
Rara tersenyum menopang wajahnya dengan kedua tangan. Bayu Gatra, seorang yang sangat populer di masa kuliahnya.
Rara terus menatap wajah suaminya, menyusuri dari sudut ke sudut semua lekukan yang menurutnya begitu sempurna.
Bayu menjentikkan jari, mengantarkan abu rokok pada sebuah piring kecil si hadapannya.
“Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?” malu-malu Bayu merengkuh kepala Rara.
Menghembuskan asap rokok memalui hidup dan meniupkan udara kosong ke wajah istrinya.
“Bau rokok,”
Bayu tertawa terkekeh-kekeh, “itu bau kemaskulinan para pria sejati.”
Cih! “Baper.”
Rara masih menikmati keindahan suaminya yang salah tingkah oleh ulahnya. Itu hadiah istimewa bagi Rara.
Lama-lama terasa tubuhnya memanas, membayangkan saat romantis, saat di manjakan.
“Serindu itukah kamu padaku.” Bayu melirik Rara dengan pose mengemaskan.
Wajah Rara bersemu kemerahan, malu-malu tapi mau.
“Ini masih terlalu sore untuk kita bercengkrama. Memang Al sudah tidur?”
Rara menggeleng pelan, “dia di depan bersama Aldi.”
“Eh!” Mata Bayu terbelalak. “Aldi di sini? Ngapain?”
Bayu langsung berdiri hendak menghampiri Aldi yang sekarang sudah beralih posisi menjadi adik iparnya.
Terasa aneh menurut Bayu. Tidak seperti biasanya Aldi menginap atau di rumahnya sampai larut.
"Ayu mana?" hati-hati Bayu menyebutkan nama adiknya di depan Rara.
Pertemuan di bulan suci Ramadhan membuat Aldi kembali ikut serta bersama keluarga kecilnya. Menempati toko mereka yang memang berupa satu rumah lengkap.
Aldi berkeluh-kesah bahwa kehidupan mereka serba kekurangan di rantau orang. Demi Ayu dan buah hatinya Aldi memohon agar di perbolehkan membangun usaha bersama Bayu.
Awalnya Bayu keberatan menimbang masa lalunya bersama Ayu, namun ketika Rara memohon kan ijin Bayu hanya bisa mengiyakan.
“Apa tidak masalah Ayu dekat denganku?” ujar Bayu khawatir.
Rara menggeleng pelan. “Umi percaya Abi.”
Sekali lagi kepercayaan itu di hadiah kan oleh Rara untuknya.
Di ruang tamu Aldi tergeletak telentang begitu saja. Dia terlihat begitu pulas dengan dengkuran halus. Sementara Al tertidur di atas perutnya dengan tengkurap.
“Sejak kapan Aldi tidur di sini?” Bayu kembali duduk di rumah makan menyusul Rara yang masih ngemil makanan ringan. Tidak tega juga dia membangunkan.
“Tidurnya sangat menikmati.” Ucapnya pelan sembari kembali duduk.
“Kenapa emang mas? Nggak boleh ya? Ku pikir nggak papa kan? Dia tidur di sini.”
Bayu menatap Rara yang terlihat tidak memperhatikan cara bicaranya. Tidak seperti biasa Rara begitu.
Bayu hanya was-was jika kehadiran mereka akan memicu keributan.
“Yank kamu tidak memperhatikan aku bicara? Ada apa? Apa kita memiliki masalah sebelumnya.” Selalu khawatir, Bayu bertanya hal yang sama berulang-ulang.
“Tidak. Apa aku bersalah?” dengan wajah keheranan Rara menatap Bayu balik bertanya.
“Ada apa?” tanya Rara sedikit bingung.
Bayu meraih tangan Rara yang terus memasukkan makanan ringan ke mulutnya dengan pelan. Mata Rara yang terlihat linglung menatap wajah Bayu dengan keheranan.
“Kamu yang terlihat aneh, ada apa? Sejak kapan Aldi suka menginap di sini selagi aku pergi? Apalagi dia sudah beristri, jangan terlalu memberikan kebebasan pada mereka."
“Aldi...?” Rara mengucapkan nama Aldi cukup lama, seperti sedang mencerna kesalahan yang kemungkinan di lakukan tanpa sengaja.
“Bukanya Abi yang suruh dia menginap.”
“Kapan?”
Hmm...Rara menghela nafas, “belum aki-aki Abi! Kemarin!”
Bayu mengingat-ingat, “lalu kenapa dia mau?”
“Ya,... Abi, hati-hati saat mengatakan sesuatu. Mereka sudah memiliki masalah dengan mu, akan lebih sensitif dengan ucapan mu yang semaunya.”
Bayu menepuk jidatnya.
"ingat BI, mereka sedang membangun kepercayaan Abi lagi."
“Astangfilalloh...”
Bayu menepuk jidatnya.
“Segar.” Ucap Bayu lega. Menghabiskan kopi’nya.
Bayu tersenyum nakal pada istrinya yang duduk di seberang.
“Kopi buatanmu adalah kopi ternikmat yang pernah aku minum.” Katanya lagi dengan kedipan mata menggoda.
Kopi tubruk buatan Rara memang tiada duanya. Meskipun terkadang Bayu selalu mengklaim bahwa Rara tidak pandai melakukan banyak hal, tapi untuk kopi, Rara memilih ciri khas tersendiri. Rasanya nagih dan tidak tergantikan.
“Mau di buatkan lagi?”
“No! Aku ingin membuat adik baru untuk Al,” Bersama dengan berakhirnya ucapannya, Bayu menghampiri Rara yang mencoba berkelit. Tangan dingin Bayu meraih bahu wanita sederhana itu, menariknya dengan kuat sehingga membuat tubuh Rara terhuyung ke depan jatuh dalam pelukannya.
“Mas...”
Tidak memberikan kesempatan pada Rara, Bayu langsung ******* bibinya.
Gelas ukuran lumayan besar berdiri tegak dengan sangat sombong. Padahal berceceran di tepi kanan kiri bahkan ada noda di setiap tepinya. Kebahagiaan yang hakiki.
Matahari mulai muncul dari celah-celah jendela menembus batas kaca. Rara masih bersandar di pundak suaminya. Entah jam berapa semalam keduanya tertidur bahkan Al pu begitu tenang bersama Aldi tidak rewel atau pun mengemis pertemuan dengan kedua orang tuanya. Benar-benar kesepakatan yang di berikan Tuhan untuk kedua mantan pengantin itu melepaskan kerinduan.
SREK...SRWK...SREK...
Langkah kecil pelan dan suara berisik terdengar di luar.
Rara memperhatikan wajah tampan suaminya yang enggak membuka mata.
Jam dinding menunjukkan pukul 08.23 sudah sangat terlambat dari kebiasaan keduanya bangun pagi.
“Nggak sholat subuh BI, Astagfirullah... Abi...!”
Bayu menarik kembali Rara dan memasukkan wanita itu ke dalam selimut. Memeluk erat-erat sampai Rara tak dapat bergerak kecuali mengikuti. Meskipun matahari sudah muncul dengan terang. Aroma Pasannya menembus atap rumah yang berlapis-lapis. Menandakan hari sudah siang.