
Satu minggu sudah semua berlalu. Aktivitas Bayu normal seperti biasanya. Sebagai ayah yang baik, bekerja mencari Rizki dengan membuka toko kelontong bersama Aldi yang setia menemaninya dengan gigih. Selama satu Minggu itu pula Ayu tidak datang berkunjung ke rumah menampakkan batang hidungnya. Mungkin seperti janjinya, akan menjauh pergi. Pikir Bayu pada hatinya sendiri.
Pada pagi hari sebelum berangkat beraktivitas. Bayu memiliki beberapa jam waktu untuk bercengkrama bersama anak istri. Selepas sholat subuh, sembari menunggu sarapan dan segelas kopi. Bayu akan bermain bahkan berkelahi, saling kejar dengan Al anak lelakinya.
Kewajiban yang selalu di tanamkan Bayu untuk keluarga kecilnya adalah saling terikat rasa yang erat satu sama lain.
Suara azan subuh terasa masih hangat di kolbu. Lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang di kumandangkan dari masjid masih saling bersahut-sahutan sangat menenangkan pikiran.
Tidak terlepas dari rasa bersyukur Bayu pun memiliki rasa bersalah.
Bayu terus berusaha menutupinya, namun setiap kali berhadapan dengan Rara dia akan gugup dan salah tingkah. Badannya akan di serang panik dan berkeringat dingin.
"Makan dulu, Abi. Aku sudah masak makanan kesukaan Abi."
"Apa? nasi goreng? nanti saja aku makan, mumpung isi kepala masih anget aku mau ke rumah Ismail."
"Abi...ngopi dulu, tidak baik pagi-pagi bertamu. Lagi ini masih terlalu petang."
Perjalanan singkat bersama Ayu menjadi tragedi naas bagi dirinya. Melakukan dosa besar yang tidak terampuni. Benar! tidak ada yang tau. Tapi saat itu Bayu lupa Tuhan maha tau.
"Mi...?"
Bayu menatap punggung istrinya. Ada tumpukan rasa yang sulit di ungkapkan menumpahkan di dadanya. andaikan saja aku bisa berpikir lebih jernih, mungkin tidak akan terjadi hal semacam itu. Atau, seandainya aku tidak memberikan kesempatan kepada keinginan yang membuta, mungkin aku tidak akan pernah terperangkap dan terpengaruh dengan keadaan.
"Andaikan aku melakukan dosa besar, apakah masih ada jalan untuk ku bertobat?"
"Pagi-pagi sudah bahas masalah seperti itu, mendingan Abi ngopi aja dulu, sarapannya bisa nanti."
"Ada hal yang mengganjal di hatiku, tidak bisa aku diam kan terlalu lama."
Kopi dengan takaran nikmat kesukaan Bayu tersuguh. Asap keluar dari gelas ukuran besar mengepul menjadi aroma terapi untuk otak agar lebih rileks.
"Ada apa Bi, sepertinya sangat serius."
Huuuuuuuufffg...
Rara menatap lekat -lekat wajah Bayu yang tampak indah di hadapannya. Menikmati dari sudut ke sudut, Rara mengakui Bayu memiliki wajah yang memang menarik.
"Andaikan aku melakukan kesalahan besar. Apakah Kamu akan memaafkan aku?"
"Ada apa?” Rara hanya menatap suaminya, menikmati wajah yang berubah serba salah. "Ada apa Abi?" tanya Rara khawatir.
Bayu menarik kursi duduk Rara untuk lebih mendekati dirinya. Melihat raut wajah istrinya berubah bening. Ada rasa aman dan nyaman yang mengalir bercampur khawatir dan ketakutan.
“Aku bersyukur pada Tuhan, yang sudah memberikan aku suami seperti mu mas. Aku tidak menuntut lebih, dari apa yang sudah menjadi bagianku."
Bayu tertuduh, ada yang ingin pecah seandainya dia seorang gadis belia. Seorang lelaki akan menahan air matanya untuk tidak jatuh sebagai penanda rapuhnya pemilikiran.
"Mas...? manusia lumrah melakukan kesalahan-kesalahan, itu normal. Maka dari itu ada jalan untuk beribadah."
"Tapi, mi..."
