BLOOD

BLOOD
KENANGAN RARA



"It doesn’t matter as long as he chooses me I will endure.”


Klise alasan Rara mencintai Bayu.


Mengingat masa-masa pertemuan dengan Bayu.


Lelaki jangkung yang memang memiliki rambut gondrong sejak awal masuk menjadi mahasiswa UNIB itu terlihat mabuk keluar dari sebuah bar yang terletak tidak jauh dari kampus.


Rara berjalan takut-takut di bayangan kegelapan yang ramai dengan kelip lampu. Ini yang pertama bagi Rara keluar rumah pada malam hari seorang diri.


Rina menelefon mengabarkan bahwa dia terjebak di jalan karena motornya macet, membuat Rara memaksakan diri keluar untuk memberikan bantuan.


“Rin, kamu di mana? Ini aku sudah sampai gang kok belum lihat kamu.”


Tangan kanan Rara gemetar menggenggam handphone yang menempel di pipinya dengan erat.


Di seberang Rina tidak segera membalas pertanyaan Rara. Sepertinya Rina sedang terlibat cekcok dengan seseorang. Kemungkinan itu pacarnya.


“Rin!” tubuh Rara semakin menggigil menunggu orang di seberang berbicara.


Sesekali dia berjingkrak semakin cepat ingin mengakhiri kengerian. Sembari mengingat-ingat siapa yang ia kenal di tempat terdekat.


“Uhuk...uhuk... uhuk...” suara batuk berturut-turut yang kemudian di susul suara muntah-muntah hebat.


Rara berhenti sejenak memperhatikan lebih lekat ada dan siapa gerangan.


Seseorang yang sangat di kenalnya sedang terjungkal tidak berdaya di antara tumpukan sampah. Rara jelas tidak mungkin salah, lelaki itu adalah Bayu Gatra mahasiswa pertanian yang di idolakan teman-temannya.


Lelaki itu tampak mengapai pagar pembatas jalan berusaha berdiri. Namun gagal. Dia tersungkur dengan keras ke tanah dan terlihat tidak bergerak lagi.


“Astagfirullah alazim! Mati kah?” Rara panik dan langsung menghampiri.


Bau tak sedap langsung menyerang pernafasan Rara.


Rara menutup mulut dan hidungnya dengan rapat, mencoba menahan nafas. Sesekali ia menghirup udara melewati jejaring hijabnya.


Perutnya langsung terasa mual dan tak ayal lagi dia pun ikut memuntahkan seluruh isi perutnya. Namun, Rara menahan semua keluhan


dia duduk terdiam di samping lelaki itu, tidak tau apa yang akan ia lakukan.


Menunggu bantuan yang datang, cukup lama. Sementara lelaki yang masih tergeletak itu tidak bergerak sama sekali.


Ujung jarinya ia tempelkan di hidung Bayu memastikan masih ada hembusan angin di sana.


Huuuuuuuufffg...


CTING...!


Rara sangat bahagia melihat layar handphone mengembang biru, berharap akan ada bantuan dari Rina sahabat nya.


“Maaf Ra, aku pulang tempat Daniel.”


“Maaf, permisi...” Rara menghampiri sepasang pejalan kaki dengan terpaksa.


Di kota besar banyak hal tak terduga terjadi. Terkadang kejahatan datang bukan karena niat tapi kesempatan.


Rara terpaksa menghentikan pasangan yang terlihat sedang mabuk itu.


“Maaf...”


“Ya, ada apa?”


“Rumah...?"


“Oh, masih jauh, tapi jika kamu mau naik taksi aku bisa kasih alamat nya.”


Pasangan itu sepertinya sangat paham dengan Bayu. Mereka langsung memberikan detail alamat Bayu. Bahkan dengan berbaik hati mereka memanggil taksi untuk Rara.


“Pak ke jalan mawar, daerah lereng ya?”


Tidak ingin mengambil resiko Rara lebih memilih membawa Bayu pulang ke tempat kosnya.


Meskipun tempat kos Rara lebih jauh dan memasuki gang sempit, akan lebih baik jika Rara membawa pulang Bayu. Kurangnya pengalaman dengan dunia luar membuat Rara tidak pandai mengambil keputusan.


Tidak lama taksi sudah berada di depan gang kos-kosan tempat Rara tinggal. Dengan mencurigakan Rara memeriksa semua saku celana Bayu, mencari recehan untuk membayar taksi yang sangat mahal. Dalam jarak 1 km Rara harus membayar 50 000 rupiah.


“Huuuuuf sayang banget.”


Gerutu Rara pelan sembari menyerahkan lembaran receh pada sopir sembari memapah Bayu dengan kesulitan.


Malam terasa panjang. Melelahkan. Mengurusi bayi besar yang sedang mabuk tidak mudah. Selain muntah terus sepanjang malam Bayu merengek meminta banyak hal. Saking lelahnya akhirnya Rara pun tertidur pulas.


Sentuhan-sentuhan aneh menggerayangi tubuh Rara dengan liar. Menarik baju dan membekap mulutnya dengan keras.


Refleks Rara membuka mata dan meronta melepaskan diri. Ruangan gelap gulita.


“Ada apa? Kok gelap.”


Tangan besar mencengkeram erat-erat tubuh Rara. Membekap mulutnya terus menyusuri batas kenikmatan seorang wanita.


Rara yang belum pernah mengalami hal semacam itu bukan main takutnya.


Iblis lebih bertakhta di otak manusia yang selalu rumit dengan perjalanan waktu.


Malam yang panjang menjadi Akhir naas bagi gadis pemilik nama Larasati hingga Pagi datang menyelamatkan dirinya.


Masih teringat jelas di mata Rara Air mata ketakutannya. Malam di mana Bayu menjadi lelaki pertama yang menenggelamkan hasratnya dan membuat ia kehilangan warna.