Dear Inani [You Are The Reason]

Dear Inani [You Are The Reason]
Part 5



Kau bilang, kau benci melihat air mataku. Namun, mengapa kau selalu membuatku menangis?


~Lina~


 


Setelah penampilan Lina usai, kini giliran Shabil yang akan membawakan sebuah lagu. Lagu yang menurutnya spesial, ia persembahkan khusus untuk Inani.


Shabil mengambil gitar di meja Alex. Setelah itu, ia memberi kode pada Inani untuk masuk ke dalam kelas itu. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Inani pun memasuki ruang kelas itu. Bob, Raka dan juga Nando kaget bukan main. Seisi kelas pun juga kaget.


"Eh, tuh anak ngapain? Kok masuk sih?" bisik Raka pada Bob dan Nando.


"Habis obatnya kali," jawab Nando enteng.


"Obat opo?" (obat apa?) tanya Bob dengan polosnya.


"CTM kalo nggak Pil Koplo," jawab Nando ngelantur dan langsung mendapat jitakan dari Raka.


Pletak ...


"Aduh, sakit." Keluh Nando sembari memegangi jidatnya.


"Makanya punya mulut sering-sering di Ruqiyah, jangan main ucap sembarangan," cibir Raka menceramahi Nando.


Dan ocehan ketiganya terus berlanjut sampai Inani mengucapkan sesuatu, barulah mereka bertiga diam.


"Sir. May l play the guitar for shabil?" (Pak. Bolehkah saya memainkan gitar untuk Shabil?) tanya Inani dengan sopan.


Lina menatap nanar ke arah Inani dan Shabil. Cobaan apa lagi ini? batin Lina.


Semua teman sekelas Lina hanya bisa melongo, menikmati adegan itu layaknya nonton drama tv.


 


"Okay, please," (Oke, silahkan,) jawab guru itu mempersilahkan Inani memainkan gitar untuk mengiringi lagu yang akan di bawakan oleh Shabil. Shabil dan Inani saling melempar senyum, dan langsung saja mereka berdua mengambil posisi. Inani duduk di kursi, sedangkan Shabil berdiri di sebelah kanan Inani.


Jreng ... jr ...


Suara petikan gitar Inani terpaksa berhenti, ketika terdengar suara Bob.


"Wait ...wait ....," (Tunggu ... tunggu ....,) ujar Bob berkali-kali.


Seisi kelas itu menatap Bob dengan heran. Kebanyakan dari mereka menatap sinis ke arah Bob, yang menurut mereka sangat mengganggu pertunjukan drakor dadakan ini.


"Eh. Punten. Anu?" (Eh, permisi. Anu?) Bob berpikir sejenak, bingung mau mengatakan apa.


 


"Eh, bahasa inggrisnya kita ingin masuk apa ya?" Bob berbisik pada Raka dan Nando.


"Tunggu! Kita rangkai dulu. Kan kalau kita itu we, kalau ingin itu need, terus—" perkataan Raka terpotong oleh ucapan Nando.


"Pak, kita mau masuk. Boleh ya?" ucap Nando, to the point.


 Sementara Raka dan Bob hanya bisa diam memandangi Nando, "Kelamaan kalian," cibir Nando.


"Kalau kelas kalian free, silahkan saja masuk," jawab pak Samuel.


Eh, astaga. Aku mikir sampai segitunya, tau-tau boleh pakai bahasa Indonesia, batin Raka kesal. Kemudian, mereka bertiga mengambil tempat paling belakang.


Inani mulai memainkan gitarnya lagi.


Jreng ... jreng ... jreng ...


"I'll be loving you forever" Westlife


 


Shabil perlahan-lahan mulai menyanyikan lagu itu.


I'll be loving you forever


Aku akan mencintaimu selamanya


Deep inside my heart you'll leave me never


Jauh dilubuk hatiku kau akan meninggalkanku, itu tidak pernah


Even if you took my heart


Bahkan, jika kamu mengambil hatiku


And tore it apart


Dan merobeknya terpisah


I would love you still forever


Aku akan tetap mencintaimu selamanya.