Bayu merasa dadanya teramat sesak. Menatap wajah yang begitu sabar di hadapannya. Apakah dia tega menyakiti? No!
"Ada apa Bi?"
"Seandainya aku melakukan kesalahan apakah kamu mau memaafkan aku?"
"Ada apa sih, Bi? serius amat." Rara duduk di hadapan Bayu terhalang meja meskipun hanya ujung siku-siku. "Aku sudah bersyukur memiliki Abi, tidak ada yang lain."
“Iya lah, kamu memang harus bersyukur. Memiliki Suami yang tampan maksimal, rajin, Sabar dan penyayang, sepertiku. Limited edition.” Ujar Bayu tergelak.
Wajah Bayu mengeras. Menjelaskan banyak hal. Bayu mati-matian menyembunyikan debaran hatinya yang semakin kalut. Pujian Rara tidak lebih dari sindiran yang langsung mengena di lubuk hatinya.
“Pedenya suamiku.” Ujar Rara tidak peka.
Ha ha ha....
Bayu tergelak lagi lebih keras. Meskipun lehernya terasa tercekat teramat sangat.
Perjalanan singkat yang di lewatkan Bayu bersama Ayu beberapa hari yang lalu, menjadi aib baginya.
Rara melenguh panjang dengan mata yang melorot. Itulah Bayu Gatra. Lelaki yang begitu indah, pendiam, dan sedikit cuek. Memiliki beberapa kebiasaan buruk yang sulit untuk di rubah. Modus. Obral rayuan maut ke mana-mana.
Gaya bicara Bayu yang bisa di hitung selalu berbau ranjang dan kenikmatan bercinta.
Diam-diam njelimet. Teman-teman Bayu sering berolok-olok.
“Mas, memang nggak bisa ya? kalau bicara itu nggak usah modus.”
“Apa modus?”
“Kebiasaan mu merayu wanita itu lah! Nanti kalau masuk jebakan lagi nggak ku tolongin.”
“Aku memiliki istri yang luuuuar biasa." Bayu menjepit hidup Rara dengan dua jari nya, "Nggak mungkin aku nggak di tolong.”
“Kebiasaan modus! Tebar pesona! Sampai-sampai istrinya pun setiap hati di modus’i! Orang kok teramat sangat percaya diri.”
Ha ha ha ha...
Bayu bisa sangat bahagia pagi ini. Menikmati wajah istrinya yang terlihat sedikit kesal, sedikit manja, dan sedikit senang.
“Senangnya.”
Hahaha....
Bayu terus tertawa menikmati ekspresi wajah Rara yang semakin merundung manja.
Menikmati kopi di pagi hari sembari berkumpul dengan anak istri adalah kenikmatan yang tiada pembanding.
Bayu mengangkat kedua kakinya dan meletakkan di pangkuan Rara.
“Mumpung Al nggak rewel.” Ujar Bayu tersenyum nakal.
“Heh! Aku di sini ya!” Ayu menyerobot obrolan Bayu dan Rara.
Matanya melotot kesal merasa tidak di anggap ada.
Ayu berdiri di pintu, wajahnya terlihat amat cantik pagi ini dengan baju ketat pink dengan belahan dada, rok mini pres body selutut dan Sendal sederhana dengan sedikit hild.
Bayu menoleh sebentar dan tidak ingin berlama-lama menatap adiknya.
“Ya sana pulang! Ngapain kamu lama-lama di sini? Ganggu aja!” hardik Bayu dengan nada bercanda.
Sejak kapan Ayu berdiri di situ, mengapa Bayu tidak menyadari.
“Aku nggak mau pulang!"
Kopi sudah kandas tapi Bayu masih terus menyeruput Kopi yang tinggal ampas. Seolah mencari sisa-sisa air nya. Sembari menikmati pijatan ringan istrinya Bayu menyulut rokoknya kembali.
“Mau kopi lagi?” tawar Rara melihat Bayu yang terus saja mencari sisa air dalam endapan kopinya. Bayu menggeleng pelan. “Sudah tinggal ampas masih saja di seruput, nanti tersedak.” Lanjut Rara dengan terus memijit kedua kaki suaminya.
