BLOOD

BLOOD
MEMPERBAIKI KESALAHAN



Tidak akan ada akhir untuk sebuah perselingkuhan. Cinta yang di agungkan saat diri sedang mabuk hanya sebuah alasan pembenaran semata. Mengingatkan orang yang sedang mabuk cinta seperti tong kosong nyaring bunyinya. Tidak berguna.


Karena hidup tidak sepanjang waktu, semua bisa berubah dengan cepat seiring berjalannya. Kapan saja itu.


Ayu berdiri mematung di sebelah Bayu. Momen yang begitu sangat di impikan olehnya.


"Tempat ini banyak kenangan ya mas?"


Bayu melirik Ayu dengan ekor mata. Tidak memberikan tanggapan apapun meskipun itu hanya sebuah gumam.


Justru Bayu berbalik dan melangkah pergi. "Jangan ingat apapun di belakang, di sana tidak ada hal baik yang perlu di jadikan kenangan."


Ayu tersengal menelan ludah yang terasa sulit. Bahkan di hari yang Fitri ini kakaknya tidak memberikan muka sama sekali. (Sehina itu kah aku?)


"Mas...!"


Ayu berlari dengan kekecewaan. Jika sudah seperti ini, akhir apa yang di dapatkan? Tidak ada sama sekali, kecuali kegetiran nyata.


Rara hanya menatap dari balik celah jendela kamar. Perbincangan pagi antara Bayu dan Ayu di sudut lapangan tempat mereka meninggalkan banyak kenangan. Cemburu? Jawabannya iya. Rasa cemburu itu ada di lubuk hatinya. Namun Rara lebih memilih pura-pura tidak terjadi apapun.


Awalnya Rara berspekulasi akan terjadi lagi tragedi perselingkuhan. Manusia yang saling cinta akan merasa mabuk lagi ketika lama tidak berjumpa.


Terlalu dini menghakimi. Ternyata Bayu benar -benar menjaga jarak dan sikap.


Bahkan Bayu sendiri selalu menghabiskan waktunya bersama keluarga besar.


"Umi,"


Bayu menghampiri istrinya yang sedang sibuk melipat baju bersama ibunya. "Memangnya kakak tidak ada yang pulang Bu?"


"La, Embuh!" Ekspresi wajah ibu begitu berduka. "Ada apa Bu? Wajahnya jelek gitu."


"Bay, coba kamu telfon Mbak mu, ibu ini kangen sama mereka. Masak iya hari lebaran nggak ada waktu untuk pulang."


"Mungkin mereka pulang ke rumah mertua dulu Bu, nggak boleh curiga gitu."


Ibu membanting lipatan baju, "aku ini ibu nya , kok pulang tempat mertuanya. Aku di anggap apa?"


Hmmm...bayu tersenyum duduk di sebelah ibunya. Wanita renta itu merebahkan tubuhnya dalam pelukan Bayu.


"Ibu, tidak boleh tidak adil, seorang istri fitrah nya ikut suami. Ikhlaskan, jangan menyesalkan kebaikan."


Ibunya tidak menerima masukan. "Aku ini Ibu nya! Tidak ada Agama yang membenarkan anak nya tidak mengutamakan orang tua terlebih ibunya sendiri." Ibu berdiri lantang dengan emosi.


"Benar," Bayu menarik tangan ibunya untuk semakin mengeratkan pelukan.


"Biarkan aku memeluk ibu ku dengan puas. Ibu jangan marah terus, nanti aku belum puas memeluk mu tapi harus pulang."


Kemarahan ibu mereda, duduk kembali di depan Bayu dan menikmati hangatnya pelukan anak lelaki satu satunya.


"Yo capek,"


Terasa menyenangkan melihat wajah ibu bersemu merah malu-malu. "Ikutlah dengan kami, biarkan warungnya di tunggu Ayu. Dia tidak memiliki pekerjaan tetap lagi, dia bungsu..."


Mengikuti alur perbincangan yang hangat, Bayu terus membelai lembut, lengan, dan punggung ibu nya. "Aku ingin tidur bersama ibu malam ini."


"Bapak mu suruh tidur mana?"


"Di sini! Ya yank?" Bayu mencolek lengan istrinya yang hanya diam sejak tadi.


"Opo Rara setuju."


"Setuju Bu," jawab Rara sembari berdiri dan berjalan ke dapur. "Mau kopi?" Tawarnya pada Bayu.


Bayu mengangguk. "Eh, Ayu...masuk dek! Kok ngintip di sini." Rara terkejut ketika membuka pintu Ayu berdiri di sana.


"Biar aku yang membuat kopi mbak." Rara tidak bisa mengelak, memperhatikan wajah Bayu tanpa ekspresi.


"Mi buat kan aku kopi," Ayu yang membawa dua gelas kopi untuk Bayu dan suaminya berhenti di pintu. Hatinya terasa sakit.


"Ayu," Rara mengelus punggung Ayu tangannya, sekedar menguatkan. "Ini kasih bapak aja, sebentar lagi bapak pulang."


Ayu menyeka air mata dengan ujung jari. Hidungnya tampak kembang kempis. Lehernya terasa tercekat dan dadanya mau meledak.


Tiga hari sudah mereka berkumpul, tapi belum sama sekali Ayu memiliki kesempatan duduk bersebelahan dengan Kakaknya yang sangat dirindukan.


Bayu menjaga sikap dan jarak terlalu kontras. Semua hal tentang Ayu dia akan menolong dengan keras.


"Kamu marah an sama Ayu?"


Menjawab pertanyaan ibu Bayu hanya menggeleng pelan. Di ciumnya Wajah kening rambut dan pundak ibunya. "Ibuku harum."


"Dasar tidak berubah."


Bayu tidak merasa melakukan kesalahan-kesalahan dengan menjaga komunikasi dengan adiknya.


Bayu hanya menjaga perasaan keluarga kecil mereka. Di lihat dari mana pun mereka pernah melakukan kesalahan fatal, tidak mudah menemukan kepercayaan yang sudah ternoda.


Wanita yang kini menjadi istrinya adalah pemberian Tuhan yang harus di pertanggung jawabkan di dunia dan di akhirat. Bukan masalah sepele. Ini masalah akidah akhlak dan moral.


(Maafkan mas Ayu ini yang terbaik untuk kita.)


Satu kalimat dan hanya satu itulah kalimat yang di ucapkan Bayu sebagai bentuk klarifikasi dari semua kesalahan yang harus di perbaiki.