You are the sun


Kamu adalah matahari


You are my light


Kamu adalah cahayaku


And you're the last thing on my mind


Dan kamu adalah hal terakhir yang ada dipikiranku


Before l go to sleep at night


Sebelum aku tidur di malam hari


You're always round


Kamu selalu ada


When l'm in need


Saat aku membutuhkanmu


When trouble's on my mind


Saat masalah ada dipikiranku


You put my soul at ease


Kamu membuat jiwaku tenang


There is no one in this world


Who can love me like you do?


Siapa yang bisa mencintaiku seperti dirimu?


That is the reason that l,


Itulah alasanku


Wanna spend forever with you


Ingin menghabiskan selamanya bersamamu


Reff....


Hingga lagu berakhir.


Setelah lagu itu berakhir, pelajaran pun cukup sampai di situ. Di karenakan, semua guru harus menghadiri rapat.


Sedari tadi air mata Lina telah membanjiri pipinya. Lina tidak kuat, jika harus melihat pasangan kekasih yang sangat bahagia itu. Iri? ya, Lina sangat iri pada Shabil, iri karena perempuan itu sangat beruntung bisa mendapatkan cinta Inani. Sedangkan dirinya? apa yang dirinya dapatkan? perhatian, ya tepatnya perhatian sesaat. Ralat, bukan perhatian. Bagi Lina, sikap Inani kemarin hanya sebatas prihatin saja.


"Lin. Are you okay?" tanya Adel pelan. Sementara Lina, hanya menanggapi dengan senyuman kecil.


Tak ingin ada yang melihat dirinya menangis, Lina buru-buru mengambil kacamatanya dan langsung saja ia kenakan.


"Sayang, suaraku tadi merdu, nggak?" tanya Shabil dengan suara manjanya.


"Merdu banget sayang, aku aja sampai nggak percaya suara kamu semerdu itu," jawab Inani.


"Iya dong. Tau nggak? lagu itu khusus aku nyanyikan buat kamu sayang. Biar kamu tau seberapa besar cintaku ke kamu," ucap Shabil lagi.


"Iya. Makasih ya sayang. I love you."


"Love you too."


Lina tidak tahan lagi, jika terus mendengar ocehan dua insan yang tengah memadu kasih. Sudah cukup. Lebih baik Lina keluar dari kelas itu.


 


Lina langsung saja berlari kencang tanpa memperdulkan teriakan kedua sahabatnya, serta tatapan-tatapan aneh dari teman-teman sekelasnya.


 "Eh, Lina kenapa tuh?" tanya Nando yang sedari tadi memperhatikan gelagat Lina.


"Mungkin kebelet," jawab Raka santai sembari memainkan smartphone-nya. Sementara Nando, ia masih merasa aneh dengan sikap Lina, "Kok aneh ya? ada yang nggak beres nih. Entarlah aku selidiki," ucap Nando lirih yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.


 Lina terus berlari tanpa memperdulikan para siswa siswi yang berlalu lalang di sekitarnya. Kini, tujuannya hanya ada dua; pergi ke taman belakang sekolah dan menenangkan diri di sana.


 


Lina Diary.


Ketakutanku selama ini tengah terjadi detik ini juga. Ketakutan, jika kau hanya memberikan kebahagiaan sesaat di hidup ini. Jika aku bisa memutar waktu, aku tidak akan mau mencintaimu sebesar rasa yang kumiliki ini. Tapi, apa boleh buat? perasaan ini terlanjur ada dan sangat sulit untuk menghilangkannya. Menangis, apakah setiap saat kau akan membuatku menangis? Tolong hentikan semua ini, kumohon.


 


Sesampainya di taman, Lina langsung menjatuhkan tubuhnya. Tapi, ada sepasang lengan yang kokoh tengah menahan tubuh Lina, agar tidak ambruk ke tanah.


Siapa? dan mengapa? Lina hanya bisa diam dan membeku di tempat, tanpa berani menoleh ke arah orang itu. Cukup lama posisi mereka seperti itu, posisi di mana Lina sedang membelakangi orang yang tengah menahannya. Sedangkan, orang itu masih setia memegang tubuh Lina dari arah belakang.


Perlahan lahan, orang itu memutar tubuh Lina. Tatapan mereka saling bertemu. Tatapan yang mendalam dan penuh arti bagi diri mereka masing-masing.