“Sayang masih ada satu dua tetes.” Ucap Bayu santai. Bayu memonyongkan bibirnya seolah mencium dengan jarak yang jauh. Lalu alisnya bergerak-gerak gokil seolah sangat menikmati.
Cara Bayu menyenangkan istrinya tergolong luar biasa.
"Sudahlah Bi. Dari tadi tidak berhenti merayu."
“Menyenangkan istriku adalah kewajiban.” Bayu menciumi punggung tangan istrinya.
“Ini hanya bentuk menghargai?”
Rara mengerutkan keningnya dengan mimik muka memastikan sebuah kalimat.
“Nggak menghargai, tapi semua tentang istriku memang indah.”
“Really?”
Heeem...Bayu menganggu setuju.
“Semua tentang istriku selalu benar dan memuaskan di mataku.” Katanya lagi mengulangi kalimatnya.
“Mas emang, kopi buatanku seenak itu kah?”
Kopi dalam gelas terlihat benar-benar tinggal ampas yang kering. Namun Bayu masih berusaha menelan tetesan demi tetes terakhir.
“Apapun yang kamu buat, enak buatku.”
Wanita yang terlihat tidak cantik, tidak semok, tidak seksi juga tidak pandai memasak itu hanya tersenyum saat suaminya mulai mengatakan kata-kata gombalan dan rayuan mautnya.
Meskipun Rara tau itu hanya kaliamat modus. Tapi tetap saja semua ucapan suaminya membuat hatinya bahagia dan tinggal di atas awan cukup lama.
Terkadang Rara berfikir 'bangun Ra, dah siang!' Namun di perlakukan bagai seorang ratu oleh suami itu dambaan semua wanita. Tidak terkecuali Rara sendiri.
"Sudah siang memang nggak mau buka toko? masih saja di rumah. Katanya mau tempat Iis?"
Bayu berdiri mengencangkan pinggang dan merapikan bajunya. "Iya aku hari ini ada perlu sama Ismail."
"Untuk apa mas ke rumah?" Ayu yang sembari tadi sibuk dengan handphone mulai terganggu. Bayu tidak menjawab pertanyaan adiknya. Terlihat wajah Bayu lesu tidak seperti biasanya saat menghadapi adiknya. Rara melirik Bayu dengan ekor matanya, sedikit heran dan berspekulasi keduanya memiliki masalah.
"Mas ngapa'in ke rumah?" ulang Ayu dengan pertanyaan yang sama.
Bayu masih bungkam, menikmati pijatan Rara dengan menutup mata.
"Abi!" Rara menguncang tubuh Bayu pelan. Melihat mata suaminya sedikit terbuka dengan senyuman.
Hmmm...."Aku mau berangkat!"
''Bismillah...BI."
"Iya!"
"Mas...!" Ayu bangkit dari duduknya, memanggil Bayu dengan intonasi suara yang tinggi. Tapi Bayu berubah tuli, tidak mendengar bahwa menoleh sedikit pun.
Rumah kediaman keluarga Baru Ayu tidak begitu jauh dari rumah juga toko Bayu tinggal. Berjarak kurang lebih hanya 1km.
Bayu tersenyum samar dari kejauhan melihat wanita paruh baya berjalan menghampirinya.
Wajan ibu Sumiati mertua Ayu muncul menyambut Bayu dengan ramah.
“Masuk le...tumben.”
Bayu berjalan pelan mengikuti wanita paruh baya itu memasuki rumah.
Belum ada basa-basi resmi, Bu Sumiati sudah menghilang di balik pintu dan tidak begitu lama sudah muncul kembali dengan segelas kopi.
"Report -repot Bu, Bagaimana kabarnya Bu?"
“Apik, le. Kamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah saya baik-baik saja, Ismail ke man Bu?"
"Entah Ismail ke mana, dua hari nggak pulang.”
Hmmmm... Bayu menyeruput kopi yang terlihat mengeluarkan asap. Menghembuskan nafasnya secara berlahan. “Saya ada perlu sama Ismail, ada pekerjaan, saya membutuhkan bantuannya.”
“Ayu ke rumahmu le?” tanya wanita paruh baya itu memastikan.
Bayu hanya mengangguk pelan. Bu, Sumiati seperti mengingat-ingat sesuatu.
“Kayaknya iis di kolam ikannya Joko lho le.”
