![Dear Inani [You Are The Reason]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/dear-inani--you-are-the-reason-.webp)
Jam istirahat pun telah tiba. Lina dengan lesunya merenggangkan otot - otot tangannya seraya menatap ke arah komputer. Lina bangkit dan berniat membeli makanan di mini resto yang ada di sebrang kantor. Namun, langkahnya terhenti saat Inani langsung saja menarik tangan Lina. Lina berontak dan tak habis pikir dengan bosnya satu itu.
"Maaf, Pak. Tidak seharusnya anda bersikap seperti ini terhadap bawahan!" seru Lina yang tak di hiraukan oleh Inani.
"Pak ... oh Bapak! Anda bisa dengar saya, kan?" tanya Lina dengan suara yang cukup keras. Namun, lagi - lagi Inani tetap cuek dan terus menuntun Lina memasuki lift pribadi khusus CEO.
Lina mendengus pelan dan melirik pada Inani yang berada di sampingnya dengan tangan yang masih setia menggandeng erat tangan Lina. Tampan, kata itulah yang tengah Lina ucapkan dalam hatinya berkali - kali. Lina sangat terpesona dengan Inani. Namun, bukan karena kondisi fisik yang Lina jadikan alasan. Entahlah, apa yang membuat Lina cinta mati dengan Inani? Yang jelas, rasa itu masih setia ada, walau nyatanya Lina selalu menepis rasa itu.
"Aku tahu, bahwa aku tampan." Inani berucap dengan percaya dirinya dan spontan, Lina kaget dan mengalihkan tatapannya dari wajah tampan Inani.
Inani terkekeh pelan dan langsung membawa Lina keluar dari lift. Para karyawan menunduk takut saat melihat atasannya yang berjalan dengan Lina. Sementara nasib orang yang menumpahkan kopi di kemeja Lina, ia sudah mengundurkan diri, sebab Inani adalah sosok pemimpin yang tak bisa di ganggu gugat pada setiap perkataan yang ia lontarkan.
Lina hanya menunduk malu ketika melewati para karyawan. Dalam hati, Lina merutuk pada Inani dan ingin sekali Lina memaki orang tampan itu. Tapi, lidahnya terlanjur kelu dan hanya bisa pasrah mengikuti langkah Inani.
"Masuk!" titah Inani ketika Lina hanya diam saja di depan pintu mobil.
Lina menatap Inani dengan raut bingung. Tanpa ba bi bu lagi, Inani membukakan pintu mobil dan langsung mendorong tubuh Lina agar masuk ke dalam. Lina cemberut dan langsung menggeser tubuhnya saat Inani memasuki mobil itu dan langsung mengambil duduk di sampingnya.
"Kita mau kemana?" tanya Lina tanpa menatap Inani dan mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil.
Hening, tak ada jawaban. Lina mengeram kesal dan langsung memukul lengan Inani. Inani menatap datar pada Lina. Lina semakin mengecutkan bibirnya yang membuat Inani ingin sekali membungkam bibir itu dengan bibirnya.
"Aku itu tanya sama kamu, Nani!" gerutu Lina dengan menatap tajam pada Inani.
"Kamu tanya sama aku atau tanya sama kaca mobil?" tanya Inani sembari menyisihkan helai rambut Lina.
Lina menepis kasar tangan Inani. Jujur saja, detak jantung Lina seperti orang yang sedang maraton. Lina memegang dadanya dan Inani melihat tingkah konyol Lina sembari tersenyum penuh arti.
Inani Diary
Cinta itu bisa dihilangkan dari bibir. Namun, lain halnya pada hati yang tak pernah bisa dibohongi. Aku takkan pernah melepas orang yang sangat mencintaiku ini. Biarlah aku bodoh di masa lalu, tapi aku akan berjuang mendapatkan cintamu kembali di masa ini. Itu janji seorang Inani Adiwijaya.
Mobil itupun sudah memasuki area restoran. Lina dan Inani keluar dan langsung memasuki restoran tersebut. Inani menggandeng erat tangan Lina dan membawanya le ruang vvip yang sudah di pesan Inani tadi. Rupanya Alex dan Dea sudah menunggu kedatangan mereka. Lina langsung memeluk erat sahabat keribnya itu. Sungguh, dengan bertemu Dea, Lina langsung melupakan kekesalannya pada Inani. Inani dan Alex berbincang mengenai hal bisnis, tapi sesekali Alex melirik ke arah Lina. Inani menyadari tatapan Alex terhadap Lina. Ada rasa tak suka yang terselip di hati Inani, tapi dia tak bisa berbuat apa - apa.
