adalah you are the reason.
"You are the best, Lina," teriak Alex sengaja mengalihkan perhatian Lina dari Inani.
"Terima kasih." Lina berdiri, berjalan menuju ke arah Alex untuk memgembalikan gitar milik Alex.
"Perfect, darl!" seru Alex pelan sembari mengerlingkan sebelah matanya. Sedangkan Lina, hanya menanggapi perkataan Alex dengan senyuman saja.
Alex Diary.
Aku tahu, lagu itu kau persembahkan untuk dia. Dan aku juga tahu, jika perasaanmu untuknya sangatlah besar. Tapi, bisakah kau mengakhiri semuanya? mengakhiri perasaanmu padanya. Untuk apa dia sebagi alasanmu? jika kau selalu saja menangis karenanya. Tidakkah kau lelah menangisinya? sungguh, jika aku menjadi dirimu, aku akan melupakan dia.
Lina Diary.
Entah mengapa perasaan ini tak pernah bisa hilang? aku sangat tulus mencintai dirimu. Walaupun terkadang aku sadar, kau sangatlah sulit, bahkan terkesan mustahil tuk kumiliki. Namun, aku akan tetap berjuang untuk membuatmu menoleh padaku.
Inani Diary.
Suaramu sunggu indah, seindah senyumanmu. Pertahankanlah senyuman itu, senyuman yang entah kapan aku menyukainya. Jangan pernah menangis, karena kubenci air matamu yang dapat memudarkan senyuman manis di bibirmu.
TBC