Pucuk di cinta ulan pun tiba. Tuduhan mendapatkan bukti. Bayu tidak menunggu menghabiskan kopinya.
“Bu, saya mau menyusul Ismail. Biarkan kopi saya, nanti saya kembali.” Ucap Bayu tidak banyak bicara.
Kolam pemancingan ikan yang di masukkan ibu Sumiati tidak terlalu jauh tapi memiliki jalan yang sedikit ekstrim. Jalanan yang belum jadi, juga rusak karena sering dilewati mobil pengangkut batu dan pasir.
Ayu berdiri di depan gang 100 meter dari rumahnya. Sengaja menunggu mobil Bayu pulang. Selain penasaran dengan Bayu yang berubah menjadi es batu, Ayu juga penasaran apa sebab musabab permasalahan yang membawa Bayu mendatangi rumah mertuanya.
Ayu melihat ke kanan dan ke kiri.
“Kita mau ke mana mas?” Ayu langsung menarik gagag pintu mobil.
Wajah Bayu memerah, otot tangannya yang menegang menjawab pertanyaan Ayu dengan asal-asalan. Ayu menyadari Kakaknya sedang emosi tingkat tinggi.
“Mas,” Ayu mencengkram
Mobil melaju sebentar di jalan lintas lalu masuk gang yang Ayu tidak asing.
“Mas, mau ke mana?”
Bayu terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan hati-hati.
Ayu ternganga mobil berhenti di depan pondok kecil yang usang. Di sekitar pondok ada beberapa petak kolam pemancingan. Juga berderet orang yang sedang melepas penat kehidupan mencari hiburan dengan memancing.
Bayu turun dari mobil dengan berlan-lahan tanpa ekspresi wajah yang mencurigakan. Akan tetapi dia tampak sibuk mencari-cari mangsa.
Sekian lama mencari dan tidak juga menemukan yang di cari dia duduk bersandar di sebongkah batu besar.
Jauh di ujung mata. Yang di cari terlihat duduk khusyuk.
Tanpa basa basi Bayu yang sudah di bakar emosi langsung menghampiri Ismail dan melayangkan tinjunya berkali-kali.
Belum puas Bayu hanya melayang kan tinju, diapun menghajarnya Ismail dengan kaki juga dengkulnya.
Darah mengalir di pelipis, hidup, dan bibir Ismail. Lelaki itu terkejut bukan kepalang mendapatkan serangan yang tiba-tiba. Dia tidak memiliki kesempatan mempertahankan diri untuk membalas. Bayu yang datang seperti orang kesetanan tidak memberikan ruang buat dia bernafas.
Orang-orang yang memisahkan keduanya secara spontan di hempas oleh Bayu.
“Ceraikan adikku!" Teriak Bayu hampir sepuluh kali. "Jika tidak aku gantung kamu di tempat ini.” Ancam Bayu penuh emosi.
“Mas!”
“Apa mas-mas! Kamu mau membela dia?!”
Saking emosinya Bayupun menghempaskan Ayu yang datang melerai.
Ayu kebingungan tidak menduga akan terjadi hal semacam itu.
“Puas kamu?!” Ismail dengan tidak tau malu menggertak Ayu.
Satu tinjuan Bayu Kembali menghantam wajahnya. Ismail limbung masuk ke dalam kolam. Wajahnya yang memerah penuh darah membekas memar yang parah.
“Jangan menghardik adikku!” Bayu memekin keras masih dengan emosi.
Beruntungnya semua orang menahan Bayu sehingga baku hantam sedikit terkendali.
“Mas aku cinta dia.” Ayu masih merengek mohon pertolongan agar Bayu bisa mengendalikan diri.
“Tidak ada cinta-cintaan! Pilih aku atau Dia?”
Bayu menatap wajah adiknya. Nafasnya hampir sampai di tenggorokan. Dia tersengal karena menahan kesal pada adiknya.
“Pilih!” bentak Bayu lagi.
Ayu yang masih bingung langsung di peluk oleh Ismail,
Bukannya suasana menjadi dingin. Kelakuan Ismail yang seolah menyesal membuat Bayu naik pitam.
Bayu mendorong dengan kasar tubuh Ismail dan menarik Ayu.
