BLOOD

BLOOD
UJIAN TERBERAT SEORANG ISTRI



Kegilaan macam apa ini? Rara melangkah dengan pelan, menahan diri dan menghampiri suaminya.


Bayu berdiri canggung. "Dari mana kok perginya lama? ku susul di toko nggak ada."


"Aku jalan-jalan ke taman kota."


"Seharusnya kamu telfon aku, biar ku susul. Sampai malam begini sendirian di sana?"


"Sama Al." Rara masuk kamar, menutup pintu depan pelan berusaha tidak ada suara derit pintu. Ia menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang keringpun dengan sangat pelan. Seolah tak ingin suaminya tau bahwa dadanya ingin meledak.


Hampir seharian dia di rumah Rosa sahabatnya. Bercanda dan tertawa lepas di sana membuat hatinya lebih baik. Lalu melanjutkan perjalanan santai ke taman kota.


Senja yang temaram dan hembusan angin yang sejuk di taman membuat Rara bisa berfikir lebih jernih.


Kata-kata Ayu yang begitu liar hampir memperdaya akal sehatnya. (Ya Allah sehelai daun jatuh pun atas kehendakMU. Jika ini ujian terberat ku, akan aku hadapi atas ijinMU.) Hati kecil Rara terus menguatkan imannya. Perasaan cemburu yang memang sudah ada sejak lama menjadi pemicu pembenaran secara mutlak. Namun kembali akal sehatnya mencoba mencari alasan lain. Berdebat cukup lama di alam pikirannya. Akhirnya Rara memutuskan untuk mempertahankan rumah tangga. (Lihat bagaimana cara Bayu menyelesaikan masalah ini.)


Rara menarik nafas panjang menghempaskan Berlahan-lahan, berkali-kali ia lakukan hingga sesak di dadanya terasa ringan.


"Mi...? ada apa? apa aku ada salah? maafkan aku." Bayu menghampiri Rara yang masih terdiam di sisi ranjang. Al tertidur dengan pulas.


"Maafkan aku, BI. Selama ini tidak bisa menjagamu. Aku membiarkan orang lain mengotori mu,"


Air mata yang di tahan Rara mati-matian akhirnya pecah menjadi isak yang menegang.


Bayu memeluk Rara dengan erat mencium punggung istrinya dengan rasa bersalah. "Ada apa?"


"Bagaimana keadaan Ayu?" sampai detik ini pun Bayu belum menyadari apa yang terjadi, dia bahkan tidak tau jika Ayu sudah mengambil jalan pintas untuk jujur dengan istrinya.


"Dia pulang tempat bapak di kampung."


"Mas! apa tidak apa-apa dia pulang? nanti malah terjadi masalah lho." Rara menoleh pada suaminya, memperhatikan Bayu dengan wajah khawatir.


"Masalah apa?"


Bayu mengeleng. "Tidak."


Hmmm...."Maaf, apa saja yang kalian bahas tadi?"


"Aku hanya bertanya, bagaimana kelanjutan hubungan dia dengan Ismail, tapi dia bersikeras untuk cerai."


"Lalu?"


"Aku tidak bisa menerima dia di rumah ini, jadi aku antar dia pulang."


"Apa kamu yakin tidak akan terjadi masalah?" Rara menjadi khawatir. Bagaimana jika Ayu jujur pada kedua orang tuanya.


Jika Ayu berani jujur padanya bisa jadi Ayu pun bisa melakukan hal itu pada orang tuanya.


Wajah Bayu terlihat ambigu, dia mengingat-ingat. Lalu dia mengeleng lagi seolah memang tidak ada masalah.


"Kamu yakin BI?" Bayu mengangguk kembali.


Rara terlalu lelah untuk berfikir apa-apa saja yang akan terjadi. Sedetik kemudian hanya Tuhanlah yang tau. Pasrahnya, yakin kepada takdir.


"Baiklah jika memang tidak ada masalah. Jadi kita baik-baik saja kan?"


Bayu kembali mengangguk dan tersenyum, satu kecupan manis di kening Rara sebagai tanda bahwa semua baik.


Rara menerima keputusan sepihak. Memilih untuk tidak melakukan tindakan yang akan merugikan keluarga kecilnya. Akan tetapi Rara pun tidak tinggal diam mengetahui begitu banyak rahasia suaminya.


Telah nyatalah perselingkuhan Bayu dengan Ayu. Ambil bijaknya dan ambil baik'nya saja.


Dalam diamnya Rara terus memperhatikan suaminya dari kejauhan. Terus mencari pembuktian siapa yang menjadi tersangka. Rara tidak ingin rumah tangganya hancur hanya karena kesalahannya yang lebih memilih ego, pembenaran semata.