
PAGI yang datang belum sempurna di sambut dengan merdunya suara kicau burung. Pedesaan memang memiliki ciri khas sejuk dan nyaman.
Tempat tinggal Bayu bukan tergolong pedesaan namun masih memiliki pepohonan yang rimbun dan anggun layaknya pegunungan.
Kota kecil tempat tinggalnya di kelilingi indahnya bukit barisan. Sehingga burung-burung masih begitu bebas berkelana juga oksigen masih di produksi dengan leluasa.
Keseruan Ayu pada layar handphone belum juga berakhir padahal hari sudah mulai terang.
TIN...!TIN...! TIN...!
Suara klakson mobil menghentikan Bayu dari pikiran kalutnya.
Dengan bergegas Bayu melangkah untuk menghampiri keributan itu.
"Hei *****! sudahi dulu klakson itu. Berisik!"
Ha ha ha...! "habis! sudah siang juga masih kelon. Mau berangkat jam berapa?"
Bayu melemparkan sendal jepit pada Aldi yang cengar-cengir menuruni tangga mobil. Pemuda Batak itu cuek dengan menangkap benda usang yang mengarah padanya.
"Jadi pergi ke muara duo?" tanyanya sembari mengambil tempat duduk di sebrang Bayu.
"Jadilah."
"Kopi...kopi...kopi..." teriak Aldi lantang menyindir Ayu.
Ayu meletakkan handphonenya di atas meja.
Aldi lelaki brengsek itu akan berkicau panjang lebar jika tidak cepat-cepat di layani. Pikir Ayu kesal.
"Yu, kamu di sini lagi. kalau suami mu itu tidak marah, kamu ke rumahku saja." kelakar Aldi saat Ayu muncul dengan dua gelas kopi tubruk kesukaan Bayu.
"Aku sudah ngopi yu! kembung nanti. Nggak usah di buatkan."
"Terlanjur!" jawab Ayu jutek.
"Iya terlanjur ya yu, terlanjur aku padamu."
"Heh! ***** kamu ke sini ada perlu sama aku apa sama Ayu?" timpal Bayu memotong keisengan Aldi pada adiknya.
"Tunggu."
Bayu mengernyitkan kening. Aldi begitu konsentrasi pada Ayu. matanya tidak berkedip sama sekali dan air liurnya seolah merembes keluar dari mulutnya.
"Menjijikkan!" kaki Bayu terangkat dengan refleks menendang Aldi.
"Ha ha ha ....!" Aldi berkelit dengan ganas namun tetap tidak mengalihkan pandangannya sampai Ayu benar -benar menghilang dari pandangan.
"Asem, cantik C*k!"
"Sudah punya suami dia."
"Diam njir, lagi menikmati ini."
"Ikutin sana kebelakang."
"Boleh..." Aldi dengan tidak sopannya melangkah masuk ke dalam rumah seperti maling.
"Heh!" Bayu menarik kerah baju Aldi dengan keras.
Ha ha ha...! Aldi tertawa lepas mengulangi keseruannya.
"Jam berapa berangkat?" tanya Aldi mulai serius. Kembali duduk dan menggapai rokok di atas meja.
"Ini mau berangkat."
"Sendiri aja?"
"Ayu ikut."
Mata Aldi langsung berbinar, "ikut aku,"
"Kagak! cari penyakit."
"Ayoklah."
"Katanya mau ke pabrik karet."
"Di tunda."
"Dasar tukang *****."
ha ha ha....!
"Mas!" terdengar suara wanita masuk ke dalam obrolan keduanya.
"Ayok sarapan sebelum berangkat. Adli juga noh, sebelum buka toko sarapan dulu."
"Siap!" Aldi langsung ngeloyor masuk mendahului Bayu.
"Dasar!" gerutu Bayu mengikuti langkah Aldi.
Aldi sahabat baru Bayu. Bisa di bilang Aldi adalah pegawai di tokonya.
