
RASA cinta memang sesuatu. Bisa merubah malaikat menjadi iblis atau sebaliknya. Begitu lah yang terjadi pada sosok gadis mungil dengan body aduhai Rahayu Kinasti atau Ayu.
Cintanya akan Bayu kakaknya menjadikan dirinya seorang yang culas. Begitu banyak Ayu menciptakan skenario palsu hanya sekedar memuaskan hasratnya pada sang kakak. Dia bisa melakukan begitu banyak trik agar bisa selalu berada di sekitar Bayu. Walaupun sering di tolak oleh kakaknya Ayu akan memanfaatkan banyak kelebihannya dan kekurangan sang kakak.
“Yu, rumah tangga itu bukan hanya sekedar cinta, tapi saling menerima hal baik dan buruknya.”
“Tapi mas ...” Ayu menggantung ucapannya.
Ayu sadar berbicara dengan kakaknya tidak akan menyelesaikan masalah. Merebut hati sang kakak yang mencintai anak dan istrinya tidak semudah merebut kekayaan dan mencuri uang saku darinya.
Ayu memilih untuk berdiam diri dalam kegilaan hatinya. Selama masih bisa bertemu dengan sang kakak itu akan menjadi hal baik baginya.
Mengadukan masalah rumah tangga pada sang kakak pun bukan ide yang baik. Ayu sangat tau karakter Bayu, jika itu sudah menyangkut dirinya. Bayu bisa kalap dan main hantam dengan suaminya. Jika itu terjadi Ayu hanya akan mengkhawatirkan keselamatan kakaknya sendiri.
Sejauh ini seperti yang di katakan sang kakak 'selama suamimu tidak main tangan, berjuanglah mempertahankan rumah tangga. Itu hukumnya wajib bagi perempuan' “Jangan menyepelekan hal kecil, yu. Dalam rumah tangga justru hal kecil lah yang bisa menjadi penyebab hancurnya sebuah hubungan. Rumah tangga itu yang pertama buat mas”
Ayu terdiam sakit hatinya?
Seharusnya dia yang menjadi pertama bagi kakaknya. Dalam hatinya selalu memikirkan kakaknya namun ternyata dalam hati kakaknya hanya ada keluarga kecilnya.
Seperti menepuk air yang mengalir.
“Jadi aku yang kedua mas?” ucapnya lagi dengan suara parau.
“Yang kedua pekerjaan.”
“Aku...?”
“Yang terakhir.”
“Yaaaaaa....” lenguh Ayu kecewa.
“Bukan tidak mau menulis atau menambah pendapatan, Yu. Akan tetapi...”
“Maksudnya mas bukan menolak menulis tapi mas sibuk.”
“Nggak mau tau.” Ayu membuang wajahnya ke samping tidak ingin ada yang melihat tatapan matanya yang berubah kabur. Air mata meleleh begitu saja.
“Menulis tidak sesederhana seperti yang kamu maksudkan Ayu. Apalagi tulisan itu di publikasikan di media sosial dan aplikasi-aplikasi semacamnya!”
“Semua karya yang akan di publikasikan harus memenuhi standar sastra. Selain karya tulis itu harus asli juga harus menarik, Juga harus memiliki karakter cerita yang beralur jelas. Sementara mas nol dalam ilmu sastra dan tidak pandai berimajinasi.” Tegas Bayu menjelaskan.
“Tapi aku nemuin tulisan mas bagus kok.”
“Pembaca memiliki banyak mau, yu. Mas tidak akan mampu merebut hati mereka dengan hasil karya yang sembarangan. Lagi, di sana banyak penulis handal yang bakal mengkomplain tulisan mas yang tidak standarisasi.”
“Tapi mas kan hobi nulis!”
“Hobi menulis, tapi itu hanya hobi yang acak, bukan hobi yang mau mas tekuni.”
Bayu memang sudah memiliki hobi menulis sejak duduk di bangku SMA. Meskipun bukan seorang yang memiliki prestasi dalam menulis, namun tulisan Bayu sudah banyak mewarnai beberapa media massa lokal.
Lebih jelasnya menulis memang salah satu hobi Bayu. Namun itu hanya hobi yang berbentuk keisengan saja.
“Untuk apa tulisan seperti itu di masukkan ke aplikasi?” tanya Bayu dengan wajah enggan.
“Itu tidak lebih dari sekedar oret -oretan, yu.” Lanjutnya lagi.
“Pokonya mas harus nulis! Mulai sekarang mas harus menulis!"
Bayu hanya melihat Ayu sepintas lalu. Gadis kecil itu masih saja Sibuk dengan handphonenya, dia bahkan tidak ingin tau bagaimana warna ekspresi wajah kakaknya yang keberatan. Fokusnya benar -benar sudah di kuasai oleh handphone.
Huuuuuuuufffg....