“Jangan pernah sentuh adikku! Ceraikan dia.” Bayu menarik tangan Ayu dengan paksa.
Adegan tarik menarik terjadi cukup lama. Tapi Bayu bukan seorang yang sabar.
Dengan satu kakinya dia menendang dada Ismail membuat lelaki jangkung itu terjungkal dan melepaskan Ayu.
“Lelaki tak beradab! Ceraikan segera adikku!” sekali lagi Bayu membentak Ismail.
“Bayu...”
Ismail Marzuki duduk dengan nafas hampir putus. Dia terus meraba-raba bagian tubuhnya yang terasa sakit.
“Ini pernikahan kami, bisa nggak kamu tidak ikut campur?!”
“Bag**t! Ini pernikahanmu, tapi dia adikku! Dia masih milikku.”
“Bisa berikan kami waktu untuk bicara tanpa kekerasan?”
“Tidak! Aku memberikan waktu padamu cukup panjang! 5 tahun pernikahan kalian! Apa saja yang sudah kamu lakukan?”
Bayu membayangkan adiknya yang masih perawan hingga di usia pernikahan yang ke lima tahun. Bisa di bayangkan betapa adiknya kesepian.
“Anak bukan hak ku! Tapi pemberian Tuhan. Jangan paksakan aku melakukan yang aku tidak mampu.”
“Bang**ke hina! Jad**h! Kamu berpikir kamu bisa lari dariku?! Ceraikan adikku atau kamu akan mendapatkan balasanku.”
“Setidaknya kamu tanya Ayu, dia mau ikut siapa?”
“Dia akan pulang. Harus pulang! Tidak perlu ada pertanyaan bertele-tele seperti hidupmu. Tidak berguna!”
Ismail terdiam tersinggung dengan perkataan Bayu. Lelaki yang menjadi iparnya sekaligus sahabatnya sejak kecil itu seharusnya tidak mengatakan hal semacam itu di tempat umum.
“Apa gerangan yang membuat kamu semarah itu padaku?”
“Tanya pada dirimu sendiri Ismail! Apa yang membuat aku marah.”
“Kita berteman cukup lama, apa tidak bisa semua masalah di selesaikan dengan baik.”
“Tidak! Untuk saat ini tidak ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Ceraikan adikku sesegera mungkin.” Bayu menarik tangan Ayu dengan paksa.
SEPERTI yang di janjikan Bayu pada ibu Sumiati, Bayu pun singgah kembali ke rumahnya. Mendapatkan kopinya yang sudah dingin.
“Ketemu le?” tanya ibu Sumiati pelan. “Kopimu dingin.”
“Nggak apa-apa buk.” Jawab Bayu sopan.
Ibu Sumiati sangat ramah dan baik. Bahasanya lembut dan bersahabat. Bahkan obrolan mereka pun mengalir seperti air. Tapi, Bayu menyadari ada yang salah dalam budi bahasa wanita di depannya itu.
“Ayu mandilah dulu, ibu sudah menyiapkan baju mu.” Ujar wanita tua itu pada Ayu.
Bayu melirik, mengisyaratkan agar Ayu pergi untuk segera menyingkir.
“Bagaimana pekerjaan yang kamu omongkan dengan adikmu?”
“Oh itu, iya Bu dia mau. Besok katanya berangkat membantuku.”
“Entah le, gi mana sama Ayu ini? Dia sering pulang ke rumah mu. Padahal kamu pun sudah berumah tangga.”
Bayu hanya diam menghela nafas panjang. Menangapi aduan ibu Sumiati dengan dingin.
Ayu muncul di pintu sudah segar. “Bawa bajumu serta.” Perintah Bayu pelan.
“Maaf Bu, saya berterima kasih pada ibu sudah merawat adik saya dengan baik. Tapi untuk kali ini saya akan membawa pulang Ayu. Jika Ismail pulang, tolong katakan padanya untuk sesegera mungkin membersihkan adik saya.”
“Lho! Maksudnya.”
“Maaf Bu, Ayu akan ikut saya pulang.”
“Maksudnya gi mana ini?”
Ibu Sumiati keberatan dengan keputusan sepihak yang tiba-tiba.
