BLOOD

BLOOD
DRAKULA



Lantunan tadarus begitu indah terdengar sahut-sahutan. Dua tahun sudah sebuah kisah pilu berlalu. Di kota Palembang Ayu dan Aldi yang memutuskan untuk tinggal setelah menikah.


Di rumah kontrakan sederhana yang memiliki satu kamar, satu ruang tamu, dapur dan kamar mandi yang tidak terlihat bagus.


Ayu membuka warung kecil dan Aldi bekerja serabutan namun keduanya tampak bahagia.


"Apa kamu rindu rumah?" Aldi menggenggam tangan Ayu dengan erat. Mengecup kening istrinya begitu lembut.


"Paaaa...pi...?" Andrew Garfield, bocah berusia satu setengah tahun itu memeluk Ayu bersaing dengan ayahnya.


"Ini idul Fitri ke dua setelah kita bersama, jika kamu rindu pulang, ayok kita pulang."


Ayu menyambar Andrew masuk ke dalam gendongannya, "apa tidak masalah kamu bertemu mas Bayu?"


Aldi mengeleng, "Mau seperti apapun usaha kalian, takdir tidak akan mempertemukan kalian, apa yang membuat aku takut kehilanganmu."


Benar juga yang di katakan Aldi. Seperti apapun kuatnya Ayu berharap, berdoa bahkan memohon pada Tuhan. Sudah pasti tidak terkabul. Selain dia hadir sebagai orang ketiga, yang di cintai nya juga adalah seorang yang memiliki ikatan darah yang sama dengannya.


Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa semua sudah berlalu sangat lama. Bekas-bekas luka masih ada, namun Aldi mampu membuat Ayu berpaling padanya dengan bermodalkan cinta.


Seandainya Ismail memiliki sifat penyayang dan melindungi seperti Aldi mungkin ini tidak akan terjadi, Mungkin Ayu bisa melupakan Bayu bersama waktu sejak lama.


Ismail memilih memberikan tekanan padanya. Menuntut Ayu untuk menjadi istri namun dia tidak membenahi diri sendiri.


"Rumah tangga hanya ada Suami istri dan anak-anak. Jangan pernah hadirkan orang ketiga bahkan itu orang tua sekalipun.'' Ujar Aldi.


Ismail begitu dekat dengan orang tuanya. Ayu di sayangi mertua tapi tidak mendapatkan kasih sayang dari suami. Mengenaskan. Benar Ayu bersalah pada suami prihal perasaannya pada Bayu kakaknya. Akan tetapi jika saja Ismail bisa meluangkan waktunya lebih, kemungkinan Ayu bisa melupakan fantasi gila'nya.


Ismail tidak mau mengakui jika dirinya memiliki kelemahan prihal hubungan ranjang. Dia lebih sibuk menyalahkan namun tidak berbenah. Setiap kali Ismail memiliki hasrat menggebu-gebu akan layu sebelum *******.


Huuuuuuuufffg..


"Istriku sedang melamun?" Aldi mengecup bibir Ayu mengulangi dengan sedikit hisapan. "Aku tidak menyangka akan mendapatkan kamu," bisik Aldi di telinga Ayu.


"Ku pikir hanya mas Bayu seorang yang bisa memanjakan wanita, ternyata aku salah, pikiranku terlalu sempit. Ada kamu yang selalu ku tolak mati-matian."


"Papi...papi...Pai..." Andrew terus menerus merayap menggapai Aldi.


"Seperti apa keadaan mereka ya bang?"


Aldi menggeleng, memberikan handphone. "Aku masih menyimpan nomor mas Bayu, meskipun aku sudah ganti nomor."


Ragu-ragu Ayu mengambil handphone milik Aldi, "Nggak ah, aku tidak tau harus mengatakan apa." Ayu menyodorkan kembali handphone suaminya.


Aldi mengapai tangan Ayu, memaksa Ayu untuk menelfon Bayu. "Telfonlah."


Ayu menepis pelan, menolak untuk memberikan kabar keberadaannya. Dalam hatinya masih berdesir saat mengingat kakaknya itu. Bahkan saat menyebut nama Bayu Ayu masih merasa panas dingin.


"Apa Abang tidak pernah menghubungi mas Bayu?"


Aldi mengeleng, "kamu melarang aku menghubungi mereka."


Ayu hampir lupa, dia memberikan persyaratan pernikahan yang sulit untuk Aldi. Aldi harus beginilah, begitulah dan mau inilah mau itulah. Pokoknya Aldi harus nurut.


Aldi seperti sapi bodoh semua yang di inginkan Ayu dia iyakan tanpa Perdebatan.


"Astagfirullah alazim...sayang kamu dulu seperti babu buatku, maafkan aku ya?" Ayu terkekeh membayangkan Aldi yang begitu tergila-gila padanya.


Di sambut wajah Batak Aldi yang tersenyum mesum. "Heh! udah ya."


Ayu pergi menghindari suaminya yang mulai terlihat gatal.


"Lebaran ini kita pulang ke Lampung sayang."


Ayu hanya mengangguk bahagia membawa pergi buah hatinya. "Ayok kita kabur, papi jadi drakula."


Ha ha ha....