Lelaki lajang dengan usia dua puluh lima tahun itu berasal dari Medan namun sudah cukup lama menetap di Lampung. Sangat cekatan dalam pekerjaan. Mencintai Ayu jiwa raganya sejak pertama kali datang. Dan tidak kecewa saat mendapatkan kenyataan Ayu sudah menikah.
"Jangankan janur kuning yang melengkung mau patah. Milik orang pun aku tidak peduli." ucapnya berkali-kali dengan logat Medan nya.
"Makan!"
Rupanya Ayu sudah tidak ada di tempat semula.
"Ke mana Ayu?" tanya Bayu pada Rara.
"Di kamar sama Al."
Pupil mata Aldi langsung berputar mengelilingi rongga matanya. Dengan gokilnya dia mengintip-intip setiap tempat tidak terkecuali di bawah piringnya.
"Cari apa?" tanya Bayu yang penasaran.
"Cari Ayu."
"Astagfirullah alazim, Ayu lagi ngamar!"
"Oh ya, bi mau pakai mobil mana?"
"Mobil Aldi."
"Terus Adli pakai mobil mana?" tanya Rara sembari mengambil dua gelas air putih untuk keduanya.
"Mana Ayu, mengapa nggak ikut sarapan?"
"Dia lagi siap-siap katanya kamu ajak."
"Mengada-ada, dia yang ngotot mau ikut. Sopo yang ajak dia? kurang kerjaan." Bayu meletakkan sendoknya di atas piring kosong. Sementara piring Aldi masih begitu penuh.
"Sudah?" tanya Aldi kaget. Betapa cepat temannya sekaligus bosnya itu makan.
"Makan itu yang ceper, kayak keong lambat." Bayu menimpali keterkejutan Aldi sembari menghabiskan segelas air putih yang di siapkan istrinya.
"Aldi kamu pakai mobil dinas, ya? soalnya mobil ini aku pakai. Nggak nyaman pakai mobil terbuka untuk perjalanan jauh."
Rara melemparkan sikat gigi pada suaminya. Melanjutkan menghampiri Al yang terbangun.
Aldi mengangkat tangan tanda setuju. Dia menikmati sarapan nasi goreng buatan nyonya rumah dengan rakus.
"Mumpung ada gratisan." Ungkapnya jujur.
"Siapa yang membuat nasi goreng mbak? Ayu bukan?"
Rara tersenyum. "Kamu tau Aldi, Ayu itu sudah memiliki suami dan sudah bahagia. Apa itu tidak jadi masalah buatmu?"
Aldi menggeleng, penekanan bahwa, "cinta itu tidak rumit mbak. Aku mau dia mau, tidak ada penghalang. Satu-satunya penghalang ku saat ini adalah Ayu mau apa nggak."
"Nggak mau ******!" Ayu keluar dari kamar depan pakaian yang sudah rapi. "Mana mas Bayu mbak?"
"Eh, manisku." Mata Aldi bersinar bagaikan bintang kejora. Dia menggosok-gosok pipinya dengan imut. "Sarapan yok sama Abang."
"Idih ogah." Ayu melesat menuju teras.
"Yu, sarapan dulu."
Bayu pergi entah ke mana setelah selesai makan, dan gosok gigi. Kemungkinan dia melihat toko mereka yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah induk.
"Kebiasaan nggak ngomong kalau keluar." Rara berbicara sendiri. Ngedumel tidak tentu.
"Sudah mbak aku akan ke toko. Biar urusan toko aku kerjakan selama mas Bayu pergi." Aldi menyeka bibirnya yang berminyak, menghampiri teras untuk menghabiskan kopi buatan Ayu yang masih tersisa.
Sebentar Aldi melihat Ayu yang berdiri memunggungi dirinya. Menghela nafas panjang.
Huuuuuuuufffg... mengapa aku begitu mencintai dia? Ayu oh Ayu l love you.
Ayu menoleh pada Aldi yang masih asyik menikmati punggung mungilnya. Hal itu sempat membuat Aldi salah tingkah tidak karuan dan memaksa Aldi segera pergi.
"Dasar dodol Garut!" Gerutu Ayu sarkas.