
AYU sangat cantik, energik, percaya diri, dan ceria. memiliki tinggi badan 140cm, dengan lekukan tubuh yang aduhai. Terasa lengkap pemberian Tuhan, bagi siapapun yang mengenal dan melihatnya. Ramah, dan supel adalah ciri khasnya. Namun Ayu sangat keras kepala. Suka memaksakan kehendak terlebih itu pada Bayu.
Usianya sudah hampir 30 tahun dan sudah memiliki suami tapi Ayu terus menempel pada Bayu layaknya benalu.
Sementara Bayu Gatra sendiri memiliki sifat introver pendiam tidak pandai berbahasa basa-basi dan juga sangat tertutup.
Bagi Bayu, Ayu adalah dunianya yang paling indah. Sejak masih balita Ayu sangat dekat dengannya. Keduanya tumbuh dan berkembang bersama.
Sempat terpisah saat Bayu melanjutkan pendidikan ke luar daerah. Namun itu pun bukan penghalang bagi keduanya.
Jauhnya jarak justru mempererat hubungan keduanya.
Saat dewasa. Bayu memilih memiliki keluarga. Rara lah pilihan hatinya.
BAYU menarik kursi makan dengan kasar lalu duduk telungkup dan tidak bergerak lagi. Bagaimana bisa benda kotak itu jadi lebih penting dari dirinya. Pikir Bayu emosional.
“Ah!” Ayu mengibaskan tangannya. Menepis Bayu yang bersungut-sungut dengan kemarahan.
Ayu melengos membuang wajah ke samping menyembunyikan senyum kemenangan dalam lekukan puas. Bahkan dengan tidak pedulinya Ayu kembali berkonsentrasi dengan layar handphone miliknya.
“Yu...! letakkan dulu hp itu!”
“Nggak!”
Meskipun sangat kesal lelaki kurus yang memiliki mata cekung itu kembali menikmati hisapan rokoknya. Dengan merokok Bayu bisa melarikan diri dari perasaan gila yang menjadi tamu tidak di undangnya.
Bayu menghempaskan nafasnya dengan sangat kasar mengusir emosi yang memenuhi rongga dadanya. Terasa sesak.
Perasaan di abaikan oleh adiknya menjadi penyebab utama hilangkan mood di pagi buta.
Sudah biasa Ayu seperti itu, mengapa dia harus semarah ini? Bayu pun tidak mengerti. Kinerja akal sehatnya memang patut di pertanyakan.
“Letakkan hp itu, dan ambilkan mas makan.’’ Ucap Bayu kemudian dengan nada yang lebih ringan.
Bayu ingin mengatakan maaf telah marah. Namun kalimat anak-anak semacam itu hanya di miliki ABG yang labil.
Tidak juga bergerak dari tempatnya berdiri Ayu justru dengan sengaja menantang wajah Bayu, dia memasang wajah gaharnya.
“Males!”
Bayu menatap Ayu datar. Tangannya menelungkup di atas meja makan menopang kepalanya. Dia ingat banyak hal tentang mereka berdua.
Seperti di putuskan kekasihnya. Ayu mengalami guncangan hebat dan meraung, memukul Bayu dengan membabi-buta. Saat tau Bayu akan menikahi wanita lain.
(“Mas jahat!”) katanya berulang-ulang.
Bagaimana mengurai kepadatan pikiran Bayu kala itu. Pernikahan Bayu yang tinggal beberapa hari memicu pertengkaran mereka.
Rasa cemburu Ayu begitu tidak terkendali.
(“Lalu mas harus gi mana? Apa iya kita akan menikah? Nggak kan! Kita saudara kandung. Tidak ada takdir untuk kita.”) Jelas Bayu meredakan rasa kehilangan adiknya.
Ayu masih terisak-isak menyesali kelahirannya.
(“Mengapa mas?”)
Air mata Ayu yang tidak ada habisnya menjadi bumerang bagi Bayu. Begitu sulit menenangkan hatinya yang merasa di duakan.
