BLOOD

BLOOD
BILA JANUR KUNING BELUM MELENGKUNG KESEMPATAN PASTI ADA.



ARTEFAK kuno cinta yang tak semestinya. Pada zaman modern semua hal bisa di wujudkan meskipun dengan memaksa dan penipuan. Siapa yang tau? Semua bisa menjadi rahasia Tuhan jikalau si pelaku mampu menutup mata dan telinga.


Sesuatu yang diharamkan memang menggiurkan. Bahkan seorang nabi Adam pun tergoda oleh sesuatu yang di larang. Intinya kesalahan itu seperti artefak kuno yang di museum kan di sangkal tapi selalu di lakukan berulang-ulang sampai pada akhirnya lingkungan, hukum, dan budaya menerima kenyataan bahwa semua yang di katakan haram dapat di maklumi sesuai peradaban.


CIIIIT...


Derit suatu rem mobil berhenti. Memikirkan bagaimana caranya memuaskan perut yang sudah kelaparan Bayu memarkirkan mobilnya sedikit ke sudut. Lahan parkir yang luas memudahkan dia mengambil tempat yang memuaskan. Tempat yang teduh dan dekat dari jangkauan.


“Berhenti? Memang masih lama apa mas ke sana?” Kejut Ayu sembari melihat ke kanan dan ke kiri. Matanya yang sedikit memerah terlihat bangun tidur sedikit terkejut.


“Kenapa?” Bayu mencondongkan wajahnya begitu dekat pada adiknya.


Iih! “Mas ini lho!” Ayu berkelit menghindari kakaknya yang terlihat kelaparan.


“Why? Bukannya itu yang kamu tunggu?”


“Cih! Kepedean. Nggak Sudi aku menciummu! Asal mas tau, aroma mas itu dalam jarak 100 meter sudah bikin ene’k .” Elak Ayu salah tingkah.


Bayu memanjakan matanya sejenak mengambil banyak hal yang tak layak dan tak semestinya. Dengan sengaja dia memajukan bibir tipisnya untuk menggapai bibir adiknya.


“Apa kamu memakai kosmetik yang sama dengan mbakmu?’’


“Nggak, mbak pakai Wardah, sementara aku pakai produk my Baby. Ngopo, mas?”


Bayu tersenyum meledek mendengarkan apa yang baru saja di katakan adiknya. Dengan santai Bayu turun dari mobil dan menarik udara kosong dengan rakus. Mencari aroma menyengat yang sudah mencemari otaknya sejak pagi.


“Aroma stroberi itu....? Aku mengingatnya dengan jelas.”


*****


Langit mendung di kota Bandar Lampung. Menghiasi hiruk pikuknya aktifitas manusia yang tidak ada habisnya.


Dia, lelaki sederhana yang memikul beban di pundak. Bernama Aldi.


“Aldi...bekerja lah dengan cara yang sederhana. Jangan terlalu memaksakan keadaan. Kamu masih muda, apa yang kamu kejar? Sampai waktumu habis di pekerjaan.”


“Hidup di rantau tak seindah dongeng mbak Rara. Sedikit melakukan kesalahan aku akan kelaparan.”


“Tapi, kamu butuh waktu untuk dirimu sendiri.’’


“Aku cinta Ayu mbak! Waktuku sudah tersita untuk memikirkan dia.”


“Ayu sudah menikah, apa yang kamu tunggu? Lagian dia tidak menyukaimu.”


“Aku tau, Ayu teramat sayang dengan mas Bayu. Aku hanya butuh dekat sama mas Bayu untuk bisa melihat dia.”


“Ayu sudah menikah!" Tegas Rara.


Lelaki hitam manis itu tidak juga beranjak dari tempatnya duduk. Tatapan mata Aldi kosong di hamparan tanah. Melihat coretan acak yang di lakukan tangannya. Tidak lama duduk termenung diapun berdiri. Senyumnya mengembang melihat sekilas pada bos wanitanya yang sedang asyik menata dagangan sembari Sibuk dengan anak lelakinya yang masih berusia satu tahun setengah kurang lebih.


Wanita kuat, lenguhannya lirih.


“Kalau lagi sepi begini kamu mendingan istirahat Di.”


“Iya mbak, mau makan Siang di warung sebrang.”


