BLOOD

BLOOD
NUTRISI MENGOTORI MATA



"Ada apa dengan rumah tangga mu?" Bayu menembak pertanyaan yang langsung membuat Ayu tertunduk. "Kamu memiliki masalah yang tidak ingin Kamu ceritakan sama mas?"


Tidak berani menatap wajah Bayu. Gadis dengan rambut sebahu dan berbadan mungil itu hanya bisa tertunduk.


Ayu menyesal dengan pernyataan cinta yang baru saja di ungkapkannya.


Pernyataan yang akhirnya membuat Bayu memiliki kesempatan untuk menyudutkan dirinya pada permasalahan yang selama ini sulit untuk di hadapinya.


Bayu terlihat sudah teramat sangat geram dengan Ismail. Namun Ayu juga tidak boleh menyerah dengan suaminya.


Ismail dengan kelemahannya, tetapi dia sangat penyabar, tidak pernah menghardik bahkan menghakimi Ayu secara sepihak. Dalam keadaan hati Ayu yang masih terfokus pada Bayu.


Ayu berharap ketika dia menikah, maka dia bisa melupakan fantasi gila'nya pada sang kakak. Namun ternyata itu tidak merubah apapun. kegilaan Ayu pada Bayu semakin membuat rumah tangganya tidak bisa di kendalikan.


Ayu terdiam dan menutup mata. Ternyata dia gagal melupakan cintanya. Ya Allah. keluh Ayu dalam diamnya.


"Setiap kali kamu datang matamu sembab wajahmu kayak tambal panci. Ekspresi macam apa itu?"


Ayu tidak berani mengungkapkan seperti apa keadaan rumah tangganya saat ini. Entah apa alasan Ayu selain cinta untuk mempertahankan hubungan rumah tangganya. Atau, semua hanya sekedar keinginan Ayu untuk bebas berkeliaran di luar rumah bersama Bayu.


“Sebenarnya apa masalahmu?” tanya Bayu lagi. “Lima tahun pernikahan belum memiliki momongan. Jika di tanya kamu hanya membisu dan menangis. Semua itu bukan jawaban tapi keluhan yu.”


“Mas...!”


Bayu refleks menangkap tatapan mata adiknya dan suara yang memanggilnya dengan keras.


Nada suara Ayu ditekan sedemikian rupa. Ada beban yang terlihat ingin di lemparkan Ayu ke wajahnya.


Hmmmm.... Bayu tersenyum menyeringai. Ayu terlihat menyeramkan. Air matanya mengalir deras, matanya melotot bulat. Dan dia menjerit dengan Isak yang kacau.


“Kamu di tanya nangis, tapi nggak mau jujur.’’ Ujar Bayu kemudian kembali pada kemudi.


“Mas, masih ada nggak ya, stok cowok kayak mas?’’


‘’Nggak ada, limited edition . Pertanyaan yang menggelikan dan konyol."


“Ganteng, baik, banyak duit pekerja keras dan lain -lain.’’


Ayu tersenyum kocak. Begitu mudahnya dia bersembunyi dari kesedihan hanya dengan menarik lengkung bibirnya. Semudah itu dia mengalihkan perbincangan. Habis menangis menjadi tertawa lepas.


Bayu menjentikkan jarinya ke hidung Ayu. Bayu sadar ada yang salah dengan adiknya.


“Bodoh! Aku tidak sebaik itu.” Gumam Bayu.


“Mas janji akan selalu ada untukku, kan?"


Hmmmm..."sabar ya? Jika membutuhkan mas kamu tinggal bilang!” Ujar Bayu pelan memberikan semangat.


“Mas itu selalu menjadi semangatku.”


"Yu, bisakah kamu bercerita sedikit, meskipun itu bukan ranahku, setidaknya mas tau apa masalahmu?"


"Mas, Ismail...aku belum siap untuk cerita sekarang."


Bayu mengangguk pelan. "Kita mau istirahat di mana? katanya kamu pengen refreshing dulu."


"For you." Bayu melambatkan laju kendaraan untuk mencari tempat parkir yang nyaman.


"Kok di sini?"


"Kita cari angin plus cari makan plus mengotori mata sebentar."


"Dasar, emang ada cewek di sini? tukang modus!"


"Ada! kamu."


"Widih! mesum."


"Ngomong aja kamu suka tak mesum min."


PUKUL 10.00 mobil yang di kemudikan Bayu memasuki wilayah gunung agung. Berhenti sebentar di tepi danau mengisi nutrisi untuk kebugaran.


“Tenang mas, aku akan tutup mulut , selama aku jadi yang pertama.” Ayu yang seolah tau isi hati kakaknya menjawab sembari memperhatikan wajah kakaknya yang sok cool.


"Mana bisa jadi yang pertama! Mau kamu aku tiduri?” Bayu mengalihkan tatapan matanya pada adik kecilnya.


Wajah mungil Ayu langsung memerah. Ayu nyengir kuda, bisa di bilang mau juga bisa di bilang tidak.


“Jawabanmu ambigu! Nggak jelas!”


“Ya jelas lah mas! Otakmu aja yang nggak jelas!” hardik Ayu, tangannya yang kecil memukul kepala kakaknya dengan kekuatan penuh.


Eits!... “Nggak sampai!” Kata Bayu berkelit.


“Awas ya, mas! aku bakal fitnah mas punya selingkuhan sama mbak Rara!”


“Ngancem! Baiklah, Anabel!”


Huuuuuh! Ingin sekali meremas wajah mungil sok imut di sampingnya.


Ayu berjalan di pinggiran pantai dengan kaki telanjang. Wajahnya terlihat indah di timpa sinar matahari.


"Mas, coba bernyanyi dong."


"Nah, malas." Bayu mengikuti langkah kaki Ayu terus menyusuri sungai. Sesekali dia berjingkrak dari derasnya ombak.


“Mas! Aku kirim novelmu yang dia sang mantan terindah, boleh?”


“Aku tidak pernah ingat aku punya novel seperti itu. Mulai mengada -ada si bocil!”


“Ada lho mas. Aku nemuin buku big bos di tumpukan berkas mas kuliah dulu.”


“Mana ada!”


“Itu lho mas, kisah mas sama mbak Rara pas lagi bikin adek yang pertama.”


Hooooooo....(bengong?)