Ayu memeluk Bayu begitu erat. Ketakutan akan kehilangan begitu nyata di matanya.
(“Percayalah kita akan tetap bersama.”)
(“Janji?’’) Ayu mengacungkan kelingkingnya di hadapan Bayu. Dan Bayu pun menyambut dengan hangat. Keduanya berpelukan dan pernikahan Bayu berjalan semestinya.
Perjalanan waktu begitu cepat menuju gelanggang takdir yang tidak pernah usai dengan kejutan-kejutan baru.
Hingga pada waktunya Ayu pun bisa menerima kenyataan bahwa Bayu sudah memiliki keluarga sendiri dan berhak bahagia.
(“Mas, aku pun akan menikah.”) Ujar Ayu di suatu pagi pada Bayu. Saat itu lahir anak pertama Bayu Alga Gatra. Anak pertama Bayu yang kini berusia sepuluh tahun dan tinggal bersama orang tua Bayu di kampung halaman.
Bayu tersenyum bahagia, (“Siapa dia?”) tanyanya masam.
(“Ismail sahabat mas masa SMU.”)
Seperti di pukul ribut palu dengan berat Berton-ton.
Bayu terkejut bukan kepalang, membisu cukup lama dan akhirnya kalimat yang pertama keluar dari mulut Bayu adalah nama lelaki itu.
(“Ismail?!”)
Ayu mengangguk (“apa tidak ada kandidat yang lainnya?”) kata Bayu keberatan.
(“Nggak.”) Ayu menjawab pernyataan Bayu dengan nada putus asal.
(“Islami sahabat mas, memang. Tapi, dia bukan lelaki yang baik yu.”) jelas Bayu. (“Dia terlibat narkoba, anak mami dan dia juga terlalu cuek. Tidak sekalipun mas lihat dia memiliki pacar dari sejak SMA. Itu mencurigakan.”)
(“Aku akan tetap menikah dengannya atau mas yang akan menikahi aku! Aku tidak akan menikah dengan siapapun kecuali kalian berdua.”)
Bayu tercengang. Sedangkal itu pemikiran adiknya. Sementara waktu yang berjalan cepat menuju usia tidak terkendali tapi Ayu masih terkunci di ruang yang sama. Mencintai dirinya yang tidak mungkin bisa di miliki.
Bayu mengapai bahu adiknya dan memeluknya dengan erat.
(“Maafkan mas, yang sudah menjebak rasamu begitu dalam.”) Ayu menangis dengan keras menumpahkan kekecewaannya dengan takdir yang tidak adil.
(“Untuk apa Tuhan menciptakan perasaan ini mas? Jika kita haram bersama.”)
Bayu hanya diam tidak ingin menjawab pertanyaan Ayu. Dia tidak ingin menambah beban pikiran adiknya dengan dalil atau yang kata-kata bijak yang dia sendiri tidak bisa meyakini.
Diam-diam Bayu yang juga menyimpan segudang rasa pada adiknya hanya bisa menelan pahitnya pertanyaan tanpa sanggup menjawabnya.
(“Kita serahkan semua pada Tuhan. Karena Tuhan selalu memiliki rencana yang tidak bisa di tebak oleh siapapun.”)
Malam sebelum pernikahan Ayu Bayu merasa tegar sebagai seorang kakak yang harus bisa menjaga banyak hal juga sebagai seorang yang mencintai melepaskan pelukan.
Dengan manisnya Bayu menemani Ayu menghabiskan malam bersama bintang di atap rumah mereka di kampung halaman.
Bahkan Rara istrinya memiliki kesabaran yang begitu besar. Sehingga keduanya bisa menghabiskan waktu perpisahan mereka.
Akhirnya keduanya pun memiliki keluarga masing-masing dan hidup terpisah. Bayu lega bisa mengantarkan adiknya sampai ke dalam rumah barunya.