Aldi, bekerja pada Bayu sudah hampir enam tahun. Pada awalnya hanya sekedar mengisi waktu luangnya sebelum mendapatkan pekerjaan yang lebih mapan. Namun pertemuan dengan gadis mungil yang tidak di sengaja membuat hatinya terpaku pada satu titik mencintai yang tidak bisa memiliki.


Kala itu Ayu masih berstatus tunangan. Ada pepatah mengatakan sebelum janur kuning melengkung masih hak milik bersama. Aldi pun semangat memperkenalkan diri sebagai seorang penganti.


(“Jika kamu tidak bahagia datanglah padaku.”) Ucapnya penuh keyakinan kala itu pada Ayu.


Bayu selaku kakak ipar yang belum resmi pun mengatakan satu azimat pamungkas yang membuatnya sangat bersemangat dengan kesempatan.


(“Kalau janur kuning belum melengkung masih ada kesempatan, Kalau janur kuning sudah melengkung, patahkan! Selama dia suka kamu suka, semua jalan sah untuk di lewati.”)


Ha ha ha ... Aldi tertawa getir mengingat dakwahnya sang kakak ipar yang fulgar.


Waktu adalah hakim yang paling adil, sebagai seorang pencinta Aldi terus mengikuti Ayu dari sisi manapun.


(“Kenyataan tidak selalu indah,”) Ujar Bayu, (“tapi proses tidak ada yang mudah.”) katanya lagi.


Aldi menghembuskan nafasnya. “Kopi mbak.”


Azan zhuhur berkumandang merdu. Meskipun Aldi seorang Nasrani mendengar suara azan terasa menenangkan.


Terkadang Aldi mencuri kesempatan mengintip bagaimana tuan bosnya beribadah.


Ah!


Pikiran Aldi sudah terlalu penuh oleh fantasi gila’nya dengan si bunga hati. Rahayu Kinasti.


“Wajah kok kuyu, masih bujangan tapi boros. Ganteng an bosmu yang sudah beranak Pinak itu.” Mbak warung pedagang pecel mengesalkan. Dia selalu membandingkan dirinya dengan Bayu.


“Nggak jadi beli ah,” ujar Aldi bercanda.


“Yo, elos. Nanti juga di bayar sama mas Bayu. Wek!”


Dasar wanita tidak berlogika. Aku yang jomblo tidak di lirik tapi Bayu yang sudah berpasangan malah justru jadi rebutan.


Mbak Rara juga terlalu cuek, membebaskan mas Bayu di luar rumah. Kesalahan.


“Heh! Malah ngelamun! Mau nggak ini?”


Mbak penjual pecel menawarkan sepiring pecel gratis. Aldi tersenyum “Mau dong.” Aldi tau itu trik mbak penjual dengan menawarkan gratisan. Toh akhirnya nanti akan menjadi kesempatan baginya untuk minta uang pada Bayu.


Dasar!


Menikmati pecel pedas dan kopi tubruk original Siang terik memang nikmat. Tapi... mengingat kembali peristiwa demi peristiwa yang terjadi Aldi merasa sangat kecewa. Apa? Dan mengapa?


Ayu tampak tidak bahagia dengan rumah tangganya. Wajah cantik yang menjadi idolanya itu kehilangan warna setelah pernikahan. Semua terjadi secara drastis.


Apa sebenarnya yang terjadi? Aldi terkadang sangat cemburu melihat kedekatan Ayu dan Bayu. Mereka seperti seorang yang saling mencintai saja, bercanda mereka terkadang membangkitkan hasrat.


PLAK! Aldi menampar wajahnya pelan sekedar menepis pikiran kotornya.


Tiba-tiba matanya menangkap bos wanitanya yang sedang menyapu halaman toko. Al berlari ke sana kemari dengan tertatih-tatih.


Wanita itu adalah wanita yang kuat, wanita yang sangat sabar juga begitu ke ibu an. Saat bersama Rara, Aldi merasa seperti bertemu sang ibu. Begitu mudah bermanja-manja dengannya. Juga terkadang Aldi dengan tidak tau malunya merengek meminta sesuatu. Gitar misalnya. Dan bos nya itu dengan tanpa pertikaian menuruti saja.


Alangkah sempurna hidup mas Bayu.


“Mbak mau pecel lagi, pedesnya sedang ya, buat nyonya ku.”


“Siap mas Aldi,”


“Nggak punya mas kita mbak. Adanya Abang.” Tegas Aldi. Sembari mengambil pesanannya yang sudah selesai di buat. Aldi bersiul ringan melangkah pulang.