“Le, semua masalah bisa di bicarakan.” Wanita itu menahan pergelangan tangan Bayu.
“Iya Bu, silakan Ismail datang ke rumah. Saya tunggu.”
Ayu menyeret koper besar berwarna pink.
Bayu ingat jelas koper itu. Bayu membelikan semasa Ayu kuliah. Lalu mata Bayu singgah di pergelangan tangan adiknya. Ada gelang melingkar di sana. Bayu pun mengingat, dia membelikan gelang itu di pasar loak bambu kuning semasa Ayu duduk di bangku sekolah menengah atas. Masih ada.
Bayu berpamitan secara formal pada ibu Sumiati mertua Ayu.
“Tidak mengurangi rasa hormat saya sebagai anak muda yang di liputi emosi tak terkendali. Saya minta maaf dan Saya pamit Bu.”
Wanita paruh baya itu hanya bisa memandangi mobil Bayu yang melaju meninggalkan halaman rumahnya. Ada rasa yang tidak bisa di uraikan dalam pias wajahnya.
“Mas?”
Ayu menyandarkan kepalanya di pundak kakaknya.
“Apa ini benar?”
Bayu mengangkat bahu tanda tidak tau. “Tapi yang pasti buat mas, apapun itu yang membuat kita tidak bahagia berati harus di tinggalkan.”
“Bukannya harus di perjuangkan mas?”
“Berjuang itu untuk hal yang pasti, yu. Untuk apa kita menghabiskan waktu bersama lelaki yang tidak memiliki pendirian dan tanggung jawab. Kamu berhak bahagia.”
“Tapi bahagiaku bersamamu.”
“Itu, beda judul. Apapun yang kamu impikan pada mas kita tidak akan berjodoh. Sia-sia saja otakmu itu memikirkan mas.”
“Eh, mas?” Ayu menarik wajah kakaknya sehingga keduanya saling tatap begitu dekat.
Bayu menarik wajahnya dengan paksa. “Mas lagi nyetir bodoh!”
Ayu memonyongkan bibirnya manja. “Ya kemarin malam enak lho mas. Kapan kita begitu lagi?”
CIIIIT...!
Mobil mengerem dengan tiba-tiba membuat Ayu terhempas dan sedikit terguncang.
Bayu menatap wajah Ayu dengan mata menyipit. “Kamu sudah janji! Itu tidak akan terulang lagi. Semalam mas khilaf.”
Bayu kembali menyalahkan mesin mobil setelah memukul kepala Ayu dengan keras.
Tidak di pungkiri oleh Bayu. Perasaannya sendiri berkelana cukup lama, membayangkan banyak hal kotor saat bersama Ayu.
Adiknya yang seksi dan berani terkadang membuat otaknya berimajinasi.
Mengapa aku bisa khilaf? ya Allah.
“Mas! Aku tinggal di mana?”
“Di toko.”
“Yaaaah...” Ayu Melenguh kecewa.
“Jangan berharap kamu tinggal di rumah!” senyum Bayu sarkas. “Ngarep DOT com!”
“Tapi mas, aku akan kesepian.”
“Bodok Mamat.”
Benar saja Bayu menghentikan laju mobilnya di depan toko dan mendorong Ayu untuk keluar dengan sedikit kasar.
“Lho, ada apa mas?”
Melihat mobil suaminya datang Rara buru-buru menghampiri. Dia menyerahkan Al ke dalam gendongan Bayu.
Ayu mengerucutkan bibirnya dan bersungut-sungut manja. Dia sangat keberatan untuk tinggal di toko yang hanya di temani tumpukan barang.
Hari ini Wajah Bayu tidak bersahabat dengan siapapun.
“Heh bawa barang mu!” teriak Bayu.
Ayu tidak menggubris perkataan kakaknya.
“Mbak Rara tolong!”
Rara tergelak geli, melihat Bayu yang melemparkan barang Ayu sembarangan. Kedua beradik itu tidak pernah akur. Selalu saja meributkan banyak hal sepele tapi akan saling merindukan dan saling peduli saat berjauhan.
“Lebay!”
Hati Ayu kesal, “kenapa harus di toko sementara di rumah kakak ada beberapa kamar kosong.”
Rara membenarkan perkataan Ayu dengan menganggukkan kepalanya.