
Suasana Cafe yang ramai semakin ramai pada pertengahan malam, suasana yang mendukung untuk menyamarkan ******* demi ******* yang menggila. Kedua manusia yang lupa.
Ayu lebih bersemangat membereskan kekacauan. Dia dengan bangga mencium kakaknya berulang-ulang sebelum kemudian turun dari mobil menyapa makanan nya yang sudah kadaluarsa.
"Maaf, mbak tadi kami bereskan, bisa di buat ulang."
Ayu tersenyum menyambut pelayan.
"Iya, aku lapar sekali."
Bayu tidak terlihat menyusul Ayu di meja makan.
"Mbak tolong kopi ke mobil yang di ujung itu ya?" perintah Ayu pada pelayan yang di sambut anggukan.
Akhirnya aku bisa juga menjebak lelaki kolot satu itu. Senyum Ayu penuh kemenangan.
DERING suara handphone Bayu berbunyi. Bayu menjangkaunya dengan tangan kanannya.
“Rara...” Bisik Bayu pelan.
“Eh, ada apa sayang? kok ekspresi nya mau nagis.”
“Assalamualaikum...Umi?”
“Waalaikumsallam...” balas Rara di seberang datar sembari memasukkan makanan ke mulutnya.
“Lagi makan?"
"Bangun malam-malam kelaparan BI."
"Lah, makan kok nggak selesai-selesai, Umi kayak pengantin baru saja. Lelet!” Rara tergelak.
“Lihat Al sudah tidur.” Rara mengarahkan kamera memperlihatkan Al yang sedang tidur dengan lelap.
Bayu tersenyum menyeringai. “Iya sudah, makan dulu. Oh ya, sepertinya aku pulang telat.”
“Oke.” Rara melingkarkan jari telunjuknya membentuk Oke.
Bayu kembali pada keheningan malam. Meratapi apa yang baru saja terjadi. Tapi,...
Gadis mungil itu tampak bahagia dengan acara makannya. Terlihat dari kejauhan Ayu benar -benar menikmati. Berbeda jauh dari sebelumnya. Tidak terlihat lagi wajah Ayu yang muram.
Ah! Mau di bawa ke mana hubungan ini.
“Yu...sudah malam ayok kita lanjutkan perjalanan.” Bayu menghampiri Ayu.
“Mas, bisakah kita menginap semalam saja?”
“Nggak!”
“Semalam saja berikan aku waktumu. Selepas ini aku akan pulang dan kita tidak akan bertemu lama mas.”
Bayu menatap wajah Ayu, "Tidak akan terjadi."
"Ayoklah mas."
“Mau di bawa ke mana hubungan kita? Kita saudara kandung. Apa yang baru saja terjadi jangan terulang.”
Bayu beranjak berdiri menuju kasir membereskan pembayaran dan langsung pergi. Ayu menghampirinya dan memohon terus memohon.
“Mas! Please.”
“Nggak!”
Bayu pergi begitu saja meninggalkan adiknya. Hatinya kacau memikirkan apa yang baru saja terjadi.
“Mas!” Ayu mengejar Bayu dengan cepat. Mengapai tangan kakaknya.
“Mas, maafkan aku.”
“Maaf untuk apa?”
“Aku janji setelah ini semua akan berakhir. Berikan aku semalam saja berada dalam dekapanmu. Biarkan khayalan ku padamu menjadi nyata.” Ayu memohon dengan sangat.
“Nggak akan terjadi!"
“Mas, ku mohon.”
Bayu menghentikan langkahnya. Tidak habis pikir dengan adiknya dan dirinya sendiri.
"Yu, apa kamu sudah gila! kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini!"
“Baiklah, kita akan pulang sekarang. Biar kan aku menghubungi mbak Rara.”
“Kamu pikir apa yang mau kamu katakan sama mbakmu?"
"Aku akan menelfon mbak Rara dan mengatakan bahwa aku di nodai mas."
Ayu tidak yakin mimpinya akan menjadi nyata. Tapi dia pun tidak ingin membuang kesempatan. Menghabiskan waktu bersama lelaki yang di cintainya selama ini.
Adalah hal yang paling di tunggu.
Bayu tampak berbicara dengan serius di telfon. Tidak diketahui alasan apa yang di gunakan olehnya untuk mendapatkan ijin dari istrinya.
Tidak berselang lama Bayu menghampiri Ayu.
“Sudah! kita mau kemana?"
“Cari tempat tinggal.”
“Nggak usah terlalu halu? Untuk apa tempat tinggal?"
"Lalu kita mau ke mana?" tanya Ayu bingung.
"Ya nggak tau! kamu mau ke mana? kamu yang menginginkan ini."
"Aku ingin tidur dalam pelukan mas, semalam saja."
"Cari penginapan."
Ayu menghentikan langkahnya. Dia menatap punggung kakaknya yang melangkah mendahuluinya. Penginapan berarti dalam waktu yang panjang dong! Soraknya dalam hati.
“Mas!” Ayu berlari memeluk pinggang kakaknya dengan bahagia.
“Tapi kamu janji, setelah hari ini kita tidak akan bertemu lagi dengan hubungan rumit seperti apapun. Kita adalah keluarga dan jangan ungkit ini sampai Kamu mati.”
Eh, Ayu mengangguk "Tapi jangan berikan aku ekspresi wajah dinginmu."
Bayu mengembangkan tangannya untuk memeluk dengan wajah pura-pura bahagia.
"Ambil aku sepuas mas malam ini."
Ayu mendatangi kakaknya yang sudah mengembangkan tangan untuk memeluknya.
“Pelukan mas hangat.”
Bayu mengecup kening Ayu pelan. “Akan aku berikan duniaku untukmu.”
Cih Dunia macam apa yang kamu janjikan pada adikmu? bajingan!
Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata. Menjauhi keramaian menuju jalan pulang.
Ayu heran, mengapa mobil menuju pulang, bukannya kakaknya menjanjikan malam indah untuk bersamanya.
“Mas?”
Eh, “tidurlah. Perjalanan kita sedikit panjang.”
“Kita mau ke mana?”
“Kita akan mencari angin segar.”
Malam semakin larut dan dingin. Nikmat sekali untuk tidur.
Ah! ‘Suara mas Bayu’ dengan spontan Ayu membalas pergumulan bibir. Melenguh panjang dalam setiap sentuhan.
“Apa ini yang pertama untukmu?”
Ayu membuka matanya. Dia mengangguk.
“Lalu suamimu?”
Ayu tidak menjawab tapi tiba-tiba ia membuka matanya memeluk kakaknya dengan erat. “Mas..."
Guncangan hebat membuat mata Ayu terbuka lebar. Yah cuma mimpi.
“Ada apa dengan rumah tanggamu? Ceritakan mas ingin mendengarnya.”
"Eh, ada apa ya? nggak ada apa -apa."
"Yu, kamu tidak ingin kita habis melakukan apa?"
“Dia, suamiku memiliki gairah yang menggebu-gebu mas. Tapi ketika mencapai puncak dia akan layu.”
Bayu mengernyitkan keningnya. “Mengapa bisa begitu?”
Ayu menggeleng, “aku sudah berkali-kali mengajaknya berobat tapi dia menolak. Alasannya dia tidak sakit.”
“Mas, aku tidak ingin berselingkuh dari dia, karena aku mencintaimu. Aku puas dan bahagia kamu lah yang menyentuh aku untuk pertama kalinya. Setelah ini aku akan meninggalkan kamu bersama keluargamu.”