BLOOD

BLOOD
MAS l LOVE YOU



Katakan saja wanita adalah keindahan yang tidak pembanding. Dari gerak gemulainya dari tutur katanya dan juga dari cara mewarnai langit biru dengan banyak warna indahnya. Kenikmatan mata yang tiada tara.


Cerita cinta memang tidak ada usainya, dari terciptanya manusia pertama hingga di akhir zaman. Wanita adalah bentuk fenomenal alam semesta yang sempurna.


Prinsip seorang lelaki yang telah beristri adalah fleksibel saja dengan lingkungan.


Menikmati boleh tapi tidak menghancurkan diri sendiri.



Tapi, yang di hadapi Bayu adalah rasa yang salah dan rasa yang menjebaknya begitu dalam. Bisa juga di katakan, pemilik mata cekung itu dengan sengaja masuk ke dalam jebakan yang dia sendiri tau itu berbahaya.


Bayu Gatra adalah sosok manusia bodoh yang dengan sengaja masuk ke dalam jebakan yang dia sendiri tau itu sangat berbahaya. Kemolekan atau atau rasa yang tidak dapat di hindari? hanya bentuk alasan yang di buat-buat untuk lari dari intimidasi keadaan. Itu adalah rahasia hati Bayu dan hanya Tuhan sendiri yang tau.


Dengan pura-pura khilaf Bayu melindungi diri dari kata dosa. Itulah manusia! Menyimpan bom waktu dan mencari kambing hitam lalu ke adaan lah yang akan di salahkan. Sudah biasa.


“Mas? Please...”


Bayu melirik Ayu. Ucapan yang keluar dari bibir mungil basah merekah itu tergantung pada kondisi tidak berdaya.


“Mas...”


Hmmmm


...Bayu menggumam “ada apa? Kamu merindukan aku?”


“Ada yang salah dengan otakku.”


“Memangnya otak’mu pernah benar?”


Ist! “bukan itu maksudnya.”


“Lalu?”


“Mas, masak iya Novelmu nggak ada yang baca.” Wajah Ayu tampak kecewa memperhatikan handphone di tangannya.


"Terlihat mengalihkan pembicaraan yang tidak pandai." Bayu tersenyum sarkasme.


“Nyelimur. Lagian novel begituan di update!” Lanjutnya lagi.


“Ya emang ngapa? Apa salahnya dengan novel mas? Mas tinggal belajar nulis saja selesai!”


“Malas aku nulis yu. Dah dari SD sampai kuliah suruh nulis. Sekarang pun harus nulis.” Ujar Bayu pelan menolak.


“Hari ini romantis ya?”


“Apanya?”


“Nggak!” Ayu menatap jalanan melewati jendela mobil. Hatinya kalut. Cemburunya membabi-buta di dalam kehampaan.


Heh! “maksudnya?”


“Hubunganmu sama mbak Rara romantis banget, aku iri.”


Bayu menatap punggung adiknya yang terus menatap dunia luar.


"Bicaramu ngawur! Tutup rapat jendelanya, nanti masuk angin.” Bayu menghela nafasnya. “Ada apa dengan pertanyaan mu?”


“Ayoklah mas, aku bertanya butuh Jawaban bukan pertanyaan balik.”


“Kamu yang ayoklah, alur dari obrolanmu lompat-lompat. Aku bukan kodok yang bisa mengikuti apa maunya ucapanmu.”


Ihs! “Mas mah.”


“Ya sudah kita bahas soal novel aja.” Lanjut Ayu kemudian.


“Males! Nggak seru.”


“Pokoknya mas harus mau nulis! Kalau nggak, aku nangis.” Ayu ngotot, Kali ini dia menghadap kakaknya dengan mata mendelik tangan bersedekap. Menantang.


“Malas tau!”


“ Ayok lah mas. Demi aku.”


“Bukan masalah demi! Tapi mas nggak memiliki waktu sebanyak itu untuk menulis. Lagian itu hanya khayalan sekilas saja.” Sanggah Bayu tetap menolak.


“Bodok amat nggak mau tau, pokoknya harus mau.” Ayu menghentakkan kakinya kesal dan membuang pandangannya jauh di antara deretan pepohonan yang seolah berlari meninggalkan dirinya. Seperti takdir yang tidak adil! Lenguhnya pelan, bersama hembusan nafasnya yang teramat pelan.


Entah, mengapa. Acap kali melihat wajah kakaknya, akan akan melintas wajah kakak iparnya.


Bukan rasa bersalah yang hadir di hati Ayu tapi kesal dan perasaan yang bercampur aduk. Rasa cemburu semakin menggila.


“Mas!” Dengan spontan Ayu mencakar wajah Bayu.


Bayu yang terkejut membanting setir ke tepi jalan dengan tiba-tiba.


“Ada apa?! Sembrono kamu!”


“Maaf! Sengaja!” Ayu bersedekap, membuang pandangannya tidak peduli.


Saat ini yang terindah di hadapan Ayu hanya pemandangan pepohonan yang berlarian.


"Mas, l love you."