![Dear Inani [You Are The Reason]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/dear-inani--you-are-the-reason-.webp)
Meninggalkan banyak luka dan memulai lembaran baru.
~Lina~
_____________
4 tahun kemudian.
Inani memandang lesu gumpalan awan hitam yang siap menumpahkan tangisan. Empat tahun menanti Alina Putri, bukanlah hal yang mudah. Penyesalan kian bergentayangan di memory. Ingin menggapai, bahkan menjemput Lina di negeri Pecahan Es tersebut. Namun, apalah daya Kanada terlalu jauh tuk di singgahi. Terlebih, ia yang notabenya anak tunggal dari pasangan Herwin Adiwijaya dan Santi Adiwijaya, harus selalu stay di Indonesia. Kesibukannya saat ini ialah ngantor dan ngantor.
Setelah lulus SMA hingga lulus Kuliah, Inani langsung bekerja di perusahaan orang tuanya. Posisi saat ini ialah menjadi seorang CEO. Inani tiap hari selalu menyibukkan diri. Bayangan akan wajah Lina takkan pernah pudar. waktu seakan memang jahat, mengulur kebersamaan. Jarak nyatanya sungguh kejam, membatasi ruang lingkup dan jangkauan. Lemah tanpa Lina, tak berdaya karena keegoisan di waktu dulu. Menyesal pun juga percuma.
"Lina, aku memang bodoh. Aku nyia-nyiain gadis sebaik, kamu." Monolog Inani dengan berderai airmata.
Tak lama kemudian, datanglah Nando dan langsung mendudukkan diri di samping Inani. Nando pun menatap gusar pada sahabatnya itu. Ia prihatin dengan kondisi Nani. Namun, ia pula mengerti apa yang Nani rasa pula. Sebab, Nando pun lara ditinggal Lina.
"Eh, CEO kok jam segini nyantai?" tanya Nando mencairkan suasana.
Inani pun hanya memandang sekilas pada Nando. Nando pun kaget melihat Inani menangis seperti itu. Dalam sejarah catatan kehidupan Nando, ia baru dua kali ini melihat Inani menangis. Pertama, Inani menangis saat di Bandara empat tahun lalu. Dan saat ini, ia melihat airmata itu lagi. Apakah ini menyangkut tentang Lina? Nando menebak dan tepat sasaran.
"Nan, kenapa nangis? Lina? Kamu masih mikirin dia?" tanya Nando bertubi-tubi.
"Iya, aku masih setia mikirin penulis diary itu," jawab Inani sembari menerawang jauh pada langit hitam itu.
"Aku juga." Nando bernapas frustasi.
"Ngapain mikirin Lina? cuma aku yang boleh mikirin dia!" seru Inani tak suka dengan ucapan yang terlontar dari mulut Nando.
Nando pun mendelik tak suka. Ingin sekali ia mencakar wajah tampan milik Inani. Namun, ia harus bisa sabar menghadapi Inani. Bagaimana pun juga Inani yang terpilih menjadi belahan jiwa seorang Lina. Nando bisa apa? hanya bisa menerima kenyataan dan melupakan sejuta ekspestasi.
"Emang salah ya, aku mikirin Lina?" tanya Nando cemberut.
"Salah banget." Inani ngotot dan melotot.
"Salahnya apa?" tanya Nando usil.
"Lina mikik aku. Selamanya!" sergah Inani.
Nando hanya berdehem, ia malas meladeni Inani lagi. Nando mengambil ponsel dan tiba-tiba ia berfoto dengan Inani. Inani dalam posisi menunduk. Setelah melihat hasil, ia langsung memposting hasil foto itu tanpa sepengetahuan Inani.
Nando menulis Caption di foto itu.
Saat dekat dihindari. Saat jauh dirindukan. Itulah betapa hebatnya perasaan yang mudah goyah.
Dengan sekali klik, postingan itu langsung terkirim di beranda Instagram milik Nando.
Nando tersenyum melihat hasil postingan. Sementara Inani, ia hanya bisa memicingkan mata.
"habis minum obat, Nan?" tanya Inani, lebih tepatnya adalah sebuah ledeka.
"Iya, obat rindu." Nando terbahak kala melihat reaksi Inani yang kesalnya minta ampun.