Pesanan pun datang. Ya, benar! Alex dan Dea yang sudah memesan menu makan siang, jadi Inani dan Lina tak perlu repot - repot lagi untuk memesan makanan. Mereka pun makan dengan lahapnya sembari bercanda gurau.
Selesai makan siang, mereka kembali ke kantor masing - masing. Lina pun kembali disibukkan dengan pekerjaan kantor, begitu juga dengan Inani. Tepat pukul lima sore, Lina pulang. Ia pulang dengan mengendap - endap, karena tengah menghindari Inani dan syukurlah ia berhasil menghindar dari Inani.
Lina berjalan dengan lesuh menuju apartemennya. Ketika ingin membuka pintu apartemen, Nando memanggil Lina dan langsung menghampirinya.
"Hy, Lin."
Lina menatap Nando sembari tersenyum manis. Saking manisnya, Nando tak ingin berpaling untuk menatap bidadari itu. Nando sangat terpesona pada Lina. Tapi sayang, Lina selalu dan selamanya menganggap Nando sebagai kakak kedua baginya.
"Halo Nan," sapa balik Lina.
Dalam hati Nando berdoa semoga Lina mau menemani dirinya nanti malam. Menemani untuk sekedar ngobrol dan bercanda gurau untuk sekedar melepas rindu semata.
"Mau nyamil bersama?" tanya Nando sembari mengangkat hasil belanjaannya di hadapan Lina.
Lina melihat belanjaan Nando yang sebagian besar berisi minuman soda dan Berbagai merk makanan ringan yang cocok sekali digunakan untuk nongkrong bersama. Lina langsung mengiyakan ajakan Nando, karena jujur saja ia sangat suka menyamil seperti itu.
Setelah itu, Nando pamit dan Lina langsung memasuki apartemennya. Lina bergegas mandi, karena badannya sudah lengket semua. Ia berendam dalam bathub sembari bersenandung kecil. Tiga puluh menit telah dihabiskan untuk berendam, Lina segera membilas diri di bawah guyuran shower. Lina keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian lengkap. Mini dress dengan warna Pink dasti telah melekat indah di tubuhnya. Lina memoleskan make up yang tak begitu tebal.
Lina duduk bersandar di sofa sembari memainkan ponselnya. Seketika, ia mengingat Raka. Seharian ini ia tak bertegur sapa dengan abangnya itu, walaupun lewat panggilan saja. Lina langsung menelfon Raka.
"Halo, bang Raka!" seru Lina antusias sekaligus bentuk kerinduannya terhadap abangnya itu.
"Iya sayang," jawab Raka di sebrang sana.
Sungguh, Lina langsung meneteskan air mata kala mendengar suara lembut Raka. Lina sangat merindukan Raka dan ingin sekali ia memeluk erat tubuh Raka, tapi itu semua hanya anganan semata.
"Lina rindu abang, hiks...." Lina terisak pilu dan itu sungguh membuat Raka juga bersedih.
"Sayang, jangan nangis! Kalau Lina sangat rindu abang, hari ini juga abang akan pulang ke Indonesia." Raka tak mau adiknya terus menerus bersedih, terlebih alasan Lina bersedih adalah dirinya.
"Nggak perlu, Lina tau abang juga sibuk di sana. Percaya saja, Lina baik - baik di sini," ucap Lina sembari menghapus kasar air matanya.
"Tapi Lina harus janji! kalau ada apa - apa, Lina harus cerita sama abang," peringat Raka dan langsung di iyakan oleh Lina.
"Iya bang. Ya sudah, Lina ada janji sama orang. Nanti lagi Lina hubungi ya," ucap Lina.
"Oke sayang. Bye!"
"Bye."
Lina langsung memutus sambungan dan Ingin melangkah menuju kamar, tapi langkahnya terhenti ketika suara bel apartement berbunyi.
Siapa lagi yang bertamu di jam seperti ini. Gerutu Lina.
**TBC.
Hayo. Belum ada yang mau nih request visual buat cast para tokoh? Author tunggu yaa**!
follow my ig
@herlitaamalia30