"Alex?" hanya itu yang keluar dari mulut Lina. Sementara itu, Alex langsung saja menarik Lina ke dalam pelukannya.


Lina membalas pelukan itu dengan eratnya sembari menumpahkan tangisannya, mengeluarkan semua rasa sakit di dalam hati.


"Menangislah, jika itu akan membuatmu tenang," ujar Alex dengan mengelus rambut Lina dengan sayang. Hati Alex sungguh sakit melihat orang yang dia cintai menangis seperti ini. Menangis hanya untuk Inani yang bahkan tak pernah menoleh pada Lina.


 


Alex Diary.


Tetaplah terus berada dalam pelukanku, kau akan merasa baikan. Aku mohon lupakan saja dia, dia yang tak akan pernah tau sebesar apapun cintamu. Jika bisa, belajarlah mencintaiku. Aku akan mengganti tangisan ini dengan sejuta canda tawa. Tolong! jangan seperti ini. Hatiku juga perih melihat semua ini.


Nyaman. Itulah hal yang tengah di rasakan Lina saat berada dalam pelukan Alex. Setelah cukup lama menangis, Lina melepaskan pelukan itu.


"Maaf. Bajumu jadi basah." Lina menundukkan kepalanya, karena merasa tidak enak pada Alex.


"Apa? Oh, tidak masalah," jawab Alex canggung.


"Lin, aku mohon lupain Inani! Buat apa kamu menyimpan perasaan itu. Cuma buat kamu sakit hati?" ujar Alex sembari mengangkat dagu Lina dengan jari telunjuknya. Pandangan mereka pun kembali bertemu.


Aku juga pengen ngelupain dia, tapi aku belum bisa, batin Lina.


"Nggak semudah itu, Alex. Mungkin aku akan lupain dia, jika aku sudah menemukan penggantinya hiks ...hiks ...." air mata Lina kembali jatuh untuk sekian kalinya.


"Bagaimana dengan aku? Aku selalu setia nunggu kamu," ucap Alex meyakinkan Lina. Sedangkan Lina, hanya mampu menggelengkan kepala pelan.


Alex menarik napas dalam, lalu menghembuskan secara kasar, "Baiklah, kamu tunggu di sini!" Alex berlalu meninggalkan Lina yang masih tak percaya dengan ucapan Alex tadi.


"Lina!" teriak Inani yang entah dari mana datangnya. Sementara Lina, ia hanya menatap nanar ke arah Inani yang semakin mendekat padanya.


"Astaga Lina. Kenapa kamu nangis kayak gini sih? Kan aku udah bilang, kamu jelek kalau nangis. Jujur Lin, aku benci melihat air mata ini," tutur Inani panjang lebar sembari mengusap air mata Lina.


Kau benci melihat air mata ini, tapi kenapa kau selalu membuatku menangis? Lina membatin.


"Udah. Aku nggak papa kok," ucap Lina dengan menyingkirkan tangan Inani.


"Nggak papa berati ada apa-apa. Kenapa sih? Kamu bisa cerita sama aku," desak Inani.


Jangan mendekat lagi, jika nantinya menjauh lagi. Ini semakin menyulitkanku, teriak batin Lina.


"l'm okay. Em ... kamu ngapain disini?" tanya Lina mengalihkan pembicaraan.


"Oh, aku mau cariin bunga mawar buat Shabil. Kata Raka di sini banyak berbagai macam bunga."


Mata Lina mulai memanas, air matanya pun mulai berlomba lomba ingin keluar dari tempatnya. Shabil? Sungguh beruntung dirimu.


"Em, itu disana banyak bunga mawar. Ya udah aku pergi dulu ya. Bye." Lina langsung meninggalkan tempat itu, dengan membawa ribuan luka yang tengah bersemayam di hati.


 


Lina Diary.


Kenapa selalu luka yang kau berikan padaku? Apa arti perasaan ini? Jika selalu saja dibalas oleh sakit hati. Kau bilang benci melihat air mataku, tapi kenapa setiap kali kau membuatku menangis. Sungguh, aku mencintaimu. Dan sungguh, kau tak pernah menganggapnya.seiringnya waktu, aku mulai lelah. Tapi seirinya waktu pula, cinta ini semakin besar.


Dear Inani


You are the reason


TBC