
Pintu kamar terbuka lebar. Wanita dengan usia sekitar 35 tahun muncul dengan daster batik coklat. Rambutnya berantakan di ikat dengan karet gelang berwarna merah.
Wanita yang memiliki nama lengkap Larasati dengan panggilan Rara itu langsung menarik kursi makan dan duduk termenung. Hari masih terlalu pagi udara segar menjadi hadiah istimewa bagi paru-paru.
Sepagi ini suami tersayangnya sudah mengirimkan pesan akan segera berangkat pulang.
Rara terus menghitung-hitung dalam hati, lamanya perjalanan yang kemungkinan di tempuh suaminya. Hatinya rindu, akhir-akhir ini perjalanan rumah tangga mereka sedikit memiliki problem.
“Abi berangkat dari muara dua jam berapa?” tanya Rara.
Komunikasi yang sedikit renggang dan kurang harmonis. kemungkinan di karenakan rasa cemburu Rara yang berlebihan.
Bayu yang selalu memilih diam saat membahas Ayu terkadang membuat Rara emosi.
Keberadaan Ayu di sekitar Bayu seolah menjadi momok bagi Rara. Sejak awal pernikahan Rara selalu merasa ada yang salah dalam hubungan kedua beradik itu. Namun kembali Rara harus menerima apapun kekurangan Bayu terlepas dari begitu banyaknya kelebihan Bayu yang di peruntukan hanya untuknya.
Kenyataannya tidak bisa di rubah. Ayu adalah adik kandung suaminya. Meskipun bisa di bilang mereka memiliki hubungan yang terlampau dekat. Menurut Rara cara bergaul kedua beradik itu seperti layaknya seorang yang sedang di mabuk cinta.
Malam pernikahan Ayu enam tahun yang lalu adalah Kenangan terpahit bagi Rara. Bayu menghabiskan waktunya bersama Ayu bukan hanya sesekali, tapi seluruh waktunya di habiskan bersama Ayu.
Ah!
Awalnya Rara hanya terlalu berfikir rumit, atau perasaan cemburu yang berlebihan.
Mereka saudara kandung! Sudah sewajarnya saling dekat, saling melindungi dan saling berbagi. Apalagi ibu mertua selalu mengatakan bahwa Ayu tumbuh dan berkembang bersama Bayu.
Oke...mungkin ini hanya sebuah kecemburuan tak berdasar. Ujar Rara dalam hati kecilnya. Rara selalu menghibur diri sendiri.
Bayu adalah sosok penyayang. Terlahir sebagai anak lelaki tunggal Bayu merasa memiliki tanggung jawab sosial yang besar. Alasan Bayu untuk Rara masuk akal. Meskipun ada keberatan di hati. Rara bisa mengaburkan suasana canggungnya sendiri. Terlebih sekarang Bayu terlihat sebagai sosok suami yang sempurna.
Dengan sengaja Rara menghubungi nomor sang suami.
Dari layar handphone terlihat Bayu sedang menikmati sarapan paginya.
“Sehabis sarapan aku langsung berangkat pulang. Di mana Al? Tidur?” Bayu bertanya menjawab pertanyaan Rara sebelumnya.
Wajah Bayu terpampang indah di layar handphone dan Ayu duduk di sebelahnya dengan sepiring makanan.
"Halo mbak Rara?" Ayu melambaikan tangan dengan bahagia.
Rata tersenyum manis menanggapi adik iparnya yang manja itu. Dengan elegan Rara pun mengisi piringnya, beberapa centong nasi plus lalapan dan menuang segelas air putih pelengkap sarapan paginya.
"Tumben sudah sarapan sepagi ini? kamu tidak tidur?" Mata Rara terlihat sembab kurang istirahat. Bayu tau Rara pasti menanggung kabar darinya semalam suntuk.
“Mas, dari sana jam berapa?"
“Hmmmm...”
Bayu mengunyah makanan dengan cepat, sembari membolak-balik tangan mencari posisi jamnya.
Menyadari begitu banyak memiliki kekurangan. Rara tidak terlalu menuntut perhatian Bayu. Wajah yang pas-pasan, isi kepala yang standar dan juga berasal dari keluarga miskin. Mendapatkan Bayu sebagai pendamping hidup Rara sudah sangat bersyukur. Bayu Gatra adalah keberuntungan bagi Rara.
“Masss...! tolong dong." terdengar suara Ayu tersedak dan menghiba. Dari layar handphone yang masih tersambung Rara dapat melihat ekspresi wajah Bayu. Ada desiran ombak yang mengalun lembut saat mendengar percakapan kakak beradik itu. Mengapa hati kecil Rara selalu cemburu. Otak kecilnya selalu mempengaruhi pikiran dan hatinya. Ada yang salah dalam pergaulan mereka.
“Pakai gelas!" Terlihat Bayu menyodorkan gelas pada adiknya itu dengan sedikit kasar.
"Kalau nggak ada gelas pakai ember! Nggak ada juga ember. Nggak usah minum.” Ucap Bayu lagi.
Rara mendengus kesal, terkadang heran mendengar keributan mereka. Setiap hari meributkan hal -hal yang sepele tapi saat berjauhan meributkan saling kerinduan.
Bayu tampak memperlihatkan piring kosongnya pada Rara. Terlihat wajahnya sangat puas dengan makanannya.
"Sudah habis."
Senyum manis Bayu mengembang. "Ada apa? aku hanya pergi sebentar. Nanti tengah malam pun kita sudah bertemu. Tersenyumlah, kamu tambah jelek kalau begitu."
"Abi, apa kamu merindukan aku?"
"Ya tentunya. kalau bukan kamu yang ku rindukan siapa lagi?"
Jari Bayu membentuk lingkaran seolah menyentil Rara.
“Thank’u.” Ucap Rara sembari seolah mencium suaminya.
Seperti pepatah Jawa, orang dengan ciri khas makan cepat bisa di katakan pekerja keras dan cekatan. Untuk pepatah itu Bayu bisa di bilang benar.
Hobi Bayu selain berpetualang adalah bekerja. Waktu istirahat bagi Bayu adalah berpetualangan.
“Mas,”
"Heh..." Bayu mengarahkan wajahnya tepat di depan layar handphone.
“Kegiatanmu padat."
Bayu mengangguk pelan. Entah apa yang ingin di sampaikan Rara. Semua kata-kata seperti terhenti di tenggorokan.
“Bisa nggak sih mas, kamu lebih memperhatikan dirimu sendiri.”
CLEGUK CLEGUK CLEGUK
“Eh, pelan-pelan minumnya!"
Rara menggertak suaminya yang selalu ceroboh.
"Aku rindu kamu."