"Terserah, aku mau balik ke kantor." akhirnya Inani berlalu meninggalkan Nando seorang diri.
Nando masih terbahak dan seketika ia membulatkan mata, kala nama Lina terpampang jelas memberi like pada postingan itu.
"Lina, astaga. Inani ....," teriak Nando memanggil Inani. Namun sayang, Inani telah berlalu.
Banyak foto-foto antara Lina dan Raka yang terposting. Semua foto berlatar belakang daerah Kanada. Tahun demi tahun, tak sekalipun ia dapat menemukan akun medsos milik Lina dan Raka. Namun, sepertinya nasib baik menyapa. Beberapa Menit lalu sebelum Nando memposting foto itu, Lina telah memfollow akun miliknya.
Nando tentu saja senang. Sederhana, tapi begitu istimewa bagi Nando. Tak ada yang berubah dari Lina, hanya saja kini Rambut Lina tak sepanjang lalu. Meskipun begitu, Lina tetap cantik dan malah sangat cantik bagi Nando.
_____________
Seorang CEO muda dan terkesan dingin bagi siapapun makhluk yang ada di dalam kantor tengah berjalan dengan langkah lebar. Inani, itulah dirinya. Ia terkesan dingin nan cuek, jika sudah memasuki dunia Kantor. Para karyawan pun banyak yang menunduk takut.
"Kenapa tiba-tiba ayah memanggil?" tanya Inani pada Bob yang notabenya sahabat sekaligus tangan kanannya.
"Anu, itu paman kayaknya sedang ada masalah." Bob menjawab dengan sopan. Bagaimanapun juga ini di kantor dan Bob harus profesional.
"Oke, dimana ayah sekarang?" tanya Inani lagi.
"Di lantai 7 tepatnya di ruang pribadi CEO," jawab Bob.
"Terimakasih infonya, Bob." Inani memegang pundak Bob dan langsung berlalu menuju tempat tujuannya.
Tidak butuh waktu lama, Inani sampai dan langsung membuka pintu tanpa permisi.
Inani langsung menghampiri dan menyapa sang ayah.
"Halo, Yah." Inani langsung duduk di sebrang ayah.
"Cari sekertaris baru," ucap Herwin dengan tegas.
Inani hanya bisa melongo dan tak tahu apa maksud dari sang ayah. Ia menggeleng pelan, bukan tak setuju, melainkan tak paham sama sekali.
"Kenapa, Yah? Kan sudah ada Shabil?" tanya Inani lagi.
"Ayah nggak percaya sama Shabil," ucap Herwin to the point.
Ya, memang sekertaris Inani adalah Shabil. Inani kasihan dengan kehidupan Shabil dan akhirnya ia memilih Shabil untuk menjadi sekertarisnya. Terkadang, pandangan Shabil membuat ia muak, namun entah mengapa ia tak ingin membiarkan Shabil menderita. Bagaimana pun juga, Shabil pernah memenangkan hati dan mengisi hari-hari Inani. Inani hanya ingin membalas budi.
"Kok ayah ngomong gitu?" tanya Inani.
"Percayalah dengan ayah, dan ayah mohon turuti kata ayah." Herwin menatap lekat manik mata Inani.
"Tapi, Inani kasihan dengan kehidupan Shabil saat ini, Yah. Shabil juga butuh biaya dan otomatis dia harus tetap bekerja." Jelas Inani panjang lebar. Entah membela atau apa?
"Ya sudah, turunkan saja jabatan Shabil dan minggu depan sekertaris baru akan datang."
Inani mengiyakan saja ucapan sang ayah. Namun, tanda tanya seakan muncul, siapa yang menggantikan Shabil? dan, secepat itukah ayahnya nencari pengganti sekertaris. Inani tahu betul, jika mencari sekertaris tak semudah membalikkan telapak tangan.
"Tapi, siapa sekertaris baru Nani?" tanya Inani lagi yang entah keberapa.
"Dia lulusan luar negeri dan keahlian yang dia miliki membuat ayah tertarik untuk menjadikan dia pendamping CEO. Jadi, ayah memberi penawaran untuk dia dan akhirnya dia mau." Herwin tersenyum simpul pada Inani.
Bersambung........
Dear Inani
You are the Reason.
_______________________